
Kami mati. Aku dan Woofy. Mungkin selanjutnya Shege dan Putri Asaru. Menyusul kemudian Kord juga Mog, bersama para penduduk, yang aku yakin juga tidak akan lolos.
Ah biarlah. Toh sudah sedari awal, kesempatan kami menang juga tipis. Biarlah nanti mereka menyalahkanku kalau bertemu di nirwana ini. Ya, tempat yang diselimuti asap putih--mungkin awan--dengan hujan dingin mengguyur dari langit yang tak tampak.
Ah, ternyata mati tidak semenyakitkan itu. Tubuhku malah terasa ringan dan tidak ada lagi rasa sakit. Satu hal yang aku sesali adalah, harus mati di dunia buku terkutuk pemberian Tama. Kalau begitu, apa mungkin aku masih bisa menghantuinya?
Seulas pelukan hangat--sedari tadi aku rasakan--mulai mengangkat dan menempatkanku duduk di hamparan bulu perak.
Ah ... sadar aku, kalau itu pasti berasal dari ekor Woofy. Dia sudah pulih kembali tanpa kurang satu apa pun. Bulunya yang hangat saat aku sentuh, tanduk rusa berwarna emas berkilauan, dan surainya yang lembut berkibar, menggenapkan kegagahan dirinya. Yah, walau pun kini kami hanya berbentuk roh saja.
"Wourgh!"
Salakan kencangnya disertai gelombang angin, menyapu seluruh asap di sekeliling kami.
Hei! Bagaimana mungkin? Kalau memang benar ini ada di Nirwana, kenapa penyihir reptil terkutuk itu masih ada di seberang sana? Menggeram dengan tatapan murka menatap kami.
Tunggu! Jadi kami tetap berada di sini? Di tanah benua Suno, yang menjadi arena pertempuran melawan pemilik permata lazarus.
Artinya kami selamat?
Lalu, yang aku sangka gumpalan awan itu, adalah uap dari fenomena mendinginnya daratan oleh air hujan. Ya, hujan ajaib yang begitu saja datang, saat plasma penghancur menyasar kami yang terkapar.
Aku menoleh saat mendengar sorak sorai dari kejauhan. Di balik kabut asap yang mulai menipis, aku mendapati para pejuang bersorak gembira. Melonjak dengan rona wajah penuh harapan, di bawah derasnya hujan. Terlihat sehat dan tanpa luka sama sekali. Deja vu.
Penglihatanku tergoda untuk terangkat. Oleh sependar cahaya ganjil di tengah guyuran hujan lebat. Jauh di pucuk istana, aku dapati setitik sinar yang menyorot keseluruhan awan hujan.
Sudah kuduga!
Inti hutan! Batu gaia itulah yang menyebabkan semua fenomena ini--penyembuhan instan ajaib. Membantu kami dengan kekuatan terakhirnya yang tersisa.
Pyar!
Kelereng kecil bercahaya itu pecah di langit. Tersebar menghambur menjadi partikel-partikel kecil berkilauan, untuk kemudian menghilang di balik awan hujan yang menggantung. Menggenapkan tugasnya selama ribuan tahun.
"Huwargh!" pekik Mitara.
Fokus kami teralihkan kepada Mitara, yang benar-benar murka. Siluman itu kemudian mulai menyalakan pendar ungu di sisiknya. Kali ini bukan hanya satu cahaya yang merambat. Ada sebarisan titik pendar, yang berurutan merayap satu persatu untuk sampai ke ujung spiral. Di jantung yang tersimpan permata lazarus.
"Kau juga memilikinya kan, Woofy? Serangan pamungkas untuk melawannya." Dia menyalak pelan.
Salakan itu merasuk ke otakku. Lagi-lagi pesan visual dari sang wadah tervisualisasikan. Menampilkan potongan-potongan gambar, dari gerakan yang akan kami lakukan untuk mengeluarkannya. Serangan pamungkas kami.
Aku lengkungkan segaris senyum lebar. "Kalau begitu, ayo kita lakukan!"
Woofy menggeram. Ekor panjangnya terangkat, untuk kemudian melebur, menjadi butir-butir partikel perak yang mengambang di udara. Terus terkikis, mulai dari ujung, hingga hanya tersisa beberapa meter saja.
Seiring dengan itu, tanduk rusanya ikut berpendar. Menyala sangat indah, dengan kelap-kelip yang menyebar di sekelilingnya. Begitu terang, tetapi sama sekali tidak menyilaukan mata.
Bwush!
__ADS_1
Bola plasma besar terlontar mengarah kepada kami. Sebuah serangan maha dahsyat, yang bisa dijamin menghancurkan sebuah pulau kecil tanpa tersisa.
"Wourgh!"
Woofy kembali menyalak kencang. Butiran perak melesat bersamaan, untuk kemudian mengambang di sekeliling kami. Membentuk formasi terowongan raksasa, yang membentang menuju Mitara sebagai ujungnya.
