Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 37-2] Pemberian Tuan Besar Falcoa


__ADS_3

Aku dan Leo, diantar keluar rumah mewah Gubernur Falcoa, oleh sang pelayan tua, tidak berselang lama dari kepergian Yenz.


Tidak lagi aku bisa mengagumi kemewahan hunian orang nomor satu di Sunkalopa ini, walau masih kepikiran soal harga furniturenya, yang pasti tidak akan mampu dibeli oleh "kaum mending" sepertiku.


Aku masih diliputi kemarahan atas sikap Yenz, yang begitu seenaknya dan seperti berusaha menjauh dariku. Padahal, belum lama ini kita sudah berbaikan, karena kejadian di Pulau Talse.


Tidak bisakah dia lebih sedikit menghargaiku? Atau setidaknya dia ingat bagaimana petualangan panjang kita, yang penuh mara bahaya, hingga akhirnya bisa sampai di sini. Bukankah itu hal besar, yang pasti susah untuk dilupakan begitu saja?


Sampai kami di teras depan rumah mewah ini. Aku masih terus ngedumel di dalam hati, apalagi saat disuruh pelayan tua itu menunggu sebentar, sementara dia kembali ke dalam rumah.


Tidak ada yang bisa kulakukan untuk membunuh kebosanan. Leo yang biasanya cerewet, kini mulutnya sedang disibukkan mengunyah kue, yang tadi diizinkan oleh si pelayan tua untuk dibawa. Dibungkus menggunakan lap tangan putih bersih miliknya.


Berbicara soal Leo, aku jadi kepikiran lagi soal dirinya, yang begitu saja berubah sikap saat di Talse.


Ok lah, dia orangnya easy going. Tetapi, memanggil Kakak, kepada orang yang mau membunuhnya beberapa jam sebelumnya, sepertinya agak janggal. Pun, bagaimana soal dirinya yang bisa tahu seluk beluk goa itu? Jalur melarikan diri, yang dia bilang pernah memasukinya dan masih ingat ke mana jalannya.


Pintu ganda besar di belakang kami terbuka. Membuatku urung melontarkan tanya kepada si Jamet. Fokusku teralih kepada pelayan tua, yang berjalan cepat dengan gaya angkuhnya, untuk menghampiri kami.


"Perlu aku informasikan kepada kalian berdua, Tuan-tuan. Tuan Sando masih ada urusan dengan Tuan Besar Falcoa, jadi kalian bisa kembali lebih dulu ke penginapan."


Sejujurnya aku tidak peduli si Muka Parut itu mau kapan baliknya. Malah aku bersyukur tidak satu kendaraan lagi dengannya. Tetapi, aku malah jadi penasaran soal Yenz. Si Raja Tega itu.


"Lalu bagaimana dengan Yenz?"


Pelayan tua itu berdeham. Seperti sedang menegur halus diriku, yang sudah mengatakan hal tidak sopan.


"Tuan muda Yenz, akan menginap di sini sampai hari keberangkatan," ucapnya dengan intonasi yang agak bergetar. "Dan, Tuan-tuan sekalian, Tuan besar Falcoa, menyuruhku untuk memberikan ini kepada kalian."


Tangan kurus berlapis sarung tangan putih itu, masuk merogoh kantung dalam jas berbuntutnya. Mengeluarkan setumpuk kertas berwarna hijau, dengan ulir emas menghiasi gambar di permukaannya.


Aku terperangah melihat tumpukan uang yang disodorkan di hadapan. Margo yang dulu hanya seorang buruh pabrik, baru kali ini melihat uang bertumpuk sebanyak itu.


"A-apa ini?" tanyaku. Gemetaran hendak mengambil.


"Ini adalah pemberian dari Tuan Besar Falcoa. Uang saku harian kalian berdua, yang berjumlah seratus ribu dem."


Seratus ribu dem untuk uang saku harian. Perlu sepuluh bulan upah kerjaku di pabrik, untuk menyamai jumlah uang pemberian Falcoa.


