
Akhirnya kami kembali ke tujuan awal. Tanpa ada beban bahaya sama sekali, dengan dikelilingi para bocah yang tak henti mengoceh berisik, dan bertingah menjengkelkan bukan main.
Sialnya, Brewokku yang menjadi sasaran keusilan mereka.
Aku kagum dengan Apak Lapo, karena bisa mengasuh segerombolan bocah, di usianya yang sudah senja. Pasti dengan penuh kasih sayang, karena kalau tidak begitu, mereka tidak mungkin akan selalu menunggu kepulangan pengasuhnya itu. Setiap hari di sekitar rumah ibadah.
Setelah berbelok di tikungan dan melangkah beberapa blok, kami sampai di depan sebuah bangunan besar, yang terpasang jendela beraneka warna, membentuk pola gambar di permukaannya. Berunduk-unduk atapnya, dengan sebuah menara lonceng sebagai pucuk tertinggi.
Kami tidak masuk melalui pintu depan seperti para bocah, tetapi melanjutkan berjalan memutar ke belakang. Melewati taman kecil yang dikelilingi tanaman perdu sebagai pagar hidup. Melangkahinya, untuk sampai di pintu belakang kayu tebal. Tidak terkunci memang, tetapi lumayan berat saat kubuka.
Kami memasuki bagian belakang rumah ibadah ini. Terhubung langsung ke dapur, yang menguarkan aroma lezat masakan. Tercium wangi sup, yang mirip benar seperti buatan Apak Lapo.
Bau menggoda hidung itu, ternyata berasal dari tungku masak, di ujung kiri ruangan. Tempat lima orang bocah yang dikomandoi seorang pemuda, tengah meracik makanan di dalam kuali besar.
Suara pintu berat yang kembali tertutup, mengalihkan perhatian mereka. Dan, seperti sebelumnya, keenam orang itu langsung menyerbu penuh rindu ke arah Apak Lapo.
Rentetan pertanyaan keluar tanpa jeda dari bibir setiap orang. Terutama pemuda unik itu, yang sepertinya juga menjadi penghuni tempat ini.
Maksud dari kata unik, bukan mengacu ke dirinya yang sudah akhil baligh, tetapi masih tetap tinggal di panti. Bisa jadi, kan, dia relawan urusan dapur.
Unik yang aku maksud di sini, adalah dari segi penampilan. Terlepas soal pakaian ketat kekecilan menutupi tubuhnya, pemuda jangkung itu memiliki model rambut yang antimainstream.
Rambut di sekeliling kepalanya jatuh lurus tergerai, bagai rambut milik seorang duta shampo lain, sementara bagian tengahnya mencuat ke atas membentuk jambul.
Melihat penampilan pemuda jangkung berwajah tirus itu, aku jadi ingat video viral dari aplikasi Teng Tong beberapa waktu lalu. Sebuah Video berjudul "Jamet Goyang", yang memperlihatkan seorang pemuda nyentrik, sedang asik berjoget dengan gerakan unik.
Sumpah tak bohong! Pemuda penghuni panti itu, mirip sekali penampilannya dengan si Jamet, yang video aksinya pernah viral mengguncang dunia maya.
"Sudah, nanti akan Apak jawab. Sekarang, Leo, kau antar dulu kedua tamuku ke kamar bawah. Tolong layani mereka dengan baik." Apak Lapo menepuk pundak si pemuda.
"Siapa mereka, Apak?" tanyanya. Melongok ke balik pundak orang tua itu, demi dapat melihat kami, yang masih menutupi wajah menggunakan sintong topi.
"Mereka Tuan Yenz, dan Tuan Margo. Keduanya adalah pahlawan, yang telah menyelamatkanku."
Ucapan orang tua itu membuat ekspresi si pemuda berubah. Matanya yang tergantung kantung hitam, membelalak lebar, dengan mulut setengah terbuka. Jelas terkejut.
"Nanti saja, mereka lelah setelah perjalanan jauh. Cepat kau antarkan keduanya. Ingat kan, kalau tamu itu harus dimuliakan? Ayo, antar mereka, setelah itu kamu datanglah ke ruangan Apak."
Perintah terakhir itu dipatuhi oleh si pemuda, tanpa ditimpali ucapan lagi. Dia mengantar kami keluar dapur. Berjalan melewati lorong yang terhubung ke gudang kecil di ujungnya.
Sempat aku berprasangka buruk, karena mengira kami akan ditempatkan di ruangan sempit dan lembab ini.
Namun, dugaanku tertampik oleh sebuah rahasia, yang sedikitpun tak pernah aku duga. Tersembunyi di pojok gudang, dalam rumah ibadah ini, satu rahasia yang membuat kami--aku dan Yenz--terperangah sewaktu mengetahuinya.
Si pemuda menggeser peti di pojok kanan ruangan, setelah memindahkan tumpukan barang di atasnya. Menampakkan pintu besi, yang tertanam di lantai.
