Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 25-1] Pata dan Tura


__ADS_3

Di gubuk kayu, tepat berada di tengah lembah yang jauh dari kota dan desa. Tura si kakak dan Pata adiknya yang hanya berselisih umur satu tahun, tinggal di sana bersama ibu mereka.


Tura mempunyai sifat keras kepala, tegas, berpendirian dan berkemauan kuat. Sayangnya, walau dia orang yang lembut dan penyayang, tetapi pembawaannya yang tempramental juga berpikiran pendek, sering kali membuat orang takut duluan. Persis seperti almarhum ayahnya. Bahkan, muka dan perawakannya pun mirip. Badannya tinggi tegap, berdada bidang yang dibingkai otot besar menonjol. Bermata tajam, dengan rahang petak yang dipertegas oleh bibir tebal dan hidung besar.


Pata, justru jauh berbeda dengan kakaknya. Malah bisa dibilang kebalikannya. Dia mirip dengan sang ibu. Wajah oval dengan mata celik, hidung mancung, bibir tipis, dan lesung kecil di kedua pipinya. Tubuhnya pun tidak sebesar Tura. Tinggi langsing, namun berotot padat. Sempurna membuat para gadis tergila-gila jika melihatnya. Apa lagi dengan sifatnya yang lembut dan tenang, ditambah otak cerdas juga pembawaan berikut tutur bahasanya yang lembut.


Meskipun memiliki banyak perbedaan, kedua bersaudara ini saling sayang menyayangi. Hasil dari didikan ibu mereka yang tegas, namun lembut dan penuh kasih sayang di satu waktu.


Kegiatan mereka setiap hari hanya berkebun, berternak, dan berburu. Terkadang belajar membaca dan berhitung dengan ibu sebagai guru. Sesekali pergi ke kota atau desa untuk menjual barang dan membeli kebutuhan yang tidak bisa mereka buat sendiri.


Sederhana, tetapi mereka bahagia menjalaninya. Hei, di mana lagi kalian bisa bebas bertualang tanpa beban. Kapan pun dapat minum susu segar yang berlimpah, buah dan sayuran yang bisa langsung dipetik dan dimakan kalau lapar, bahkan sekadar bersantai sambil memancing di sungai. Hanya di lembah itu mereka mendapatkan semuanya.

__ADS_1


Damai dan tenang. Setidaknya sampai Tura menginjak usia enam belas tahun. Umur yang dianggap sudah dewasa saat itu. Di saat kedua saudara itu diizinkan ibunya memasuki hutan di dekat rimba gelap--yang padahal sudah sering mereka jelajahi bersama secara sembunyi-sembunyi--atas permintaan Pata, demi merayakan hari kedewasaan kakaknya. Mereka memasuki jantung hutan demi mengambil madu emas yang berada di sana. Itu adalah petualangan menyenangkan yang akhirnya harus mereka sesali.


Bulan purnama baru akan meninggi saat mereka keluar hutan. Tawa keduanya seketika pudar saat dari kejauhan mereka melihat cahaya oranye menari-nari dari dalam lembah tempat tinggal mereka, di mana sang ibu tersayang berada.


Mereka berlari secepat yang dibisa. Tidak mempedulikan lagi tabung kayu berisi madu emas, tidak juga menghiraukan kelelahan setelah seharian bertualang. Di pikiran mereka hanya ada ibunya, dan bagaimana bisa selekasnya sampai ke lembah.


"Ibu!" Teriak mereka berbarengan saat berada di puncak bukit. Melihat api berkobar begitu besar. Melahap kebun, kandang hewan, dan gubuk kayu yang sudah mereka tempati semenjak lahir.


Tanpa peduli lagi akan panasnya jilatan api yang membara, mereka menerobos masuk. Menyibak kobaran api dan reruntuhan kayu yang terbakar. Sampai di tengah rumah, air mata mereka tidak kuasa terbendung. Melihat ibunya terkapar dengan darah tergenang dari luka besar di perut.


Tura sang kakak yang pertama beranjak. Menggali tanah menggunakan batu. Demi membuat liang kubur.

__ADS_1


"Bergeraklah, Pata! Tidak ada gunanya kita berdiam diri terus di sini. Ini duka yang disebabkan oleh ba****an berhati iblis. Bergeraklah! Makamkan ibu, agar kita bisa segera memberikan penghormatan terakhir kepadanya menggunakan darah dan daging mereka. Kita buat nisan indah untuk ibu dengan tumpukan mayat bedebah itu!"


Di depan makam tanpa nisan itu, mereka mengucap ikrar pembalasan. Kepada orang yang telah membakar gubuk penuh kenangannya, dan membunuh wanita yang paling mereka sayang.


Berbekal tekad yang kuat, keduanya memulai perjalanan. Mencari sang penjahat, dengan mengikuti jejak tapal kuda yang masih tertinggal di tanah. Menuntun mereka sampai di kota kecil berjarak 25 kilometer dari lembah. Di luar kerajaan tempat mereka tinggal. Kota Rucil yang menjadi wilayah kerajaan Turamp.


Siang belum beranjak naik, saat kota Rucil menjadi medan pertarungan. Tura dan Pata melawan sepuluh orang prajurit kerajaan Domglar.


Berawal saat kedua bersaudara itu sedang makan di restoran kota. Dari seberang meja mereka mendengar cerita soal penyerangan ke lembah. Mendengar tawa membahana para ba****an itu, Tura meloncat menerjang mereka tanpa pikir panjang. Sebelum sempat Pata menghentikannya.


Baku hantam terjadi. Tura dan Pata yang tanpa senjata, melawan sepuluh orang prajurit terlatih bersenjata lengkap. Di atas kertas, seharusnya mereka kalah. Tetapi, untuk dua orang yang sudah mengalahkan beruang raksasa di Rimba Gelap--di umurnya yang masih 14 dan 13 tahun--para prajurit ba****an itu tidak ada apa-apanya.

__ADS_1


Mereka bekerja sama dengan kombinasi yang kompak dan kuat. Membuat para prajurit kewalahan dan berang karena merasa dipermainkan. Harus mengejar kelincahan mereka ke sekeliling kota.


Satu persatu prajurit tumbang. Meregang nyawa di bawah kehebatan mereka berdua. Pata dan Tura, yang kelak takdirnya menentukan nasib benua Suno.


__ADS_2