
Pagi pertama di awal minggu yang paling buruk bagiku. Bagaimana tidak. Sudah mana hari senin itu banyak pelajaran yang menyusahkan--matematika dan kawan-kawannya yang menjelimet--hari ini pula, aku dipaksa bangun oleh Ibu menggunakan sebotol air dingin, yang langsung diambil dari dalam kulkas.
Aku yang sedang bermimpi enak, akhirnya terlonjak bangun. Panik hingga jatuh dari kasur. Berlanjut gelagapan plus menggigil kedinginan. Untung saja aku tidak jantungan karenanya.
Setega itu ibu kepada anak semata wayangnya, yang sering dia puji imut menawan ini. pujian yang dipakai agar aku mau disuruh-suruh.
Seandainya hari senin dihapuskan, tentu kejadian mengesalkan seperti itu tidak perlu terjadi. Aku bisa bangun siang, setelah di tengah malamnya menonton film "The Running Dad". Acara televisi seru di musim ini. Bercerita tentang petualangan seorang koboi yang menjadi buronan paling dicari di seantero dunia barat.
Eh ... tapi kalau begitu, tidak ada jam istirahat dan pulang sekolah, di mana aku dan Wanara, biasa mengobrol seru soal cerita di film itu.
Oh iya. Kenalkan, aku Zacky. Cowok tampan berpipi chubby. Pakar perasaan wanita, dan master dalam game ponsel Pray Fire. Walau belum sampai masuk Top Global sih.
Sekarang, aku sedang berjalan menuju sekolah. Tidak jauh memang, tetapi aku sengaja mengambil jalan memutar, untuk bisa langsung sampai di halaman belakang, yang biasanya sepi sebelum jam istirahat dimulai.
Aku sengaja melakukannya, agar tidak bertemu dengan komplotan Rico, yang suka merisak juga memalak siswa lain.
Beda cerita jika aku berangkat sekolah bersama Wanara. Kami akan lewat pintu depan, karena ketiga sialan itu tidak berani mengganggu sobatku, yang masih keponakan kepala sekolah. Bisa kena hukuman berat mereka kalau sampai nekat melakukannya.
Sialnya, bocah berkulit sawo matang itu, sudah terlebih dahulu berangkat. Sungguh suatu kejadian yang amat teramat langka. Padahal jam segini, dia biasanya masih molor asoy, bagai seonggok batu di atas kasur.
Sampai aku di luar halaman belakang sekolah. Sebuah lapangan berlantai semen, dengan beberapa bangku panjang dan mejanya, serta bak sampah besar berwarna hijau pudar, yang ditempatkan agak memojok.
Bagian sekolah itu dikelilingi oleh pagar berkawat jaring, yang tingginya mungkin ada sekitar tiga meter lebih.
Bergegas aku ke pintu gerbang di sisi pagar, dan menarik rantai berkaratnya keluar dari celah petak di tepi jaring, yang sengaja dipotong. Seutas jalinan logam yang dikaitkan oleh sebuah gembok.
Tidak perlu memiliki keahlian membuka kunci seorang maling profesional--seperti Lupis atau Kido misalnya--untuk dapat membuka gembok ini. Cukup ditarik saja sekeras mungkin, maka pengunci longgarnya sudah dapat terlepas. Seperti yang aku lakukan sekarang.
Aku berjalan masuk dengan aman sentosa ke halaman belakang sekolah, sebelum bel tanda pelajaran dimulai berbunyi. Sampai tepat waktu, plus tidak perlu berurusan dengan Rico dan kawan-kawan. Bisa tidak jajan lagi aku kalau sampai dipalak olehnya.
"Hei, Gendut! Pintar juga kau ya. Tapi, kau kira kami bisa dibodohi begitu saja, hah!?" Seru cowok pirang berdagu belah, yang keluar dari persembunyiannya di balik bak sampah besar, bersama kedua temannya. Mereka berbadan besar untuk ukuran anak seumuran kami.
Sialan! Perkiraanku salah. Rico ternyata sudah menunggu di sini!
Dia bersama kedua temannya berjalan mendekatiku, yang begitu saja berhenti melangkah--belum terlalu jauh dari pintu pagar--sewaktu mendengar suaranya.
Habis aku! Bisa leluasa mereka merisakku di tempat sepi seperti ini. Ah, sialan, Wanara! Kenapa tadi dia berangkat duluan sih?
"Gendut! Lihat ke sini! Aku berbicara kepadamu! Kemari kau sambil merangkak, Sialan!" Rico yang berada beberapa meter dariku, tertawa terbahak-bahak bersama kedua temannya.
