Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 51-1] Mantra Pemanggil Satan


__ADS_3

"Woofy!" teriakku dengan senyum terkembang lebar. Mengomando lewat alur pikiran, yang hanya dapat dipahami oleh kami bertiga.


Ya, itu satu rahasia lagi yang aku sadari saat Woofy mencari Kord di Istal. Aku kembangkan saat akan kembali ke istana, menjelang subuh tadi.


Ekor panjang perak menyapu ratusan kadal menjauhi pusat pertahanan. Mengobrak-abriknya demi membuka jalan. Membersihkan jalur landasan kami untuk dapat melakukan awalan lompatan.


Kami mulai berlari, tanpa peduli para kadal yang terus menerjang. Mengambil ancang-ancang dengan merendahkan posisi badan, saat jarak dengan istana hanya tersisa lima belas meter. Sehentakan keras dari keempat kaki bercakar, melantingkan kami tinggi hingga melewati pucuk istana. Saat itu pula aku berlari menyusuri tengkuk si serigala perak, untuk akhirnya melompat sekuat tenaga, begitu berada di puncak kepalanya.


"Lindungilah mereka yang ada di bawah sana!" teriakku, yang dibalas salakkan kencang.


Aku terpelanting tinggi dengan bantuan hentakan kepala Woofy. Melayang dan terhenti sejenak di tengah udara.


Di saat itu. Aku menatap ngeri sekumpulan kadal bersayap, yang meluncur kalap menerjang ke arahku. Sekelumit masalah penting yang luput dari perhitungan rencana.


Pias aku menyaksikan para kadal semakin mendekat setiap detiknya. Hendak aku memejamkan mata, saat kobaran membara tertangkap di tepi netra.


Sekejap saja, para siluman reptil di hadapanku meledak terhantam tumbukan bola api--sebuah serangan area dahsyat. Sebelum mereka dapat mendekat. Aku selamat. Namun, Efeknya membuat diriku terhempas tidak karuan di tengah udara.


Wush!


Beruntung Shege dapat menangkapku sebelum tubuh ini terlempar jauh, lalu menukik bebas tertarik gravitasi, dan jatuh begitu saja di tengah kumpulan kadal. Aku mendarat mulus di atas punggung bersisiknya. Menggeliat, kemudian merayap pelan, sebelum berpegangan erat pada cela sisik di sekitar leher--yang sengaja direnggangkan Shege--dan berkonsentrasi untuk memulai penyatuan.


Hangat kembali mengalir merasuki tubuh. Menyentak jiwa kami untuk akhirnya berfusi menjadi satu kesatuan. Aku dan Shege dalam ikatan abstrak yang solid.


Tidak mau membuang waktu. Aku ambil sebutir kelereng transparan dengan gelembung cahaya di dalamnya, yang tersimpan di kantong kain. Terikat di sabuk baju perang yang aku gunakan--bersebelahan dengan pisau batu pemberian Artapatu.


Aku genggam erat batu bening itu di kepalan tangan kanan. Mengatur napas, dan perlahan memejamkan mata. Berusaha fokus--dengan tetap menjaga keseimbangan--sampai akhirnya aku tersadar satu poin penting.


Aku tidak tahu cara menggunakan benda sialan ini!


Ya Tuhan! Bagaimana sekarang!? Padahal tinggal selangkah lagi aku bisa membuat pelindung gaib seperti yang diciptakan Artapatu kemarin. Delapan pilar cahaya.


Tapi bagaimana caranya!?

__ADS_1


Sebentar! Aku ingat! Ada mantra yang diucapkan Artapatu sebelum pilar cahaya muncul. Seperti syair atau semacam puisi. Pasti begitu cara menggunakan batu ini.


Sekarang, masalahnya aku sama sekali tidak mengingat bait yang dia ucapkan! Apa harus aku karang sendiri!?


Bagaimana mungkin? Nilai bahasaku saja anjlok!


"Puisimu bagus, seperti mantra untuk memanggil satan keluar dari neraka." Aku teringat ucapan sarkas Fiona itu. Dia katakan tepat setelah aku selesai membacakan puisi, di pelajaran bahasa dan sastra. Membuat seisi kelas tertawa nyaring.


Ya, ok. Aku bukan seorang pujangga, yang pandai merangkai kata. Tetapi, setidaknya aku membuat puisi itu dengan sepenuh hati--referensinya berasal dari anime dan komik. Meskipun, aku lakukan itu demi mendapat izin dari Mama, agar diperbolehkan membeli video game "Zuda: The Sacred Vampire Slayer". Dengan syarat bisa mendapat nilai pelajaran yang bagus.


