Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 55-2] Jalan Berkabut


__ADS_3

Antara takut dan gelisah. Tidur di ketinggian satu setengah meter labih dari permukaan lantai, sungguh suatu keterpaksaan bagiku. Inginnya sih aku tidur saja di lantai, tetapi berhubung di bawah sana Yenz sedang sibuk dengan acara merenung meneliti petanya, aku benar-benar dipaksa dia untuk tidur di ranjang terkutuk ini.


Sebentar terlelap, lalu terbangun karena kaget. Memejamkan mata lagi, untuk akhirnya tetap tak bisa nyenyak, karena terbayang tingginya tempatku berbaring.


Sialan!


Siapa sih orang pintar yang membuat bentuk rumah seperti ini?


Perasaan was-was itu akhirnya berujung pada keinginan untuk buang air kecil. Aku bangkit, lalu merayap ke ujung ranjang, demi menggapai anak tangga yang juga menempel di dinding.


Ngeri-ngeri sedap rasanya, saat meniti berbaris-baris kayu yang mencuat di dinding. Mungkin begini rasanya menjadi seorang pemanjat gunung.


"Kenapa, Marg? Kau ketakutan?" seloroh Yenz begitu aku menginjak lantai.


Panas kupingku mendengarnya. "Ya jelas. Siapa pula orang yang bisa tidur nyenyak di tempat menyeramkan seperti itu!" balasku.


Yenz menggerakkan kepalanya dari meja di hadapan. Mendongak ke arah kiri, di mana terdapat ranjang tempel yang letaknya paling tinggi.


"Itu ada." Dia terkekeh tanpa menoleh dari menatap pembaringan tempat Leo berada. Tidur begitu nyenyak, hingga dengkurannya sayup-sayup terdengar dari bawah.


"Dia lain soal! Lagian, kenapa kau sendiri belum tidur? Takut juga kan untuk tidur," cecarku.


Yenz menghela napas. Kembali ke bentangan peta, yang tadi diberikan Holver atas permintaan Baba Rushka.


"Aku hanya tidak bisa tidur, karena terpikirkan jalur pelayaran yang harus diambil nanti. Terlalu jauh melenceng dari titik tujuan seharusnya."


"Lalu kenapa? Kau kan sudah tahu di mana letaknya, hanya sedikit mundur saja dari waktu yang seharusnya. Lagi pula seperti nasihat Nona Rhuksa, di sana kita bisa mendapatkan bantuan dari orang, yang akan mengantar kita melewati lautan ganas di daerah sekitar sana."


Hening sesaat, sebelum akhirnya dia menoleh dan menatapku. "Kotak kayu yang kuambil dari gudang bandit gurun adalah kunci untuk membuka gerbang menuju Sekonde. Tetapi, benda itu membutuhkan satu ornamen lagi untuk melengkapinya agar berfungsi. Mutiara laut namanya."


Aku khidmat mendengarkan ucapannya. Jawaban atas pertanyaanku sejak lama. Jelas terkejut, walau sudah bisa sedikit menebak jawabannya.


"Kedua benda itu saling terhubung, dan yang aku lakukan waktu itu di belakang penginapan adalah untuk memeriksa arah, di mana permata itu berada."


"Jadi benar soal dongeng tentang benua yang hilang? Kau yakin dengan hal itu?"


"Kau pikir dari mana obat ajaib yang beberapa kali menyelamatkan nyawamu itu berasal? Kalau kau mau tahu, Baba Rhuksa juga berasal dari sana. Sekonde, benua yang hilang. Tempat yang menyimpan banyak rahasia menakjubkan. Salah satunya tentang rahasia awet muda Baba Ruksha."


"Eh ... serius? Dari mana kau tahu itu?"


"Kau tidak bisa menarik kesimpulan dari panggilan Leo kepada Baba Rushka? Percayalah. Wanita itu fisiknya tidak pernah berubah, dari sejak Leo pertama kali melihatnya."

__ADS_1


Aku ingin membantah. Tetapi, tidak punya bahan sangkalan yang tepat. "Baiklah. Anggap itu benar dan aku percaya, lalu kenapa kau sangat ngotot untuk bisa bergegas menuju tempat itu?"


Yenz terdiam sesaat dengan dahi yang berkerut. Tampak memikirkan sesuatu secara mendalam.