Aku menoleh pelan ke arahnya, yang di momen sekilas itu pula, terlihat pintu ganda menuju ke dalam gedung sekolah, tengah terbuka lebar.
"Merangkak, sialan! Sekalian kau tirukan suara ba*bi!" Panas kupingku mendengar perintah cowok berbadan tinggi tegap itu. Apalagi dia berucap sambil dibarengi tawa kedua temannya.
Aku mulai melangkah, dan berangsur-angsur menundukkan badan perlahan. Bukan untuk menuruti suruhannya, tetapi demi mengambil ancang-ancang untuk bisa berlari cepat.
Ya! Tanpa mereka kira, aku sudah berlari sekuat tenaga dan secepat mungkin, menuju pintu gedung sekolah yang terbuka lebar. Meraih pegangan pintu dengan ujung jari, lalu membantingnya tertutup. Kulakukan demi dapat menghalangi laju ketiga orang bere*ngsek, yang mengejarku sambil mengumpat penuh emosi.
__ADS_1
Sialan! Secepat-cepatnya aku berlari, Rico dan teman-temannya yang merupakan anggota klub olahraga, bisa dengan mudahnya, mendekatiku. Dalam waktu yang terbilang singkat pula. Padahal, pintu tadi cukup lama menahan mereka di luar.
Harusnya, kalau lariku tidak selambat ini, aku bisa sampai ke tengah gedung sekolah, sebelum ditangkap mereka! Di sana pasti ada beberapa guru yang berlalu-lalang, sehingga ketiganya tidak akan berani merisakku lagi.
"Mam*pus kau!"
Badanku terjerembab diterjang Rico dari belakang. Membuatku sesak saat bernapas, karena perut dan dada ini terhantam keras sewaktu terjatuh.
Tanpa ampun, ketiganya melanjutkan aksi bejat tersebut. Mereka menggencet badanku agar tetap tersungkur di lantai.
"Kau akan membayar semua ini, Gendut sialan!" geram Rico. Bangun, lalu menendang pundakku hingga berbalik. Telentang.
Habis sudah. Selanjutnya, mereka pasti akan memukuli perutku--tidak akan mengarah ke wajahku, karena dulu pernah menjadi kasus berujung skors panjang. Dilanjutkan dengan membuyarkan isi tas, lalu mengambil uang jajan yang kusimpan di sana.
"Hei! Apa yang kalian lakukan!?" pekik suara sopran, yang aku yakin berasal dari persimpangan lorong sekolah.
Mereka bertiga menoleh dengan cengiran lebar dipaksakan.
Aku tahu apa penyebabnya. Pasti karena kehadiran pemilik suara merdu itu. Ya, bidadari berkepang dua SMP Bluebundy.
"Tidak, kami hanya mau membantu Zack berdiri. Tadi dia terjatuh. Bukan begitu, teman?" Rico menatapku tajam, walau bibirnya masih menyungging senyum lebar.
"Kalau memang begitu, harusnya kau ulurkan tangan, bukan menempatkan kakimu di tubuhnya!" Ujaran itu melengking bersama ketukan langkah yang menghampiri kami.
Rico dan kawan-kawannya, lekas mematuhi perintah tersebut. Membantuku berdiri dengan susah payah--sengaja aku mendoyongkan badan ke belakang, biar tambah berat mereka saat berusaha mengangkatku. Mendengus kesal ketiganya di akhir usaha.
Sungguh, dia begitu menawan, saat sedang membetulkan kacamatanya dengan ekspresi marah.
"Ah ... jangan menuduh seperti itu, Fiona. Mana berani aku membuat masalah di sekolah. Bisa-bisa ayah akan mengirimku ke kemah kedisplinan, yang kejam itu nanti. Percayalah, aku sudah berubah."
"Kalau begitu, kalian cepat masuk kelas sekarang! Sebentar lagi bel akan berbunyi."
Rico dan kedua temannya lekas beranjak. Sekali dia menoleh, demi melemparkan picingan tajam, dengan bibir mendecap tanpa suara ke arahku. Mungkin bermaksud melontarkan ancaman.
Tak tahulah. Masa bodo dengannya. Sekarang yang penting sudah aman, dan ditambah lagi aku di sini bersama Fiona berduaan.
"Kau tak apa-apa, Zack?" tanya cewek tirus berlesung pipi itu.
"Eh ... ya, aku baik-baik saja. Seperti yang kau lihat." Aku mengembangkan senyum lebar semenawan mungkin.
