Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 44-2] Reuni Tragedi


__ADS_3

Entah berapa lama aku mematung dalam posisi siaga mengacungkan senjata. Tanganku mulai kesemutan menahan beban revolver, yang bercampur dengan ketegangan.


Lelehan keringat dingin menyusul keluar dari pori-pori, yang mungkin ikut terpompa oleh detak jantung tak karuan di rongga dada.


Di kondisi seperti ini, aku kembali memasuki dunia hening. Dipacu adrenalin yang membuncah, karena gejolak perasaan negatif yang tidak menentun. Perlahan tetapi pasti, aku mulai bisa meraba posisi, postur, jarak, beserta sasaran tembak, di mana peluru ini akan bersarang dengan tepat.


Sejenak aku sadari. Kemampuan unik Margo ini sepertinya mengalami peningkatan. Aku jadi bisa meraba lebih banyak detail saat berada di dunia hening.


Aku tarik napas panjang dan menahannya di dada, begitu bisa menentukan letak sasaran yang hendak aku tembak. Walau, sejujurnya ada tersempil seketip rasa ragu.


Aku diam di dunia hening, dengan rasa ragu yang perlahan terkikis. Mengumpulkan tekad hingga terkumpul bulat di benak. Sampai tak lagi bergetar telunjuk menyentuh pelatuk. Siap sepenuh hati melepaskan tembakan.


"Margo! Kau kah itu, Tuan Margo?"


Suara itu, berikut aksennya. Sepertinya aku kenal siapa pemiliknya. Kalau memang betul dia, maka baku tembak tak berfaedah, bisa dihindarkan.


"K-kau kah itu, Tuan Mashet?"


Terdengar suara tawa tertahan dari rimbunnya semak-semak tinggi.


"Turunkan senjatamu, Tuan Margo. Takutnya kau nanti khilaf menembakku, karena melonjak kesenangan."


Aku turuti perintahnya. Menyimpan lagi revolver, setelah mengamankan pemukulnya.


Pria dengan kemeja safari coklat itu keluar, dari balik semak yang tidak jauh dari tempatnya membidik. Sejenak kami berpelukan, dan saling berbasa-basi. Melepas kangen, karena kurang lebih sebulan kita berdua tidak berjumpa.


Di balik semak-semak itu, ternyata ada selingkaran lahan kosong, dengan tenda dan api unggun menyala mengisinya. Tergantung panci di atas nyala api, yang menguarkan aroma teh saat penutupnya dibuka.


"Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini, Tuan Margo." Pria berkumis menggulung itu memberikanku secangkir teh yang masih panas.


"Iya, aku bersyukur sekali bisa bertemu denganmu. Suatu kebetulan yang baik, di tengah rimba menyesatkan."


Tuan Mashet tertawa. Menepuk pundakku yang duduk bersebelahan sambil memandangi api unggun di hadapan. Tidak aku sangka, hutan semenyeramkan ini bisa menjadi begitu hangat.


"Anda ke sini sendirian, Tuan? Bagaimana dengan teman berburumu yang lain?" tanyaku, setelah menyesap sedikit teh di cangkir.


"Oh, aku memang sengaja tidak mengajak mereka, karena target berburu kali ini butuh keahlian tinggi. Tidak bisa sembarang orang melakukannya." Tuan Mashet meneguk tehnya. "Ah, aku lupa. Ada biskuit kusimpan di dalam tenda."


Pria berpakaian safari coklat itu, beranjak memasuki tenda berbentuk segitiga berwarna hijau, setelah meletakkan cangkirnya di depan api unggun.


Aku menunggu Tuan Baik hati itu, sambil memperhatikan sekitar, yang terlihat agak menyeramkan, karena sorotan cahaya api unggun.


Dari yang aku amati, sepertinya dia sudah lumayan lama berada di sini. Mungkin beberapa hari, sebelum kedatangan Armada Andapala.


