Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 38-2] Kebenaran dan Kedamaian Sesungguhnya


__ADS_3

Terhitung sudah dua minggu lebih dua hari, aku menetap di Kalopa. kota besar Kerajaan Andapala.


Ditempatkan di sebuah pondok kayu bertingkat dua, bersama Leo, dengan fasilitas lengkap, layaknya hunian bangsawan. Minus televisi, konsol game, ponsel pintar, dan barang elektronik sejenisnya. Yah bisa dimaklumilah untuk dunia seperti ini.


Menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di sekitar kota, setelah sarapan yang dibuat Leo--rasa masakannya mengingatkanku pada Apak Lapo. Mengunjungi berbagai tempat, dan sesekali berbelanja menggunakan uang yang diberikan Falcoa.


Akomodasi, yang setiap harinya diambil Leo di rumah mewah sang gubernur. Membuat jumlahnya terus bertambah, sampai aku bingung bagaimana cara menghabiskannya.


Semua berlangsung sempurna dan santai. Tidak ada lagi sekolah berikut tugasnya, Riko dan kawanannya, omelan ibu, ketakutan diserang sebagai buronan, atau kelaparan juga sakit dalam perjalanan. Sempurna tanpa cela.


Tetapi, semua terasa hampa setelah lama dijalani. Aku mulai bosan dan malas untuk pergi keluar, sehingga lebih memilih berdiam diri di rumah. Bahkan aku berani bertaruh, kalaupun ada konsol permainan, dengan banyak game di dalamnya sekali pun, hal itu tidak akan mampu mengusir kepenatan yang aku rasakan. Mungkin juga Margo.


Rasa penasaran akan misteri, bersama desir semangat yang muncul, saat membayangkan petualangan yang tersaji di dunia ini. Itulah yang benar-benar membuatku tertarik lebih dari apapun sekarang.


Kalaupun ada hal lain yang bisa membuatku bersemangat, paling hanya pertunjukan grup musik El Machos saja, di siang menjelang sore hari. Mendengar suara Nona Kreta yang lembut membuai, sedikitnya bisa menenangkan kegundahan hati.


Oh iya. Di hari pertama aku mendengar nyanyiannya--setelah Leo menyampaikan ancaman titipan Manika--sang diva bermata celik dan berwajah tirus bersemu alami itu, menghampiriku untuk berterima kasih.


Dari situ semua berlanjut. Terjadi obrolan ringan di antara kami. Aku akhirnya mengetahui kalau Nona Kreta adalah seorang janda, yang memiliki anak berprofesi sebagai seorang pelaut.


Di obrolan itu pun--yang sesekali diingatkan Leo soal Manika--tidak sedikit Nona Kreta bertanya perihal diriku. Tentang siapa aku, dari mana kuberasal, hendak pergi ke mana, dan pertanyaan lain, yang dia lemparkan menggunakan suara indahnya.


Memang tidak semua bisa aku jawab secara jujur. Siapa pula yang mau mengaku sebagai buronan, kan. Tetapi, entah kenapa, aku lihat dari paras cantik Nona Kreta, ada rona kelegaan saat mendengar jawabanku. Seakan sudah menemukan apa yang dia cari sejak lama.


Mungkinkah dirinya terpikat akan pesonaku? Aku tidak pernah tahu, karena di hari selanjutnya, kami tidak pernah dapat lama berbincang, disebabkan berbagai macam alasan. Mulai dari grup musiknya yang disewa oleh Gubernur Falcoa, obrolanku yang panjang dengan Tuan Mashet, hingga kelakuan Leo dan Lamar, yang menjadi pertunjukkan tambahan bagi El Machos.


Akan tetapi, satu hal yang masih terngiang dan membekas di pikiranku. Sajak yang diucapkan oleh Nona Kreta di sore itu, sebelum dirinya beranjak.


"Engkaulah di alur cerita ini, yang mengemban tugas sebagai titik simpul penghubung semua harapan. Benih, guntur, dan bilah penyambung asa. Satu insan pemegang tiga harap. Tak akan berhenti jalan walau terjelajahi ujung dunia. Sampai temukan kebenaran dan kedamaian sesungguhnya."


