
Aku pikir akan dapat membuat perlindungan absolut seperti yang diciptakan Artapatu. Dengan delapan pilar cahaya yang mencuat ke langit, dan membentengi seluruh Kota Kerajaan Capitor dengan tembok sihir yang kuat.
Hasilnya, ternyata hanya kubah transparan berukuran beberapa blok. Yah, mungkin karena kekuatanku tidak sehebat Artapatu, atau mungkin juga karena mantra melankolik yang aku ucapkan kurang bisa bikin baper batu gaia?
Ah, sudahlah. Sekarang yang penting pertahanan kami menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya. Bahkan, sebagai bonus tidak terduga, luka-luka yang didapat para pejuang dari pertarungan sebelumnya, telah sembuh seratus persen. Semua itu masih ditambah dengan tenaga yang penuh dipulihkan oleh kekuatan inti hutan. Keuntungan besar bagi kami.
Kalau dipikir-pikir, dibandingkan dengan pelindung yang diciptakan Artapatu, buatanku ini unggul di faktor healing. Jelas bunga kebanggan mekar di dalam hati.
Yah, tidak bisa dibilang sempurna memang--dari faktor perlindungannya--karena dari balik tembok sihir transparan ini, para kadal masih bisa menerobos masuk dengan paksa. Hanya beberapa saja secara bergiliran, yang kebanyakan dengan tubuh terluka dan pelindung tubuh yang rusak. Membuat mereka dengan mudah dapat diatasi oleh para pejuang.
Tidak kecewa aku dengan hasil tersebut. Lagi pula, kalau dipikir-pikir lagi, batu gaia itu mungkin sudah banyak terkikis dari sejak ribuan tahun lalu, hingga hanya tersisa sebutir kelereng, dan kekuatan yang mungkin ampasannya saja.
Kami mendarat setelah mengitari istana untuk memantau keadaan dari angkasa. Aku melompat turun dan langsung disambut sorakan para pejuang.
Aku tersenyum sambil mengelus Shege yang merebahkan tubuhnya. Mog, Putri Asaru, dan Kord--yang kepayahan berjalan karena baju zirahnya--menghampiriku dengan wajah cerah.
"Hebat, Sobat! Bagaimana kau melakukannya? Itukah senjata rahasia yang kau katakan semalam?" Kord terengah-engah berkata.
Belum sempat aku menjawab, Mog merangkul erat sambil tertawa. Membuat napasku sesak. "Kau hebat, pahlawan, sekarang kita bisa bertarung dengan para kadal itu dengan seimbang."
Aku tersenyum lega. Merasa beruntung orang sekuat Mog berada di kubu kami. Jelas tadi dia pejuang yang paling banyak terluka, tetapi dia pula petarung dengan rekor membunuh lawan terbanyak.
"Terima kasih, Sam. Kau telah melindungi kami. Seandainya kau tidak lekas membuat penghalang sihir ini, aku pasti sudah mati dibunuh para kadal itu." Putri Asaru mendekat hingga jarak kami hanya beberapa jengkal.
Dadaku berdetak kencang, digedor jantung yang memompa darah tidak karuan. Berbeda dengan tadi, detak kali ini berisi kebahagiaan, juga luapan aneh yang membuatku canggung.
"Ya, itu sudah tugasku. Ya kan ... peperangan ini. Lagi pula bukankah anu ... aku ...." Sekilas aku melihat wajah bening itu bersemu merah, "Kau ... aku lindungi, karena bukankah itu tugas seorang kakak?"
Hening. Terulang seperti semalam, wajah Putri Asaru berubah datar dan dingin. Sekilas kemudian paras itu berganti lagi, dengan senyum terkembang lebar yang dipaksakan. Dia mundur selangkah, seakan hendak menjauhiku.
__ADS_1
Hei, apa lagi ini? Memang dia tidak menunjukkannya, tetapi jelas Putri Asaru marah dan kesal kepadaku. Tetapi, apa penyebabnya? Apa karena aku salah omong atau semacamnya?
Dasar wanita! Benar-benar membingungkan!
"Eh ... anu ... tapi, tadi aku juga melindungi Putri Asaru, saat akan diterkam oleh salah seekor kadal. Lihat bolong di pundak baju zirahku," ujar Kord sambil menunjukkan bekas gigitan kadal yang memiliki deretan gigi tajam.
"Iya, Kord. Kau adalah pahlawanku. Terima kasih." Putri Asaru memeluk Kord yang berdiri di sebelahnya. Tanpa aba-aba, gadis centil itu mencium helm besi yang digunakan Kord.
Si gendut sialan itu terdiam membatu dengan pandangan kosong. Kaget mendapat "serangan" dadakan, hingga membuat senjata di pegangannya jatuh terlepas. Sementara, Putri Asaru melenggang pergi tanpa menoleh lagi.
"Hahaha ... dasar wanita, kita para pria tidak tahu apa yang ada dipikirannya. Bukan begitu, Pahlawan?"
Aku menatap Mog lemas. Tidak tahu juga apa yang coba dia sampaikan. Pun begitu, aku tetap tidak mengerti dengan sikap konyol Putri Asaru di tengah kegentingan perang.
Lagi pula kenapa Kord yang dipuji dan diberi kecupan? Hei! Aku yang membuat dinding gaib yang menyelamatkan kalian semua!
Kesal aku jadinya!
