
Seperti yang kubilang tadi. Cerita yang kita tahu banyak diubah. Begitu pun soal cerita ’Petualangan Dua Bersaudara di Rimba Gelap’. Di sana diceritakan kalau si petapa mempunyai sifat jahat dan bisa berubah menjadi beruang raksasa. Kenyataannya, dia adalah orang baik--seperti yang kita tahu. Sengaja dicitrakan jahat agar orang menjauh dan tidak mengganggunya dengan hal-hal aneh. Pun, beruang dan petapa adalah dua sosok yang berbeda. Alasan kenapa beruang membunuh ayah Tura dan Pata juga karena si beruang berusaha melindungi inti hutan. Tugas yang diberikan petapa bijak olehnya."
"Kalau begitu kenapa si petapa justru menyelamatkan mereka berdua?" tanyaku.
"Hei! Kini kau yang menyela cerita putri! Kau curang!" protes Kord. Membuatku malu sendiri.
"Hahaha. Kalian lucu." Putri Asaru kembali tertawa. "Alasannya sederhana. Karena Pata dan Tura tidak bermaksud mengambil inti hutan. Mereka hanya ingin membalas dendam kematian ayahnya. Pun sebenarnya, si beruang sudah tua dan waktunya hidupnya tak lama lagi berakhir."
Aku menoleh ke arah Kord. Kami saling bertatapan. Dia menghela napas panjang. Tahu maksud yang ingin aku sampaikan.
__ADS_1
"Apakah petapa itu adalah Artapatu?" tanyaku.
"Entahlah. Dia tidak pernah menjawab saat aku bertanya. Hanya tersenyum atau tertawa. Sekali pernah menjawab memang, tetapi hanya jawaban retoris. 'Aku adalah dia, dan dia adalah aku. Kami sama dan satu dalam tugas yang diembankan.' Begitu katanya."
"Seperti ada yang dirahasiakan. Oh iya, karena tadi Sam sudah boleh menyela cerita, apakah aku juga boleh melakukannya?"
"Woofy, ingat perintahku!"
"Baiklah, aku lanjutkan ceritanya. Sampai mana tadi?" Sesaat kami bertiga berusaha mengingat, sampai Putri Asaru ber-oh kencang. "Ya, pertemuan Tura dan Azara."
__ADS_1
Kami berdua mengangguk mengiyakan.
"Hampir seperti yang ada di cerita 'Pangeran dan Gadis Burung', Tura membantu si gadis mencari obat untuk warga desanya yang ternyata kena kutukan. Meminta bantuan kepada petapa bijak, dan dari sanalah Tura mengetahui kalau itu adalah akibat dari kekuatan permata lazarus."
Aku dan Kord kaget mendengar itu. Kami kira batu itu sudah hancur setelah kematian si raja lalim. Tetapi, ternyata tidak.
"Ya, batu itu masih ada. Sewaktu mereka pingsan, Mirala memungutnya. Merahasiakannya dari Tura, untuk kemudian dia berikan kepada Pata sambil membujuknya menyatukan seluruh kerajaan di benua, agar tidak ada lagi pertentangan yang menyebabkan perang berkepanjangan. Pata menerimanya, dan memulai invasi menggunakan kekuatan batu lazarus, dan wibawa Pedang Cakar Merah, juga Tombak Taring Perak yang sengaja tidak dibawa oleh Tura. Memang banyak wilayah yang menyerah tanpa syarat, tetapi tidak sedikit pula yang melawan walau tahu kesempatan menang mereka tipis."
"Tura pergi menemui adiknya di kerajaan. Pata menyambutnya dengan gembira setelah sekian lama tidak bertemu. Tetapi kebahagian itu sirna setelah Tura mengatakan maksudnya. Pecah pertarungan antara mereka. Pata dibantu Mirala melawan Tura yang telah dilatih petapa bijak, dan berhasil merebut sepasang senjata legendaris. Di akhir pertarungan, Tura terpaksa membunuh Pata sebelum berubah menjadi monster. Menghancurkan permata lazarus yang sudah hampir menyatu dengan adiknya. Sementara, Mirala dan anaknya dilepaskan dan dibuang ke pulau luar benua."
__ADS_1
"Cerita tidak selesai sampai di situ. Tura diangkat menjadi raja atas dukungan rakyat yang merasa telah diselamatkan. Menikah dengan Azara, lalu memerintah kerajaan dengan tenang dan damai sampai beberapa tahun kemudian. Dari sini kisah 'Kutukan Penyihir Penuh Dendam' dimulai. Saat itu di selatan kerajaan terjadi kekacauan dengan munculnya monster dan kutukan di kota. Tura yang sadar kalau hal tersebut ada hubungannya dengan Mirala dan anaknya, Mitara, segera berangkat dengan membawa dua senjata pusaka."
"Seperti yang diceritakan di kisah yang sudah termasyur itu, akhirnya Tura berhasil membunuh Mirala dan anak gadisnya. Di akhir kisah itulah awal dari bencana yang terjadi sekarang. Mitara ternyata tidak mati. Dia menyimpan serpihan permata lazarus yang membuatnya abadi. Setelah genap kekuatannya, dia mulai menyusun rencana untuk menghancurkan kerajaan yang telah merenggut nyawa ayah dan ibunya. Dialah yang membunuh ibuku, kemudian menikah dengan ayahku, dan berulang kali berusaha membunuhku. Wanita bergaun ungu yang bertarung dengan Artapatu itulah ibu tiriku. Ratu Tirama. Samaran Mitara, anak Pata dan Mirala."