Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 24-2] Jangan Salahkan Aku Pokoknya!


__ADS_3

Semua terjadi begitu cepat, dan teramat rumit untuk diceritakan secara detil, apalagi jika hanya dari sudut pandangku. Tetapi, begitulah adanya. Mau bagaimana lagi?


Suka tidak suka, akan aku mulai.


Diawali saat aku masih bimbang, dan berusaha kuat menahan congor Margo, agar tidak mengucapkan angka terakhir, sebagai tanda dimulainya adu cepat tembakkan.


Namun, tidak ada gunanya juga, kan, terus ditahan. Pastinya ledakan mesiu peluru akan terjadi, kalau Juan sudah habis kesabaran. Pun, tangan Margo sudah hampir mencapai batas ketahanan.


Dengan kerongkongan yang kering dan bibir bergetar, aku mulai mengucap angka penentu nasib. "Ti ...."


Saat itu, Juan telah menetapkan pilihan, mengarahkan sasarannya ke keningku. Dan, di detik itu pula, ledakan menggelegar terdengar.


Bukan revolverku, atau senapan milik Juan--yang tak mungkin kusebutkan merknya, karena takut kena Copyright--tetapi itu berasal dari laut di seberang kami. Melontarkan kencang benda keras yang menghantam tong kayu, dan menghamburkan jutaan butiran benda kecil di dalamnya--serpihan garam kasar.


Karena itu pula, kami--aku dan Juan--terpental terkena hantaman kencang gelombang tumbukannya. Jumpalitan di udara, sampai akhirnya jatuh berdebum, dalam posisi terbaring tak berdaya.


Memang aku selamat, dari menjadi korban timah panas senapan Juan. Tetapi, dengan sekujur tubuh yang menjerit kesakitan. Mataku berkunang-kunang, dan tanpa perlu dijelaskan lagi, darah mengucur deras mengalir dari luka di badan.


Tak tahu apa yang tengah terjadi. Kepalaku berpusing dan mual. Hasil kombinasi hentakan keras--yang entah apa wujudnya itu--berikut bau anyir menyengat. Aroma aliran darah yang keluar dari kedua lubang hidung.


Dengan kesadaran yang hanya tersisa separuh, aku dengar lagi dentuman keras, disusul gelegar lain yang menggetarkan tanah. Kali ini ditambah suara jeram yang menderas. Bagai ada jutaan liter air, yang menerjang dengan gelombangnya.


Akhirnya aku sadar dan tahu, kalau itu adalah gelombang besar abnormal air laut. Menyiram aku bagai hujan, berikut menggenangi lantai tempatku berbaring. Benar-benar sebuah penderitaan dan kesialan yang bertumpuk-tumpuk.


Jelaslah aku bilang seperti itu. Kalau dalam kondisi biasa, mungkin tidak terlalu masalah. Tetapi, dengan banyak luka di tubuh ini, ya jelas itu semua menyebabkan kesakitan yang hakiki!


Coba deh kau alami sendiri, bagaimana rasanya punya luka lebar yang masih baru, lalu disiram menggunakan air garam. Ugh ... dijamin kalian akan menjerit kelojotan. Bahkan bisa jadi sampai menangis, dan terkencing-kencing di celana.


Terus, kenapa aku masih bisa santai?


Bukan perkara aku kuat, atau tidak merasakan kesakitan maha menyiksa itu. Jujur, kalau saja bisa, sudah dari tadi aku menggelepar, lalu berlari mencari tempat aman. Masalahnya, tubuhku sudah tidak berdaya dan bertenaga lagi. Seakan-akan malaikat maut sedang mengambil separuh nyawa di tubuh sekaratku.


Beginilah aku sekarang. Tergelatak bagai seonggok mayat, yang mati-matian menahan sakit, tanpa bisa berbuat apa-apa. Bahkan hanya untuk berteriak.


Dentuman ketiga, tidak lama kembali menyalak. Dibarengi suara sirine yang menyelak. Tanah solid pelabuhan, untuk kesekian kalinya bergoyang--bukan goyang naik turun atau dribel ya--dan aku yakin tak lama lagi bakal semakin riuh juga kacau. Akan banyak petugas yang datang, dipanggil raungan bising, corong sirine tanda bahaya.


