
Paham aku akhirnya, kenapa di bawah tempat ibadah, yang sekaligus menjadi panti asuhan anak-anak terlantar, bisa sampai ada kamar tersembunyi.
Sudah semenjak dari pembangunan ulangnya setelah perang usai, tempat itu memang direncanakan mempunyai fungsi ganda, sebagai tempat persembunyian anggota Pergerakan Radish, sekaligus menjadi jalur melarikan diri yang hampir tidak mungkin bisa ditebak.
Bagaimana tidak. Lorong kecil yang sedang kami lalui ini, mustahil bisa diketahui keberadaannya oleh orang luar, walau diperiksa memakai senter sorot sekalipun. Letak sebuah jalan rahasia, yang terdapat di seberang kamar mandi.
Pintu kayunya ditutupi kain coklat, yang ditempel rapat menggunakan tanah lempung, sehingga menjadi senada dengan dinding yang membingkainya. Sangat susah diketahui keberadaannya, di ruangan yang remang-remang, dengan hanya berpencahayaan api lentera.
Leo memandu kami melalui jalur bawah tanah, yang sesekali memecah keheningan dari perang dinginku dan Yenz, dengan ocehannya--ngalor-ngidul tidak jelas.
Sampai di ujung terowongan ini, kami memanjat tangga besi, yang ternyata terhubung dengan gudang di pinggir pelabuhan.
Kami menyelinap, dan berjalan cepat mengindik. Menghindari sorotan cahaya petromak tergantung di tiang-tiang tepi dermaga, yang berfungsi sebagai lampu jalanan.
Sesenyap mungkin bergerak, demi menghindari perhatian beberapa orang, yang masih beraktifitas di sekitar dermaga. Bersembunyi di balik peti kayu, badan kapal yang sedang diperbaiki, dan tumpukan barang tertutup terpal, untuk kemudian mengintip dan kembali melanjutkan perjalanan, jika dirasa kondisi sudah memungkinkan.
Kami terus melakukan itu, sampai mendekati ujung pelabuhan, yang di tepian dermaganya terdapat sepetak lubang besar memanjang. Berbatasan langsung dengan laut, dan hanya dipisahkan oleh dinding beton tebal berengsel.
Disebut galangan kering oleh Leo. Katanya sih, tempat itu digunakan untuk perbaikan, perawatan, hingga pembuatan kapal.
Aku agak merinding melihatnya. Walau dari jauh, jelas terlihat ceruk buatan itu sangat dalam. Pasti akan celaka dua belas, jika ada yang sampai terjatuh ke sana.
"Hei! Siapa kalian!?" Suara teriakan itu mengagetkan kami.
Orang tinggi besar, dengan kotak peralatan di tangan kiri, dan palu godam di sebelah kanannya, muncul entah dari mana memergoki kami. Pasti dia pekerja galangan yang habis kerja lembur.
"Lari!" pekik Leo.
Anak muda dengan tas besar tergantung di punggungnya itu, berlari begitu lincah dan gegas. Sampai di tepian dok, dia melompat, menuruni undakan yang tersusun rapi hingga ke dasar.
Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa dia melakukan itu semua dengan mudah, padahal sedang memanggul beban yang berat.
Tidak ada waktu memikirkannya. Pekerja galangan itu sudah mengejar, dengan palu godam tergenggam erat di kedua tangan--setelah menaruh kotak peralatannya di atas tong kayu. Otomatis, tanpa bisa bertanya lagi, aku berlari mengikuti jalur yang telah dilalui Leo.
Terengah-engah aku menuruni satu persatu undakan, sembari memastikan pijakanku pas, agar tidak terpeleset dari ketinggian sepuluh meter lebih. Langsung ke dasar lantai beton yang keras.
Apa yang aku lakukan, berbanding terbalik dengan Yenz. Begitu mudahnya dia meniti tonjolan di galangan, bagai seekor tupai menuruni pohon. Menyusul dan melewati aku. Padahal, sebelumnya dia berada di belakangku.
