Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 4-2] Cerita Macam Apa Ini!?


__ADS_3

Panas! Rasanya benar-benar panas, seakan sekarang aku sedang berada di dalam kuali besar. Direbus menjadi sop lezat berbahan utama daging montok cowok ganteng.


Sialan! Apa yang sudah terjadi sebenarnya? Seingatku tadi sedang berada di dalam kamar Wanara yang sejuk--cenderung dingin--karena pendingin ruangan yang dihidupkan. Lalu, kenapa tiba-tiba bisa berubah panas begini?


Sebentar! Aku mendengar ada suara-suara aneh di sekitar, dan lucunya, aku juga merasa sekarang berada di tempat yang sedang bergerak. Ada beberapakali guncangan pelan terasa.


Perlahan aku membuka mata. Mengerejap sesaat, lalu menguceknya beberapa kali. Tidak percaya dengan pemandangan yang terlihat di hadapan.


Bukan kamar berpendingin ruangan, dengan banyak poster karakter anime, band, dan juga artis terkenal tertempel di dinding. Sekarang semua berubah drastis! Aku sedang berada di sebuah ruangan kecil terbuat dari papan kayu, yang di sekelilingnya ditempatkan banyak kotak, tong, dan karung yang bertumpuk.


Ah iya! Benar. Terakhir kali yang aku ingat adalah, buku terkutuk itu menghisapku masuk secara paksa. Setelahnyq aku kehilangan kesadaran. Dan, berani bertaruh, kalau ini adalah dunia di dalam buku terkutuk berjudul, "Jurnal Pelayaran Menuju Benua yang Hilang".


Sumpah, aku menyesal sekarang. Seandainya tadi tidak keburu emosi, dan mengambil buku itu, hal gila ini tidak harus terjadi.


Oh, ayolah, katakan kalau semua ini hanyalah mimpi! Sangat tidak mungkin, kan, jika kita berpikir realistis, hal aneh seperti masuk ke dunia lain bisa terjadi.


Ucapan Wanara soal rasa sakit, kelaparan, dan hal lain semacamnya, yang bisa dirasakan secara nyata di dunia ini, mulai terngiang-ngiang jelas di kepala.


Menilik dari buku ini, aku yakin akan berhubungan dengan lautan. Ya, kata pelayaran itu, tidak mungkin tidak, dipastikan kalau aku harus mengarungi lautan untuk sampai ke akhir cerita.


Bukannya aku tidak suka lautan, atau memiliki penyakit mabuk laut. Akan tetapi, bagiku berenang adalah kegiatan paling mengerikan.


Aku bisa berenang walau tidak ahli. Tetapi, karena dulu pernah tenggelam di kolam renang, sampai saat ini, hal itu masih membuatku trauma.


Ya, aku paling anti akan kegiatan unfaedah tersebut. Bahkan, di saat musim panas pun, sewaktu kolam renang menjadi pilihan banyak orang untuk menghabiskan waktu, aku lebih memilih diam di dalam kamar dengan pendingin ruangan dihidupkan. Hibernasi sepanjang hari sambil bermain game, tanpa mengenakan baju sama sekali. Hanya baju loh, bukannya bugil.


Ya begitulah. Membuat aku makin menyesal sudah sok jago, dan memilih buku berwarna biru!


Cerita soal pelayaran, kapal, lautan, dan juga ringkik kuda yang aku dengar di depan ....


Tunggu sebentar! Jangan bilang kapal ini berlayar dengan ditarik oleh kuda laut. Bakal absurd kan jadinya kalau begitu. Macam di acara kartun si spons kotak saja.


Aku hendak bangkit keluar dari sela tumpukan kotak kayu. Dan, saat itu juga aku merasakan sakit menyengat yang teramat sangat di pundak. Tak tahu karena apa, tetapi itu membuktikan peringatan dari Wanara.


Aku melihat ke arah sumber rasa sakit, dan detik itu pula aku terperangah. Aku kini memakai ponco yang di pundaknya terdapat noda darah menghitam.


Bukan itu saja. Saat kuraba wajah ini, terasa gumpalan rambut awut-awutan yang tumbuh menjalar. Di dagu, di bawah hidung, dan menyambung dengan rambut ikal tertutup topi ini.


Jadi begitu! Ini maksud Wanara di mana dia masuk ke dalam tubuh seorang pemuda bernama Sam. Di cerita ini pun aku mengalaminya.


Berada di dalam diri seorang om-om berewokan, yang bertubuh besar, telapa tangan kapalan, dan berbau apek. Sudah begitu jomblo pula!