"Sialan!" maki seseorang, yang aku yakin itu Juan.


Terdengar ada suara benda yang dibanting. Bisa jadi itu adalah senapan miliknya, yang telah rusak, akibat serangan misterius pertama tadi.


Dia melangkah tak teratur, menimbulkan suara berkecipak yang kacau. Mendekat sambil bernapas dengan terengah-engah.


"Kau ... kau pasti sengaja, kan ... tadi mengulur waktu, agar para begundal ... bajak laut temanmu itu punya waktu untuk datang ... menolongmu!" Ucapan Juan terbata-bata, karena napasnya yang masih tak beraturan.


Tunggu! Apa maksudnya dia bilang bajak laut sebagai temanku? Bajak laut topi rajutan, hah? Itu kan beda cerita, Bambang!

__ADS_1


Ah ... kalau benar ada bajak laut yang datang, berarti sudah jelas, dari mana ledakan itu berasal. Pasti serangan meriam, dengan bola besi sebagai pelurunya.


"Tidak ... tidak! Tidak akan aku beri kau kesempatan, dan pengampunan lagi. Kali ini ... mati kau."


Tak tahu di mana dia mengambilnya, tetapi jelas terdengar suara tarikan dari tuas pemukul senjata. Tanda revolver sedang dikokang.


"Kau ingat senjata ini? Ya, revolver milik ayahmu tersayang, yang tertinggal di tepi sungai, setelah kutembak jatuh kau dari kuda." Suaranya terdengar penuh kepuasan. "Hei, bangun! Jangan bilang kau sudah mati!"


Bagai tidak punya akhlak, si Kurang Ajar itu menginjak-injak kepalaku! Sementara, aku hanya bisa pasrah menerimanya.


Hei! Apa kau kira aku ini keset, karena banyak memiliki bulu di badan!?


Tidak puas hanya menjadikanku pembersih alas kakinya, Juan lalu menjenggut rambut ikal kusut ini, agar kepalaku dapat disentak terangkat.


Meski dengan penglihatan masih berbayang, dan berputar memusingkan, aku masih bisa melihat sepucuk pipa logam mendekat. Terasa benar dingin menusuk, saat ujung benda itu tertempel di dahi.


Oh Tuhan, nyawaku kini hanya perkara sentakan jari telunjuk Juan, ke pelatuk senjata. Tolong Engkau jangan sampai biarkan itu terjadi, wahai Sang Penguasa Takdir.


Juan, setega itu kah kau? Bukankah kita ini teman lama? Kau dan Margo ini. Lupakah dikau masa-masa indah sewaktu kita kecil, saat mengejar truk es krim bersama, tetapi ternyata tidak punya uang untuk membelinya?


Eh ... bukan. Itu sih masa kecilku dengan Wanara. Tapi, kan, pasti kalian punya kenangan indah juga. Coba deh ingat!


Semoga voice overku terdengar olehnya. Seperti di sinetron.


Selongsong peluru meletus. Juan--yang tidak mendengar suara batinku--menyusul berteriak kesakitan.


Tanpa kejelasan, yang sungguh aku sukuri, eksekusi mati dari Juan ternyata batal.


Rasanya lega, tetapi juga sakit. Karena, si sialan itu melepas jenggutan tangannya, yang menyebabkan wajahku terbanting keras, menghantam lantai pelabuhan.


Derap kaki datang menderas, bagai longsoran tanah bebatuan. Dari dua arah yang berbeda, dan kemudian berganti menjadi serentetan letupan senjata. Saling sahut-menyahut. Tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.


Sumpah! Aku semakin tidak habis pikir. Bagaimana mungkin di saat seperti ini, justru muncul bajak laut iseng tak jelas dari mana. Lagian, jika mau merompak, kan, kalian biasa melakukannya di tengah laut. Bukan di sini, dan malah membuatku semakin tersiksa, oleh kondisi mengenaskan, dan nyawa yang berada di ujung tanduk.


