
Dengan mulut terbuka lebar, manusia berdagu petak itu tertawa terbahak-bahak. Bagai tidak peduli kepada moncong senjata, yang jelas-jelas kuarahkan ke tempurung kepalanya.
"Pengecut sepertimu memang bisa membunuh? Aku yakin, kau sama sekali tidak berani menekan pelatuk rovelver itu, walau seandainya sekarang anak buahku tidak lagi menodongmu!" sesumbar Twisky, dengan suara kencang.
"Si-sialan kau! A-aku ... aku berani! Hanya saja ... ya, anak buahmu ... me-mereka menodongkan senjatanya kepadaku! Pasti ... pasti aku akan ditembak, jika aku menembakmu. Kau yang pengecut, da-dasar cambang kutuan!" balasku, lebih sangar lagi.
"Oh, ya? Bagaimana jika aku suruh mereka menurunkan senjata sekarang, hah!? Apakah kau punya nyali untuk menembakku?" Mata nanarnya menatapku, dengan pelototan lebar yang tak berkedip.
Aku bernapas tersengal-sengal, menahan kemarahan. Tapi, mau bagaimana? Dasar sialan! Membayangkan darahnya bercampur serpihan otak bermuncratan ditembus peluru saja, sudah membuatku mual. Bagaimana jika benar-benar terjadi?
Huegh!
"Kau curang! Aku yang memenangkan duel ini! Seharusnya sekarang kau melepaskan kami! Bukan malah berbuat curang seperti ini!"
Dia kembali tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku. Sialnya, orang kurang ajar itu mengakhirinya dengan meludahkan dahak hijau. Langsung dari dalam mulutnya, dan tepat mengenai pipiku.
Kurang ajar!
"Ini adalah duel hidup dan mati! Itu berarti pemenang adalah mereka yang berhasil membunuh lawannya." Dia kembali tertawa. "Perlu kau ingat! Tidak ada istilah curang atau adil dalam pertaruhan nyawa. Hanya ada kata hidup dan mati. Orang berpikiran naif seperti dirimulah yang akan ******. Sudah terbukti dari banyaknya lawan duel, yang mati oleh bedil anak buahku."
Dia gila! Orang ini sudah sakit jiwa! Seorang psikopat ******** tak berperikemanusiaan! Dia ....
Tanpa aku sadari, Twisky menerjang. Menanduk keras perutku, yang membuat kami terjatuh bersamaan. Dengan aku sebagai korbannya.
Sakit bercampur sesak melesak menghimpit perut. Membuat tenagaku lenyap seketika, hingga genggaman revolver di tangan terlepas. Melanting tak jelas mendarat di mana.
Twisky merayap dengan sebelah tangan mengayun, demi dapat menindih badanku. Terengah-engah menatap aku yang masih mengerang kesakitan, sebelum mulai mengangkat tinju kirinya.
Satu pukulan masuk menghantam pipi. Pukulan kedua terayun, yang langsung aku tahan, dengan melipat kedua tangan menutupi wajah. Pukulan ketiga, lalu keempat, dan terus berlanjut, dengan berkali-kali pukulan sebelah tangan dilancarkannya.
Memang, hantaman tangan kirinya--yang aku tahu bukan tangan dominannya--tidak begitu sakit, dan bisa ditahan oleh tubuh Margo yang kekar ini. Akan tetapi, sampai kapan?
Aku dengar. Di tengah geram baji*ngan itu, terselip napas yang tersengal-sengal. Terlontar pula makian dari mulutnya, yang menyuruhku menurunkan tangan. Tapi, siapa juga yang mau?
"Sialan kau, pengecut! Baiklah ... biar aku jadikan kau seonggok sarang lebah yang dipenuhi lubang, dengan banyak peluru bersarang di badan!" ucapnya terengah-engah.
Sebegitu mengenaskannya kah akhir hidupku? Setelah dikangkangi dan ditindih oleh om-om bercambang lebat, di akhirnya malah harus pasrah menerima eksekusi mati.
Dunia memang tidak adil!
Begitu yang aku pikir, sampai terdengar suara logam dipukul, bertalu berkali-kali. Rentetan suara yang kemudian diiringi sebuah teriakan keras.
