
Bijih angin. Dari yang aku tahu--tepatnya sih Margo--benda berbentuk seperti kerikil berwarna hijau keruh itu, berharga sangat mahal. Bahkan bisa berkali-kali lipat harganya di pasar gelap sekalipun.
Benda ajaib yang biasa dipergunakan dalam kegiatan industri dan pelayaran itu, hanya boleh dijual oleh pihak tertentu, dengan aturan yang ketat. Tentu bijih angin miliknya itu berstatus ilegal, karena dalam penjualannya pun harus di tempat khusus.
"Dari mana kau mendapatkan bijih angin itu?" intrograsi Yenz, yang saat mendengar kesalahan omongan Golbar, seketika itu pula menghentikan pekerjaannya membongkar barang-barang di gudang bercahaya remang petromak.
"Dobrak pintunya!" Teriakan yang melengking keras dari luar--aku yakin itu suara Borex, pemimpin mereka--mengalihkan konsentrasi kami.
"Kita bahas itu nanti." Yenz mulai kembali membongkar barang di dalam gudang.
Dia mengambil tas kain yang tersembunyi di pojok ruangan, dan memeriksa isinya. Ada dinamit bersumbu, korek jipo--karena takut kena copyright, untuk selanjutnya kita sebut itu macis, ok--dan benda lain, seperti kantung minuman dari kulit, di sana.
Memberikan kepadaku topi, dan sabuk pistol yang lengkap dengan isinya--bukan punya margo, tetapi karena bagus jadi kuambil saja.
Lelaki pirang itu sangat cekatan bergerak di ruang temaram, seakan-akan dia sudah mempersiapkannya.
Aku kira dia akan lekas pergi keluar setelah semua alat didapatkannya, untuk memulai langkah kami selanjutnya. Tetapi tidak. Dia justru meneruskan pencarian, yang aku tak tahu demi menemukan apa.
Yenz berhenti mencari, saat sudah mendapatkan sebuah kotak kayu ukir berdebu--tebakanku sih kotak musik--yang dari penglihatanku, ada cekungan bulat di bagian tengahnya.
Dia bergegas keluar setelah memasukkan kotak itu ke dalam tas. Selintasan aku melihatnya berhenti di dekat Golber, lalu membisikkan sesuatu yang membuat mata si uban bergigi emas itu membelalak lebar.
Entah apa yang diucapkannya. Aku penasaran, tetapi sayangnya bukan itu prioritasku sekarang.
"Hei! Bisakah kau menolong aku di sini? Tolong angkat satu atau dua karung ini. Aku berjanji akan membagi hasil penjualannya denganmu. Aku mohon." Golbar berkata sambil bersusah payah mengangkat dua karung besar berisi bijih angin sekaligus.
"Kau gila! Ingat kan rencana yang dikatakan Yenz? Nanti kita akan naik kuda yang sedang panik. Kamu kira bisa melompat naik ke punggung binatang, yang sedang bergerak liar dengan membawa karung berat ini!?"
"Sesuatu yang diusahakan pasti bisa! Dicoba saja dulu. Lagi pula, kau juga akan mendapat untung kan kalo melakukannya? Asal kau tahu. Setengah isi kotak ini saja, bisa berharga jutaan dem. Bayangkan kalau kau bisa mendapat uang sebanyak itu? Kau bisa menjadi tuan tanah di negara yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Vajal, seperti kerajaan Andapala. Lepas dari status buronan, dan bisa menjadi orang kaya di sisa hidupmu!"
Sial! Orang ini benar-benar bermulut manis! Tawarannya jelas begitu menggoda.
Bukannya aku berencana untuk tinggal di dalam dunia buku ini selamanya, tapi kalau kalian ingat--coba cek lagi gih bab 3--misiku di sini adalah untuk mendapatkan kebebasan bagi Margo. Aku pikir, maksudnya itu adalah kebebasan dari kejaran para penegak hukum. Dengan begitu kan berarti aku bisa menyelesaikan cerita ini lebih cepat dan mudah.
Kalaupun aku terjebak, harta yang banyak itu tentu cukup untuk dapat hidup enak di dunia ini.
Eh ... tapi bagaimana dengan Ibu dan Ayah? Bukankah itu berarti aku tidak dapat bertemu mereka lagi?
Duar!
Belum selesai aku berpikir, ledakan besar terdengar di luar. Pasti Yenz sudah berhasil melepas kekang ikatan kuda, dan meledakkan markas para bandit. Iya, rumah besar yang ada di ujung tempat ini.
Saatnya aku keluar, dan segera menaiki gerombolan kuda yang sedang berlari panik. Semoga Margo bisa melakukannya.
__ADS_1
"Hei! Bagaimana tawaranku? Tolonglah bawakan karung itu!" pinta Golabar, yang kemudian berlari ke depan pintu demi memalangnya. Menghalangiku untuk keluar.
Sialan! Di saat genting begini, dia masih saja berulah. Aku hantam juga orang ini!
"Baiklah! Tapi tidak semuanya. Hanya sebatas satu tangan yang bisa kuangkut!"
Yah, tidak ada salahnya kan membantu orang, apalagi ini juga memberi keuntungan bagiku. Pun, akan lebih mudah mengangkat karung berat ini, dari pada bergelut dulu dengan bangkot keras kepala itu.