Di tengah baku tembak itu, terdengar suara ledakan kencang. Berturutan tanpa ampun.


Orang gila macam apa yang melakukan hal gendeng begitu? Bisa hancur pelabuhan karena ulahnya. Berikut gendang telingaku yang sudah berdengung ini.


Di saat aku masih memaki serangan gila itu, tiba-tiba saja mendarat segelindingan benda yang mendesis. Hanya berjarak sejengkal di hadapan.


Demi dapat melihatnya, aku paksakan mata agar kembali bekerja normal, dengan cara mengerejap cepat berkali-kali. Usaha dadakan yang ternyata membuahkan hasil.


Aku tahu apa itu! Dasar baji*ngan kurang ajar! Orang idiot mana yang melempar bom berbentuk bola bersumbu, sehingga mendarat di dekat wajahku?


Dengan badan sakit, dan penglihatan yang masih berbayang, aku bidik percikan api pelahap tali. Kumonyongkan bibir dengan susah payah, lalu menyesap udara sebanyak mungkin, yang turut pula menyedot genangan air laut di lantai pelabuhan.

__ADS_1


Tak apalah walau asin. Toh aku memang membutuhkannya.


"Ffuuh ... ahfuh ... fuh fuh ffuuhh!" Udara keluar bersama mancuran air melewati bibir seksi ini. Sebuah kombinasi ajib, yang sayangnya tidak sampai ke sasaran.


Percuma usahaku meniup jalaran api itu agar padam, karena malah membuatnya semakin cepat terbakar.


Mati aku! Tersisa beberapa senti saja sumbu itu, untuk sampai ke pangkalnya.


Sudahlah. Mungkin memang takdirnya harus berakhir begini. Aku pejamkan mata erat. Menunggu detik-detik terakhir, sebelum bom itu meledak. Disusul kepalaku yang terpecah belah.


Dan akhirnya ....


Eh ... kenapa bunyinya mendesis, bukannya "duar" begitu, deh?


Aku terbatuk. Sulit bernapas, karena semburan asap dari bola kertas itu. Mata pun perih berair dibuatnya.


Terkutuklah orang yang menjadi dalangnya!


"Kau baik-baik saja, Marg?"


Ah ... suara itu. Seharusnya dari awal aku sadar, siapa orang sableng penyuka ledakan, yang sedari tadi melempar bom bagai sedang kesetanan.


Jelas pula jadinya, sosok pembuat dan pelaku dari bom asap tadi. Siapa lagi kalau bukan Yenz!


"Kau seharusnya berdiet! Berat sekali badanmu!" Yenz mengerang saat berusaha membopongku.


Dia menyalahkan aku atas badan berotot ini? Seharusnya kau itu yang membesarkan tubuh kurus keringmu! Ingin aku mengatakan itu, jika saja mampu.


"Biar aku bantu. Kapten Sando menyuruh kita segera kembali, karena sekompi pasukan bantuan petugas keamanan, akan segera datang. Kita kalah jumlah."


Pemilik suara agak cempreng itu aku yakin Leo. Ah ... dua orang kurus apa ....


Huwo! Bagaimana mungkin!? Tubuhku dibetot melambung terangkat.


Dengan mata sayu yang hampir kehilangan kesadaran ini, aku lihat pemuda yang mengenakan kain, menutupi setengah wajahnya itu, tanpa kesulitan menggendongku. Menembus tabir asap dengan langkah pendek mengayun cepat.


"Kau, hebat, Tuan Marg! Sanggup melawan mereka seorang diri. Aku kagum padamu!"


Ucapan penuh puji pemuda itu, bagai dongeng indah pengantar tidurku.


Semoga bukan tidur yang terakhir.


Hanya segitulah yang bisa aku ceritakan, dengan keterbatasan dari PoV satu. Kalau kalian mau marah karena kurang jelas, salahkan penulisnya, kenapa tidak pakai PoV tiga saja.


*Pov: Point of View / sudut pandang.

__ADS_1


__ADS_2