Dia tidak pernah menjawab apa maksud dari sajak tersebut. Nona Kreta hanya mengatakan kalau rangkaian kalimat itu, akan dapat aku mengerti saat tiba waktunya nanti. Entah apa maksud dirinya.


Begitulah kisahku di air mancur kota. Membayangkannya sambil duduk di teras lantai dua, bersandar kursi berbantal tebal yang empuk, membuatku mulai mengantuk.


Tapi tunggu! Rasa kantuk ini terasa ganjil. Bagai ada kekuatan besar tak kasat mata, yang memaksaku untuk terlelap.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, napasku terasa berat. Pandanganku mulai mengembun. Mengantuk tanpa sebab, seakan ada yang sedang membius aku.


Kalau benar begitu, kapan aku dibius? Sarapan satu jam lalu, tentu tidak mungkin. Atau ada yang melempar ilmu sirep, sehingga perlahan aku mengantuk lalu tertidur?


Langkah kaki cepat dan ringan terdengar dari luar balkon lantai dua ini. Tidak perlu melihatnya pun aku tahu siapa pemiliknya.


Leo, si pemuda jamet. Hanya dia satu-satunya orang--selain aku--yang bebas keluar masuk rumah ini.


"Tuan Margo. Anda tidak mau mengantar kepergian Tuan Yenz di pelabuhan?" tanyanya begitu melewati ambang pintu.


Aku jelas terkejut. Bukan hanya karena jadwal keberangkatan yang maju beberapa hari--awalnya direncanakan tiga minggu untuk mengurus persiapan perjalanan, dan membetulkan kapal hitam Kapten Sando--tetapi juga satu dugaan tentang kondisi yang tengah aku alami. Begitu saja melintas di pikiran.


Mungkinkah, jika kapal mereka sudah berlayar, itu akan menjadi akhir ceritaku di dunia ini sebagai Margo? Kantuk ini mungkin sama dengan yang dialami Wanara, setelah mengalahkan si penyihir wanita bergaun ungu.


Seharusnya aku senang, kan. Tidak lama lagi akan bisa kembali ke dunia nyata. Makan masakan Ibu, bermain game, mengerjakan PR lalu ketiduran.


Masalahnya, aku malah merasa tidak rela. Masih banyak pertanyaan dan misteri dunia ini, yang ingin aku cari tahu kebenarannya. Benar-benar melakukan pelayaran menuju benua hilang, yang entah berada di mana.


"Anda baik-baik saja, Tuan Margo?" Leo menangkap badanku yang sempoyongan saat berdiri.


"Tenang saja. Aku hanya kurang bergerak. Sekarang, bisakah aku minta pertolonganmu, Leo?" tanyaku.


Aku melepaskan rangkulan Leo, dan berusaha berdiri tegap, walau masih tersisa kantuk gaib yang perlahan memudar. Ya, mulai menghilang sejak aku mengambil keputusan baru.


"Kemas barang-barang di kamar. Kita akan lanjutkan perjalanan ini, ke manapun arus laut membawa." Aku berkata dengan gebu semangat.


"Selesai, Tuan!" Aku menoleh dan memandangnya tajam. Dia ini punya kekuatan The Flush, atau sedang bercanda sebenarnya? "Aku sudah menduga kalau Tuan akan berkata seperti itu. Jadi, sedari mengetahui jadwal keberangkatan kapal, aku sudah mengepak barang-barang kita."


Aku tersenyum lebar mendengarnya. Mengacungkan jempol untuk memuji kesigapan si Jamet.


Leo bergegas mengambil tas besarnya di kamar, dan beranjak menuju kandang kuda, yang ada di belakang pondok. Menyusulku.


Aku tersenyum membayangkan bagaimana nanti ekspresi Yenz saat bertemu kami. Kaget, kesal, dan mungkin marah. Pasti menyenangkan saat melihatnya.


Melewati persimpangan memasuki kota, aku melambatkan laju kuda. Menyapa Tuan Mashet, yang bersama teman-temannya berjalan dengan senapan laras panjang di pundak, dan beberapa jerigen air ditenteng. Mungkin mereka mau berburu dan berkemah di hutan.

