Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 10-2] Selamat Datang di Kota Jarless


__ADS_3

Nama pria itu adalah Siderun Twisky. Seorang koboi baik hati dari kota Jarless. Pemilik penginapan, sekaligus walikota di sana. Intinya sih orang dia penting.


Begitulah kira-kira yang dia beritahu saat perkenalan diri. Bukan untuk menyombong, tetapi lebih kepada meyakinkan kami, kalau dia bukanlah orang jahat macam bandit gurun.


Dia kemudian mengajak kami untuk pergi mengunjingi kotanya tercinta, yang ternyata berjarak tak terlalu jauh dari tempat kami hampir dimangsa, olah para monster kadal karnivora.


Awalnya, Yenz mencoba menolak ajakan itu, tetapi setelah pria berdagu petak tersebut menjelaskan tentang bahayanya melanjutkan perjalanan, dia akhirnya mau menerima.


Terlihat jelas di wajahnya ekspresi tidak puas. Tetapi, mau bagaimana lagi. Di masa kawin para kadal karnivora, saat monster itu menjadi ganas di luar sarangnya, tentu bukan keputusan pintar untuk melanjutkan perjalanan. Sementara kami tidak tahu jalur mana yang aman.


Beriringan. Aku bersama Yenz menunggangi kuda coklat, mengikuti pria bercambang dengan keledainya menuju Jarless. Sebuah perjalanan lambat, yang diisi obrolan ringan menyenangkan oleh Tuan Twisky.


Banyak guyonan segarnya yang membuat kami tertawa, sehingga tanpa sadar, kita sudah sampai di seberang gerbang kota. Dengan gapura yang di atasnya tertulis jelas, "Welcome To Jarless."


Jauh panggang dari api. Peribahasa itu paling tepat untuk menggambarkan kekecewaanku, saat melihat langsung bentuk kota kecil Jarless.


Tempat yang aku kira asri dan penuh keramahan hangat, ternyata seratus delapan puluh derajat melenceng dari ekspektasi.


Jujur saja, dari jarak sepuluh meter pun, bau pesing sudah santer tercium. Lebih dekat lagi, aroma memuakkan itu makin tidak karuan bercampur dengan macam-macam bau tak jelas lainnya.


Herannya, pria bercambang itu terlihat sama sekali tak terganggu. Menghirup napas tanpa ragu, seakan udara yang masuk ke hidungnya, hanya berisi oksigen segar, tanpa campuran bau tak enak menyertai.


Tak tahu bagaimana. Mungkin karena dia sudah lama tinggal di kota ini. Hidungnya sudah kebal dengan bau tak berperikemanusiaan itu.


Kota bobrok ini hanya terdiri dari delapan bangunan, berukuran lumayan besar saling berhadapan. Dibelah oleh jalanan lebar, yang dihiasi bermacam-macam tahi hewan, seperti kuda, kambing, ayam, dan sebagainya.


Tidak ketinggalan, tumpukan sampah aneka ragam yang tersebar di beberapa titik. Menambah "indah" panorama kota kebanggan Tuan Twisky ini.


Bangunan di kota ini pun, tidak ada yang benar-benar bisa dibilang layak pakai, apalagi dihuni. Jendelanya ditambal papan, pintu depan rumah menjeblak miring karena satu engselnya lepas, atap dengan genting melorot atau bolong sama sekali, hingga dinding rumah kayu dengan papan yang terlepas tak karuan. Semua dibiarkan begitu saja, seperti tidak ada usaha untuk membetulkannya.


Begitulah kondisi bangunan yang ada di sini. Setidaknya seperti itu keadaan enam dari delapan gedung pengisi kota. Hanya dua yang terlihat lumayan terawat, dan keduanya merupakan bangunan bertingkat tinggu yang ada di bagian tengah kota kecil Jerless.

__ADS_1


Di sebelah kiri, bangunan dengan sebuah menara menjulang di depannya. Memiliki ruangan terbuka di puncak, yang seharusnya terdapat lonceng besar di sana.


Itu aku yakin adalah rumah ibadah, yang sudah kehilangan loncengnya, untuk memanggil jamaat beribadah.


Agak miris aku melihatnya.


Di seberangnya, hanya berselang satu rumah, bangunan dua tingkat dengan papan bertuliskan "Motel" tergantung di langit-langit ambang teras, yang dicapai setelah menaiki empat anak tangga.


Aku mulai menyesal mau diajak ke tempat ini.


Bobrok, bau, gersang, dan entah kenapa, kota ini--sejauh yang bisa aku lihat--hanya berisi pria-pria kumal bermuka masam, yang menjadi sumber bau pesing di sekitar kota. Membuatku tidak yakin soal mutu penginapannya.


"Sepertinya benar saranmu, kita seharusnya tidak menerima saran Tuan Twisky," bisikku kepada Yenz. Di depan penginapan, setelah turun dari kuda.


Belum ditimpalinya ucapanku, pria besar pemilik kota ini memanggil, "Ayo, Tuan-Tuan. Aku yakin kalian lapar kan? Cepatlah. Masakan koki kami dijamin sangat enak." Di teras penginapan itu dia berkata sambil mengayunkan tangan.


"Berdoa saja makananya tidak seburuk kotanya," seloroh Yenz. Beranjak.