"Se-serius ini untuk aku?" Aku coba meyakinkan diri.


"Tepatnya untuk kalian berdua. Dan juga, besok sebelum makan siang, akan ada jemputan yang akan mengantar Tuan-tuan sekalian, menuju pondok hunian pribadi, di bukit belakang kota. Pemberian Tuan Besar Falcoa."


Aku tidak habis pikir. Sebenarnya seberapa kaya Tuan Besar Falcoa itu. Memberikan uang harian dalam jumlah besar, dan itu pun masih ditambah pula dengan hunian gratis, yang aku pikir tidak mungkin hanya berupa pondok kecil.


Kereta kuda yang kami tumpangi untuk sampai ke hunian gubernur ini, datang dan terparkir tepat di depan teras. Menunggu penumpangnya untuk naik.


Saat melihat kendaraan yang ditenagai dua pasang ekor kuda gagah itu, aku kepikiran hal yang mungkin bisa sedikit mengobati rasa kesalku karena kelakuan Yenz.


"Begini ... Tuan pelayan, bisakah aku meminta agar diantarkan ke pusat kota? Aku ingin berjalan-jalan sebentar di sana. Biar nanti kami kembali ke penginapan dengan berjalan kaki."


Pelayan tua itu menghela napas pelan, lalu berjalan menuju ke muka kereta kuda. Sejenak dia berbicara kepada kusir, sebelum kembali dan mengatakan kalau permintaanku sudah disampaikan.

__ADS_1


Tanpa membuang waktu, setelah mengucapkan terima kasih, aku segera beranjak menaiki kereta kuda, dan pergi menuju kebebasan.


Tak perlu lagi pusing memikirkan soal uang, dan tidak usah takut lagi, dengan segala macam perkara yang bersangkutan status buronanku.


Mungkin tidak lama lagi, kisahku sebagai Margo akan berakhir, lalu kembali ke dunia asal dengan selamat sentosa.


Sambil menunggu hal itu terwujud, tidak ada salahnya, kan, aku menghabisakan waktu dengan bersenang-senang.


Lima belas menit kemudian, kereta kuda ini sampai di depan gapura, dengan sepasang bendera Kerajaan Andapala berkibar di kedua tiangnya.


"Tuan, Pak pelayan tadi sepertinya ingin mengatakan sesuatu sebelum kita pergi," ujar Leo, sewaktu kami berjalan melewati gapura.


Jujur, karena terlalu bersemangat, aku jadi tidak memperhatikannya. "Sudahlah, mungkin hanya perkara kecil. Kalau memang penting, pasti tadi dia akan menahan kita, untuk memberitahukannya terlebih dahulu, sebelum kereta kuda berangkat."


"Iya juga, ya. Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau kita makan, Tuan? Sekarang sudah lewat jam makan siang, dan perutku sudah mulai kelaparan," pinta Leo. Dengan mata berbinar.


Orang ini. Bukankah tadi dia sudah makan semangkuk penuh kue? Perut macam apa yang dia miliki sebenarnya.


Tapi yah sudahlah, aku sebenarnya juga lapar. Mumpung sedang berada di pusat kota, dan dalam saku tersimpan segepok uang segar, tentu tidak masalah, kan, menghamburkannya sedikit dengan berburu kuliner.


Tips dari ibu dalam mencari tempat makanan enak, saat sedang berada di tempat yang asing. Carilah restoran, atau stan makanan yang ramai pengunjungnya!


Masuk akal. Karena pasti hanya untuk makanan enak, orang akan rela mengantri lama.


Tidak perlu repot mencari ternyata. Di deretan pertokoan, dekat air mancur besar yang membelah jalan, sebuah restoran dengan papan di atasnya tertulis "Simple Resto", mungkin adalah tempat yang kucari. Penuh pengunjungnya berkerumun di sana.


Sepertinya tidak salah dugaanku. Bahkan dari luar pun, tercium aroma lezat yang menggoda.


