Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 50-1] Kami Lawan Mereka


__ADS_3

Hujan panah berjatuhan dan terus dilepaskan dari busur. Susul-menyusul menerjang dan menancapkan ujung tajamnya menembus sisik keras para kadal. Sebuah serangan pembuka yang dahsyat sebenarnya. Hanya saja, lawan kami adalah monster reptil berpakaian perang lengkap dan berkulit sekeras karang. Hanya beberapa puluh musuh berhasil ditumbangkan, dari ratusan anak panah yang dilepaskan. Sangat tidak sebanding, apalagi dengan jumlah mereka yang begitu banyak.


"Sekarang!" perintahku untuk kami bertiga.


Aku berlari diiringi Woofy yang kemudian melompat. Shege pun langsung membumbung terbang, begitu tubuhku menghentak didorong pijakan awal untuk berlari.


Sedetik kemudian. Dari atas istana, angin kencang bercampur bulu burung berwarna merah, mulai berpusing kencang. Menghisap para kadal terbang dan menyayat-nyayatnya tanpa ampun. Puluhan, bahkan ratusan tertelan ke dalam pusaran berdiameter besar itu. Diakhirnya, kumpulan tubuh penuh luka amis berlendir hijau itu terlempar ke segala arah. Menghantam kawanan yang sedang terbang mendekat, menimpa gerombolan mereka sendiri di bawah.


Pembukaan yang spektakuler dari si burung kecil. Walau setelahnya, hujan cairan kental berwarna hijau--darah para kadal terbang--mengucur dari langit, layaknya hujan. Memandikan siapa saja di bawahanya dengan cairan berbau amis. Tetapi, siapa sih yang peduli dengan hal kecil begitu, di tengah medan laga mencekam seperti sekarang.


Wush!


Naga merah dengan kedua pasang sayapnya yang terbentang muncul di atas istana. Menatap tajam para musuh dengan mata nanarnya. Sisik di bagian atas lehernya terangkat, lalu bercahaya terang--merah menyala. Tanda dia tengah mengumpulkan energi panas di badan, untuk nanti ditembakkan ke penyerang bersayap di langit.


Di saat yang bersamaan pula, komet pendar berbulu perak, meluncur cepat menerjang massa bersisik hijau. Mengitari sekitaran istana untuk memporak-porandakan kerumunan penyerang. Menghantam mereka begitu kencang hingga terpental jauh, atau menumbuk sesama kawanannya. Menimbulkan efek domino yang panjang.


Bam!


Sosok serigala perak muncul menderap di tengah kerumunan kadal. Menginjak mereka hingga remuk--gepeng seperti kaleng kola yang terlindas mobil di jalan raya--sementara ekor panjangnya menyapu kencang gerombolan itu hingga terhempas bagai boneka.


"Aouw!" lolong Woofy saat langit menjadi merah membara oleh semburan api Shege, yang membakar gosong sekumpulan kadal terbang.


Aku masih terus berlari, melewati jalur kosong yang sudah dibuat Woofy saat serangan pembukaannya. Dikejar beberapa siluman reptil dengan senjata tajam teracung. Bergerak zig-zag demi menghindari guguran tubuh kadal terbang yang terbakar. Sampai akhirnya ujung ekor perak terjulur di hadapan.


Aku melompat demi menaiki hamparan bulu berwarna perak yang terjulur menyambut. Digelungnya tubuh ini, demi dapat diangkat--lolos aku dari tebasan brutal prajurit kadal--dan ditempatkan di atas punggung sang Serigala Perak Perkasa. Dekat dengan surainya yang aku genggam sebagai pegangan.


Rasa hangat mulai menjalar, bagai merasuk ke sekujur tubuh. Selentingan kemudian, jiwa kami saling tarik menarik, satu sama lain. Berpadu utuh untuk akhirnya sempurna dalam penyatuan jiwa.

__ADS_1


Tidak ada lagi aku dan dia. Kita sama terhubung dalam dua raga terpisah, namun solid menjadi satu kesatuan. Mata, telinga, rasa, semua indera, bahkan tenaga, saling berbagi dan menyokong. Melonjakkan kekuatan kami berkali-kali lipat.


Kami menerjang. Memulai serangan yang membabat dan meluluhlantakkan ratusan lawan. Melibas para kadal dengan terkaman, injakkan, cakaran, serudukkan, dan sapuan ekor yang bagai ayunan cambuk baja.


Lima ekor kadal raksasa dengan kalap mendatangi kami. Tidak peduli kawanannya sendiri mereka lindas. Mata nanarnya hanya mengarah kepada kami, dengan nafsu penuh untuk membunuh.


Bledar!


Lima ayunan sekaligus terayun kencang menerjang di hadapan. Akan tetapi, kami telah terlebih dahulu mengindar sebelum serangan itu sampai. Membiarkan laju logam mereka membelah tanah.


Jeda yang tersaji, kami manfaatkan sebaik mungkin. Melesat kuat demi menanduk seekor kadal. Menumbuknya dengan tanduk emas yang kokoh. Menembus baju besi yang dikenakannya, dan membuat dia terpelanting tinggi. Membumbung, untuk akhirnya terpanggang habis oleh semburan Shege.


Sepasang pedang menukik bersamaan. Datang dari kadal lain di kedua sisi. Mengarah langsung ke leher bersurai kami dengan ayunan penuh.


Kami menggeram. Menyambut serangan yang tidak lagi dapat dihindari. Memadatkan tenaga di bagian yang akan menjadi sasaran sepasang pedang golok mereka. Surai kami menegang kencang, sedetik sebelum serangan itu datang menghujam.


