
Fusi kami semakin renggang, seiring keterpekuranku. Duduk menunduk dalam, di atas pundak sang naga, yang masih terus mencoba menahan gempuran dari segala penjuru. Dari para siluman reptil bersayap, dengan kekuatan yang melonjak dua kali lipat.
Semua buntu, sejauh kemungkinan-kemungkinan yang bisa aku pikirkan. Tak ada lagi celah dan harapan tersisa bagi kami.
"Growl!" pekik Shege, saat guncangan kencang mengembalikan kesadaranku.
Kengerian absolut telah datang mengintai dari belakang. Tiga ekor kadal bersayap ternyata berhasil menancapkan pijakannya di tubuh Shege. Menatap ja*ang ke arahku, dengan trisula teracung.
Ingin aku sekali lagi bermanuver meteor jatuh seperti tadi. Tetapi aku tidak yakin itu akan efektif, karena sekarang, semburan Shege tidak lagi dapat membunuh mereka secara langsung. Yang ada, kumpulan mereka akan terlebih dahulu menyergap sebelum gerakan kami selesai.
Aku bangkit dan menghunus pedang dengan gemetaran. Jelas ketakutan menghadapi siluman, dengan kekuatan dan nafsu membunuh yang besar. Bukan kapasitasku untuk melawan mereka. Tetapi, apa lagi yang bisa aku lakukan sekarang?
"Grhash!" pekik berdesis mereka saat hendak meluncurkan serangan.
Aku akan mati kalau begini!
"Percayalah kepada kekuatanmu ...."
Tiba-tiba saja frasa motivasi yang diucapkan Artapatu terngiang di telingaku. Pasti ada arti mendalam dari ucapan sesepuh bijaksana itu. Bukan sekadar kalimat indah seperti motivator di televisi.
Ketiga kadal bersayap mulai aba-aba untuk menerjang. Di sekelumit waktu itu pula, tiba-tiba sepercik letupan menghentak batinku. Gelora membara, menggelegak di rongga tubuh, dan bersamaan dengan itu, memutus pula rasa takut yang menggantung.
Menyusul kemudian. Kepercayaan diri mengakar kuat di hati. Mekar menuai keberanian tanpa tapi. Sebuah keyakinan gaib yang begitu saja aku rasakan, berikut luapan tenaga mengaluri lajur pembuluh darah.
Seketika aku sadar. Penyatuan yang kami lakukan, bukan semata hubungan satu arah. Ini adalah simbiosis yang saling mendukung dan menyanggah. Dan, kini di ragaku, jiwa Shege yang menyokong. Memberi keberanian, sekaligus kekuatan. Ya, energi yang turut pula mengalir ke bilah pedang yang kugenggam.
"Huwargh!" Ketiga kadal menerjang penuh nafsu membunuh.
Pedangku terayun dengan lentingan kencang. Sembari melangkah pasti menghindari tujahan trisula, yang bergerak teramat lambat di penglihatan.
Dada, perut, dan batang leher. Kusayat dalam, satu persatu dari tubuh ketiga kadal bersayap itu.
Semburan darah hijau menyusul tercurah deras, bersamaan dengan terlemparnya ketiga tubuh bersisik itu dari punggung Shege. Senyum penuh kemenangan tersungging di wajahku, seiring selintasan pemikiran baru, yang mungkin dapat jadi jalan keluar dari peliknya masalah di medan laga.
Aku berlari kembali ke pangkal leher Shege--membuang pedang yang sudah penyok karena aliran panas dari kekuatan fusi kami. Duduk kembali menungganginya.
__ADS_1
"Hei, sobat. Adakah kekuatan tersembunyi lainnya, yang dapat kita pergunakan untuk memenangkan pertempuran ini?"
"Growh!" geraman itu menyusup memasuki telinga, dan merambat terus merasuki syaraf di otakku.
Sebaris bayangan dimainkan bagai putaran rol film di kepalaku. Adegan demi adegan yang bergerak memberikan penjelasan secara visual. Informasi dari Shege tentang harapan besar yang dapat menuntaskan peperangan ini. Mungkin saja.
Hampir aku tertawa kegirangan, karena sekejap saja, sudah mendapatkan solusi jitu dari rintangan yang tersaji.
"Lakukan, Shege!" ujarku dengan senyum terkembang.
Kami membumbung lebih tinggi, sembari membakar para kadal di sekeliling. Berhenti setelah jarak dari awan hitam hanya tersisa beberapa meter.
Sisik besar di leher Naga Merah Delima terangkat beriringan, hingga genap semua mencuat. Berpendar menebalkan warna merahnya. Terus, hingga kobaran lidah api menyala di sana.
Shege menggeram mengerahkan semua tenaganya. Begitupun aku yang terhubung langsung dengan dirinya. Menyalurkan segenap tenaga hingga kobaran merah berubah menjadi jingga. Terus tidak berhenti, untuk kemudian warnanya beralih kuning, sampai berganti menjadi membara biru.
Akan tetapi, itu belum cukup. Kami terus memompa energi yang tersimpan, dan menyalurkannya demi satu serangan terkuat. Hingga muncullah api berwarna putih menyelimuti sisik yang terangkat.