Yap, semua penuh. Sudah dua kali aku berkeliling memeriksanya, tapi tidak satu pun meja yang kosong. Baik meja di dalam, maupun di luar restoran. Pupus harapanku untuk makan di restoran berdinding batu ini. Mungkin ada baiknya kami pergi ke restoran lain yang agak lebih sepi.


Aku hendak beranjak, saat seorang pria di meja yang kulewati menyapa.


"Apakah Anda tidak mendapatkan kursi, Tuan? Kalau Anda mau, aku tidak keberatan untuk berbagi dengan kalian berdua, yang aku tebak adalah para pelancong. Berwisata menghabiskan liburan menyenangkan antara ayah dan anaknya."


Orang kurus berkemeja hitam rapi, dengan topi tinggi itu, sebenarnya sangat ramah. Tapi, agak kesal juga mendengar ucapannya, yang mengatakan kalau si Jamet adalah anakku. Setua itu kah tampang Margo ini?


Sial!


"Terima kasih banyak atas kebaikanmu, Tuan. Tapi mohon maaf. Dia ini bukanlah anakku, tetapi rekan perjalananku," kataku, setelah duduk di kursi yang ada di hadapannya.


"Astaga. Sungguh aku tidak ada maksud menyinggungmu, Tuan. Mohon maafkan aku, Ferdinan Mashet, ini atas perkataannya yang kurang berkenan, Tuan." Pria berwajah oval, dengan kumis unik menggulung membentuk spiral itu, menunduk dengan tangan kanan ditempatkan di dada kiri.


Aku jadi tidak enak hati melihatnya.


"Tidak apa-apa, Tuan Mashet. Sungguh itu hanyalah masalah kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan," timpalku. "Oh iya. Perkenalkan. Saya Margo Damarion, dan pemuda ini bernama Leo."


Aku tercenung saat melihat si Jamet, yang entah sejak kapan berdiri mematung, dengan pandangan mata tajam menatap Tuan Mashet. Sungguh tidak sopan.


"Apakah ada sesuatu di wajahku, Tuan Leo?" tanya pria berkumis unik itu, dengan intonasi ringan yang terdengar jenaka.


Lekas aku menarik tangan Leo agar dirinya mendekat.

__ADS_1


"Ada apa denganmu, hei!" desisku, yang tidak mendapatkan tanggapan. "Leo!? Apa yang salah denganmu? Sebegitu laparkah kau sampai bersikap aneh begitu? Sekarang lebih baik kau pergi ke dalam untuk memesan makanan. Cepat!"


Tanpa menjawab, pemuda itu pergi ke dalam restoran, untuk memenuhi perintahku.


"Mohon maaf, Tuan Mashet. Leo memang seperti itu jika sedang lapar. Semoga Anda tidak tersinggung," ucapku, setelah Leo berlalu.


Pria setengah baya berkumis unik itu terkekeh renyah. "Tidak apa-apa, Tuan. Memang begitulah sifat orang seusianya." Tuan Mashet menuangkan teh dari teko di atas meja persegi, yang membatasi kami. "Oh iya. Kalau boleh tahu, dari manakah Anda berasal, Tuan Margo?"


Dari pertanyaan itu, mengalirlah percakapan seru di antara kami. Banyak hal yang dia ceritakan, dengan gaya bicaranya yang bagai bernada. Tidak membosankan mendengarnya.


Dari obrolan yang terasa singkat itu, aku mengetahui kalau dirinya mempunyai hobi berburu, dan sudah pergi ke banyak pulau di dunia ini, hanya untuk mencari tantangan dalam memburu mangsanya. Baik itu di hutan, gunung, bahkan masuk ke dalam goa gelap sekalipun, dia pernah melakukannya.


Takjub sekaligus tertarik diriku mendengarnya.


Saat dia mengetahui kalau aku akan menetap di Kalopa--nama kota di Pulau Sunkalopa ini--dia dengan penuh semangat, mengajakku untuk pergi berburu dengannya suatu hari nanti.