Hebat juga ya kapal yang dinaikinya. Bisa menyusul kami yang jalan lebih dahulu. Mungkin karena kendaraan tumpangannya, lebih banyak memakai kekuatan dorongan giyeni, dari pada menggunakan bantuan layar di tiang kapal.


"Oh ya, Tuan Mashet. Kenapa kau berkemah di sini? Setahuku di dekat pantai, tidak jauh dari sini, ada penginapan murah yang bagus--info dari pedagang merangkap calo penginapan di pantai--atau kalau engkau mau, aku bisa berbagi kamar denganmu."


Senyap sesaat, walau selintas aku dengar ada suara logam beradu. Mungkin kaleng wadah kue yang sedang coba dibuka.


"Begitulah kebiasaan pemburu, Tuan Margo. Dan, terima kasih atas kebaikan Anda. Tetapi, sungguh harus aku haturkan maaf. Sepertinya tawaran itu harus kutolak dengan berat hati. Waktu berburuku tak lama lagi akan usai, dan harus kembali ke Kalopa secepatnya."

__ADS_1


Sayang sekali. Padahal kalau dia mau, aku jadi punya teman sekamar yang tidak membosankan. Tapi hebat juga dia, untuk ukuran pria berumur lebih dari setengah abad, bisa berkemah sendiri di tengah hutan belantara.


Aku menoleh ke arah dinding semak-semak di sisi kiri, saat mendengar gemerisik dedaunan, dari seekor tupai di dagan pohon. Ternyata kalau dari sini, terlihat cukup jelas bagian luar hutan, dengan jalan setapak menyesatkannya.


Sudut dan cakupan penglihatannya bagus, untuk dapat mengetahui kondisi di balik semak-semak. Tempat persembunyian yang tepat ....


Tunggu! Bahkan dari sini pun jelas terlihat, seekor tupai yang sedang memanjat pohon, di luar pagar tinggi semak-semak. Tapi kenapa bisa pak kumis itu ....


Aku menoleh ke belakang, karena tiba-tiba saja bulu kuduk di tengkuk meremang.


Dari celah tirai tenda itu. Aku melihat selingkaran mata berwarna biru gelap. Menatapku tanpa kedip, dengan sorot nanar membelalak. Beberapa senti di bawahnya yang dimahkotai kumis hitam kelimis, seringai lebar terkembang, bagai seekor hewan buas haus darah.


Sosok jangkung berpakaian safari itu, mendadak menerjang penuh tenaga. Terlihat sangat bernafsu, untuk menancapkan pisau di genggaman tangannya, yang diancang-ancang terangkat siap menghujam dalam.


Aku yang akhirnya sadar, tentang apa sasaran Mashet dengan pisau bermata duanya, sontak melompat kaget ke samping. Untuk akhirnya jatuh setengah terbaring, dengan lengan dan siku kiri sebagai tumpuan.


Berbarengan dengan usaha menyelamatkan diri itu pula, secara reflek, aku lemparkan wadah kramik, yang masih berisi teh panas mengepul.


Gesit pria jangkung itu berputar di tengah udara, untuk mengubah posisi, dan menepis cangkir, yang aku timpukkan ke arahnya.


"Apa yang kau lakukan!? Kau sudah gila, ya!?" Napasku memburu.


Mashet berdiri, lalu mengambil sapu tangan di saku baju, guna mengelap mukanya yang terkena cipratan teh. Begitu santai, seakan tidak merasakan panas yang menyengat kulitnya.


"Sudah aku katakan, bukan. Aku ke sini untuk berburu. Membunuh binatang liar, yang sudah aku targetkan sebelumnya. Dan, beruntungnya aku. Binatang itu datang sendiri ke sini, tanpa harus aku pancing terlebih dahulu."


Tunggu sebentar! Apa maksudnya? Jadi, yang ingin dia buru itu aku? Bagaimana mungkin? Orang seramah dan sebaik dia, tidak mungkin akan melakukan perbuatan sekeji itu. Pasti ini cuma bercandaan. Prank sampah demi konten di Uncup.


