
Tepat sebelum tengah hari, kami sampai di kota pelabuhan Lapalasa yang besar itu. Sangat jelas teramat jauh lebih megah jika dibandingkan kota Jarless.
Aku dan Yenz berjalan menunduk dengan topi koboi lebar, yang ditekan dalam ke depan, demi dapat menutupi wajah. Seperti yang diperintahkan Tuan Lapo, saat meminta pistolku, untuk dapat disembunyikan ke dalam gembolannya. Buntelan yang bersikeras dia panggul sendiri.
Kami selamat dari pos pemeriksaan, yang ada di depan gerbang masuk kota. Empat orang petugas yang berjaga di sana, kebetulan sekali adalah jamaat di rumah ibadah yang dikelola oleh Tuan Lapo.
Mereka begitu gembira saat bertemu dengan pria bermata sayu tersebut. Berpelukan dan menanyakan kabar, juga alasan kenapa lama menghilang.
"Aku ingin menceritakannya kepada kalian, tetapi tubuh tua ini begitu lelah setelah perjalanan panjang. Bagaimana kalau lusa nanti, saat hari ibadah akbar, setelahnya akan aku ceritakan kepada kalian, sambil menikmati masakanku di aula rumah ibadah. Kalian tentu sudah rindu rasanya, kan?" Perkataan Tuan Lapo langsung disetujui oleh para petugas, yang terlihat benar menaruh hormat yang besar kepadanya.
Dengan mudahnya kami melewati pos pemeriksaan tersebut, tanpa harus diperiksa petugas. Mereka segan untuk merepotkan sesepuh di kota Lapalasa. Bahkan dengan rela hati, mereka menawarkan untuk membawakan kuda kami sampai ke rumah ibadah, agar kita bertiga tidak kerepotan membawanya, di tengah jam sibuk kota yang begitu ramai serta padat.
Sungguh beruntung kami, karena ternyata, keempat orang itu dulu adalah anak yatim, yang diasuh oleh Tuan Lapo. Di tempat ibadah, yang sekaligus juga menjadi panti asuhan, bagi anak-anak yatim piatu dan terlantar.
Dari situ, aku sepertinya harus mengganti panggilan kepada beliau. Apak Lapo. Seperti yang orang-orang kota ini sebut, untuk memanggil beliau dengan penuh penghormatan.
Apak adalah panggilan hormat, yang biasa disematkan kepada orangtua (ayah), atau bisa juga untuk pemuka agama. Bahasa lama, yang masih digunakan sampai sekarang.
Begitu sih yang aku tahu. Sejauh bisa kudapat dari ingatan Margo.
Perjalanan di kota ini sangat mendebarkan, karena ramainya aktifitas kota yang dijaga banyak petugas berseragam. Takut saja kalau-kalau ada yang tak sengaja mengenali kami.
Apalagi, di beberapa bagian tembok rumah, terpampang selebaran bertuliskan; "Dicari! Hidup atau mati! Margo Damarion. 600.000 Dem." Dilengkapi gambar sketsa wajahku--dalam wujud Om Margo--yang terlihat sangar dengan brewoknya. Aku bertekad, harus mencukur gundukan rambut muka, tempat kutu bersarang ini. Walaupun agak takut melakukannya.
Ingin aku robek-robek poster di dinding itu. Mengganggu pemandangan di ruang umum. Macam tempelan calon pejabat menjelang pemilu saja.
__ADS_1
Di saat aku sedang celingak-celinguk mencari poster buronan Yenz, yang ternyata sama sekali tidak ada--ternyata aku lebih terkenal dibanding dia--tanpa sadar, tepi mata ini menangkap tiga sosok pria bertopi koboi. Terlihat jelas mereka mengikuti kami. Sama-sama memasuki jalan pinggiran yang relatif lebih sepi. Sengaja dipilih Apak Lapo, untuk menghindari pengawasan petugas hukum.
Aku menyenggol lengan Yenz, yang langsung diresponnya dengan mendelik melihatku. Sekedikan kepala aku berikan sebagai tanda, agar dia melihat ke belakang.
Yenz menoleh singkat, lalu mengangguk dengan rahang yang digeratkan. Sadar akan adanya bahaya mengintai.
Aku mempercepat ayunan langkah, demi dapat menyusul Apak Lapo yang berada di depan, sebagai penunjuk jalan ke tujuan. Dengan sengaja menabrak tipis pundaknya, lalu berbisik, "Ada yang mengikuti kita."
"Ya Tuhan. Mereka adalah anak buah Twisky. Tidak aku sangka ketiga orang itu akan datang ke sini, bukannya pergi ke kota Farnia, yang jaraknya lebih dekat dari Jarless," gumam Apak Lapo. Terdengar olehku, yang berjalan di sebelahnya.
