
"Maafkan aku, Sayang. Jujur aku tidak bisa berpikir jernih saat ini." Raut muka penuh rasa bersalah tergambar jelas di paras Pata. Si bucin bersertifikat.
"Kalau kau memang ada ide, kenapa tidak katakan saja!? Jangan mendramatisir keadaan di tengah situasi hidup mati seperti ini, Wanita!" ketus Tura berkata.
"Pedang cakar merah, dan tombak taring perak, sebenarnya adalah senjata yang ditempa dengan inti dari batu haswa." Mirala mulai penjelasannya tanpa memedulikan perkataan Tura. "Kedua senjata itu adalah satu kesatuan yang memiliki kekuatan sangat besar. Cukup untuk mengalahkan si raja lalim dalam wujud monsternya. Masalahnya adalah, kalian belum bisa mengeluarkan kekuatan sejati senjata itu hingga sekarang. Sejujurnya kukatakan, kalian bahkan tidak sedikit pun mengeluarkan kekuatan senjata legendaris itu."
"Hei! Jadi sejak awal kau mengetahui semua itu? Kenapa tidak kau beri tahu kepada kami!?" cecar Tura.
"Karena kau bodoh! Aku pikir selama perjalanan akan ada waktunya di mana kau bisa mempergunakan otakmu itu. Tetapi tidak. Lagi pula aku sebenarnya bersyukur kau tidak bisa mengeluarkannya. Kau tahu apa yang terjadi kalau senjata kalian beradu saat kekuatan aslinya keluar? Hancur! Punah semua harapan kita untuk dapat mengalahkan si raja lalim."
Tura bungkam. Dia tidak bisa membalas perkataan tajam Mirala. Sementara, Pata menggenggam tangan Mirala demi menenangkannya. Meminta dia agar melanjutkan penjelasannya. Mengingat si monster hijau dengan angkuhnya berjalan pelan mendekati mereka.
"Dengar! Aku tidak tahu cara pastinya. Tetapi, yang aku tahu, kalian diharuskan menyatukan senjata dan hati. Mengikatnya dengan tujuan yang sama. Satukan pikiran kalian. Dengan begitu, maka cahaya kekuatan akan muncul dari penyatuan itu. Begitu yang aku tahu."
"Griala! Briaanath! Brinsirhi ghialang! (Mirala! Penghianat! Penyihir sialan!)" geram si monster lalim penuh kebencian. Dia melompat menerjang.
"Lakukan sekarang! Aku akan menahannya semampuku!" perintah Mirala. Dia melempar bola sihir yang sukses mementalkan tubuh monster lalim yang hendak menerjang.
Tanpa ada pembicaraan, dan semata bermodal ikatan erat persaudaraan. Tura dan Pata mengangkat senjata miliknya. Terjulur tumpang tindih saling bersilangan. Mereka memejamkan mata. Mencoba sebisanya mengikuti instruksi Mirala.
"Apa yang kalian lakukan? Sekarang bukan saatnya tertidur!" bentak Mirala yang tak henti melemparkan bola energi. Hanya demi menghalangi laju sang monster.
"Diamlah! Kami sedang berkonsentrasi! Jangan ganggu!" balas Tura. Kesal.
__ADS_1
Buyar sudah konsentrasi Tura walau sudah mencoba keras melakukannya lagi. Walaupun, sebenarnya dia sendiri bingung dengan hal "menyatukan" seperti yang dikatakan mirala.
Walhasil, alih-alih berkonsentrasi, di kepalanya kini berputar-putar ucapan wanita itu secara acak. Penyatuan, senjata, satu, menyatu, dibagi dua, hati, mengikat, tujuan, kekuatan, cahaya. Sepetik kemudian, pria berwajah keras itu membelalak seakan menemukan pencerahan.
"Argh!" pekik Mirala. Tubuhnya terpelanting hingga menghantam tembok. Efek dari gelombang energi sihirnya yang dipantulkan kembali.