"Ayo!"
Kami melesat menyusuri terowongan. Seketika itu pula segalanya berhenti. Bergeming diam tanpa daya. Rintik air membeku di tengah udara, yang serombongan pecah berhamburan saat kami terjang.
Partikel perak yang berpendar di sekeliling kami, terlihat memanjang, persis seperti lampu jalanan, saat menatapnya dari dalam mobil yang bergerak cepat.
Begitu pun para pejuang di sekitar istana. Berhenti dalam berbagai macam pose. Ada yang berjengit ketakutan, beberapa menutup mata, ada juga yang terjungkal ke belakang, tetapi tetap dalam posisi tubuh terapung. Tidak menyentuh tanah.
Segalanya membatu. Seakan-akan dunia ini baru saja di-pause, oleh seseorang dengan remot televisi.
Sebenarnya, semua tidak benar-benar berhenti. Hanya saja kami yang bergerak begitu cepat, sehingga segala di sekitar, terlihat diam--sama sekali tanpa gerak. Kami berlari dengan kecepatan cahaya, menjadi sosok yang paling cepat di muka bumi.
Di dalam buku Alkisah Naga Bersisik Merah Delima, sebenarnya.
Pyar! Bola plasma itu pecah kami terjang. Tanpa ada sedikit pun efek menempel, seakan gumpalan energi penghancur itu, hanyalah seonggok bola kertas tanpa isi.
Wush!
Woofy menjorokkan kepala, hingga tanduk emasnya mengacung ke depan. Kami terus berlari tanpa ada niat berhenti, walau jarak dengan Mitara hanya tersisa beberapa jengkal lagi.
Kami menerjang tanpa terbendung. Menembus tubuh siluman reptil Mitara, tanpa halangan berarti--hanya melonjak seperti pada saat mobil melewati polisi tidur. Monster itu hancur berantakan, bagai gelas yang pecah terbanting. Tersepah, lalu musnah termakan cahaya emas yang berasal dari tanduk Woofy.
Lucunya. Sesaat aku melihat kerumunan di sekitar istana. Mereka semua terperangah takjub berikut tidak mengerti, karena semuanya berakhir begitu saja dalam sekejapan mata.
Setelah bersusah payah mengerem, akhirnya Woofy berhasil menghentikan laju, yang masih tersisa selepas terowongan. Dia terengah-engah dengan lidah panjangnya terjulur keluar. Lelah, namun senang karena telah berhasil melaksanakan tugas. Terlihat dari ekornya yang terangkat bergoyang ke kiri dan kanan.
Bisa juga dia menggemaskan dalam wujud tempurnya.
"Beristirahatlah, Sobat." Aku usap surainya.
Woofy langsung merebahkan badan. Proses perubahan terjadi begitu aku turun dari punggungnya. Sosok anjing kecil berbulu coklat, muncul berganti di sana. Tidur lelap dengan keempat kakinya menjulur keluar. Aku tahu dia sangat kelelahan.
Tuk!
Ada benda seukuran bola tenis jatuh dari langit, saat aku baru mau mengangkat Woofy. Itu permata lazarus!
Aku menatapnya takjub. Bola bening berwarna ungu itu sangatlah indah. Cahayanya begitu berkilauan di mataku. Woofy menggeliat sambil menggeram pelan dalam dekapan, saat aku berniat menjulurkan tangan untuk meraihnya.
Sial! Hampir aku tergoda mengambil permata terkutuk itu. Sadar aku, pikatan gaib yang keluar dari permata itu sangat berbahaya. Harus aku hancurkan sebelum ada yang terkena jeratnya lagi.
"La-za ... ru-sss ...!" desis suara yang merayap.
Mitara yang kembali ke ukurannya semula, namun tetap dengan wujud ularnya--berkepala manusia, seperti Arson tadi--yang penuh luka membusuk, merangkak susah payah menghampiri kami. Tidak peduli kepada apapun lagi, karena di pelupuk matanya hanya ada kilau permata lazarus.
__ADS_1
Sumpah. Aku ngilu melihat bagaimana dia merayap, dengan tubuh dipenuhi luka bernanah yang terbuka. Tubuh ular itu bergesekan dengan tanah becek berbatu. Sisiknya terkadang lepas dan menimbulkan luka baru. Akan tetapi, dia tidak peduli dan terus bergerak. Didorong godaan memikat yang disebarkan batu terkutuk itu.
"Hentikanlah, Mitara! Percuma melakukannya. Kau sudah kalah." Aku berujar, dengan suara terbendung. Memalanginya dari melanjutkan usaha gilanya.
Dia berhenti lalu mendongak sesaat menatapku. "Kalah? Hahaha ... aku keturunan Dav yang agung, pemegang pertama permata lazarus. Kau yang akan menjadi pecundang di akhirnya, wahai keturunan Gav dan Val, sang pengecut!" Dia berucap susah payah sambil terus melanjutkan usahannya merangkak.