"Hahaha ... aku tahu kau pasti cuma bercanda, kan. Tuan Mashet yang aku kenal tidak akan berbuat begini."


Pria jangkung itu mulai berjalan mendekat. Mencabut pisau tersampir dalam bebat kain, yang melingkar di paha. Untuk selanjutnya dia mainkan sangat lincah di sela-sela jari.


"Hahaha ... tentu saja, Tuan Margo. Tentu saja." Aku hendak menarik napas lega, saat tangan kurusnya menghentak."Tentu saja aku tidak sedang bercanda."


Hampir aku mam*pus. Ujung tajam pisau itu hanya berjarak beberapa sentimeter, sebelum mengenai batok kepalaku. Untung diriku sempat berguling menghindar, sebelum mati di tangan orang gila itu.


"Ah, sayang sekali. Kau memang benar-benar mangsa yang susah ditaklukan, Tuan Margo. Mengesalkan, seperti jerawat di ujung hidung." Mashet mengambil pisaunya yang menancap di tanah. "Seandainya kau tidak mendadak pergi dari Kalopa, saat itu tentu aku tidak perlu repot-repot berlayar ke sini, menggunakan kapal cepat yang hanya membuat mual. Sebulan lalu pasti pekerjaanku sudah selesai. Membunuhmu beserta si bocah degil, lalu membakar rumah kalian untuk menutupi jejak."


Teringat hari terakhir di Kalopa. Jadi drigen yang dia bawa waktu itu sebenarnya berisi minyak, dan si kumis nyentrik itu pergi ke bukit, bertujuan untuk membunuhku.


Sialan! Aku benar-benar tertipu dengan sikap baiknya, yang menutupi sifat tulen iblisnya.


"Cukup, Tuan Mashet! Entah apa tujuanmu mau membunuhku, tetapi aku peringatkan kau! Aku tidak segan-segan melawan orang tua sepertimu!"


Dia tertawa mendengar ucapanku. "Melawanku? Memakai apa, Tuan Margo? Aku tahu kau sangat ahli menembak. Harua aku akui itu, karena tadi kau benar-benar bisa menekan, dan membuatku ragu untuk menembak, walau posisiku lebih menguntungkan. Akan tetapi, aku ragu kau bisa menghadapiku dalam pertarungan jarak dekat seperti ini."


Awalnya, aku bingung dengan apa yang dia katakan. Tetapi, saat tersodor sepasang revolver di tangannya, aku akhirnya paham kenapa sejak tadi badan ini terasa lebih ringan saat bergerak. Dia telah mengambil senjataku entah sejak kapan.


Jarak kami hanya beberapa meter. Si tua kumis spiral itu mengambil ancang-ancang, setelah mengosongkan silinder peluru, lalu membuangnya ke sembarang arah.


Dia merendahkan posisi badan, sementara kedua tangan yang memegang pisau, diangkat tinggi melewati pundak.

__ADS_1


Sekejap. Pria berseringai seram itu memegas kakinya untuk menerjang. Kuat bertenaga gerakannya, bagai bukan orang tua berumur setengah abad lebih.


Aku melonjak ke samping, saat tangan kanannya berusaha menujah perutku. Tetapi, di sepersekian detik itu pula, dia memutar badannya di tengah udara, demi dapat menyabetkan naik pisau di tangan kiri.


Sepasang gesper yang terpasang bersilangan putus, berikut torehan luka sayatan memanjang di sisi perut. Aku menjerit merasakan sakit yang begitu kuat menyiksa.


Goyah pijakan kaki. membuatku kesulitan untuk segera berlari, untuk menjauhi bahaya laten sang pembunuh.


Lelaki tua itu berguling, dan langsung berdiri dengan posisi siap menerjang. Mata nanarnya bersanding seringai menyeramkan yang semakin lebar. Terbayang sosok dewa kematian di latar dirinya yang haus darah.


"To-tolong ... jangan teruskan ini, Tuan. A-aku tahu kau o-orang yang baik, jadi ...."


