Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 38-1] Perjalanan Menuju Pertempuran


__ADS_3

Usai pelatihan dengan hasil memuaskan. Esoknya kami beristirahat penuh demi dapat memulihkan tenaga yang terkuras dan melemaskan otot tubuh yang menegang. Membahas kembali rencana yang akan dijalankan, seperti yang sudah diinstruksikan oleh Artapatu. Mengemas barang yang akan dibawa besok. Senjata, pakaian, dan sedikit bekal selama perjalanan.


Di tengah kesibukan. Kord barulah konyol. Dia hendak membawa banyak senjata, padahal yang akan kami lakukan adalah misi penyusupan. Tidak mungkin kan kami dapat menyelinap dengan seseorang yang membawa banyak senjata melingkari tubuhnya. Berisik dan jelas hanya menjadi penghambat gerakan kami.


Untung Putri Asaru mau bersabar hati memberikan penjelasan panjang lebar. Hingga akhirnya, si gendut itu memutuskan hanya membawa pedang, belati, dan perisai kecil yang terpasang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Putri hanya membawa sebilah pisau, dan aku sebuah pedang pendek yang mudah disembunyikan. Sesaat aku menengok kembali pisau batu yang tersimpan rapi di dalam tas kain gombel. Ada keinginan untuk meninggalkannya, tetapi sekilas teringat kejadian di hutan saat pisau itu dapat mematahkan pedang sakti si bangsawan Arson. Ada baiknya aku membawa pisau batu itu serta. Mungkin akan ada gunanya nanti.


Hari ke sepuluh. Menjelang malam kami keluar dari goa. Sesuai rencana. Satu hari sebelum perayaan pembentukan kerajaan Capitor digelar. Waktu yang tepat di mana ratu Tirama keluar dari dalam istana, dan kami dapat berbaur tanpa dicurigai.


Kami mengambil jalur memutar melewati wilayah yang kosong dan terpencil. Bersama menunggangi Woofy dan Shege bergantian. Lebih jauh memang, tetapi justru lebih aman dan cepat, karena dengan menunggangi mereka berdua, laju kami dapat sepuluh kali lebih gegas dari pada menggunakan kuda.


Tengah malam kami sampai di depan tembok belakang perbatasan kota dengan berjalan kaki. Bersembunyi di balik semak-semak dan beristirahat sejenak. Membiarkan Woofy dan Shege tertidur melepas lelah, setelah membawa kami sampai ke padang rumput di dekat kerajaan. Merenggangkan badan, dan makan bekal yang tersisa. Menunggu sampai matahari naik seinci. Di saat rombongan pedagang dari luar kota mulai banyak berdatangan.

__ADS_1


Tuntas semua hidangan kami habiskan, aku langsung menyelimuti tubuh dengan selimut yang kami bawa dari goa. Jadi teringat selama perjalanan. Aku merasakan hawa hangat saat berada di punggung mereka. Bagai diselimuti bulu tebal yang nyaman saat menaiki Woofy, dan merasa kedap udara bagai dilindungi sisik tebal waktu menunggangi Shege. Sepertinya, hal itu mulai muncul saat mereka sudah naik level. Semacam kemampuan tambahan, yang mungkin berguna untuk melindungi penunggangnya.


"Hei, coba lihat bendera kerajaan di tembok atas gerbang itu," bisik Kord sambil menunjuk ke atas.


Bendera bergambar tombak perak dan pedang merah bersilangan dengan latar hitam itu terpasang setengah tiang. Tanda kerajaan sedang berduka.


Wajah Putri Asaru seketika ditutupi awan mendung. Matanya berkaca-kaca dengan kepala yang kemudian perlahan tertunduk.


"Putri, apakah mungkin raja ...."


"Eh? Kenapa? Bagaimana mungkin?" ujar Kord.


"Ini pasti rencananya. Dia pasti melakukan itu agar aku tidak leluasa muncul di kerajaan."

__ADS_1


"Ratu Tirama, maksudku Mitara? Buat apa?" Aku memicingkan mata.


"Sihirnya. Tuan Artapatu mengatakan padaku kalau Mitara membutuhkan kekuatan batu haswa dan darahku, keturunan dari orang yang telah menghabisi keluarganya, untuk dapat menuntaskan sihir pamungkasnya. Meliputi kembali benua ini dengan kegelapan. Kembali ke awal di mana benua ini dikuasai oleh para monster ganas. Oleh karena itu dia butuh alasan untuk dapat membunuhku dengan leluasa. Jika aku sampai muncul di sekitar kerajaan maka dia dapat dengan mudah membuat fitnah seperti yang dilakukan Arson."


"Hei, kenapa kau tidak bilang itu sebelumnya?" kata Kord.


"Maaf. Aku tidak akan pernah menyangka akan seperti ini. Lagi pula kalau aku bilang kepada kalian, aku takut hal itu justru menghambat misi ini. Konsentrasi kalian akan terbagi antara menyelesaikan misi dan menjagaku."


"Kalau pun tidak kau bilang, kami akan tetap menjagamu. Jadi ingat, jangan pernah lagi melakukan hal itu!" Bukan aku yang berkata. Itu murni Sam yang berucap kepada Putri Asaru.


Kembali putri cantik itu menundukkan kepala. Kali ini bukan karena bersedih. Aku lihat sekilas wajahnya bersemu merah. Penampakan yang dia coba sembunyikan dari Sam.


Ah, sial! Adegan seperti ini aku hafal betul! Macam di sinetron kesukaan Mama!

__ADS_1


Seperti dugaanku. Suasana menjadi canggung setelah itu. Bahkan si cerewet Kord pun diam seribu bahasa, dan hanya berbicara saat meminta izin untuk tidur. Meninggalkan kami berdua yang tidak tahu harus berbuat apa. Lama.


__ADS_2