Paling sial dari semua itu adalah, tubuh pria ini tidak dalam kondisi fit. Memiliki luka di pundak belakang, yang mungkin sudah terkena infeksi.

__ADS_1


Sialan! Konyol sekali cerita ini! Belum apa-apa aku sudah dibuat terluka!


Karena tidak tahu harus berbuat apa dengan luka Om Brewok ini, dan masih penasaran akan keberadaanku sekarang. Perlahan-lahan aku merangkak untuk menyibak tirai kain yang ada di ujung kiri ruangan.


Astaga ... seharusnya aku tahu, dan sadar sejak tadi, sedang berada di mana sekarang!


Hamparan coklat yang membias keemasan saat disorot cahaya matahari terik. Luas membentang dengan beberapa gundukkan tinggi berwarna seragam. Itu yang aku lihat saat melongok keluar tempat ini, yang ternyata adalah sebuah karavan yang ditarik oleh kuda.


Di kanan dan kiri kereta kuda ini, berjejer para koboi berkuda, dengan wajah sangar berminyaknya, yang dekil dihinggapi debu. Dan, tentu saja mereka membawa tembakkan sebagai senjatanya. Ada senapan laras panjang ditenteng di punggung, dan revolver tersarung di pinggang.


Ini semua benar-benar membuatku bingung! Tema cerita ini adalah tentang pelayaran, tetapi mengapa sekarang aku malah berada di gurun pasir? Apa hubungannya coba?


"Tuan Damarion," panggil seseorang di belakangku. Sisi lain kereta kuda yang ditutup oleh kain kumal.


Aku membalikkan badan, dan mendapati seorang pria dengan topi tinggi melongok. Menyibak tirai.


"Ada apa kau menggangguku, hah?"


Eh, sebentar! Itu bukan kalimat yang mau kuucapkan. "Aku bukan Damarion. Siapa kau, dan di mana kita sekarang?" Itu yang seharusnya keluar dari mulut ini. Tapi, kenapa kalimat itu yang terucap?


Aku ingat! Wanara juga bilang, kalau dia mengalami hal seperti tadi. Ucapannya berubah saat mau mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan dunia ini.


"Bukan begitu, Tuan. Tapi seperti janji kita. Aku memberimu tumpangan, dan engkau melindungi kami dengan kemampuan menembakmu yang hebat. Sekadar mengingatkan saja, tidak lama lagi kita akan sampai ke wilayah bandit gurun Borex. Mohon Anda bersiap." Orang itu menutup kembali tirai sebelum aku sempat membalas ucapannya. Meninggalkanku sendiri dalam kebingungan.


Hebatnya, orang ini berhasil mendapat izin menumpang dalam perjalanan saudagar ini, setelah menunjukkan keahlian menembaknya yang sangat hebat.


Bayangkan. Dirinya dapat menembak seekor lalat dari jarak yang jauh. Itu pun tidak hanya sekali, tetapi sampai tiga kali dilakukan, untuk membuktikan kalau keahliannya bukan keberuntungan semata.


Jadi begitu cara kerjanya. Eh ... bahkan soal jomblo tadi pun, sebenarnya berasal dari ingatan Margo yang selenting hinggap di pikiranku.


Terdengar kuda meringkik dari luar, sebelum laju kereta kuda ini melambat. Selanjutnya, terdengar obrolan tidak jelas dari luar, yang tertutup oleh desau angin gurun.


Aku yakin bukan pertanda bagus. Pasti sekarang rombongan ini sudah sampai di wilayah bandit gurun. Dugaanku makin diperkuat dengan masuknya si juragan bertopi tinggi ke dalam gerbong tempatku berada.


"Kau bersiaplah, Tuan Margo, kita sudah sampai di wilayah bandit gurun Borex, dan menurut ...."


Ucapan Rusty tidak sampai ke ujungnya, karena tiba-tiba saja suara tembakan menyela.


Peperangan dengan bandit gurun sudah dimulai! Aku yang polos dan tidak tahu apa-apa, jadi terseret di dalamnya. Ini semua karena Wanara dan buku terkutuknya!


Tak tahu akan bagaimana nasibku sekarang. Sudah mana Wanara tidak menjelaskan, tentang bagaimana resikonya jika mati di dunia ini, di awal bab malah sudah dimunculkan malaikat maut! Berwujud bandit gurun yang bengis!


Apa tidak sial itu namanya?

__ADS_1


"Tuan Damarion, keluarlah dan bantu yang lainnya untuk menghadapi bandit gurun. Aku yakin, dengan kemampuanmu, para ******** itu sama sekali bukan masalah."


