
Tanpa membuang waktu. Kami memburu keluar, dari tiga pintu yang ada di Rumah Junjung. Menyeruak ke terasnya yang dibatasi pagar bambu.
Aku terpaku melihat hilir mudik orang-orang membawa obor. Bingung apa yang tengah terjadi di awal malam ini.
"Tetua, mereka mulai mendarat dan menurunkan muatan. Para prajurit dari Negara Vajal!" Seorang pria membawa obor, datang melapor kepada Tetua Perota.
Mencelos hatiku mendengarnya.
"Ada berapa banyak armada mereka?" Kapten Sando angkat suara.
"Patroli pantai mengatakan kalau ada tiga buah kapal besar, yang berlabuh di dekat pantai barat. Jenis giyeni berpipa tunggal." Laporan itu membuat Kapten Sando terperangah.
Aku tidak terlalu mengerti soal dunia perkapalan, tetapi yang aku tahu, jenis giyeni adalah kapal, yang memiliki mesin pendorong bertenaga Bijih Angin. Pelayaran akan menjadi lebih cepat dengan menggunakannya.
Sayangnya, sampai saat ini, Margo belum pernah menaiki jenis kapal tersebut, bahkan melihatnya secara pun langsung tidak. Jadi, aku tak mungkin bisa menjelaskannya secara mendetail.
"Siapkan formasi! Buka gudang senjata, dan amankan para warga yang tidak bisa bertarung ke persembunyian di bukit!" Perintah itu diberikan Tetua Perota dengan geraman. Aku yakin dia emosi, karena di saat cucunya tengah menghadapi hari bahagia, datang perusuh yang merusaknya.
Di sebelahku, Manika gemetar menggenggam tiang pembatas Rumah Junjung. Rahangnya mengeras, dan aku lihat jelas dia mulai mengambil ancang-ancang untuk melompat.
Aku memegangi pundaknya. Menahan dia dari melakukan hal nekat tersebut. Aku yakin, dirinya akan meloncat turun, untuk ikut bergabung dalam peperangan, yang sebentar lagi terjadi.
"Tahan dirimu, Manika! Tinggallah di dalam Rumah Junjung, dan lindungilah Kakek Perota di dalam," pintaku. Menatapnya langsung di jarak yang dekat.
Dia menggeleng. "Tidak, aku adalah bagian dari suku Tastal. Dan, di setiap urat nadi kami, mengalir darah pejuang yang pemberani. Aku harus turun, karena mampu dan bisa bertarung mempertahankan Lasete, desa kami."
Mata biru sayunya terlihat membara oleh semangat juang. Membuatnya makin mempesona. Tetapi, tetap saja ada ketidaksetujuan mengganjal di hatiku. Ini mungkin akan menjadi pertarungan kolosal. Lebih dari yang aku alami di Jarless dan Lapalasa. Jelas saja, tiga kapal besar, tentu bisa menampung ratusan prajurit terlatih.
Aku memegang erat kedua lengannya. Lalu menarik dia sedikit mendekat. Hingga jarak ujung hidung kami hanya berjarak satu jengkal.
"Ya, kau memang pejuang hebat suku Tastal. Aku sudah mengetahui dan merasakannya sendiri. Tetapi, perlu kau ingat, dirimu adalah Dewi Surgaku, ratu cantik yang bertahta di hatiku, juga calon istri yang sangat aku sayangi. Aku tidak ingin kau terluka di peperangan ini. Aku memohon kepadamu, Manikaku, biarkan aku yang menggantikan dirimu untuk berjuang di peperangan ini."
Manika melengos perlahan dengan kepala tertunduk. Bibirnya yang ranum, lalu bergerak mengucap dengan suara berbisik, "Lalu, bagaimana jika kau yang terluka? Aku tidak akan sanggup menghadapinya."
Mendengar itu, hatiku berbunga-bunga! Kupu-kupu menari indah, dan rasa-rasanya aku bisa terbang membumbung karenanya. Benar-benar kata sederhana yang begitu dalam menembus hati!
"Manikaku, percayalah. Walau aku tidak hebat berkelahi tangan kosong, tetapi dalam menggunakan senjata api, aku bisa menembak lebih cepat dari bayangan, dan lebih akurat dari tukikkan seekor elang."
Gadis itu menoleh dan menatapku lekat dengan mata sendunya. "Berjanjilah kepadaku kau akan bertahan hidup. Jangan jadikan aku seperti ibu, yang berduka karena ditinggal ayah."
Jantungku menghentak kencang. Betapa bodohnya diriku. Belum lama aku mengenal dirinya--hanya hitungan jam--tetapi sudah seenaknya merayu dan membuat dia terpikat. Padahal, aku sama sekali tidak mengetahui benar tentang kisah hidupnya. Apa makanan kesukaannya, siapa orangtuanya, dan bagaimana masa lalunya secara detail. Aku merasa menjadi lelaki paling bejat di dunia, yang suka mempermainkan hati wanita.