"Kadal datang! Kadal datang!" peringatan itu terus diteriakan oleh Lapo. Ya, aku yakin kalau itu suara dia yang sangat khas.
__ADS_1
Otomatis, semua perhatian tertuju ke arah datangnya suara. Dari luar batas kota kecil ini.
Sudah pasti aku akan mati. Kalau tidak ditembak, ya karena dimakan kadal karnivora. Begitu yang aku kira, sampai tak lama kemudian, keadaan begitu saja berubah drastis.
Suara botol pecah terdengar, yang dari arah itu pula muncul cahaya merah berpijar. Api besar menyala, dan mulai menjalar di rumah kayu, tepat di sampingku terbaring.
Aku menoleh ke arah motel, dan menyaksikan bagaimana Yenz mulai menggila. Dengan botol minuman keras, yang dipasangi sumbu kain disulut api. Tergenggam mantap di kedua tangannya.
Dia melempar satu ke bangunan lain, untuk kemudian mengambil botol bersumbu berikutnya di dalam tas, yang disulut dengan api dari kain terbakar di tangan sebelahnya.
Sekarang paham aku maksud dari tindakannya semalam. Bukan semata ingin mencuri demi kepentingan sendiri, tapi untuk membuat bom molotov, yang kini berperan membuat para begundal kelabakan.
Tidak aku sia-siakan kesempatan itu. Tangan yang masih berdenyut karena menahan hantaman tadi, aku kepalkan seerat mungkin, demi dapat melayangkan bogem keras berbulu serabut.
kepalanku menjotos dagu petak yang pemiliknya tengah terperangah. Menyaksikan kota kesayangan tempatnya bersarang, perlahan dilahap si jago merah.
Uppercut yang aku layangkan telak, membuat tubuh Twisky terpelanting jatuh ke samping.
Aku bangkit, dan lekas merangkak mengambil pistol yang tergeletak di tanah. Mengokangnya, untuk mulai membantu Yenz, yang tengah terdesak karena diberondong peluru para baji*ngan. Bawahan Twisky.
Satu tembakkan aku lepaskan. Mengenai tempurung lutut orang di balik tong--bagian tubuhnya yang mencuat saat sedang bersembunyi. Aku berguling kemudian, demi menghindari tembakan dari dua begundal lain, yang tengah berjalan mendekati motel.
Aku tekan pelatuk revolver, dan dengan sepasang ibu jari, menarik pemukulnya di buritan senjata. Bergantian terayun bersinergi.
Dari posisi bersimpuh, aku langsung melompat berlari. Melihat dari tepi mata, tiga orang menyasarku dengan senapan laras panjangnya. Berbarengan peluru mereka termuntah. Bersarang di pasir, tempatku tadi berada.
Aku mulai panik, karena hanya tersisa sebutir peluru lagi di silinder revolver. Tidak cukup waktu untuk mengisinya di tengah gempuran ini, sementara aku berada di tempat terbuka.
"Hei!" teriak Yenz, yang keluar dari persembunyiannya di dalam motel. Melempar satu lagi bom molotov, dengan sumbu yang berkobar tersulut api dari macis.
Entah karena dia lemas atau memang lengannya yang melemah. Lemparan terakhir itu bukannya melambung tinggi, tetapi justru terlempar rendah, lalu jatuh tak jauh dari kaki ketiga penjahat bersenjata.
Sesaat ketiganya terbengong, setelah sebelumnya sempat bergidik ngeri. Melihat botol yang dikira akan pecah, dan menyebarkan api, justru terpendam miring di tanah berpasir.
"Tembak!" teriak Yenz.
Di arena jalanan kota bobrok Jarless yang berkobar. Aku lawan tiga begundal bersenjata terakhir, dengan satu peluru tersisa di tabung. Berpikir tentang bagaimana bisa menang, dan apa pula maksud teriakan Yenz?
Silau cahaya mentari terefleksi, menusuk tepi mataku. Sadar akhirnya diri ini, akan jalan kemenangan yang telah dibukakan, oleh si cowok cantik bermata hijau itu.
Aku berputar dengan sebelah kaki sebagai poros. Demi dapat membalikkan badan secepatnya. Menarik tuas palu senjata, yang di persekian detik kemudian, menyusul hentakan pelatuk penuh keyakinan.