Benar apa yang dikatakan Mog. Bukan saatnya memikirkan hal remeh temeh sekarang ini. Entah akan berapa lama dinding pelindung batu gaia akan bertahan. Pastinya, tidak akan lama kalau terus menerus digempur oleh pasukan kadal yang seperti tidak ada habisnya. Aku harus bertindak sekarang juga. Soal Putri Asaru dan yang lainnya, pikirkan saja nanti.
"Pahlawan, serangan ini tidak akan berakhir sampai kita bisa mengalahkan penyihir itu. Karena, yang aku perhatikan, para kadal terus menerus dimunculkan lewat petir oleh dia." Kami menghentikan langkah di depan kedua wadah haswa yang sedang beristirahat dalam wujud tempurnya. "Apakah kau berpikiran untuk menyerang langsung, dan mengalahkan Penyihir Sialan itu di singgasananya?"
Aku paham. Memang kami harus mengalahkan Mitara untuk mengakhiri peperangan ini. Akan tetapi tidak semudah itu. Untuk menembus kepungan ini, kami harus berjibaku untuk membersihkan jalan sampai ke sana. Dikejar waktu sebelum pelindung hancur digebrak kekuatan para kadal.
Woofy atau Shege? Mana yang harus aku tunggangi untuk dapat ke sana dengan cepat? Tidak bisa keduanya, karena salah satu dari mereka harus berjaga di jantung pertahanan ini. Istana Kerajaan Capitor.
Pilihanku memang lebih berat ke Shege, karena dengan terbang, kami bisa lebih cepat sampai ke sana. Masalahnya, serangan udara yang merundung pertahanan tembok gaia, akan leluasa tanpa kehadiran sang Naga Bersisik Merah Delima.
Menunggangi Woofy dan menerjang lautan prajurit siluman kadal, jelas lebih berat, dikarenakan banyaknya halangan yang harus dilewati. Terlebih lagi, serbuan kadal raksasa akan sangat merepotkan, dan jelas membuat banyak waktu menjadi terbuang.
__ADS_1
Alternatif lainnya. Aku bisa melakukan serangan habis-habisan bersama mereka berdua. Menunggangi Shege, sambil membawa Woofy di gendongan, dalam wujud anjing coklatnya. Bergegas menghampiri si Penyihir Ungu itu, dan memulai pertarungan antar pemilik batu bertuah.
Tetapi, lagi-lagi sama saja dengan aku menelantarkan benteng terakhir umat manusia Benua Suno. Belum lagi aku terpikirkan soal perkataan Putri Asaru, soal dia yang akan ditumbalkan, untuk membuat benua ini--sekali lagi--menjadi daratan berisi para monster.
Lepas dari itu semua. Aku masih tidak begitu yakin bisa mengalahkan Mitara dengan mudah. Dia yang sedang ada di puncak kekuatan.
"Bos! Bahaya!" Masih aku memikirkan soal cara mencapai tempat bos terakhir, sewaktu seorang begundal--anak buah Mog--datang berlari dengan wajah diliputi kecemasan.
"Kenapa kau? Habis bertemu hantu, hah? Lihat mukamu yang jelek itu, semakin bertambah jelek!" celetuk Mog.
"Ayolah, Bos, ini serius. Itu, di sana. Dia datang!" katanya dengan bibir bergetar.
"Dia siapa? Berbicara yang jelas, sialan! Mamamu yang datang sambil membawa sapu, hah!?"
"Seriuslah, Bos. Orang itu datang, dan menjadi lebih menyeramkan. Dia orang yang bos hadapi kemarin! Bangsawan dengan pedang ungu terkutuknya!"
Bayangan pria brengsek bermata satu hinggap di kepalaku. Arson, pasti orang itu yang dimaksud oleh bawahan Mog. Tetapi bagaimana mungkin? Bukankah kemarin dia sudah sekarat? Kalau pun masih bisa selamat, sangat mustahil bagi dirinya ikut dalam pertempuran ini.
"Bodoh! Kenapa kau tidak bilang dari tadi!? Cepat, tunjukkan tempatnya!" Mog bergegas mengikut bawahannya yang tadi sempat dia tempeleng.
Aku mengikuti mereka berdua bersama Woofy dan Shege. Menuju tepian kubah pelindung yang dari jauh pun terdengar suara hantaman teredam. Berkali-kali dengan tempo yang teratur.
Krak!
Retakan luas merambat di permukaan pelindung tak kasat mata yang aku buat. Dampak dari kelakuan barbar pemegang pedang berpendar ungu di luar kubah. Ya, siapa lagi kalau bukan Arson!
Akan tetapi, dia bukan Arson dengan sebelah mata yang memakai penutup lagi seperti kemarin. Sosok itu kini memiliki tubuh setengah kadal. Mata sebelah kanannya yang terluka kena timpukan Putri Asaru, telah berganti dengan mata reptil. Sementara bagian kanan kepala, sudah tidak ada lagi rambut memayungi, dan hanya berisi sisik hijau menutupinya. Menjalar sampai ke telinga yang kini mencuat lancip. Begitu pun dengan tangan sebelah kanannya, yang kemarin aku potong demi menyelamatkan Kord dari sabetan pedang ungu. Telah berubah menjadi tangan berotot besar--jauh lebih besar dari tangan sebelah kirinya yang masih dilindungi pakaian perang--dengan sisik hijau melapisi, dan jari-jari berkuku tajam yang memegang erat pedang kutukan berpendar ungu kebanggaannya.
Sialan! Belum ketemu jalan untuk menuju pertarungan dengan Mitara, kenapa sekarang bertambah lagi masalah besar di hadapan. Harus bagaimana agar aku bisa mengakhiri kisah ini?
__ADS_1
Tolong beri aku jawaban!