Pedang mereka patah saat menghantam surai. Terbelah dua, dengan sepasang sisanya terpelanting membabat serombongan pasukan kadal bersayap di udara. Untuk kemudian, jatuh menyasar entah ke mana. Pastinya, kembali mengenai sekutu mereka.


Cakar kami ayunkan membabat tubuh si kadal berbalut baju besi, sebelum sempat dirinya melakukan serangan susulan. Menerkam yang lain dan mengoyak lehernya, sehingga rebah dia dengan kepala dan badan hampir terpisah. Beriring itu, kami melentingkan ekor ke belakang dan membelit satu kadal terakhir. Begitu kencang hingga terasa jelas remukan tulang di dalam tubuhnya, untuk kemudian melambungkan sosok raksasa itu melewati istana.


Perlu aku katakan. Ini keuntungan saat kami bersatu. Aku dapat melihat serangan dari belakang yang merupakan titik mati Woofy, sehingga akhirnya bisa mengeliminasi lawan yang coba mengambil kesempatan.


Shege menerima umpan yang kami beri. Menyemburkan napas api membara dari mulut yang menganga lebar. Menyulut dan membiarkan kadal raksasa itu jatuh menindih rekannya yang lain dalam kondisi terbakar. Sedikit membantu barisan belakang yang di-cover olehnya. Sang Naga Bersisik Merah Delima.


Kami buas, liar dan kuat. Membabat mereka dalam sekejap tanpa kesulitan berarti. Ratusan ribu yang datang, sebenarnya bukan masalah. Cakar, sapu, remukkan, bakar, terkam, ledakkan. Kombinasi kami tidak terkalahkan melawan ribuan batalion prajurit kadal seperti mereka.


Akan tetapi, Masalahnya ada di pusat pertahanan. Di istana yang dibanjiri terjangan ganas dari berbagai penjuru.

__ADS_1


Serbuan ini terlalu besar dan berat untuk diatasi. Mustahil dapat menghalau semuanya. Depan dan belakang kami hadang, kiri juga kanan datang memberondong. Timur berikut Barat kami ratakan, utara dan selatan tidak terbendung. Akibatnya, lapisan pertama sudah mundur terdesak serangan lawan, sementara lapisan dua, susah payah menahan gempuran yang datang. Banyak sudah pejuang yang gugur dilibas ganasnya prajurit kadal.


Kalau begini terus, bukan tidak mungkin mereka semua akan dibantai, sebelum sempat kami menghadapi Mitara!


"Tahan! Siap di posisi! Kita pertahanan terakhir umat manusia! Jadilah pahlawan!" pekik pembangkit semangat itu keluar dari mulut Putri Asaru. Tanda musuh sudah masuk ke lapis ketiga. Barisan akhir sebelum istana runtuh tanpa sisa. Padahal pertempuran baru berjalan kurang dari lima belas menit.


Sialan! Andai saja ada cara untuk membabat mereka semua--siluman reptil berjumlah ratusan ribu--dalam sekali serang, tentu tidak perlu ada korban di pihak kami. Kalau pun tidak begitu, setidaknya ada cara untuk melindungi mereka yang tengah berjuang di sana. Menahan musuh agar tidak dapat memasuki istana, yang penuh berisi penduduk tak berdaya.


"Hei, Pahlawan! Pergilah hadapi nenek sihir sialan itu! Biar kami yang menahan mereka di sini! Cepatlah!" Mog yang tubuhnya sudah dipenuhi luka, dengan baju pelindung yang hancur terkoyak, berteriak susah payah dengan suara bergetar kesakitan.


Sialan! Bagaimana mungkin meninggalkan mereka? Sementara dengan bantuan kami saja, pertahanan sudah tertembus sampai hanya tersisa lapisan belakang.


Bukan pertarungan mudah aku yakin kalau harus berhadapan dengan Mitara. Akan jadi pertarungan panjang yang belum tentu juga dapat kami menangkan. Mereka semua akan habis terbantai sebelum pertarungan kami selesai.


Andai Artapatu ada di sini. Dia pasti akan mengeluarkan sihirnya untuk melindungi kami. Membuka jalanku untuk mengakhiri perang, dan menyelesaikan semua cerita di dunia dalam buku terkutuk ini.


Kenapa dia meninggalkan kami di penghujung kisah? Sialan! Siapa yang membuat cerita gila ini sebenarnya? Setidaknya berilah petunjuk agar aku bisa mendapatkan akhiran yang baik! Tidak mati konyol di peperangan yang berat sebelah seperti sekarang.


Tunggu! Betapa bodohnya aku! Artapatu tidak pergi begitu saja. Selain cerita dan nasehat, dia juga meninggalkan satu benda yang selama ini terus ada di kisah benua ini. Benda yang semalam aku gembar-gemborkan kepada Kord sebagai senjata rahasia.


Ingat aku akan ceritanya di toko roti kemarin. Begitupun kejadian di saat pilar cahaya muncul melindungi seluruh Capitor.


"Di mana pada saat itu, manusia hidup di wilayah kecil yang dilindungi oleh kekuatan batu gaia, atau inti hutan, begitulah kebanyakan orang lebih mengenalnya sekarang."


Entah di mana wilayah kecil itu berada. Tetapi, yang aku tahu pasti, inti hutan yang menjadi pusaka benua ini ada padaku sekarang. Ya, batu gaia yang sebelum kepergiannya dia berikan kepadaku.


Sial! Kenapa tidak dari tadi terpikirkan! Ini mungkin jalan keluar yang diberikan Artapatu untuk kami.

__ADS_1


Saatnya menguji satu lagi easter egg di dunia ini.


__ADS_2