Tidak secuil pun terselip ragu, walau hanya melihat sekilas sasaran di tanah. Meskipun, badan besar ini mulai jatuh terjengkang, akibat kehilangan keseimbangan. Semua aku lakukan dengan keyakinan tinggi. Percaya kalau timah panas yang terlontar akan mengenai sasaran.
__ADS_1
Dalam hati, tiada sangsi akan keahlian menembak si Om Berbulu, yang tengah aku perankan di dunia laknat ini.
Senapanku menyalak. Selentingan kemudian, botol dengan sumbu kain terbakar itu pecah. Tepat di saat mereka baru selesai mengokang senjata, dan hendak mengarahkannya kepadaku.
Cairan berkandungan alkohol tinggi menyebar ke segala arah. Berikut memicu reaksi kimia, yang menimbulkan semburan api. Menyambar ke celana ketiga penjahat itu, sehingga mereka melompat-lompat dan berguling tak karuan. Berharap bisa memadamkannya, di tengah rasa panas yang teramat sangat. Pasti begitu.
Baru saja kunikmati sehelaan napas tanpa hembusan penuh kelegaan, tiba-tiba saja letusan senjata menyela. Membuyarkan kedamaian berlatar kobaran api, yang hanya berlangsung begitu singkat.
Timah panas meluncur melewati seinci cuping telingaku. Membuat selaput gendangnya berdenging kencang.
Pelaku serangan dadakan itu, ternyata orang yang tangannya tadi kutembak. Meringis dia berusaha mengokang senjata, lalu mengarahkannya dengan tangan bergetar.
Aku baru mau berlari, saat kaki ini ditangkap oleh tangan seseorang. Milik Twisky, yang sudah tersadar dari mimpi indahnya.
"Tembak, dan bunuh dia, Sialan!" Dia berteriak keras memerintah anak buahnya, sementara dirinya mati-matian memegangi sebelah kakiku.
Cambang sialan! Kenapa tidak tidur saja sih, sampai kami pergi!
Yenz berlari mendekati anak buah Twisky, yang konsen membidikku dengan tangan gemetar. Pasti bermaksud menggagalkan niat begundal itu. Tetapi, secepat apa pun dirinya berlari, sangat tidak mungkin dapat mencapainya, sebelum pelatuk berhasil mematik.
Aku pasrah. Mulai memejamkan mata, dan berdoa dalam hati, semoga saja tembakannya meleset lagi.
Amen!
Suara kencang terdengar menggaung. Bukan dari senjata api yang diarahkan kepadaku, tetapi dihasilkan oleh tumbukan nampan logam besar. Menghantam batok kepala si penjahat.
Aku tersenyum lebar melihat tubuh baji*ngan itu tumbang, disebabkan hasil karya tersembunyi si tua Lapo. Tokoh yang tidak disangka-sangka akan berperan besar menyelamatkanku.
Aku alihkan pandangan kepada Twisky. Menggeram galak mengancamnya. Pria berdagu petak itu menatapku dengan ekspresi kosong. Mungkin dia terhenyak oleh kekalahannya, meskipun sudah menggunakan cara yang curang.
Emosiku yang mendidih, kemudian tersalur ke hentakan kaki bersepatu bot--yang tadi menginjak kotoran hewan. Menyepak wajah bercambang si penipu. Siderun Twisky.
Mendapat hantaman keras dan telak, genggamannya terlepas. Tubuh besar itu lalu terguling beberapa kali.
Krak!
Pondasi lapuk rumah ibadah yang ada di sampingku patah. Keropos dilalap api. Sedetik kemudian, akhirnya bangunan itu roboh. Jatuh menimpa dua onggok tubuh di bawahnya. Twisky, dan anak buahnya yang sudah lama tak bernyawa.
Aku reflek melompat, dan jatuh terduduk karena itu. Menatap miris ke kobaran merah di hadapan.
Aku membatin; Seandainya dia tidak jahat, tentu nasibnya tak akan berakhir seperti itu.
Ah, tapi sudahlah, itu karmanya. Sekarang aku bisa bernapas lega, karena ini semua sudah berakhir.
__ADS_1
Mungkin. Tetapi, konyolnya tetap saja ada rasa bersalah yang menggelayut.