Sial! Untung benar dia punya tubuh langsing yang ringan!
Aku terus memacu tangan dan kaki secepat mungkin, demi dapat menyusul dua orang berbadan enteng, yang sudah meniti naik galangan sialan ini. Terengah-engah memompa oksigen di paru-paru, hingga dada terasa sesak. Tetapi, tidak sedikitpun membuahkan hasil. Malah makin menjauh jarak aku dan mereka.
__ADS_1
Ya Tuhan! Kenapa tidak beri aku jalur pelarian yang lurus saja sih!?
"Hei! Apa yang sedang kau lakukan di sana!?" Suara itu terdengar begitu kakiku menginjak dasar galangan.
Aku melongok ke atas sekilas, tanpa menahan ayunan langkah. Mendapati si pria besar yang baru mau menuruni undakan, menghentikan geraknya, demi dapat mematut ke sumber suara yang datang berderap.
"Di sana, ada orang yang mencurigakan, Pak!" lapornya, sambil menunjuk ke arahku.
****** aku! Kenapa pihak berwajib sudah datang sih, sementara aku baru mau mulai memanjat naik tonjolan di dinding!?
"Berhenti!" pekik beberapa orang di saat hampir bersamaan.
Masa bodo dengan perintah itu. Lagian, buronan mana yang mau menurutinya?
Suara kokangan senjata terdengar nyaring. Aku tidak mau berpaling, karena tahu pasti, bunyi itu berasal dari senapan petugas di sisi lain. Menanjak terus menuju ke ujung. Tak kusangka bisa lebih cepat sekarang, karena ditambah dorongan ketakutan.
"Berhenti! Atau kami tembak!" jerit mereka. Mengagetkan.
******! Kakiku tergelincir saat setitian lagi sampai ke puncak galangan. Hampir saja terjatuh, kalau Leo tidak cekatan menangkap tangan kananku yang terjulur.
Suara tembakan terdengar lantang. Beberapa timah terlontar berbarengan, menerjang tembok galangan di sisiku. Meleset dari sasaran berukuran jumbo, yang masih berusaha bertahan di ujung undakan.
Tak tahu benar atau hanya sekadar alasan, biar tidak malu karena tembakannya meleset. Aku tidak ambil peduli. Karena, itu sebuah pertanyaan yang secara serius, sangat amat tidak ingin aku ketahui jawabannya.
"Naik, Marg!" teriak Yenz, yang mengulurkan tangannya untuk berusaha membantu.
Harusnya aku menerima uluran tangan itu. Tidak peduli lagi dengan perang dingin, yang sedang terjadi di antara kita berdua. Begitu seharusnya.
Salakkan senapan kembali menggema. Uluran tangan Yenz tak sempat kuraih. Tubuh besar Margo ini melesat begitu saja. Bukan terjatuh ke lubang galangan, karena terkena tembakan para petugas, tetapi terhempas oleh tarikan kuat, yang begitu saja membetot tangan kananku.
Aku mendarat tengkurap di lantai keras pelabuhan. Bernapas cepat dengan sekujur syaraf yang kebas. Bersyukur lolos dari terjangan timah panas, sekaligus terkejut oleh kejadian sedetik tadi.
Jelas sekali hanya Leo yang memegang tanganku. Tak ada bantuan dari siapapun di sekitar kami. Bahkan setan dan memedi pun tidak. Berani aku bertaruh!
Gila! Bagaimana bisa badan kurus itu menarik kencang diriku, yang berukuran dua kali lipat darinya? Jangan bilang dia habis makan biskuit boskuat!
"Ayo, berdiri, Tuan! Kita harus segera pergi sebelum mereka menembak lagi!" ujar Leo. Kembali hendak meraih tangan berbulu ini.
Agak trauma oleh tindakan barbar tidak masuk akal si Jamet, aku tepis genggaman tangannya, dan berusaha selekasnya mengangkat badan besar ini. Sedikit limbung walau tak lama kemudian sudah bisa berdiri tegap lagi.
