Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 39-2] Pembelot Kurang Ajar


__ADS_3

Beruntungnya, di momen "Tak bedil, modar sampean!" yang sangat menegangkan, aku dan Leo--yang bodohnya malah menghampiriku sambil tersenyum lebar--tidak harus mati konyol diberondong peluru. Sang kapten berjenggot putih--Guter Hargo, teman Tuan Mashet--menyuruh para awak menurunkan senjatanya.


Tidak terlalu lama menunggu. Yenz bersama Falcoa datang dengan mata terpicing.


"Mau apa kau ke sini? Bukankah kau sudah memutuskan untuk tinggal di Kalopa!?" semprot Yenz.


"Aku berubah pikiran. Ternyata kehidupan damai macam itu tidak seasyik pikiranku. Malah membosankan jadinya." Aku tersenyum lebar menatap wajah kesal Yenz.


"Tuan Margo. Bukankah kau sudah memutuskan untuk menetap di Kalopa? Aku sudah menyiapkan segalanya untuk kenyamanan kalian berdua di sana. Seandainya kau memutuskan pergi dari sini, itu sama saja membatalkan perjanjianku dan Yenz." Tuan Falcoa mendatangiku, dengan muka merah bagai kepiting rebus.


Aku membalas tatapan tak berkedip si pirang buncit itu. Tersenyum sebelah sisi bibir. Tak tahu mengapa, di hatiku terkembang kepuasan, mendapatinya panik seperti itu. Merasa menang.


"Tapi aku berubah pikiran. Kami akan ikut dalam perjalanan ini. Percayalah, walau perjanjian kalian batal, si Bibir Kemayu tidak mungkin mau menghentikan perjalanan ini. Aku tahu bagaimana sifatnya." Makin memerah wajah si Tuan Besar Falcoa. "Ataukah, sudah tidak tersisa satu pun tempat untuk kami di kapal besar mewah ini? Kalau memang kamarnya penuh, aku tidak masalah tidur di mana saja."


"Oh, aku juga," sambar Leo.


Barrety menahan napasnya, dengan mulut setengah terbuka, dan bibir yang bergetar. Dia berbalik pergi dengan langkah kaki dihentak.


Dia pasti kesal, tapi aneh juga. Kenapa mesti begitu? Padahal kan perjalanan masih tetap dilanjutkan. Dasar konyol.


Heran aku dengan orang itu.


"Baiklah. Jadi di mana kapal yang kau tumpangi?" tanyaku kepada Yenz.


"Siapa bilang aku sudah setuju kalian ikut? Ingat, Margo, kau bisa saja ...."


Aku menepuk pundak kekar si pria pirang menyebalkan itu, lalu berkata, "Sudahlah kawan. Aku tahu kau senang dengan kedatangan kami. Tidak usah malu dan membuang waktu lagi. Tunjukkan saja jalan menuju kapalmu."


Yenz melengos pergi dengan muka ditekuk.


"Sepertinya Tuan Yenz senang dengan kedatangan kita." Celetukan Leo aku amini, karena walau berusaha ditutupi, sekilas aku melihat kedua tepi bibirnya terangkat, sebelum dia membalikkan badan untuk berlalu.


Tanpa membuang waktu lagi, kami berdua mengekor Yenz menuju kapal putih, dengan barisan meriam tiga tingkat, yang dihaluannya terpasang patung seorang wanita sedang merentangkan tangan.


Untung patung itu pakai daster. Kalau polos, bisa repot aku menjelaskannya.


***


Halo, guys, Zacky di sini, dan ini adalah kamar di kapal armada Andapala. Kalau mau dibandingkan dengan kamar sumpek di kapal hitam sih, jelas bagai bumi dengan pluto. Jauh ke mana-mana.


Kamar luas, kasur empuk, makanan enak, dan sama sekali tidak berbau sangit. Hanya minus tanpa AC, televisi, dan sinyal wifi. Bisa dibilang kalau ini adalah kapal perang yang mewah.


Sungguh beruntung aku bisa mendapatkan fasilitas ini. Tetapi, ada sedikit rasa tidak enak hati, karena sekilas sebelum keberangkatan, aku melihat seorang kru berseragam keluar kapal, dan berlari pergi meninggalkan pelabuhan.


Mungkin dia balik ke rumah, lalu menangis sambil membatin, "Sekarang kalian bisa bersenang-senang berlayar di lautan, tetapi lihat saja nanti, akan aku balas perlakuan kejam ini."


Serasa seperti sinetron ya?


Lupakan! Sekarang kami sedang melakukan perjalanan panjang, menuju ke bagian selatan, yang katanya daerah penuh mara bahaya. Banyak monster, perompak ganas, dan hal ganjil lain yang menyeramkan.

__ADS_1


Sedikit merinding sih saat mendengarnya dari para kru kapal, sewaktu jam makan berlangsung. Tetapi, hanya itu jalan yang bisa kuambil, untuk dapat menyelesaikan cerita ini.