"Shege!"
Menghentikan gerak di medan laga pertempuran. Mungkin karena keterkejutan yang teramat sangat.
Di saat itulah api di sisiknya menghilang. Bukan lenyap, tetapi kembali berganti warna. Api hitam yang merupakan kobaran terpanas dari warna lainnya.
Aku jadi ingat pelajaran fisika waktu itu. Tentang jenis-jenis warna api. Saat Bu Guru Siska mengatakan soal api hitam, aku kira bentuk dan warnanya seperti yang ada di anime Nartoh. Tetapi, ternyata salah. Karena, kalau pada spektrum warna cahaya, warna hitam itu berarti tidak ada cahaya. Artinya, api di sisiknya yang terangkat berubah warna, menjadi tanpa warna.
Ah ... untung aku mengingat pelajaran di kelas membosankan itu. Kalau tidak, pasti aku sudah kebingungan sekarang.
Shege mendongak mengarah langit. Di mulutnya yang terbuka lebar, telah berkobar api terpanas dari dasar neraka.
Wush!
Api transparan itu dimuntahkan menerjang angkasa. Awan hitam seketika tersibak menampilkan langit cerah bermentari. Membuat setiap yang ada di daratan mendongak demi melihatnya. Menatap kami yang kemudian melanjutkan serangan. Demi membabat habis para kadal bersayap di angkasa kerajaan. Punah mereka semua tanpa sisa.
Shege belum berhenti. Diarahkannya lagi serangan ke bawah. Menyasar para kadal yang berkerumun hampir mencapai istana. Menyembur mereka dengan api tak kasat mata. Memusnahkan para siluman kadal hingga tidak lagi tersisa dalam hitungan mili detik. Dari ujung hingga ke ujung, terus menyambar tanpa ampun.
__ADS_1
"Mitara!" pekikku. Saat menyasar lawan utama kami, yang ternyata berlindung dari jilatan api hitam, di dalam selaput energi oval--berwarna ungu transparan.
Sang Ratu Penyihir selekasnya merapal mantra, saat sadar dirinya sedang disasar. Kedua tangannya terjulur ke arah kami, untuk kemudian memancarkan cahaya ungu yang berpusar begitu kencang. Menciptakan lingkaran energi, yang akhirnya terlempar bagai anak panah berbentuk plasma ungu.
Bwush!
Dua energi besar saling berbenturan. Dorong-mendorong adu kekuatan, demi dapat mengungguli lawan.
Aku berteriak sekencang mungkin. Memaksa seluruh tenaga terpompa keluar. Demi memberi serangan kami kekuatan tambahan. Berharap dapat melibas telak aktor antagonis, di cerita rumit buku terkutuk ini.
"Huwa!" pekik Mitara saat sihirnya buyar diterobos napas api Shege.
Tubuh langsing berbalut gaun ungu itu redam, ditekan semburan panas bermassa besar. Terendam ke dasar kawah berisi lava, yang tercipta akibat semburan besar api transparan Shege.
Kami menang. Semua berakhir, dan ....
Sehembusan angin berpusing, menghamburkan kumpulan bulu burung berwarna merah. Tanda Shege telah berubah ke wujud asalnya.
Kami jatuh menukik tanpa daya. Seketika saja terkulai bagai boneka lapuk, karena telah habis deposit energi di tubuh. Pasrah dengan pandangan kabur menatap tanah, yang akan menjadi tempat mendarat tanpa bantalan sebagai landasan. Pasti remuk diriyku jika sampai terjadi.
Entah di detik keberapa. Belitan halus menangkap kami di udara. Aku tahu itu adalah untaian ekor Woofy yang sigap siaga sedari tadi. Menyelamatkan dan membawa kami sampai di pelataran istana.
Susah payah aku berdiri. Dengan napas terengah-engah mengedarkan pandang sayu. Tidak ada lagi rumah, pepohonan, dan tembok pembatas kota yang berdiri. Semua hancur lebur bersama tanah yang gosong, dan di beberapa bagian bahkan berubah menjadi kolam lava. Membawa hawa panas sampai ke istana.
Untungnya, saat serangan pamungkas Shege dikeluarkan, Woofy sigap melindungi sekitar istana dari api yang berkobar. Terlihat ada beberapa titik gosong di bulu dan ekornya. Walhasil, jarak tiga blok dari istana adalah tempat yang paling ringan terdampak.
Penduduk dan pejuang yang ada di luar bergegas menghampiriku. Terlihat benar binar bahagia di raut wajahnya. Aku pun sama.
Tetapi, senyumku susah untuk dikembangkan. Terganjal satu hal yang terlupakan. Sesuatu yang sangat penting.
Bruwsh!
Lava merah tersembur dari dalam kolam besar, tempat tubuh Mitara bersemayam. Mengagetkan kami semua, berikut melenyapkan rona bahagia yang tadi tergores di wajah setiap orang.
Betapa bodohnya aku! Hal terpenting itu bisa terlupakan. Permata lazarus! Benda sumber bencana itu masih ada di tangan Mitara, dan entah disembunyikan di mana olehnya.
__ADS_1