"Hei, sudah cukup bermesraannya! Musuh sudah mendekat. Bersiaplah!" bentak Kapten Sando dengan nada menyindir yang kental.
Meski agak kesal mendengarnya, tapi terima kasih, karena dengan begitu, aku bisa lepas dari perasaan galau tak menentu ini.
__ADS_1
Manika beranjak, setelah melepas genggaman tanganku dengan tepisan lembut. Berjalan menghampiri kakeknya, dan mulai perdebatan kecil, karena orang tua bongkok itu menolak untuk mengungsi. Keras kepala, dengan argumen kalau dia masih mampu menembakkan senjata dan berperang bersama kami.
Manika yang sudah habis kesabarannya, akhirnya secara paksa membopong Tetua Perota. Membawanya ke dalam Rumah Junjung, tanpa memedulikan protes keras si kakek nekat.
"Sepertinya acara pernikahanmu harus ditunda, Kawan." Yenz menghampiriku dengan cengiran menyebalkannya. Menyerahkan sepasang tali pinggang berisi revolver milikku.
"Ayo kita segera selesaikan ini! Aku suka acara pernikahan, karena akan ada banyak makanan enak di sana." Leo menyela aku yang hendak membalas ucapan Yenz. Sungguh optismis dan tanpa rasa takut anak ini.
"Kalian ahli menggunakan senapa?" tanyaku kepada mereka berdua.
Kompak keduanya menggeleng. Bagus!
"Lalu bagaimana mana cara kalian melawan mereka? Sadar kan, kalau lawan pasti akan menggunakan senjata api nanti?" kataku, frustasi.
"Perlu aku ralat. Aku tidak bisa menggunakan senjata api sebaik dirimu. Tetapi, jangan ragukan keahlianku menembak, yang sudah terasah di medan perang sepuluh tahun." Yenz berbalik menuruni tangga, dengan senyum menyebalkan di wajahnya.
"Aku tidak bisa. Apakah Tuan Margo mau mengajarkannya kepadaku?"
Ajarkan ndashmu melocot! Kau kira bisa semudah itu menggunakan senjata api? Aku saja perlu waktu bertahun-tahun, untuk benar-benar dapat menguasainya.
"Leo. Aku minta tolong kepadamu untuk menjaga Tetua Perota dan Nona Manika. Aku takut nanti akan ada yang menyelinap dan mencelakai mereka. Aku mengandalkanmu." Mata Leo terlihat sendu, dan senyumnya terlipat sesenti.
Pemuda itu terus menatapku dengan pupil mata melebar. Mirip anak kucing yang sedang merayu. Bedanya, jamet di depanku ini, malah terlihat menyebalkan, bukannya menggemaskan.
"Percayalah kepadaku, Tuan. Aku orang yang bisa cepat belajar. Anda tidak perlu khawatir," rayunya. Mulai menggoyahkan hatiku.
Malika keluar, dan menoleh-noleh sebentar, sebelum tatapannya berhenti mengarah kepadaku. Kemudian melangkah cepat menghampiri.
"Kenapa kau kembali?" tanyaku. Heran, begitu dia berhenti di sebelah Leo.
Manika terkesiap sesaat, sebelum menoleh cepat dengan pipi bersemu ke arah Leo.
"Kau, cepat ikut aku ke dalam. Kakek Perota ingin menemuimu!" katanya tegas.
"Ada apa sebenarnya?" tanyaku.
Manika menunduk malu dengan wajah bersemu. Tangannya menggenggam erat bagian sisi baju terusannya.
"Kakek ... beliau minta anak ini menemuinya ... begitu." Suara Manika langsung berubah menjadi lembut saat menjawab pertanyaanku. Membuatnya terdengar dan terlihat menggemaskan.
"Pergilah, Leo. Tetua Perota pasti membutuhkan sesuatu darimu. Jangan kecewakan dia." Mendengar ucapanku, senyum Leo langsung terkembang lebar, lalu berbalik pergi memasuki rumah junjung.
"A-aku pamit juga. Permisi."
Aku tertawa dalam hati melihat tingkah canggung Manika. Sedikit penghibur manis sebelum turun ke medan perang di hadapan.
__ADS_1
Beres satu masalah. Tak perlu khawatir Leo akan mengacau dengan tembakan amatirnya. Padahal sebelumnya tadi, aku sudah kepikiran untuk mengizinkannya menggunakan senjata.
Aku turun menyusul Yenz. Melihat dua barisan orang--di kiri dan kanan--bergotong royong saling mengoper senjata, yang berpangkal dari ruang di kolong Rumah Junjung.
Baru aku sadari sekarang. Rumah panggung ini memiliki banyak fungsi. Selain tempat tinggal kepala suku, tempat menerima sekaligus menginap tamu, dan sebagai balai kerukunan, ternyata juga tempat ini dipakai sebagai gudang penyimpanan senjata, di bagian bawahnya.
