Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 39-1] Memasuki Gerbang Kota


__ADS_3

Semalaman aku dan Kord bergantian berjaga. Sampai di menit sebelum fajar menjelang. Putri Asaru bangun dan langsung marah-marah karena dia tidak dibangunkan untuk mendapat giliran jaga.


Tapi, apa mau dikata. Kami berdua tidak ada yang tega mengganggu lelapnya, karena melihat dia menangis dalam tidur. Mengigau memanggil ayah dan ibunya, yang baru berakhir saat bulan separuh sudah mulai tenggelam ke balik cakrawala. Sewaktu dia benar-benar bisa tertidur lelap.


Satu dua rombongan pedagang mulai berdatangan. Dengan gerobak dan karavannya. Terus, bagai tanpa jeda. Semakin matahari mencuat dari peraduan, semakin banyak orang yang datang. Waktu yang tepat untuk kami keluar dari persembunyian dan berbaur.


Kami bertiga mengenakan mantel coklat kumal, yang sudah disediakan Artapatu di dalam ceruk goa berisi pakaian. Putri Asaru tanpa masalah saat mengenakannya. Aku perlu sedikit penyesuaian demi dapat menyembunyikan pedang pendek di pinggang. Lain cerita dengan Kord yang bersusah payah berusaha menyembunyikan pedangnya. Mencuat melewati mantel yang terjulur sampai ke bawah mata kaki.

__ADS_1


Kesal aku melihat ulahnya yang menghambat pergerakan kami. Aku rebut paksa pedang itu dan berniat membuangnya. Putri Asaru menahannya sebelum benar terjadi. Meminta pedang panjang dari tanganku, untuk kemudian diikatkan ke punggung Kord. Menggunakan tali yang sebelumnya kami pakai sebagai pegangan saat menunggangi Shege. Memotong kelebihan panjang, yang toh nanti tidak dibutuhkan saat menunggang sendirian.


Sudah siap semua, kami segera keluar dari persembunyian. Dengan woofy yang kusembunyikan dalam tas, sementara Shege lepas landas, dengan tetap mengawal Putri Asaru dari ketinggian.


Kami memutar arah ke belakang. Ikut mengantri di barisan paling ujung, dengan tudung mantel terpasang, dan kepala menunduk. Melangkah pelan mengikuti antrian, sementara makin banyak orang berdatangan.


Satu langkah memasuki gerbang. Para penjaga di sisi kanan dan kiri menatap tajam setiap pengunjung yang datang. Mengamati kalau saja diketemukan hal mencurigakan. Tapi, itulah untungnya kami memasuki kota Capitor sekarang. Penjaga gerbang tidak akan memeriksa secara mendetil bawaan setiap pengunjung, seperti di hari biasa. Gila saja bila melakukannya. Bisa-bisa antrian ini bisa besok baru habis.

__ADS_1


Lancar. Walau tadi sesaat salah seorang penjaga ada yang melihat kami dengan penuh kecurigaan. Melotot begitu lebar dan tidak berkedip. Kord ketakutan melihatnya dan hampir saja lari kalau saja langkahnya tidak kutahan. Entah Tuhan sedang bercanda dengan kami atau bagaimana, si penjaga itu ternyata bukan memelototi kami. Dia sedang berusaha terus membuka matanya agar tidak tertidur, walau pada akhirnya pemuda pemegang tombak itu kena tempeleng atasannya karena ketahuan mendengkur. Pecah tawa di sekitar melihat prajurit muda itu mengkerut dimarahi atasannya yang bermuka masam.


Lima meter dari gerbang penjagaan, tepat di belakang penghujung kota terbesar kerajaan. Lepas semua rasa takut dan terasa begitu lega karena sudah melewati tahap awal rencana kami. Ingin aku melompat sambil berteriak kegirangan, tetapi tidak mungkin kan. Bisa-bisa malah kami dicurigai dan menggagalkan seluruh rencana ini.


"Berhati-hatilah, jangan bertindak sendiri, dan jangan ragu memanggil kami untuk meminta pertolongan." Aku mengatakannya sambil menatap langsung ke mata Putri Asaru. Sekilas dia mengangguk, untuk kemudian langsung berbalik dan pergi tanpa kata. Menyembunyikan rona merah di wajahnya.


Ah! Lagi-lagi adegan drama picisan kesukaan ibu-ibu.

__ADS_1


Siapa sih yang buat cerita macam begini!?


__ADS_2