Aku hanya berharap, apa yang akan kami hadapi nanti, tidak akan seseram cerita para kru kapal.


Dalam pelayaran kali ini, waktu tempuh kami terbilang lama. Walau, kapal ini bertipe giyeni, tetapi mesin pendorong itu hanya dipakai di saat-saat tertentu. Seperti sewaktu angin laut sedang berhembus pelan, sehingga tidak cukup kuat mendorong kapal.


Sekali waktu aku iseng masuk ke ruang mesin giyeni, yang mereka sebut sebagai dapur pendorong.


Kebetulan, saat itu angin sedang bertiup berlawanan arah, sehingga membuat perjalanan menjadi tersendat.


Kapten Guter Hargo, yang semenjak keberangkatan selalu bersikap sinis kepadaku, memerintahkan seluruh armada untuk menggulung layar, dan beralih ke pendorong giyeni.


Semua mematuhi, termasuk kapal hitam, yang selama dua minggu lebih di galangan kapal, dipermak habis-habisan, dan diberikan tambahan pendorong giyeni.


Ternyata, untuk mengaktifkan mesin giyeni, secara garis besar cukup mudah. Pertama, memasukkan bijih angin ke dalam tungku di tengah ruangan. Setelah dipanaskan sebentar, garam menyusul untuk ditambahkan. Di saat kedua bahan itu tercampur, tuas di samping tungku digerakkan perlahan ke depan. Membuat cairan kental berwarna hijau berpendar, mulai turun melewati pipa.


Cairan yang mereka sebut jeli asin, meluncur turun ke kolam berisi air laut, di dalam cerobong buritan kapal. Saat cairan hijau itu bercampur dengan air, angin besar akan bertiup keluar melalui lubang knalpot pendorong, dan memberikan dorongan kuat yang melajukan bahtra putih ini.


Terlihat mudah memang, tetapi kalau kata kru ruang giyeni, diperlukan perhitungan komposisi, dan cara menuang yang tepat, agar angin pendorong tidak berbalik merusak kapal.


Aku hampir terguling, saat kapal menghentak didorong hembusan kuat angin dari knalpot di buritan. Awalan yang cukup membuat jantung meloncat, begitu merasakannya pertama kali. Semacam kalian berada di atas speedboat, dan langsung digas kencang tanpa aba-aba.


Kata kru, itu adalah hentakan pelan, yang biasa terjadi dalam proses penggerakkan kapal menggunakan giyeni. Lebih dari itu, kapal akan meledak karena tekanan angin yang berlebihan.


Aku merasa tercerahkan dan menjadi lebih pintar. Meskipun jika ada ujian sekolah nanti, hal itu sama sekali tidak akan keluar dalam soal.


Tidak banyak yang aku bisa kerjakan selama pelayaran ini. Seperti yang kalian tebak, rasa bosan mulai muncul. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, atau sekadar berjalan-jalan di geladak, menaiki tiang sesekali untuk sampai ke Sarang Gagak. Tempat yang dipakai oleh kru untuk memantau keadaan sekitar.


Masih bingung aku. Ceritanya selalu berubah-ubah dan tidak ada lanjarannya. Padahal beberapa kisahnya itu, bercerita mengenai dirinya sendiri. Lebih heran lagi, sampai saat ini pun, aku tidak merasa dia seperti sengaja mengarang cerita untuk berbohong.


Bahkan, tak tahu kenapa, aku malah percaya dengan segelintir ceritanya. Seperti soal patung wanita, dengan mahkota berbentuk seperti kepingan salju menempel di bagian belakang kepalanya, yang terpasang di haluan kapal. Menurut ceritanya, itu merupakan penggambaran dari Dewi Air.


Sebuah kepercayaan para pelaut di Andapala dan beberapa daerah lain, yang lahir dari dongeng terkenal, soal pelaut pencari obat keabadian.


Sosok seorang dewi, yang menjaga perairan, dan akan memberikan keberuntungan, jika membawanya patungnya saat berlayar.


Begitulah kira-kira yang aku dengar darinya, dan terbukti benar setelah aku tanya ke beberapa orang kru kapal.


Itu cerita sepekan lalu.


Pada ninggu kedua perjalanan, perlahan terjadi perubahan di diri Leo. Dia yang pada awalnya ditempatkan satu kamar denganku, entah karena alasan apa, begitu saja pindah ke kamar si Tuan Besar Falcoa.


Begitu setia mengekornya, bahkan bergeming dengan senyum lebar terukir di wajah, walau si Buncit Pirang menghardik atau malah menghinanya di depan umum.


Tidak lagi dia memedulikanku. Bahkan dirinya tidak membalas sapaanku, saat kami berpapasan. Seakan aku ini tidak terlihat di matanya.


Kesal? Jelas sampai ke ubun-ubun. Apa-apaan sikapnya itu? Belajar jadi penjilatkah dia sekarang? Mengekor pada majikan yang paling berkuasa di sini, demi mendapat kemewahan. Makanan dari koki khusus di kapal, dan ruangan tersendiri bersama Falcoa, yang lebih luas dari kamarku.