__ADS_1
Diambilnya pengait dari dalam kantong--berbentuk seperti tanda tanya. Dimasukkannya ujung lurus dengan tonjolan bergerigi ke lubang di pintu besi.
Setelah satu putaran berbalas suara klik, Leo mengangkat logam tebal itu tanpa kesulitan. Hanya dengan sebelah tangan menggenggam kait dia melakukannya.
Kagum bercampur terkejut jelas mencuat di dada. Akan keberadaan ruang rahasia, berikut fakta tentang kuatnya si pemuda.
Sangat tak masuk akal melihat tangan kurus Leo, bisa dengan gampangnya mengangkat beban sebegitu berat. Bahkan kalau aku disuruh melakukannya, pasti mengejan Margo saat menarik naik si pintu logam.
Tapi, mungkin saja pintu itu hanya menang di volume tebal, padahal memiliki bobot yang ringan, sehingga mudah untuk dibuka.
Tanpa berlama-lama. Kami berjalan menuruni tangga, dengan dipandu si pemuda yang menenteng lentera. Menuntun menyusuri lorong gelap, yang disanggah balok di kedua sisi dan atapnya.
Tak jauh berjalan, sampailah kita di ujung terowongan. Berdinding bata, dengan sebuah pintu kayu terpasang di pojok kanan.
Si pemuda masuk duluan, lalu menyulut sumbu petromak di keempat sisi ruangan, menggunakan suluh lentera yang menyala.
Meremang jingga seisi tempat. Menampakkan sebuah kamar lumayan luas, dengan sepasang ranjang besar, meja bundar di tengah ruangan, dan meja baca di samping pintu masuk, yang baru saja aku lewati.
"Silakan beristirahat di sini, Tuan-tuan. Akan aku bawakan makanan dan pakaian ganti untuk kalian. Kalau mau membersihkan badan, di luar sebelah kiri, ada pintu menuju kamar mandi. Peralatannya lengkap tersedia di sana. Jika ada hal lain yang diperlukan, tuan-tuan jangan segan untuk meminta kepadaku. Di samping kasur ada pipa bercorong, yang langsung terhubung ke kamar. Buka saja penutupnya, lalu panggil namaku menggunakannya. Sekelasnya aku akan datang memenuhi panggilan tuan sekalian."
Aku sedikit melongo mendengar ucapannya. Walau terlihat seperti berandalan, pemuda itu ternyata sangat sopan. Baik dari sikap, maupun bahasanya.
"Baiklah, Tuan. Jika tidak ada yang dibutuhkan lagi, aku akan ke atas, untuk menemui Apak Lapo." Dia melempar senyum lepas. Bergantian ke arah aku, lalu Yenz.
"Sebentar. Bagaimana kami bisa memanggil, jika tidak tahu siapa namamu," ucapku. Menahan langkahnya.
Nama yang aneh. Siapapun yang memberikan dia nama itu, aku berani bertaruh, adalah seorang penulis novel online. Ya, nama karakter pasaran, yang digunakan oleh tujuh dari sepuluh orang novelis. Itu jika menurut data dari BMKG (Badan Menamai Karakter Gue).
Setelah Leo pergi dari kamar, aku berniat rebahan di atas ranjang, untuk langsung tertidur lelap. Tetapi, ternyata rasa lapar, ditambah tubuh yang lengket dan becek keringat bercampur pasir, mengalahkan keinginan itu.
Ada dorongan untuk mencoba pipa bercorong, yang hanya satu langkah jaraknya dari ranjang tempat aku duduk. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, perbuatan itu sepertinya sangat tidak berakhlak.
Leo dan anak panti lain pasti sedang melepas rindu dengan Apak Lapo, setelah sekian lama tak bersua. Lagi pula, seingatku tadi, sesepuh itu menyuruh si Jamet untuk menemuinya, seusai mengantarkan aku dan Yenz. Sepertinya ada hal penting untuk dibicarakan.
Begitu dugaanku. Entah dari mana timbulnya.
Bosan tidak melakukan apa-apa. Aku melirik ke meja di samping pintu. Melihat Yenz yang mulai sibuk dengan peta dan peralatan lain. Seperti pensil, jangka, dan penggaris. Sudah tersedia di meja baca berbentuk petak memanjang.
Teringat aku soal kotak kayu bersinar miliknya. Mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk coba bertanya. Demi menghilangkan rasa penasaran di dada.
Aku beranjak dari ranjang. Mendekat, lalu melirik ke atas meja, dari balik bahunya. Kelihatan kertas bergambar yang sudah kucel, dan dipenuhi banyak coretan garis ke berbagai arah.
"Sebenarnya apa sih yang sedang kau kerjakan?" tanyaku. Membuat dia menoleh dengan mata mendelik. Sepertinya marah karena kaget mendengar suaraku, yang tiba-tiba mengusik dari belakang.
