
Dari mulut yang tadi menyeringai angker itu, keluar suara desisan panjang. Bukan tiruan bunyi ular atau semacamnya, tetapi lebih kepada tanda, agar aku tidak berisik, dan mengeluarkan suara.
"Tenanglah, Tuan! Ini aku, Lapo Hadak. Pengurus, sekaligus koki penginapan. Tolong jangan berisik. Aku mohon kepadamu." Ucapan orang tua itu, seketika saja membuat detak jantungku perlahan mereda. Kembali normal.
Aku mengangguk. Lega mengetahui kalau sosok di hadapanku bukanlah hantu pembunuh. Hanya orang tua yang kelihatan seram, karena sorotan cahaya petromak di tangannya.
Perlahan, Tuan Hadak melepas bekapannya, lalu berjalan mundur selangkah. Memberi jarak, agar dirinya yang lebih pendek tidak terlalu mendongak, saat melihat ke arah wajahku.
"Maafkan atas ketidaksopananku, Tuan Damarion. Tolong maafkan," pintanya. Membetulkan posisi handuk kecil yang tersampir di lengan.
Aku mengangguk. "Tak apa-apa, Tuan Handak. Aku hanya kaget berlebihan saja tadi. Tapi aku mohon, lain kali jangan lakukan itu lagi. Kau bisa saja membunuh orang yang punya jantung lemah karenanya."
Pria berjenggot kambing itu mengangguk dibarengi tawa terkikik kecil. Dikira lucu kali hal seperti itu. Dasar tidak punya akhlak!
"Panggil saja Lapo, Tuan Damarion. Percayalah, aku tidak akan melakukan itu tanpa alasan. Ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu. Berikut sebuah permintaan seandainya engkau berkenan."
Aku mengerutkan dahi mendengar perkataan orang tua itu. Sepertinya memang harus aku terima permintaannya.
Seperti itu kata hati ini menyuruh.
"Katakanlah, Tuan Lapo. Mungkin sesuatu yang bisa aku bantu." Kami saling bertukar pandang.
Pria tua itu menarik napas panjang, dan terdiam sesaat, sebelum mata sayunya mengembang penuh tekad.
"Aku mohon kepadamu, pergilah kalian berdua segera malam ini. Kau bisa menggunakan kuda yang ada di belakang kota, dan pergi menuju oasis kecil di Tenggara, untuk kemudian meneruskan perjalanan ke arah Barat, agar sampai ke Kota Lapalasa melalui jalur aman. Pergilah segera dari sini bersama temanmu, Tuan."
__ADS_1
Apa maksud orang tua ini? Dia mengusirku dan Yenz, atau bagaimana? Tapi, dari nada suaranya yang bergetar ketakutan itu, aku malah merasa seperti sedang diberikan sebuah peringatan mendesak, akan adanya bahaya mengintai.
"Dan, aku mohon kepadamu, sesampainya di Lapalasa, pergilah ke rumah ibadah yang terletak di tengah kota, lalu berikan ini kepada seorang pemuda bernama Leo."
Tuan Lapo merogoh saku celananya, demi menggambil sebuah benda kecil yang langsung dia sodorkan kepadaku.
Sebuah kancing berkaki yang terbuat dari logam. Pinggirannya terdapat bingkai berwarna kuning, dan di tengahnya diisi oleh gambar menonjol berwarna hijau, dengan latar hitam di belakangnya. Gambar sebuah biji yang bertunas, dengan dua helai daun di pucuknya.
"Apa maksudnya ini? Kenapa kau mengusir kami, dan apa maksudnya dengan kancing ini?" Aku memicingkan mata menatap pak tua bermata sayu di hadapan.
"Bukan ... sama sekali bukan mengusir, Tuan. Tolong percayalah kepadaku. Ini semua demi kebaikanmu dan temanmu. Tolong bantulah aku, dan selamatkan diri kalian."
Aku membelalak. Tidak mengerti omongannya. "Selamat dari apa maksudmu?"
Orang tua itu menghentikan ucapannya, saat dari lorong, terdengar suara berat langkah kaki meniti tangga. Tanpa melihat, aku tahu siapa pemiliknya.
"Tolong percayalah kepadaku, Tuan!" Tuan Hadak menyerahkan handuk yang dibawanya, lalu bergegas keluar kamar dengan kepala tertunduk.