"Cepat!" ujar Yenz. Selintas dia melewatiku.
__ADS_1
Tanpa dia katakan pun aku mau melakukannya. Kembali kabur menuju ke kapal yang akan membawa kami keluar Vajal, yang tak jelas di mana tengah bersandar. Memulai langkah kembali, walau jujur napas masih terengah-engah.
Akan tetapi, baru satu langkah terayun, petugas sialan di seberang sana kembali menembak. Butiran pelurunya menyerempet helaian brewok kusut Margo, yang aku harap akan membuat para kutu di dalamnya lari terbirit-birit ketakutan. Mengungsi pergi menuju rambut pirang Yenz, yang tentunya lebih nyaman ditempati.
Aku terdiam sesaat, sebelum berbalik dengan kedua tangan terangkat. "Tunggu dulu!" teriakku kemudian.
Cukup ampuh ternyata. Empat petugas yang hendak mengokang kembali senapannya, begitu saja terdiam menatap kami dari seberang. Semua terpaku. Menantiku melanjutkan ucapan.
Setelah satu helaan napas yang menenangkan, dengan lantang aku akhirnya berkata, "Pak, boleh kami pergi?"
Kokangan senjata dilanjutkan. Usahaku di jalan damai ternyata gagal. Parahnya, hal itu sepertinya malah membuat mereka menjadi marah.
Tidak ada cara lain! Dunia ini mungkin memang haus akan konten kekerasan.
Aku menarik cepat pistol dari sarangnya, diikuti telunjuk yang bergegas menekan pelatuk. Menyusul semua itu, tangan kiriku terayun menghampiri. Tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan dari sasaran, berupa empat pria berseragam di seberang sana.
Tak jauh beranjak dari tempat bersemayamnya. Beceng bergagang putih terangkat lima senti di atas pinggang, tanpa ada niat mau aku acungkan ke depan, untuk dapat telapak kiri menghentak tuas palu di buritan senjata.
Letusan propelan membahana empat kali berturut-turut. Menyentak beriringan logam membara melewati moncong revolver. Begitu cepat dan akurat. Mengenai keempat petugas, sebelum mereka sempat menekan pelatuk di senjatanya.
Peluru menembus pundak dua orang petugas. Lainnya melubangi bagian perut, dan sisanya menerobos tempurung lutut. Membuat mereka tumbang seketika. Diikuti kor pekikan kesakitan.
Bukan luka parah yang bisa merenggut nyawa mereka. Tembakan itu tak ada yang meleset kuarahkan, walau hanya sesenti. Yakin sekali akan bimbingan Margo di dalam kepala.
Ternyata begitu mudah perkara menembakan senjata. Hanya cukup berpikir, dan mengumpulkan niat untuk melakukannya. Selanjutnya, spontan saja Margo merangkai gerakkan, hingga meluncur peluru ke arah sasaran.
"To-tolong! Tolong!" Pria geladak berteriak sangat kencang, sambil berlari tunggang-langgang. Melarikan diri, setelah melempar palu godam ke sembarang arah.
Tuntas masalah kuselesaikan. Meski bukan lewat jalur aman, seperti yang awalnya aku rencanakan.
Masa bodo, lah. Setidaknya kami bisa sedikit bernapas lega. Sedetik saja, untuk berikutnya meneruskan pelarian.
"Leo, lanjutkan perjalan!" perintah Yenz.
Leo tersentak. Dia yang tadi menatapku dengan mata berbinar dan mulut ternganga, mengangguk lalu berbalik hendak melangkah.
Belum kami mengayunkan kaki, sekali lagi terdengar lantakkan senjata yang membahana.
"Margo! Lawan aku!" Teriakkan yang menyusul tembakkan tadi, menyentak kesadaran lelaki berbulu ini.
Ada amarah menggelegak begitu saja meluap di sanubari. Emosi absolut yang seketika mengisi otak dengan irama dendam kesumat. Semua tertuju kepadanya. Teruntuk entah siapa itu, yang lantang memanggil namaku.
__ADS_1