
Satu atau dua jam aku terlelap. Kapal besar ini tiba-tiba saja berguncang hebat. Gelagapan aku terbangun, karena berpikir kalau itu terjadi akibat serangan dari Armada Lasto.
Prasangkaku salah besar. Dari satu-satunya jendela yang ada di situ, aku melihat latar laut yang mengamuk ganas. Menderu dengan angin ribut dan gelegar guntur di mega hitam menggantung. Sungguh pemandangan yang menyeramkan.
Aku duduk terpekur di sebelah Yenz, yang membiarkan pahanya dijadikan bantalan kepala Leo. Mulai berpikir kalau serangan armada perang, mungkin lebih baik dari pada amukan ganas lautan.
"Gila cuaca di luar itu. Benar-benar badai yang menyeramkan. Padahal tadi masih terlihat cerah."
"Dua jam yang lalu memang cuaca sedang bersahabat, tetapi kita sekarang sudah masuk ke wilayah selatan. Akan banyak anomali di sini dibandingkan daerah utara. Kadal yang kita temui di gurun waktu itu, mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang ada di sini."
"Kau bercanda kan?"
Yenz mendengkus. "Kita sekarang berada di perairan gelap. Tempat di mana badai lautan adalah hal lumrah. Tidak banyak kapal yang berani melewati perairan ini, kecuali mau mengantar nyawa atau sok berani."
Aku menelan ludah berat mendengar penjelasan si bibir ranum itu.
"Tapi, tenang saja. Aku yakin kalau mereka--para bajak laut Hovler--sudah biasa melewati perairan ini. Jadi, tidak perlu khawatir berlebihan."
"Ya tapi kan, kita tidak tahu apa yang mungkin terjadi. Bisa saja ada sesuatu yang menyerang kapal ini, atau badainya jadi semakin besar."
Yenz tertawa. "Kau lupa kalau kita pernah membuat kapal ini terjungkal? Julukan kapal yang tidak pernah karam milik Nokhtra bukanlah hisapan jempol semata."
"Maksudmu?"
"Kalau kapal biasa, pasti akan langsung karam jika terkena tornado bijih angin waktu itu. Tetapi lihat, kapal ini bahkan tidak terlihat seperti pernah rusak sebelumnya. Dan, mereka datang ke Velbar, hanya berselang beberapa hari dari pertempuran waktu itu. Apa kau pikir hal itu mungkin dilakukan oleh sebuah kapal biasa?"
__ADS_1
Aku tercenung mendengarnya. Walau tidak benar-benar tahu soal kapal dan pelayaran--malah bisa dibilang nol--tetapi ada benarnya juga omongan Yenz.
Dari sini aku mulai bisa sedikit tenang, dan mulai memerhatikan hal lain. Tentang ruangan lengang tempat kami berada, yang ternyata sudah disiapkan kain selimut dan matras di pojok ruangan. Selebihnya kosong.
Sampai akhirnya pandanganku ke pundak Yenz, yang dari balik bajunya masih merembeskan senokhta darah.
"Kenapa tidak kau pakai saja obat ajaib untuk mengobati lukamu?" tanyaku.
"Cairan yang kau gunakan di dalam penjara itu adalah tetes terakhir yang tersisa." Jelas tidak enak hati aku mendengarnya. Tetapi, kemudian Yenz melanjutkan ucapannya. "Tidak usah memasang wajah seperti itu. Makin jelek tampangmu. Percayalah, aku sama sekali tidak membutuhkannya, karena tanpa itu pun, lukaku akan sembuh setelah bangun tidur nanti."
Omongannya suka tidak masuk akal. Luka tembak seperti itu, sudah seharusnya dikasih obat, dan perlu waktu lama untuk benar-benar sembuh. Apalagi kalau pelurunya mengenai tulang. Aku tahu itu, karena pernah mengalaminya sendiri--Margo sih sebenarnya--dan baru benar-benar sembuh setelah Yenz memberikanku obat ajaib, sewaktu di sekapan bandit gurun.
Namun, aku sedikit terusik juga dengan celetukan konyol, yang mengiring ucapannya tadi.
"Hati-hati dengan mulutmu ya, tidak sopan sekali kau mengejek wajahku! Aku ini lebih tua darimu!" bentakku, yang ditanggapi kekehan tertahan olehnya.
Tuhan tidak adil! Dia lebih tua enam tahun dari Margo, tetapi masih dengan wajah imut macam pemuda dua puluhan! Sumpah, aku yakin dia berbohong. Pasti dia hanya terpaut beberapa tahun lebih tua dari Leo.