Selintasan aku mengikuti langkah kakinya. Melongok melewati ambang pintu. Menyaksikan bagaimana tubuh tua itu membungkuk gemetar saat berpapasan dengan Tuan Twisky. Memang tidak seberapa jelas, tapi aku yakin kalau tubuh ringkih kurus itu gemetaran seakan ketakutan.
"Oh ... kau terbangun, Tuan Margo? Apakah karena tidurmu diganggu oleh si tua Lapo?" tanya Tuan Twisky dengan senyum lebar.
"Oh tidak ... anu ... aku ...." Walau masih bingung dengan sikap aneh orang tua tadi, aku berpikir, bukan hal tepat memberitahukan pembicaraan rahasia kami kepadanya. "Yah ... dia mengantarkan ... handuk ini. Dia sangat baik menurutku. Hanya ... hanya saja aku lupa bertanya, di mana letak kamar mandi."
Aku mengacungkan handuk, yang di baliknya masih tergenggam kancing berkaki pemberian Tuan Lapo.
__ADS_1
Tuan Twisky tertawa keras. Setelah puas menertawai entah apa, dia menepuk pundakku. Hampir membuat muatan yang sudah diujung ini terdorong keluar. Sial!
Bagusnya, setelah itu dia memberitahukan letak kamar mandi, yang ternyata ada di ujung jalan samping tangga. Di pintu sebelah kiri, yang berseberangan dengan pintu masuk menuju gudang di bawah tangga.
Usai mengambil lilin--sekilas aku melihat ke luar jendela, dan ternyata Yenz sudah pergi entah ke mana--lalu menyulut sumbunya ke lentera yang tergantung di dinding, aku melangkah terbirit-birit menuju kakus. Menuruni tangga, lalu berputar ke jalan seukuran rentangan tangan.
Mengayunkan langkah di jalan antara dinding kayu dan apitan tangga, untuk sampai di pintu yang berada di ujungnya. Kamar mandi dengan beberapa bilik yang lekas aku masuki, untuk kemudian melepaskan muatan ke tempat yang sepantasnya.
Aku tidak lagi memikirkan kondisi ruangan, yang sangat teramat jelas, tidak mematuhi standar kebersihan umum. Tapi masa bodo, yang penting lega.
Sambil menunggu muatan termuntahkan semua ke dalam lobang kakus, pikiranku melayang kepada kejadian aneh yang terjadi beruntun tadi. Soal kotak kayu Yenz yang ajaib, dan juga sikap, berikut permintaan si tua Lapo dengan kancing bergambar tunasnya--tersimpan di kantung celana.
Begitu saja terpikirkan. Seakan itu semua adalah hal penting, yang berhubungan erat dengan cerita besar di buku ini. Tetapi apa? Kenapa harus berputar begini sih?
Ah, sudahlah. Pusing aku dibuatnya. Baiknya sekarang aku segera sudahi acara buang hajat ini, dan kembali untuk tidur di kamar yang nyaman.
Aku beranjak keluar bilik, sembari mengelap tangan menggunakan handuk pemberian Tuan Lapo, lalu tidak lupa pula untuk mengambil wadah lilin yang aku taruh di lantai. Ingin selekasnya pergi dari kamar kecil bau pesing ini.
Di saat aku menarik pintu keluar kakus, di seberangku yang hanya berjarak dua langkah, Yenz juga sedang membuka pintu di bawah tangga. Ruangan yang aku tahu dari Tuan Twisky, adalah gudang motel dan restorannya. Tempat menyimpan barang, juga keperluan lain seperti bahan makanan.
Aku mendelik melihat tangan kanan Yenz, yang bergerak cepat menyusupkan sesuatu ke dalam tas. Memasukkan sebuah botol berwarna hijau, dengan sumbatan gabus di atasnya sebagai penutup. Yakin benar aku kalau itu adalah botol minuman keras.
"Yenz, kau ...." Omonganku tergantung, karena lelaki langsing itu langsung melengos pergi, tanpa mau menoleh lagi.
Ya ampun, Yenz. Aku tidak sangka kalau kau seorang pencuri. Harus aku nasehati orang itu nanti!
__ADS_1