Belum sempat aku menjawab pertanyaannya. Beliau sudah lebih dahulu berpamitan, karena temannya yang bernama Hargo, sudah datang menjemput. Teman yang bukan orang sembarangan, karena pria bermantel putih itu, adalah kapten kapal yang kemarin menyelamatkan kami, dari kepungan Armada Vajal.


Tidak berjarak lama dari kepergian kedua pria setengah baya tersebut, Leo kembali dengan membawa nampan besar berisi penuh makanan.


Jelas terkejut aku melihatnya. Akan tetapi, tidak masalah juga kan. Kami sedang memiliki uang banyak sekarang. Untuk perkara sepele seperti ini sih tidak usah terlalu dipikirkan.


Sepertinya tebakanku soal sikap aneh Leo tadi, benar adanya. Terbukti, selama kami menyantap makanan hingga ludes tak bersisa, rona ceria kembali menghiasi wajah lugunya. Seperti biasa.


Dengan perut penuh seperti ini, sangat tidak mungkin kami langsung beranjak. Bersantai dengan ditemani secangkir teh, sambil mendengar alunan nyanyian merdua, sungguh merupakan keputusan yang tepat.


Baru aku sadari setelah lama menikmatinya. Ternyata suara lembut membuai itu berasal dari kolam air mancur, yang sudah penuh dikelilingi orang.


Didorong rasa penasaran, aku beranjak menuju kerumunan itu. Sayangnya, saat aku sampai di sana, kor tepuk tangan sudah berkumandang. Tanda pertunjukan telah selesai disajikan.


"Hadirin sekalian, terima kasih atas perhatian kalian semua. Semoga suara merdu Nona Kreta bisa menghibur Anda semua. Kami, dari grup musik El Machos, mengucapkan terima kasih, dan berpamitan undur diri. Tapi! Jangan terburu-buru, karena si tampan Lamar ini, akan berkeliling seperti biasanya, membawa kantung yang sangat kelaparan, dan minta diisi dengan kebaikan hadirin sekalian. Tentu kalian mengerti maksudku, kan."


Seluruh orang, termasuk aku, tertawa mendengar suara cempreng si bocah, yang tadi melakukan pengumumannya, sambil berdiri di atas pundak pria besar penabuh conga.


Bocah pendek yang satu gigi depannya ompong itu, dibantu turun oleh si pria besar, dengan cara memegangi leher belakang bajunya. Mirip seperti sedang mengangkat seekor anak kucing. Menyulut kembali tawa para penonton.


Merasa sudah dihibur oleh pertunjukan mereka, tanpa ragu, aku langsung masukkan uang sebesar seratus dem, kedalam kantung lusuh yang disodorkan bocah bernama Lamar tersebut.


Melongo dia melihat jumlah uang yang aku berikan. Dia melompat pergi begitu saja, dengan langkah yang diayun secepat kaki kecilnya bisa lakukan.


"Tunggu sebentar, Tuan!" Suara merdu seorang perempuan, membuat langkahku untuk beranjak menyusul para penonton yang lain, menjadi terhenti.


Aku menoleh, dan tercengang saat melihat seorang perempuan cantik, dengan rambut panjang ikal berwarna tembaga cerah, datang mendekat.


Tergugu aku menatapnya. Sungguh dia perempuan dengan pesona lembut nan anggun. Membuat siapa saja yang memandangnya, bisa langsung jatuh hati.


"Tuan, Kakak Manika menugaskan saya untuk mengawasi Anda. Katanya, ’Potong saja ******** Tuan Margo, jika dia berani macam-macam dengan perempuan lain.' Begitu perintahnya." Tanpa aku sadari, Leo sudah berdiri di sebelahku.


Aku melongo mendengar kalimat Leo, yang begitu enteng diucapkan. Seakan ancaman serius itu tidak lebih dari sekadar gurauan.


Sialan memang kau, Jamet! Ternyata selama ini, aku dimata-matai olehmu, atas perintah Manika! Dasar penghianat!

__ADS_1


__ADS_2