"Hei! Tangkap ini!" panggil Yenz. Melemparkan senapan laras panjang, disusul beberapa baris pelurunya.
Ah ... senapan ini. Dulu sering dipakai dan jadi andalan di perang sepuluh tahun. Semi otomatis, dengan pengisian enam peluru, yang memiliki jangkauan, ketepatan, dan kekuatan hebat. Ditambah rekoil yang minim. Sangat mumpuni untuk digunakan di keadaan seperti ini.
Sewaktu aku sedang mengisi peluru, dengan cara memasukkan satu barisan logam berujung lancip, melewati lubang memanjang di atas badan senapan--menekannya sehingga masuk semua--serombongan pria kekar datang menggulirkan balok-balok kayu besar, yang kemudian diberdirikan, dan disusun berbaris memanjang.
Menjadi barikade penghalau jalan masuk menuju pelataran Rumah Junjung, sekaligus menjadi tempat bersembunyi yang pas di saat baku tembak terjadi.
Jantungku berdetak keras. Kali ini aku yakin akan lebih mudah dari pada dua pertempuran sebelumnya. Ada persiapan, dan juga dengan banyak bantuan. Tapi tetap saja aku--berikut Margo--merasa gugup.
Selesai mengokang, dan mengecek lagi keberadaan empat paket peluru di kantong celana, aku beranjak menuju jajaran balok kayu besar, yang di beberapa bagian sudah ditempati.
Aku coba mengukur dan menyesuaikan diri dengan balok setinggi dada itu. Gerakan jongkok lalu berdiri, aku lakukan beberapa kali. Sesekali mencoba membidik dari sela kecil, di antara barisan gelondongan kayu. Bisa, tetapi lebih nyaman dan cepat jika berdiri, karena larasnya yang panjang tidak perlu repot diselipkan terlebih dahulu.
Aku berdiri. Menempatkan tangan kiri, yang memegang bagian depan senapan, di atas permukaan balok. Sekilas melihat, aku berdecak kagum, setelah akhirnya paham dengan keunikan tata letak bangunan di desa ini.
Hanya ada satu jalan yang dapat dilalui, untuk sampai ke Rumah Junjung. Berada di tengah apitan kumpulan blok perumahan, yang ternyata dapat difungsikan untuk menahan laju sporadis serangan musuh.
Pangkal jalan di seberang kami, hanya diberi sela sekitar kurang dari dua meter, sementara di posisi kami, terbentang jarak sepuluh meter lebih.
Artinya, akan ada lebih banyak orang di kubu kami yang bisa menembak, dibandingkan kubu lawan di seberang sana.
Menerobos melewati halaman rumah, memang mungkin dilakukan, tetapi akan sulit bergerak, di hadapan pagar bambu kokoh berujung lancip setinggi pinggang. mengelilingi dan membatasi antar blok perumahan, yang terbangun tak simetris satu sama lain. Apalagi, sudah ada beberapa penembak yang telah ditempatkan untuk menghalaunya.
Mau masuk ke hutan pun, aku yakin bukan pilihan yang bagus. Gerak mereka akan terhalang di sekeliling rapatnya pepohonan, semak belukar, dan mungkin juga binatang liar. Apalagi di kondisi gelap malam seperti sekarang. Mereka sama saja dengan menyerahkan nyawa.
Semua diam dan siap di posisi masing-masing. Penembak di barisan depan. Dibayangi regu pengganti di belakang. Dilapisan ketiga, ada orang-orang yang bertugas dalam bidang logistik, dan pertolongan pertama pada korban tembakan.
Begitulah yang dijelaskan Yenz, di sebelahku, sembari tersenyum kecil. Tak tahu kenapa tetap saja terlihat menyebalkan.
Keheningan di Desa Lasete bermuatan ketegangan. dilengkapi hembusan angin dingin menusuk ke sumsum tulang. Menggigil aku karena bekunya udara, ditambah bibit ketakutan yang mulai bertunas besar.
"Datang! Mereka datang!" Seorang remaja berkaki sebat, melesat memasuki jalan utama desa. Berteriak dengan kedua tangan membentuk corong di sisi mulut.
"Redupkan!" Teriak salah seorang penduduk desa. Kalau tidak salah, dia yang saat di hutan sampai Rumah Junjung, bertugas menuntun Tetua Perota.
Teriakan perintah itu ditanggapi serentak, dengan mematikan nyala obor yang terpasang. Menyisakan beberapa, yang cahayanya cukup untuk membantu penglihatan kami, tetapi akan mempersulit bidikan lawan, yang berada di ujung lain desa.
Kondisinya sangat jelas terlihat, di bawah nyala obor dari tiang-tiang tinggi yang tertanam kuat di sana.
__ADS_1
Sungguh kagum aku akan Desa Lasete. Dengan skenario dan formasi seperti ini, tentu besar kemungkinan kami untuk mempecundangi lawan, walau berjumlah tiga kapal model giyeni.
Datanglah, dan akan kami buat kalian melihat mimpi buruk!