Aku menaiki tangga sambil mengikuti saran si cowok cantik itu dalam hati. Disertai harap-harap cemas, agar papan yang rapuh tergantung di ambang teras, tidak jatuh menimpa kepala saat aku melewatinya.


Melewati pintu kayu ganda tanpa engsel, aku kembali terkejut. Kali ini dalam arti yang positif.


Jauh dari bayanganku. Bagian dalam motel ini tidak kumuh seperti di luar. Memang tidak bisa dibilang seratus persen bagus, tetapi masih bisa disebut layak untuk disinggahi.


Bersih tanpa adanya debu berterbangan, meja bundar dan empat kursi mengelilinginya yang tertata baik, juga ornamen pajangan di dinding yang berselang-seling dengan jendela dan petromak tergantung. Jelas sekali semua ini tidak mungkin dikerjakan oleh para pria serabutan di luar tadi.


Kemungkinan besar, orang tua kurus, dengan wajah pucat di belakang meja bar, yang sedang menerima perintah dari Tuan Twisky itu, menjadi dalang dari segala kebaikan di dalam penginapan ini.


Selekas pria berjenggot kambing itu beranjak, Tuan Twisky menghampiri kami yang dia persilakan duduk untuk berbasa-basi sejenak.


"Tunggulah sebentar, Tuan-tuan. Koki sekaligus pengurus penginapan kami, Lapo Hadak, sedang menyiapkan suguhan untuk kalian. Setelah itu dia akan menunjukkan kamar kalian di lantai atas. Mohon maaf kalau aku tidak bisa menemani bersantap, karena ada beberapa hal yang harus dikerjakan sebagai seorang walikota. Jangan kalian sungkan, dan semoga betah berada di penginapan ini."

__ADS_1


Usai berbicara dan menepuk pundak kami sebanyak tiga kali, pria berdagu petak itu segera keluar tanpa menoleh lagi.


Kami berdua diam menunggu hidangan, yang aromanya menyeruak dari sela pintu dapur. Tepatnya di sebelah rak panjang botol minuman.


Aku tidak tahu harus mengobrol apa, sehingga pasrah terjebak dalam atmosfir canggung. Walau, sedikitnya aku bersyukur, karena doaku soal makanan sepertinya dikabulkan.


"Kau tidak merasa ganjil dengan tempat ini?" Yenz membuka obrolan dengan tanya yang berbisik.


Aku mengerutkan dahi, coba mencerna ucapannya. "Ganjil bagaimana maksudmu? Ayolah, jangan berprasangka buruk kepada orang yang telah menyelamatkan nyawa kita. Kalau tidak ada Tuan Twisky, mungkin sekarang kita sudah habis jadi makanan para kadal karnivora," sanggahku, juga dengan suara berbisik.


Yenz menghela napas panjang. "Dengarkan aku. Kau lihat ...."


Ucapan Yenz terhenti karena mendengar suara pintu terbuka. Dari arah dapur, pria Tua bernama Lapo Hadak itu keluar sambil membawa nampan besar yang terbuat dari logam.


Aku agak sanksi saat melihatnya. Khawatir tangan gemetaran pria tua itu tidak sanggup membawa nampan berat berisi hidangan, sampai ke meja kami.


Hebatnya, ternyata dia bisa melangkah cepat sampai ke tempat kami berada, dan dengan tangkasnya, tangan kurus itu memindahkan, berikut menata isi di dalam nampan ke atas meja.


Selera makanku sedikit turun saat melihat ketiga jenis makanan yang disajikan. Bubur kental berwarna kuning, roti panjang yang keras, juga seekor kadal panggang tanpa kepala. Membuatku teringat soal reptil ganas yang hampir memangsa kami di gurun.


Perhatian kami tersita oleh suara lembut nan dalam, yang entah kenapa diiringi getaran bermuatan rasa cemas. Pria tua itu berbicara untuk menjelaskan perihal menu makanan kami. Dari mulai bahan, deskripsi rasanya, hingga keunggulan lain, yang sedikit banyak mampu meningkatkan lagi selera makanku.


Luar biasa! Masakan koki tua ini ternyata sangat enak. Buburnya yang berasa pedas, sedikit asam, dan lumayan gurih, sangat pas bersatu dengan irisan roti panjang. Belum lagi daging kadal bakarnya. Dibalik kulitnya yang gosong, tersimpan daging renyah yang seperti meleleh di lidah. Maknyus pokoknya.


"Tuan-tuan," panggil Tuan Hadak, yang sedari tadi masih berdiri di dekat meja.


"Sungguh makanan yang enak, Tuan. Anda benar-benar koki yang hebat," pujiku.


"Terima kasih atas pujiannya, Tuan," ucapnya sambil tersenyum getir, "akan tetapi, bisakah kalian mendengarkan permintaanku?"


Pintu depan motel terayun terbuka, saat aku hendak menanggapi pertanyaan pengurus penginapan itu. Tuan Hadak langsung beranjak, sebelum Tuan Twisky masuk melangkahi ambang pintu.

__ADS_1


Aku memandang heran punggung kurus orang tua itu. Muncul sedikit ganjalan di hati, yang mulai mengiyakan perkara ganjil seperti ucapan Yenz.


Tetapi apa? Aku tidak mengerti.


__ADS_2