"Tidak! Hentikan sudah dendam ribuan tahun itu. Tidak ada gunanya, dan hanya akan menyengsarakan orang-orang yang tidak bersalah sama sekali."
"Tidak bersalah katamu? Cuih! Karena kejahatan buyut mereka juga lah akhirnya aku berakhir seperti ini. Kau tahu bagaimana menderitanya tinggal di tanah kematian? Ratusan tahun aku minum dari kolam berbau nanah! Makan bangkai dan kotoran monster, hanya demi dapat bertahan hidup. Setiap detik menghirup udara amis, dan asap berbau telur busuk. Bahkan aku tidak henti disiksa oleh alam gelap yang kejam. Semua aku lewati demi dapat menuntut balas, kepada mereka yang telah membunuh ayahku, merenggut kasih sayang ibuku, dan memisahkanku dari adik bayi yang bahkan belum mengerti apa-apa! Masih kau berpikir ini semua tidak ada gunanya!?"
Mitara berhenti merayap. Mendongak menatapku yang menghalanginya bergerak lebih jauh, dengan sorot penuh kebencian. Akan tetapi, entah kenapa aku tidak bisa membalasnya dengan tatapan yang sama. Padahal, dialah yang telah banyak membawa bencana bagi kami. Hanya ada linangan sendu tertahan, saat aku melihat ke dalam keruh matanya.
"Akan aku sudahi ini. Langsung ke sumbernya, permata terkutuk lazarus."
"Hahahaha! Mau apa kau, bocah? Menghancurkannya? Itu batu abadi yang bisa utuh kembali dengan menelan perasaan negatif manusia. Menyembunyikannya rapat-rapat? Akan ada orang dengan nafsu besar yang akan menemukannya. Meneruskan ambisi balas dendam kami. Atau, kau mau mengambilnya? Hahahaha ... itu lebih bagus, wahai keturunan dua pecundang. Biar dengan tanganmu yang berisi darah menjijikan mereka, benua ini dihancuran. Rata dengan tanah!"
Aku menelan ludah. Merinding merasakan dendam kesumat, yang teramat besar menguar dari tubuh ringkih itu.
"Tidak. Aku akan menghancurkannya." Aku mundur tiga langkah, hingga berdiri di depan permata lazarus. Menurunkan Woofy sedikit menjauh.
"Hahaha! Kau tidak mendengarkanku, ******** cilik! Hancurkanlah dengan apa pun juga. Permata itu akan kembali utuh, bahkan lebih kuat lagi!"
Aku berusaha tidak acuh dengan ocehannya yang berisi sumpah serapah. Menarik pisau batu yang selalu terselip di belakang badan. Mengambil ancang-ancang untuk menyasar permata terkutuk itu.
Mitara makin keras tertawa. Mengejek pisau batu pemberian Artapatu. Berusaha memanasiku agar segera menghujam permata berharganya.
"Kalau kau mau tahu, pisau batu ini terbuat dari pecahan meteor, yang mendarat ribuan tahun lalu. Batu angkasa yang membawa lazarus dan haswa, hingga ke benua Suno. Kita buktikan apakah pisau ini dapat menghancurkannya."
Paras wajah Mitara berubah ketakutan. "Ti-ti-tidak tidak tidak! Jangan lakukan itu! Aku moh .... Tidak!"
Pyar!
Permata itu pecah berserakan saat aku hujam dengan pisau batu di tangan. Menghilang terbakar semuanya, seperti kertas yang dilalap api. Tanpa asap dan debu sama sekali.
"Argh!"
Tubuh Mitara pun mengalami hal serupa. Terbakar habis tanpa meninggalkan bekas. Namun, bukan tanpa jejak sama sekali, karena setelah raga buruk itu menghilang, aku melihat sekilas penampakan sesosok gadis berambut pirang yang tersenyum kepadaku. Bibirnya bergerak mengucapkan terima kasih tanpa suara. Setelah itu, dia terbang menghilang di angkasa.
Semoga kau tenang di sana. Bersama orang-orang yang kau sayangi, Mitara.
"Sam!"
"Pahlawan!"
Aku menoleh ke arah suara segerombolan orang yang mendatangiku dengan wajah cerah. Mereka Putri Asaru dengan Shege yang terbang riang di sebelahnya. Kord yang sudah tanpa baju perang konyol. Juga Mog yang sudah kembali bugar tanpa luka, diiringi para begundal, pejuang dan penduduk kerajaan Capitor yang tersisa.
Aku menghampiri mereka, dengan Woofy yang masih tertidur dalam dekapan. Berlari kecil sedikit terengah-engah.
Hah ... tenagaku sudah banyak terkuras ternyata.
__ADS_1
Tetapi, Hei! Apakah memang selelah ini jadinya? Aku tidak lagi dapat merasakan tubuh ini. Mati rasa. Pandanganku pun turut kabur, semakin pudar untuk berakhir gelap seluruhnya.