"Berapa jauh lagi kita sampai ke tujuan?" tanya Yenz, dengan suara berbisik. Menyusul langkah dan mengapit Apak Lapo di antara kami.
"Setelah memasuki belokan di depan, kita berjalan dua blok lagi, untuk sampai di rumah ibadah, Tuan Yenz." Orang tua itu berkata tanpa menoleh.
"Jarak segitu mungkin mereka sudah akan menyergap. Baiknya, kita pergi dulu ke tempat yang ramai, agar bisa mengecoh mereka. Saat ada di kerumunan, kita berpencar lalu bertemu lagi di suatu tempat. Apakah Anda punya rekomendasi yang bagus, Tuan Lapo?" Yenz berkata dengan desisan.
Walau merasa ada yang janggal, aku mengangguk mendengarnya. Tak ada pilihan lain untuk kami, demi menghindari bahaya yang mengikuti.
Dengan dipenuhi debaran di dada, aku bersama Yenz dan Apak Lapo, berjalan senormal mungkin, melewati tak acuh belokan yang mengarah ke tujuan sebenarnya. Mengambil jalan lurus, yang terlihat dari kejauhan, akan menuju ke pelabuhan.
Ketiga orang anak buah Twisky itu terus mengikuti kami. Semakin mendekat memangkas jarak. Ada keinginan untuk meminta senjataku kepada Apak Lapo, tapi urung kemudian, karena sadar akan konsekuensinya nanti. Bisa membuat kami terseret urusan dengan para petugas hukum.
Aku hanya dapat berharap, rencana yang diajukan Yenz bisa berhasil. Muak aku berurusan dengan penjahat macam mereka di dunia ini.
"Tunggu!" Teriakan itu beriring selemparan papan kayu, yang mengenai kaki Apak Lapo. Menyebabkannya terjatuh, dan otomatis membuat laju kami tertahan.
__ADS_1
Aku membalikkan badan, dan melihat ketiganya semakin mendekat. Bagai serangkai serigala lapar yang mendesak domba imut buruannya.
Terbesit lagi keinginan untuk mengambil senjataku dari gembolan, yang tergeletak di jalan bersama pemanggulnya. Bukan apa-apa. Tiga orang berbadan besar penuh otot itu, tidak mungkin bisa aku hadapi sendirian tanpa dibantu menggunakan senjata.
Jangan harapkan si langsing Yenz, yang kuyakin tenaganya tak ada seberapa.
Seringai buas terkembang di wajah ketiganya. Mematik rasa putus asa dari kondisi terjepit seperti ini. Melawan mereka ataupun tidak, hampir bisa dipastikan, hal buruk menjadi akhiran bagi kami.
Diringkus mereka, atau ditangkap petugas hukum kota.
Gemetar aku menatap ketiga lawan di hadapan, bagai tanah pijakan kaki sedang terguncang. Begitu rasanya, Atau memang tanahnya yang bergetar ya?
"Apak Lapo!" Kami bertiga sontak melongok ke arah kelokan jalan, yang belum jauh terlewati.
Puluhan derap kaki yang menimbulkan getaran itu mendekat. Berasal dari segerombolan bocah, yang begitu saja melewati ketiga begundal, untuk dapat menghampiri kami. Penuh keriangan, tanpa menyadari ada bahaya di dekatnya.
Para bocah yang aku tebak adalah anak asuhan Apak Lapo itu, mengelilingi kami dengan kerumunannya. Menjadi barikade, yang membuat ketiga begundal terdiam.
Aku bertaruh mereka ragu untuk melanjutkan tindakannya. Menimbang, jikalau sekumpulan bocah lokal akan lebih dari cukup, untuk menarik perhatian banyak orang, yang akan membuat mereka babak belur dihakimi warga.
Seperti perkiraanku. Ketiganya balik kanan dengan wajah dipenuhi raut kesal bercampur kekecewaan. Kami selamat dari kebengisan para penjahat.
Aku sebenarnya tidak terlalu suka dengan bocah kecil macam mereka, yang keseringan bertingkah tengil seperti Chiya, adik Wanara. Akan tetapi, sekarang diriku bersyukur dengan kemunculannya.
Kejutan penuh ketegangan tadi, sungguh membuat lututku gemetaran lemas. Aku menjatuhkan diri, agar dapat terduduk dan mengatur napas, untuk mengganti tekanan jiwa menjadi kelegaan tanpa beban.
__ADS_1
Lolos dari bencana kesialan, yang entah sudah berapa kali menimpaku di sini.