__ADS_1


Tidak jauh dari air mancur, si bocah Lamar melambaikan tangan. Nyonya Kreta yang sedang berada di restoran pun ikut menyapa. Terasa berat sih, meninggalkan mereka yang selama dua minggu lebih ini, menemani hari-hariku di Kalopa.


Tetapi, percuma saja kan, jika petualangan ini tidak dilanjutkan. Bisa mati penasaran aku, karena tidak bisa mengetahui jawaban dari misteri dan teka-teki, yang berserakan di dunia ini.


Kami memacu kuda lebih cepat begitu sampai di luar kota. Begitu memasuki pelabuhan, kami bertanya kepada petugas dermaga, tentang keberadaan kapal hitam dan rombongan Gubernur Falcoa.


Dari informasi petugas pelabuhan tersebut, tempat rombongan kapal gubernur ada di dermaga tiga. Tidak terlalu jauh dari pintu masuk pelabuhan. Aku harap masih sempat, karena petugas tadi juga bilang, kalau mereka sudah bersiap untuk berangkat.


"Tuan, belok ke sana!" Leo menyusulku dan langsung mengambil arah ke kanan.


Aku mengikuti arahannya, karena tahu selama dua minggu ini, dia yang paling sering main di pelabuhan. Mungkin karena Leo ingin bernostalgia soal Lapalasa.


Dengan dituntun Leo. Kami melewati jalan sempit, tetapi relatif sepi dari kesibukan pelabuhan. Di sini, sepenuhnya aku pasrahkan pada keahlian berkuda Margo, yang tidak perlu lagi dipertanyakan.


Begitu lihai Margo mengarahkan si kuda--yang belum sempat aku berikan nama--untuk menyelinap di antara tumpukan peti, melompati barang-barang yang melintang, dengan tetap menjaga kecepatan agar tak turun melambat.


Hebat kan? Kalian boleh kok memujiku.


"Tuan, itu kapalnya!" seru Leo di belakangku.


Sudah bisa dipastikan, yang dia maksud adalah kapal bercat putih bertiang tiga. Kapal perang dengan tiga tingkat meriam, yang berbaris apik di sepanjang sisinya.


"Aku duluan!" teriakku, saat melihat rombongan kapal di seberang, sudah mulai melepas tali tambang besar, yang menahan kapal agar tetap terjaga di tepian.


Tak tahu apa kalimat balasan yang diucapkan Leo. Aku terus saja melaju. Menambah kecepatan dengan melecuti si kuda. Nanti aku minta maaf kepadanya, kalau sudah selesai urusan ini.


"Tunggu!" teriakku pada orang yang sedang melepas kaitan tali, dari bolder yang tertanam di lantai pelabuhan.


Dia hanya menoleh sekilas, untuk kemudian melengos dan kembali meneruskan pekerjaannya. Kurang ajar!


Aku cabut revolver di pinggang, dan selekas itu pula menembakkannya, saat moncong senjata keluar dari sarung. Anak peluru meluncur, dan menembus bagian atas kaitan tambang kapal dari beton, sehingga membuat si petugas dermaga melompat terkejut. Jatuh terduduk, dengan wajah pias menatapku.


Tembakanku berhasil menghentikan kapal dari berlayar, tetapi hal itu juga memancing perhatian para prajurit berseragam putih, di atas geladak untuk melongok keluar, bersama moncong senjata yang diarahkan kepadaku.


Aku simpan revolver kembali ke sarangnya. Melompat dari punggung kuda, lalu berjalan pelan dengan kedua tangan terangkat. Demi menunjukkan kalau aku tanpa senjata dan tak akan memberi perlawanan.

__ADS_1


"Berhenti di sana, atau kami tembak! Katakan maksudmu!" Salah seorang prajurit--dari puluhan lainnya yang menodongku--memberi peringatan, tanpa melepas bidikannya.


"Katakan pada Gubernur Falcoa, kalau Margo berubah pikiran. Aku ikut dalam pelayaran ini!" balasku kepada mereka. Sembari berharap, semoga tidak ada satu orang pun yang khilaf menekan pelatuk.


__ADS_2