"Kau pasti bohong kan!" cecarku tak percaya.
Yenz kembali tertawa. "Sudahlah, tidak perlu diambil hati. Sejujurnya aku yakin kau akan terlihat lebih muda kalau brewok kusut di wajahmu itu dicukur habis. Sini aku cukurkan kalau kau tidak bisa melakukannya."
Jleb sekali ucapannya. Tapi, memang benar sih, aku tidak berniat mencukur brewok ini, karena selain tidak bisa melakukannya sendiri, aku juga masih trauma dulu pernah terluka, karena iseng memainkan pisau cukur punya ayah.
Guncangan kapal tiba-tiba saja menghentak keras. Kami terlonjak olehnya, sekaligus merasakan keterkejutan yang sangat. Uniknya, Leo yang ikut terpelanting dan jatuh keras ke lantai, dengan kepalanya mendarat terlebih dahulu, tetap saja tertidur seperti anak bayi. Seakan sama sekali tidak merasakannya.
__ADS_1
Begitu goncangan itu reda, aku bergegas mengambil dua buah selimut, yang sudah sedari tadi berantakan. Satu untuk menutupi tubuhnya, yang lain aku lipat untuk dijadikan bantalan kepala.
"Kau pasti sempat berpikir kalau Leon menghianatimu dan berpaling ke Barrety kan?" pertanyaan Yenz itu membuatku langsung menunduk malu. "Aku awalnya juga berpikir sama sepertimu, tetapi melihat dia menolongmu saat di kapal, pikiranku berubah. Aku mulai menyelidikinya, sehingga tahu kalau yang dia lakukan itu demi untuk melindungimu."
Melindungiku? Maksudnya apa?
"Kau ingat kepala pelayan di rumah Baretty? Tuan Joshep." Aku tidak ingat namanya, tetapi jelas ingat akan sosok pelayan tua itu. Jelas aku memberikan anggukan. "Beliau sebenarnya pengasuhku sewaktu kecil. Dia yang memberitahu Leo soal rencana busuk, untuk menghabisi kalian berdua. Tidak terperinci selentingan yang berhasil Tuan Joshep curi dengar, saat kalian akan pergi dari kediaman Falcoa, sehingga tidak tahu pasti rincian rencana jahat sepupu tersayangku itu."
Astaga! Aku ingat. Sebelum kepergian kami ke tengah kota, Leo berkata kalau pelayan itu ingin mengatakan sesuatu kepadaku.
Sial! Seandainya aku lebih perhatian, tentu tidak separah ini jadinya.
"Di restoran tengah kota, Leo mulai curiga dengan Tuan Mashet, karena badannya tercium bau darah. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa melakukannya. Lalu, disaat kalian pergi menuju pelabuhan, kecurigaan Leo semakin pasti, karena dia nengendus bau minyak dari jerigen yang dibawa Mushet. Sampai kalian ke dalam kapal, Leo mendengar kalau Baretty memerintahkan seorang kalasi, untuk menyampaikan pesan kepada si pembunuh bayaran itu."
Jadi, dalang semua kesengsaraan aku itu adalah si buncit Falcoa! Lihat saja nanti kalau ketemu lagi, akan aku buat dia menyesal!
Goyangan keras kapal perlahan mereda. Aku mendelik ke luar jendela. Badai gelap yang tadi meraja sudah berganti dengan lembayung sore.
Baru sedikit merasakan ketenangan, suara langkah kaki terdengar mendekat. Urung aku melanjutkan obrolan, dan terpaku menatap pintu, yang benar saja menjeblak terbuka.
Pria gendut songong yang tadi lagaknya mengesalkan itu, masuk sambil membawa kursi kayu. Di belakangnya, berjalan tegap seorang pria yang mata kirinya memakai penutup. Dari aura menekan penuh wibawa yang dia kuarkan, berani bertaruh aku kalau dirinyalah kapten kapal ini.
Dari pengalaman sebelumnya, aku tidak pernah bisa akur dengan seorang kapten kapal. Melihat dia yang seperti itu, aku sedikit berharap tidak akan terkena masalah. Bisa dilempar kelaut aku kalau sampai terjadi, secara mereka adalah bajak laut yang terkenal dengan kekejamannya.
"Benar. Itu mereka," ucap seorang pemuda dengan rambut berwarna tembaga, yang menyusul masuk di belakang sang kapten.
__ADS_1
Sebentar! Orang itu, aku ingat pernah melihatnya!