"Bukan urusanmu!" tanggapnya singkat. Berbalik kembali ke peta.
__ADS_1
"Apakah itu soal tempat yang ingin kau tuju? Seperti yang waktu itu kau katakan kepada Twisky?" Jiwa ingin tahuku makin bergejolak.
Tanpa mengalihkan fokusnya, Yenz berkata, "Sudah aku bilang, kan, setelah ini kita akan berpisah jalan. Pergilah ke manapun yang kau suka. Kita tidak ada urusan lagi. Malah bagusnya, dirimu menganggap kalau kita tidak pernah bertemu."
Tajam sekali ucapannya. Walau aku dan dia tidak sepenuhnya cocok, tetapi paling tidak kami sudah melalui banyak marabahaya bersama. Kenapa bisa dia berbicara hal konyol seperti itu dengan santainya! Seakan kami baru saja kenal di terminal.
"Apa maksudmu berkata seperti itu!?" debatku.
Yenz menghela napas berat.
"Itu semua demi kebaikanmu. Orang yang mengenalku, hanya akan berada dalam mara bahaya. Percayalah."
"Soal buronan? Aku juga buronan sepertimu. Namanya bahaya memang akan terus mengejarku. Mulai dari petugas hukum, sampai ke para pemburu hadiah yang mengincar imbalan. Yah, memang harga buronanmu lebih besar dariku, tetapi tetap saja, kan. Mau mengenalmu atau tidak, aku akan terus dikejar mara bahaya."
"Bukan mara bahaya seperti yang ada di pikiranmu, Marg. Ada kekuatan yang lebih besar, dari sekadar petugas hukum, dan para pemburu buronan."
"Lalu apa? Apakah itu semua berhubungan dengan kotak kayumu yang bersinar itu?"
Lengang sesaat, yang tanpa disadari turut pula mengubah atmosfir ruangan.
Seketika saja. Yenz berdiri menghentak, hingga kursi yang tadi didudukinya terjatuh. Dia menatapku dengan mata membelalak, dan rahang yang terkatup menggerat.
Aku jelas terkejut, dan bertanya-tanya, ada apa dengan dirinya? Kenapa tiba-tiba saja marah? Ada rahasia apa pada kotak itu, sampai membuat dia bisa sebegitu emosi.
"Dari mana kau tahu kotakku bisa bersinar!? Kau menguntitku, hah!?" cecar Yenz, sambil bernapas berat.
Kurang ajar sekali dia! Dikira siapa dirinya, sampai harus aku kuntit. Artis bukan, member Idol BPA 14 pun tidak.
Who the "F" are you?
"Siapa yang menguntitmu!? Kurang kerjaan sekali aku melakukannya. Aku hanya tidak sengaja malam itu melihatmu dari jendela kamar, sedang melakukan sesuatu yang mencurigakan di belakang penginapan Jarless."
Tak disangka, tak dinyana, tangan ramping Yenz menarik kerah bajuku. Membuat wajahnya yang merah padam, berada hanya sejengkal di hadapan.
"Kau tahu! Hanya hal buruk yang akan menimpa orang tukang ikut campur. Aku peringatkan kau! Jangan sekali-kali coba mencari tahu soal aku, atau pun kotak itu! Mengerti?"
Ancaman Yenz membuat emosiku memuncak. Marah bercampur kesal, karena sikapnya yang tak jelas itu.
Tak mau kalah. Aku balas dengan menarik leher bajunya. Membuat jarak kami semakin terpangkas.
"Jangan sok hebat kau! Aku bertanya baik-baik, dan malah begini kau menanggapinya! Kau mau mencari ribut atau apa, hah!?"
Di suasana hening penuh tekanan, kami saling memprovokasi lewat tatapan. Terpaut satu sama lain di dalam atmosfir penuh kemarahan. Sampai tidak sadar pintu ruangan mulai terbuka.
"Eh! Apa yang ... ah .... mohon maaf jika mengganggu kemesraan kalian. Aku hanya mau mengirim makanan. Tidak ada yang lain. Aku taruh di sini ya. Jika nanti sudah selesai, tolong hubungi aku, karena masih ada baju ganti yang harus aku antar ke sini. Oh iya, Apak Lapo sebenarnya mengajarkan soal tidak bolehnya melakukan hal terlarang seperti itu. Anu ... jika kalian butuh bimbingan, beliau bisa melakukannya kok." Mata Leo tidak lepas dari menatap kami dalam posisi saling berkonfrontasi. Bahkan saat dia menaruh nampan di lantai, samping meja persegi dekat kami.
__ADS_1
"Keluar kau!" bentakku dan Yenz berbarengan. Membuat pemuda bermata panda itu bubar jalan. Keluar terbirit-birit dari kamar bawah tanah.
Sial memang!