Yah, paling tidak tugas yang kubuat dianggap sebagai mantra. Kalau begitu kan berarti ada kesempatan besar untukku mengeluarkan kekuatan batu ini.


Saatnya mencoba!


Aku angkat tinggi tangan yang menggenggam batu gaia. Diam sesaat memikirkan kata apa yang harus diucap, dan kurangkai menjadi bait-bait mantra.


Lalu, satu tarikan napas kemudian.


Hening menunggu sesaat.


Berhasil!


Tanganku terasa hangat, bagai dialiri gelombang hawa bersuhu tinggi. Menyusulnya, dari celah-celah jari yang terkepal, memancar berkas cahaya terang.


Namun, ternyata hal itu menarik perhatian para kadal terbang. Mereka serentak menambah kecepatan dan berupaya menerjang kami dari delapan penjuru.


Shege bermanuver sambil menyemburkan napas api membara. Ekor berdurinya pun dia kibaskan membabat mereka tanpa kenal ampun. Membumbung ke atas, saat beberapa kadal berhasil mencapainya. membawa mereka yang merayap untuk sampai di tempatku berada.


Sisik di atas lehernya terbuka dan bercahaya, saat kami berada di ketinggian lima ratus meter dari puncak atap istana.


Wush!


Shege menghentak. Menukik ke bawah dengan mulut terbuka, yang menggelorakan api membara. Kami terjun vertikal bagai sebuah meteor berapi yang hendak menghantam bumi.

__ADS_1


Seluruh kadal yang menempel dan merayapi sisiknya seketika hangus terbakar. Saking panasnya, bahkan baju besi mereka luruh menjadi debu. Berbeda dengan aku yang hanya merasakan hangat dari api yang disemburkan olehnya. Wajar saja seperti itu, karena kami adalah satu kesatuan.


Bum!


Gelombang panas besar meledak dan menyebar di langit atas istana, saat Shege mengerem lajunya dengan paksa di tengah udara. Merontokkan sebagian atap istana, tetapi juga menyapu bersih para kadal terbang di sekitar kami.


Sialan!


Aku lagi-lagi salah perhitungan. Gerakan dahsyat itu malah membuat genggamanku di batu gaia terlepas. Terpelanting jauh terkena gelombang yang kami ciptakan.


Kalap para kadal menerjang ke arah batu kecil yang berpendar terang tersebut. Inti hutan yang menjadi harapanku untuk memenangkan peperangan ini, hendak mereka hancurkan di saat tinggal selangkah lagi aku dapat mengeluarkan kekuatannya.


Pyash!


Seekor kadal terbang meraih batu itu di udara. Menggenggamnya erat seperti hendak memecahkannya. Namun, yang terjadi kemudian malah pendar itu bercahaya semakin terang, untuk akhirnya merontokkan para kadal di radius beberapa ratus meter. Ya, mereka tersepah dan tercabik-cabik bagai dedaunan kering.


Inti hutan melenting, setelah membabat para kadal. Menuju ke arah kami, lalu berhenti sesaat, tepat di atas puncak istana.


Syut!


Inti hutan menukik deras ke bawah. Menembus atap yang sudah tidak lagi utuh. Terus tanpa ada yang bisa menghalangi. Seakan bola itu benar-benar hanyalah sewujud siluet cahaya. Tanpa massa partikel yang saling terikat.


Pyar!


Gelombang sinar keluar dari dalam tanah. Membuncah bagai air mancur besar yang membentuk kubah. Membesar hingga radius beberapa blok. Menyapu bersih para kadal yang tersentuh selubung transparannya. Lebih dari itu, ternyata kekuatan pusaka kuno Benua Suno ini, sekaligus memberikan berkah kesembuhan bagi para pejuang di bawah sana. Termasuk kami yang tenaganya dipulihkan penuh.


Aku tersenyum lega dengan mata berbinar. Seperti ingin menangis bahagia, karena usahaku membuahkan hasil.


"Berhasil!" ujarku riang. Mengepalkan tangan meninju ke atas. Menatap langit cerah tersibak di angkasa istana, yang dikelilingi awan gelap berarak.


Baiklah, sekarang akan kita mulai ronde kedua dari pertempuran besar ini!


Tunggu kau, Mitara!

__ADS_1


__ADS_2