"Mirala!" Panik Pata melihat kekasihnya mengalami hal buruk.
"Pata!" bentak Tura begitu kencang, sebelum adiknya sempat beranjak, sehingga membuat dia menolah tanpa sadar. "Ingat tidak dulu kita pernah hampir membakar toko di kota Kirian?"
Pata membelalakkan mata tanda tidak mengerti. "Apa yang kau bicarakan di tengah situasi seperti ini? Itu bisa kita bicarakan kalau sudah selesai membereskan monster sialan itu! Lihat, dia semakin mendekat!"
"Pata, tidak ingatkah kau apa yang ibu katakan saat aku menempelengmu karena kita berselisih paham soal cara memanen lobak?"
"Hahaha ... aku ingat. Saat itu kau langsung kena hukum dengan pukulan kayu di kaki beberapa kali."
"Hei, sialan! Kau seharusnya berterima kasih kepadaku. Bukankah setelah kau menggunakan caraku, pekerjaanmu menjadi cepat selesai?"
"Sejujurnya, aku terpaksa melakukan itu, karena setelah kau kabur, ibu memarahi dan menyuruh aku mengikuti saranmu."
Kedua bersaudara itu tertawa lepas. Mirala yang terkapar kesakitan sekilas melupakan nyeri menusuk di punggungnya. Heran melihat kelakuan absurd mereka berdua. Tidak jauh berbeda dengan si monster lalim, yang menghentikan langkahnya lalu tercenung heran menyaksikan parodi dua bersaudara itu dengan sepasang mata lalatnya. Lewat beberapa menit, seisi aula kastil itu diisi oleh obrolan dan canda tawa mereka.
"Huwargh!" jerit si monster. Jengkel.
__ADS_1
"Hei lihat, saudaraku. Bukankah monster jelek itu lebih pantas kita panggil monster ingus?"
"Selera penamaanmu tidak berubah. Tetap saja buruk. Aku lebih suka memanggil dia muntahan bhuabi."
Tura dan Pata tertawa terbahak-bahak. Monster itu berteriak murka menerima ejekan kurang ajar mereka. Mirala memejamkan mata sambil mengeratkan rahang. Dia merasa kesal bercampur putus asa.
Monster itu menerjang sepenuh tenaga dengan mulut bergigi tajam bertumpuknya terbuka lebar. Namun, mereka berdua bergeming. Tersenyum menyambut serangan yang mungkin bisa menghabisi riwayat mereka.
Psyu!
Cahaya benderang menembus pelupuk mata Mirala. Dengan memaksakan matanya untuk terpicing, dia menyaksikan bagaimana dua senjata legendaris itu berubah menjadi cahaya. Merembet membungkus tubuh kedua pemiliknya. Mengubah mereka menjadi sebuah kepala anak panah yang terbuat dari cahaya.
Senyap sesaat. Sinar terang benderang mengembang saat perwujudan kakak beradik itu meluncur menembus tubuh si monster. Meleburkan dirinya menjadi serpihan abu. Menyapu habis kegelapan di sekeliling kastil.
Begitu gemilang cahaya yang memancar, hingga membuat seluruh penduduk kerajaan--sepertiga luas benua--terperangah. Penuh tanya soal fenomena pemberi harapan yang berasal dari kastil raja lalim. Pemilik tahta kerajaan Domglar.
Setelah hilang cahaya benderang dari panggung pertarungan. Dua pahlawan benua itu tampak berdiri di depan lubang besar yang menganga di dinding kastil. Tersenyum lebar menatap langit yang bersinar cerah. Seakan berterima kasih dan membalas senyum keduanya.
"Hei! Sudah tidak terasa pahit lagi kan, Dik?"
"Benar. Hahaha ... sampai bertemu seminggu kemudian. Selamat ti ...."
Kedua tubuh gagah tersebut lalu jatuh tanpa daya kehilangan semua tenaga yang tersisa. Tumbang di akhir pertarungan dengan senyum penuh kepuasan menghiasi wajah mereka.
__ADS_1