Sudahlah, tidak usah membicarakan si Penjilat itu lagi.

__ADS_1


Beralih ke Yenz, yang semenjak berangkat dari Pelabuhan Kalopa, sebagian besar waktunya hanya dia habiskan di dalam kamar. Seperti sengaja menjaga jarak. Bukan hanya kepadaku, tetapi mungkin seluruh orang yang ada di kapal.


Ingin aku berbicara banyak dengannya. Tentang berbagai hal. Terutama soal alasannya sangat berkeras, tidak ingin mengajakku dalam perjalan ini. Padahal, jelas sekali dia sangat berharap kami bisa ikut.


Harapanku akhirnya dikabulkan oleh Tuhan. Siang hari yang terik, di atas dek tanpa banyak hilir mudik. Yenz duduk bersandar di tepi kapal yang teduh, sambil membaca buku. Mungkin dia sudah sumpek mengunci diri terus di kamar.


"Hei!" sapaku. Duduk di sebelahnya.


Yenz hanya menoleh sebentar, sebelum kembali meneruskan kegiatan membacanya. Makin yakin aku kalau dia bukan Wanara, yang membenci kegiatan membaca. Tapi entahlah, aku belum ada kesempatan lagi bertanya kepadanya.


Kami diam lama. Sepertinya dia masih mempermasalahkan soal keputusanku, untuk ikut dalam pelayaran. Dasar menyebalkan.


Ingin sih aku merepet kesal karena sikapnya, tapi sepertinya bukan waktu yang tepat. Aku harus menahan emosi, karena kalau tidak begitu, mustahil bisa mengobrol dan memperbaiki hubungan pertemanan kami.


Sepertinya aku harus buka omongan, untuk membuat dia mulai berbicara.


Sedetik berpikir, aku dapat bahan obrolan yang bisa dibahas. "Kau sudah lihat bagaimana cara kerja giyeni? Kemarin aku melihatnya sendiri. Menggunakan campuran bijih angin dan garam. Hampir mirip dengan cara penggunaannya untuk menghidupkan mesin di pabrik." Untuk yang terakhir itu, aku tambahkan karena terlintas memori Margo sewaktu kerja di pabrik pengolahan logam dulu.


Memang benar hampir mirip. Tetapi, bijih angin tidak dicampur garam, melainkan menggunakan belerang. Menghasilkan kalor yang teramat sangat panas.


Yenz menutup bukunya. Menghela napas panjang. "Kau tahu alasan bijih angin penggunaannya dibatasi oleh dewan dunia? Walau itu sangat penting kegunaannya."


"Untuk menjaga agar tidak sembarangan dipakai dan cepat habis." Aku menjawab penuh percaya diri.


"Itu hanya alasan yang dibuat-buat. Walaupun tidak sepenuhnya salah." Yenz memasukkan buku ke dalam tas. "Nama lain bijih angin adalah logam vitalitas. Bukan hanya bisa digunakan dalam kegiatan industri, atau menjadi bahan bakar kapal. Benda itu juga bisa menjadi campuran dalam obat ... retnap misalnya."


Aku melongo mendengar hal itu. Seperti sebuah kebohongan. Tetapi, aku jadi ingat sewaktu di goa Pulau Talse. Memang aku melihat ada beberapa peti bijih angin, yang aku pikir, hanya akan digunakan sebagai bahan bakar, untuk menjalankan peralatan di sana.


"Kau tahu dari mana hal tersebut?"


"Tidak perlu aku jawab lebih lanjut. Pun, bagusnya kau tidak perlu tahu."


Makin menjengkelkan saja orang ini. Kalau boleh, sudah aku lempar dia ke laut dari tadi.


"Kau ini sebenarnya kenapa sih? Kalau mau memberi tahu, ya bilang saja. Jangan jadi orang yang sok misterius lah. Jujur kepada dirimu dan orang lain." Aku merepet kesal.


"Kau tidak akan berkata seperti itu, seandainya saja ...."


Ucapan Yenz terpotong, oleh suara lonceng dari Sarang Gagak. Membuat seisi kapal menjadi gaduh. Orang-orang berseragam putih, berlarian ke geladak tempat kami berada.


Sudah pasti bukan hal yang baik.


"Mereka datang! Bajak Laut Holver!" teriak prajurit dari sarang gagak menggunakan corong suara.


Benar seperti perkirakanku, akan terjadi perang laut lagi.


Baiklah, sekarang aku merasa begitu ampas, karena tenagaku sama sekali tidak dibutuhkan, dalam peperang laut.


Apa aku jadi caster saja ya? Mengomentari jalannya pertempuran, sementara nyawa sebagai taruhannya?

__ADS_1


Sebenarnya sangat enggan, tapi demi konten, aku akan berusaha.


Doakan aku ya, teman-teman.


__ADS_2