Pria berambut pirang itu menghela napas sebelum berkata, "Ada urusanku yang belum selesai di sana. Masalah yang entah apa, dan kemungkinan besar menyangkut urusan dunia. Bagimanapun jika mereka, yang sekarang sudah memiliki kotak di tangannya, sampai terlebih dahulu dari pada kita, maka semua petunjuk akan hilang, dan perjalanan setelahnya jelas tanpa arah. Lebih parah lagi, mungkin hal itu dapat kembali menyulut peperangan dunia."


Aku menelan ludah mendengar ucapannya. Takut, tetapi bersamaan juga makin penasaran, dengan potongan teka-teki, yang pastinya menjadi lanjaran cerita di buku ini.


"Yenz, apa sepenting itu kau harus pergi sampai ke sana? Ada apa sebenarnya di sana, yang membuatmu begitu bernafsu mendatanginya? Bukankah kau bilang waktu itu, di sana tidak ada harta karun?"


"Jika tujuanku hanya harta, maka aku tidak perlu repot-repot ke sana. Aku bisa menghasilkan uang dengan mudah jika mau. Bahkan untuk menjadi pejabat seperti Baretty pun, tidak susah meraihnya."


Songong sekali ucapannya!


"Kalau begitu apa alasannya?" cecarku.


Yenz terdiam dan beralih kembali ke peta di meja.


"Impian muluk yang sudah lama aku pendam. Keinginan yang malah membuatku kehilangan sahabat baik, sehingga aku putuskan untuk menahan ingatanku setelahnya."


Aku masih agak kurang dapat menerima soal menahan ingatan, yang juga dialami oleh Leo. Tetapi, soal sahabatnya itu. Seperrinya baru kali ini dia mau mengatakannya.


"Aku tidak tahu apa impianmu, tetapi sebesar itu kah mimpimu, sampai kau mengejarnya dengan berbagai cara? Bahkan ... sampai kehilangan ... sahabatmu."


"Hei!" ujarku saat dia hendak membalikkan badan. Dengan sikap tak acuh dia menghindar, sementara obrolan kami belum selesai. Bahkan baru dimulai.


Yenz menoleh. "Kau boleh tidur di bawah kalau mau. Tetapi, ingat larangan yang berlaku di sini!"


Ah, sial! Kalau sudah begini, tidak mungkin obrolan kami berlanjut. Dia melenggang pergi saja menaiki titian menuju ranjang jahanam di atas sana. Kebiasaannya.


Sudahlah. Toh tujuan awalku juga mau ke toilet untuk menguras mata air manusiawi, yang mulai rewel minta dikucurkan.


Lekas aku pergi ke pintu belakang. Membukanya dengan dorongan pelan, lalu diam tertegun menatap panorama malam yang tersaji di luar.


Benar seperti kata Azra. Tempat ini sekarang sepenuhnya ditutupi oleh kabut ganjil yang mengambang pekat di udara. Tercium bau asin laut saat menghirupnya. Jujur saja, itu membuat bulu kudukku merinding.


Saking tebalnya kabut itu, mataku hanya dapat melihat beberapa meter ke depan--mungkin sekitar tiga atau lima meter--jika tanpa bantuan cahaya. Untungnya, toilet yang kutuju, ada tepat di samping belakang bangunan. Tidak perlu jauh pergi dari kediaman ini dan khawatir tersesat.


Lekas aku membuka pintu kamar mandi. Pelan dan setenang mungkin, karena sadar, monster bertentakel itu sangat tidak menyukai suara gaduh. Sementara, wilayahnya sudah sampai ke hunian ini.


Masih dengan rasa was-was maksimal aku mencoba melepaskan hajat. Terhitung lama untuk sampai mengucur, karena di pikiran ini masih saja terbayang seramnya si monster.

__ADS_1


Dengan usaha ekstra keras, yang diiringi lagu, "Aku ingin begini, dia ingin begitu," akhirnya urusan menguras air bisa tuntas dengan aman sentosa.


Aku tidak langsung keluar dari bilik termenung. Menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, demi melewati kabut malam, yang dihuni oleh monster misterius bertentakel besar.


Aku dorong pintu putih di hadapan. Untuk sesaat terdiam. Terkejut bercampur takut, yang untungnya saja masih dapat menahan jerit.


Kekagetanku itu disebabkan titik cahaya jingga, yang melayang tak jauh dari tempatku berada.


