
Kadang aku merasa lucu dengan film aksi di televisi. Tentang perampokan, atau tema peperangan. Setelah merencanakan gerakan yang sangat rapi dan menjalankannya, pasti ada saja halangan atau hal tidak terduga yang merusak rencana itu. Ok lah, karena dengan hal itu film tersebut akan lebih panjang dan bertambah seru.
Akan tetapi! Kenapa aku harus juga mengalaminya? Di kehidupan nyataku ini.
Eh, ya, bukan nyata juga sih, karena ini adalah dunia di dalam buku terkutuk pemberian Tama! Buku yang menyeretku ke dunia jaman pertengahan yang kuno dan berbelat-belit. Disuruh menyelamatkan putri lah, habis itu melawan naga, eh ternyata musuh sebenarnya adalah ratu kerajaan, yang identitas aslinya seorang penyihir penuh dendam berusia ratusan tahun.
Dan, sekarang aku terjebak di tengah kerumunan orang yang menuding Kord sebagai pembunuh bayaran. Dia sobat kental Sam, dan sekarang sedang telentang kesakitan dengan pedang di punggungnya yang tersibak. Disebabkan mantelnya robek karena kehadiran tokoh tidak terduga. Dia Mog, si pria otot yang waktu di halaman kastil menuduhku sebagai penjarah.
Kord perlahan berdiri, lalu menatap ke lingkaran manusia yang mengelilinginya dengan senyum konyol terkembang di wajah. Aku memalingkan muka saat dia menatapku. Kesal sekaligus malu.
"Bangkit berdiri wahai ...!" Dia bernyanyi sambil mengayunkan tangan terkepal di depan dada.
Suara sumbang itu! Kenapa dia malah bernyanyi sekarang? Tidak dengarkah dia tentang tuduhan pembunuh bayaran?
Hei! Dengan suara sumbangmu itu, orang-orang pasti akan menuduhmu sedang mencela lagu nasional kerajaan!
"Aw! Hei! Siapa yang melempariku!?" Suara nyanyian sumbang itu berganti menjadi jerit kesakitan. Ada orang yang melempar batu kepada Kord dari kerumunan.
Lemparan itu berlanjut, dan malah semakin deras. Kord menunduk sambil memegangi bagian belakang kepalanya. Berusaha melindungi diri.
__ADS_1
Aku bingung harus berbuat apa. Mengeluarkan Woofy yang sejak tadi gelisah di dalam tas bukanlah pilihan. Bisa jadi benar-benar hancur berantakan rencana ini nanti!
"Minggir! Minggir semuanya!" perintah beberapa prajurit yang membawa tombak. Menyibak kerumunan warga.
Trak!
Langkah berat sepatu besi dari baju zirah terdengar. Membawa sosok yang hampir membunuh kami di tengah hutan. Arson. Si bangsawan berengsek yang kini mata kanannya mengenakan penutup mata.
"Ah ... ternyata, si gendut pengkhianat ini lagi. Kau mungkin beruntung bisa selamat saat di hutan. Tetapi, di sini akan aku pastikan kematianmu, Sialan!" ujar Arson penuh gelegak kemarahan. "Prajurit! Bersiap! Angkat senjata kalian, dan habisi si gendut pengkhianat itu!"
Drak!
Sialan! Apa harus sekarang aku keluarkan Woofy yang mulai memberontak hendak keluar dari tas? Rencana kami akan benar-benar gagal kalau begini. Padahal iring-iringan kerajaan masih bergerak mendekat di belakang sana. Aku harus bagaimana?
"Jangan bergerak, Kord!" perintah suara berat pria berwajah sangar. Mog.
Dengan santainya dia mencabut pedang yang ada di punggung Kord. Memutar-mutar dan mengayunkannya. Membuat para prajurit menaikkan kesiagaan.
"Pedang yang bagus. Sangat bagus malah. Kalau begini mudah saja aku membereskannya." Mog memandangi bilah pedang yang dia pegang dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Heh ... hei, Tuan Mog. Ka-kau ti-tidak serius kan?" Tubuh Kord gemetaran kencang.
"Ya, aku serius. Maka dari itu kau diamlah di sini!"
Sialan! Sekarang atau tidak sama sekali. Biarlah rencana kami berubah, asal teman dekat Sam itu tidak mati di sini.
"Hiya! Rasakan amukan Mog yang perkasa!"
Tanganku baru masuk ke dalam tas saat pria bermuka sangar itu menerjang ke depan. Menyabetkan pedang di tangan, dan membuat tombak para prajurit, yang lengah karena menyangka Mog dipihak mereka, menjadi terpotong. Membuktikan ketajaman pedang simpanan Artapatu.
Sumpah. Aku bingung dengan tindakan pria besar itu. Apa motifnya? Apakah dia menolong karena mengenal Kord? Tetapi sangat tidak mungkin, karena lawannya adalah prajurit kerajaan, sementara Kord sendiri dituduh sebagai pengkhianat yang akan membunuh raja. Jelas itu akan merugikannya untuk jangka panjang, karena akan membuatnya jadi buronan paling dicari.
Mog menyabetkan pedang menembus baju besi seorang prajurit, yang kemudian dilanjutkan dengan menendang prajurit lain hingga terjungkal. Dia terus menyerang dengan brutal bagai orang kesetana, namun tetap penuh perhitungan. Bergerak lincah bagai menari, mempermainkan para prajurit yang pada akhirnya menjadi korban serangannya.
Harus aku akui orang itu hebat dalam pertarungan pedang--malah mungkin juga tangan kosong. Jauh lebih hebat malah dari si bangsawan busuk Arson itu. Tetapi, sehebat apa pun dia, sepertinya tidak mungkin bisa melawan sepeleton pasukan yang baru saja datang. Bersiaga mengepung Mog dalam formasi setengah lingkaran.
Bagaimana sekarang? dia pasti akan habis jika mereka menyerang bersamaan. Menghujamkan tombak ke tubuh besarnya, disusul sabetan pedang yang akan menghabisi riwayatnya.
Apa memang harus sekarang aku dan Woofy beraksi!?
__ADS_1