Keluar gundulmu! Apa tidak lihat dia, kalau aku sama ketakutan seperti dirinya. Meringkuk di lantai gerbong karavan dengan kaki gemetaran.


"A-aku ... itu, luka di pundakku tiba-tiba terasa sakit," ucapku, mencari alasan.


Rusty Golbar mendecap. "Kau bukannya bilang kalau itu hanya luka kecil, dan tidak menjadi penghalang waktu kau menembak! Sudahlah, jangan bermain-main lagi. Segera kau keluar, dan selesaikan para bandit itu secepatnya."


"Ta-tapi ... aku orang yang cinta damai, Tuan. Kalaupun terpaksa menghadapi mereka, aku ... aku harusnya berdoa dulu. Ya, berdoa, agar lebih siap mental."


Pria berwajah cekung dan berdagu besar itu melotot sangar menatapku. Tidak perlu dijelaskan kalau dia sedang marah bercampur kesal. Tapi mau bagaimana lagi? Walau si Margo ini jago tembak, tetapi aku sama sekali belum pernah memegang dan menggunakan senjata sungguhan seperti yang dibawa si brewok ini.


"Keluar sekarang, atau aku lempar kau dari gerbong ini! Tunjukkan keahlianmu, dan jangan membuatku menyesal, karena tidak melaporkanmu ke petugas di kota tadi! Sekarang kau bantu aku sebagai balas budi, Sialan!"


Jelas aku naik pitam mendengarnya, walau ancaman dia terdengar konyol--bagaimana caranya coba bisa melemparku keluar, dengan badannya yang kecil itu. Lagi pula, buat apa aku keluar, aku yakin dua puluh orang koboi berkuda sudah cukup untuk melawan para bandit gurun.


"Jangan panik begitu, Tuan. Aku yakin tidak lama lagi para bandit gurun itu akan kalah. Dengar suara tembakan di luar ...." Omonganku terhenti, karena seketika, tubuh kusir kuda terlempar masuk ke gerbong. Dalam kondisi tidak bernyawa karena dahinya sudah bolong ditembus peluru.


"Keluar kau sekarang, Brewok sialan!" Rusty dengan biadabnya menekan luka di pundakku, sehingga dengan mudahnya dia mendorongku--yang hilang tenaga karena kesakitan--keluar gerbong.


Aku jatuh menggelinding di atas pasir. Mengaduh kesakitan memegangi luka di pundak yang kembali terbuka.


Bergegas aku berusaha berdiri, demi dapat kembali memasuki gerbong. Tetapi, baru setengah terangkat badan ini, aku seketika mematung dengan mata membelalak lebar.


Gemetar aku melihat keadaan sekitar. Para koboi itu sudah banyak yang terkapar di atas pasir. Mati, atau terluka parah. Begitu pun dengan kuda-kuda yang mereka tunggangi. Teronggok tak berdaya, dengan banyak luka tembakan, tak tahu berapa banyak.


"Hei ... kau!" panggil seorang koboi, yang merangkak dengan sebelah tangan diiringi rintihan kesakitan. Dan, di setiap gerakannya, darah terus mengucur dari luka tembak di perutnya. "Ba-bantu ... ka-mi ... mereka ...."


Ucapan itu tidak akan pernah dapat dia selesaikan, karena dengan bengis tak berperasaan, seseorang menembak kepalanya. Mengakhiri hidup pria itu, yang sebenarnya sudah di ujung tanduk.


Aku terpaku menatap tubuh si koboi, yang hanya berjarak sedepa dariku, terkapar tak bernyawa.


Mulutku Tidak sanggup berteriak walau ingin.


Derap langkah kuda menjejak pasir mendekat. Saat aku sadar, koboi bermuka bengis sudah mengelilingiku dengan tatapan nanar.


Astaga ... seketika hawa menjadi sangat panas. Bukan hanya disebabkan oleh teriknya matahari tanpa awan di langit sana, tetapi juga karena mendadak saja suhu tubuhku meningkat drastis. Luka di pundakku pasti jadi penyebabnya.


Buram pandanganku menatap moncong senjata diangkat. Diarahkan langsung oleh seorang bandit tepat menuju batok kepala. Habis sudah riwayatku.


Ya Tuhan, jika harus mati di sini, aku mohon Kau masukkan aku ke Surga, ya.


Masa iya, sudah mati di gurun saat sedang demam, malah harus masuk neraka yang panas. Engkau tahu kan, kalau aku ini anak yang baik, Tuhan.

__ADS_1


Dor!


__ADS_2