"Hahaha ... jangan menilai buku dari sampulnya, Tuan Margo. Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Sebelum menjadi Mashet seperti sekarang, aku adalah seorang pembunuh bayaran, yang hidup dalam genangan darah setiap detiknya. Bukan hal menyenangkan kalau kau mau tahu."


Langkahku surut. Napas pun terengah-engah, karena lelah menahan kesakitan, dari luka besar yang terus aku tekan menggunakan sebelah tangan. Sementara, Mashet masih bergeming dalam posisi mengancam. Seakan tidak khawatir jarak kami bertambah.


"Ka-kalau begitu kenapa kau melakukan ini?"


"Karena kau, Tuan Margo. Kehidupan tenangku terusik dengan kedatanganmu ke Kalopa. Masa laluku kembali menghampiri, karena ada yang tidak suka dengan dirimu. Memerintahkanku untuk menghabisimu tanpa sisa."


Sial! Berarti kejadian ini disebabkan orang berengsek yang tidak menyukaiku. Siapa? Satu orang yang mungkim melakukannya. Guter Hargo. Si kapten armada Andapala. Itu yang bisa terpikirkan.


"Kita akhiri saja ini secepatnya, Tuan. Aku sudah rindu suara merdu Nona Kreta. Semoga kau tidak menganggap ini sebagai masalah pribadi, karena sejujurnya, aku suka mengobrol denganmu. Maka, kumohon sekarang kau berdiam manis di sana, dan biarkan aku membunuhmu."


Dia menerjang cepat. Detik itu pula, dunia hening seketika muncul. Memberikan ketenangan absolut, yang membuatku dapat menemukan cara untuk menghindari maut.


Alih-alih menghindar, aku justru maju digiring insting, yang lahir dari kepasrahan.


Jelas dia kaget melihat responku, yang seketika mengacaukan irama gerakkannya. Lebih-lebih lagi saat kakiku menghentak, dan mendarat tepat di wajahnya.


Aku memekik. Jatuh ke tanah karena hilang keseimbangan, setelah berhasil menghalau serangan lawan. Semua itu disebabkan oleh rasa sakit tak terperi. Datang dari pisau yang menancap penuh di pahaku.


Bilah tajam itu dia tancapkan, tepat sebelum alas sepatu botku, menjejak wajahnya.


Aku menjerit memegangi kaki kanan, dan berusaha mencabut pisau yang menancap di sana. Berhasil memang, tetapi saat itu juga, Mashet melompat dengan satu pisau lainnya, yang hendak dihujamkan lagi kepadaku.


Aku berguling ke samping. Lolos dari terkaman pisaunya. Tetapi, bukan berarti aku sudah selamat, karena pria cungkring itu lanjut memegas tubuhnya.


Dari atas dia hendak kembali menghujamkan mata pisau. Aku yang sudah mati langkah, karena serangan tiba-tiba itu, dengan penuh keberuntungan, berhasil menangkap tangan kurusnya yang memegang pisau.


Sigap dia mencekal sebelah tanganku yang juga memegang pisau, dan menekannya di tanah, sebelum sempat aku hujamkan untuk perlawanan.


Dalam kondisi normal, aku yakin bisa dengan mudah membalikkan posisi. Akan tetapi, luka sayatan besar di perut, yang makin terbuka dan mengeluarkan banyak darah, membuat tenagaku terkuras banyak. Digunakan demi meredam rasa sakit.


Mata pisau itu semakin dekat hendak menancapku. Ditarik gravitasi, yang dibantu tekanan berat si tua Mashet. Seinci demi seinci terpangkas jarak. Hendak menorehkan kata tamat di kisahku ini.


Ujung pisau itu akhirnya sampai di kulit ari kening. Menyengat bagai tusukan lebah, yang turut pula menjalarkan rasa dingin menggigil ke sekujur tubuh. Rasa dari logam penghantar kematian.


Pasrah, sudahlah!


Brak!

__ADS_1


__ADS_2