"Tidak usah tersenyum konyol begitu! Pi ...." Tak tahu kalimat apa yang mau diucapkannya, karena dia langsung melengos dan melanjutkannya dengan suara berbisik. Seakan tak mau aku mendengarnya.
Ah ... manis sekali! Wajahnya sampai bersemu merah begitu. Aku yakin dia mau mengatakan, "Pingsan aku kalau terus melihat senyummu yang menawan."
Jangan ragukan tebakan itu, karena aku adalah pakar pembaca hati cewek. Jangan ragukan!
"Sudah! Cepat masuk kelas sekarang! Lihat temanmu itu--Wanara--mungkin dia sedang sakit. Bisa-bisanya datang pagi-pagi di hari senin."
__ADS_1
Usai berkata, Fiona pergi begitu saja tanpa menoleh lagi. Meninggalkanku yang perlahan menutup senyuman menawan penakluk cewek ini.
Seperti yang bidadari berhidung mancung itu perintahkan. Aku lekas pergi ke kelas. Melewati lorong sekolah yang mulai sepi anak-anak.
Aku berusaha tidak peduli lagi dengan Rico dan komplotannya, walau jujur masih dendam atas perlakuan kurang ajar ketiga orang itu.
Tapi sudahlah, apa yang aku bisa lakukan melawan mereka?
Sampai di dalam kelas, aku terperangah tak percaya. Benar kata Fiona! Wanara pasti sedang sakit. Bukan hanya datang kelewat pagi di hari senin, tetapi kini dia juga diam di mejanya, sambil menatap buku tebal di hadapan. Sebuah aktifitas yang sangat amat tidak mungkin dilakukannya, kalau sedang dalam kondisi waras.
"Kau sakit apa, sobat?" tanyaku. Duduk di bangku paling belakang--Bersebelahan dengannya--Setelah sekilas melirik buku tebal di atas mejanya.
"Hah? Oh, hai, Kord," ucapnya, hanya dengan sekilas menoleh ke arahku.
"Kord? Kord siapa maksudmu? Ini aku, Zacky! Wah, benar-benar sedang sakit kau ini. Ayo ke UKS, biar aku yang antarkan!"
"Siapa yang sakit?" ujarnya. Menutup buku tebal itu, "aku sehat kok. Kau mungkin yang sakit, karena ditolak oleh Fio ...."
Aku lompat membekap mulut Wanara, sebelum dia berani melanjutkan ucapannya. Dasar congor gemulai!
Aku melepaskan sekapan tanganku dari mulutnya, saat dia mulai mengangkat buku tebal, bertuliskan "Alkisah Naga Bersisik Merah Delima" di sampulnya. Pasti berniat memukulku dengan itu.
"Aneh kau ini. Datang-datang menuduhku sakit," cecar Wanara saat aku kembali ke kursi.
"Kau yang aneh! Sejak kapan, seorang Wanara mau membaca buku tebal yang hanya berisi tulisan? Bahkan sampai Tama memaksa pun, kau tidak mau, kan?"
Wanara diam dengan mulut terbuka lebar. Aku yakin dia mau mengarang alasan, tetapi tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Bel berbunyi nyaring dari lorong sekolah. Tanda jam pelajaran pertama akan dimulai.
"Sudah masuk. Ingat, sekarang jamnya Pak Gupta. Dia akan marah kalau melihat murid yang mengobrol, dan tidak memperhatikan." Wanara memasukkan bukunya ke dalam laci.
Sial! Pintar sekali alasannya.
"Baiklah kalau tidak mau cerita. Tapi, aku berpikir, apa ibumu akan memberikan hukuman ya, kalau tahu kau pernah membohonginya soal sumbangan sekolah, yang nyatanya hanya akal-akalan supaya dapat membeli barang cash di Mobile League?"
Wanara melotot menatapku. Hilang sudah senyum kemenangan yang tadi dia kembangkan.
"Jangan kau berani-berani, Zack!" Ancamnya, dengan jari telunjuk mengacung ke mukaku.
"Oh, tergantung. Kau mau menceritakan rahasiamu atau tidak," balasku, yang kini berbalik memasang senyum kemenangan.
Wanara menghela napas panjang. Tanda dia sudah kalah perang.
"Ok, akan aku ceritakan. Tapi nanti, sepulang sekolah."
Aku mau memprotesnya, tetapi sayang, Pak Gupta sudah terlebih dahulu masuk kelas. Membanting tas jinjing yang dibawanya, untuk membuat seisi kelas terdiam.
__ADS_1
Sialan! Aku penasaran!