Sedetik kemudian. Aku sadar kalau benda itu bukanlah hantu bola api seperti yang ada di Jepang--jelas saja kan, mana pula ada di dunia fantasi seperti ini--karena terdengar pula suara ketukan langkah kaki, saat cahaya itu bergerak.


Bisa aku pastikan benda itu adalah petromak atau semacamnya, yang dibawa seseorang untuk sedikit membantu penglihatan.


Lentera itu berhenti. Menyisakan hening misterius di tengah kabut malam yang mistis. Menarikku yang dipenuhi rasa penasaran, hingga tanpa sadar melangkah mendekat, walau dengan ayunan kaki tersendat meraba-raba.


Postur tubuh itu, dengan rambut kaku berwarna merah menyala ditimpa cahaya petromak. Tidak perlu waktu lama untuk aku dapat mengenalinya.


Apa yang dia lakukan di sana? Orang itu sepertinya bukan tipe melankolia, yang suka merenung galau sambil melempar potongan ikan kering ke laut. Jangan bilang dia sedang kepikiran mantan pacar yang sudah nikah dengan cowok lain.


Pijakanku tiba-tiba saja bergoyang. Seakan dari dalam air ada sesuatu yang bergerak. Menimbulkan riak besar.


Samar terlihat, tetapi jelas terdengar, sesuatu keluar dari dalam air, dan menjulur di belakang Hovler. Bukan hanya satu, tetapi tiga benda besar menggeliat di dalam kabut.


Aku sadar itu adalah tentakel si monster! Mungkin dia terusik karena kelakuan iseng Hovler, yang melemparkan ikan kering ke laut.


Dasar tukang cari perkara! Sekarang aku yang ketempuhan. Bimbang ingin memberitahu soal bahaya yang tengah mengincar di belakang, atau diam saja untuk nanti menyaksikan dia dimangsa.


Demi Tuhan! Tentakel keempat muncul di hadapan! Aku reflek melompat kaget ke belakang, tanpa sadar kalau hanya tersisa pembatas di landasan tempatku berpijak.


Aku terjungkal masuk ke dalam laut. Tercebur ke dinginnya air, yang gigilnya bertambah oleh ketakutan akan monster bertentakel besar, yang menghuni perairan berkabut.


Aku gelagapan mencari pegangan. Panik tak tahu harus berbuat apa, dan bodohnya malah membuka mulut untuk berteriak. Menyebabkan bergelas-gelas air asin memasuki mulut. Membuat tenggorokkanku begitu perih bagai disayat ratusan sembilu.


Samar sepasang mataku yang terpicing, menangkap sosok besar yang meluncur cepat mendatangi. Menerobos rapatnya molekul air, dengan bentuknya yang aerodinamis, dan siap menelanku ke dalam mulutnya yang penuh deretan gigi tajam, di bawah moncong hidungnya yang lancip.


Tahu akhirnya aku akan bentuk monster itu. Sesosok hiu besar, dengan bagian tubuh belakangnya yang memiliki banyak tentakel besar. Walau absurd, aku yakin makhluk itu adalah predator ganas, yang tidak mungkin dapat melewatkan mangsa empuk seperti aku ini.


Mulutnya terbuka lebar, dan siap menelanku hidup-hidup, sementara aku hanya bisa bergerak panik, di alam yang sama sekali bukan tempatku. Menunggu detik-detik rahang itu mencaplok dan mengoyakku menjadi kerat-keratan yang mungkin untuk ditelannya.


Tersisa setengah meter lagi! Namun, mataku tak bisa menutup, walau maut sudah dekat di hadapan. Dipaksa fokus menghadapi kematian, yang akhirnya teralihkan oleh seberkas cahaya biru terang yang turun mendekat.


Sehentak. Tanpa jelas penyebabnya, monster itu membelok patah. Mengganti arah tiba-tiba tanpa sebab. Melepas gelombang, yang gemanya memelantingkan tubuhku tak jelas ke mana. Membuatku kembali panik dan menelan lagi literan air asin. Membawaku ke gerbang ketidaksadaran yang gelap.

__ADS_1


Namun, sebelum habis pandangan terhijab hitam, aku masih sempat melihat manik biru terang mendekat. Warna yang kontras dengan helaian merah di atasnya.


Siapa dia sebenarnya? Kenapa hadirnya mampu mengusir monster bersosok besar penguasa perairan dalam? Dan, banyak pertanyaan lain yang akhirnya terkunci bersama habisnya pandang oleh kesadaran yang hilang.


__ADS_2