Tiga karung kubopong di pundak, yang sudah tak sedikitpun terasa sakit. Lumayan berat juga, tapi dengan tenaga Margo yang besar ini, mengangkat dan membawanya berlari keluar dari gubuk, tentu bukan masalah berarti.
Begitulah yang aku pikirkan.
Setelah Golbar menyingkir dan membukakan pintu, aku segera melesat. Di luar gubuk ternyata sudah sangat kacau. Para bandit kelimpungan menghadapi situasi tak terduga hasil perbuatan kami. Bertambah rusuh dengan menggilanya kuda-kuda yang ketakutan. Beberapa bandit aku lihat terkena sepakan kencang kaki belakang, oleh binatang tunggangan bertapal besi itu.
"Tawanan kabur!" Teriak seorang bandit yang melihat Yenz tengah berusaha menenangkan kuda untuk dinaiki.
Suasana makin menggila. Tembakkan mulai dilepaskan, menyasar pria bermata hijau itu. Bukan hanya dari lembah, tetapi juga dibantu oleh bandit lainnya yang berjaga di puncak bukit terjal sekitar.
Desingan peluru dari para penjahat tidak membuatnya gentar. Begitu lincah dan tenang dia memacu kuda dengan badan tertunduk. Direndahkan, hingga menempel di punggung si hewan berbulu coklat tersebut.
"Hei, tunggu aku!" Menggemanya teriakan Golbar--tertatih-tatih menenteng karung besar--malah menarik perhatian beberapa bandit yang masih sibuk memadamkan api di gubuk.
Kontan mereka mengganti sasaran. Alih-alih melanjutkan menyirami rumah kayu bobrok yang sudah tidak mungkin terselamatkan itu, mereka lebih memilih mengambil beceng yang tersampir di pinggang.
Masa bodo! Sebelum pistol itu meletus, aku lempar ketiga karung di pundak sekuat tenaga. Ke arah mereka yang hanya berjarak kurang dari sepuluh meter.
"Hei, apa yang ...!"
Melengkingnya bentakan Golbar hanya selintasan dapat terdengar, karena tertutup suara karung besar yang robek. Terkoyak tajamnya bijih angin. Menghamburkan ribuan batu koral berwarna hijau keruh, yang bergemelenting seperti pada saat gelas diadu--baru aku tahu saat itu bagaimana bunyinya.
Mereka terjengkang, dan tanpa sengaja menembakkan senjata di tangan. Pelurunya menyasar entah ke mana.
Tidak terpikirkan lagi soal kebebasan dan ending instan, dari cerita konyol buku sialan ini. Sekarang, yang penting aku selamat. Lolos dari menjadi sasaran tembak tak berperikemanusiaan para bandit bau ketek!
Selanjutnya, tinggal keluar dari tempat jahanam ini secepatnya, sebelum langkah akhir pelarian yang direncanakan Yenz dilaksanakan. Poin penting agar kami dapat melenggang bebas merdeka, tanpa dapat dikejar lagi.
Entah kesialan atau keberuntungan. Seekor kuda hitam berlari kencang, hendak menabrakku. Kosong dan buntu isi kepala ini. Diam terpaku menanti hewan berotot kaki kekar itu melumatku tanpa ampun.
Ajaibnya, tubuhku--Margo sih sebenarnya--bergerak otomatis. Tangkas dan lincah bergeser ke samping, dengan kedua lutut yang ditekuk empat puluh lima derajat--angka itu asal sebut sebenarnya, biar kelihatan keren saja.
Hap! Tangan kekar berbulu Margo menangkap pelana. Melompat sepersekian detik setelahnya, dan meletekkan kaki di tali pijakan yang tergantung di sisi sadel tunggangan.
Tidak perlu waktu lama untuk Zacky si Hebat Luar Biasa--iya, itu keahlian Margo, tapi kan aku yang memerankannya sekarang!--untuk dapat menyeimbangkan diri di atas punggung hewan ini.
__ADS_1
Masalahnya, kuda gila ini, tidak bisa begitu saja dapat dikendalikan. Aku gulung tali kekang di kedua tangan, lalu menariknya kencang, hingga dia melonjak dan mengangkat tinggi kedua kaki depannya.
Berhasil! Kuda hitamku menjadi tenang dan terkendali. Dengan penuh kebanggan, aku melengkungkan bibir selebar mungkin. Senyuman yang langsung hilang begitu saja, saat desing berikut angin kencang yang bagai merobek gendang telinga, melintas dan memangkas helaian rambut ikalku.
Kontan aku memacu si kuda hitam selekasnya. Sebelum ada peluru nyasar yang bersarang di badan penuh bulu ini.
"Hei! Tunggu aku!" teriak Golbar dengan nada memelas. Tetap kekeh menggotong karung bijih anginnya.
Brak!
Seekor kuda yang kalap menyerempet tubuh pria kurus itu. Membuat dia terpelanting dan pingsan, sementara karung berharganya koyak berantakan dijejak sang kuda bi*nal.
"Cepat pergi, kalau kau sayang nyawa!" ujar Yenz, saat berlalu melewatiku yang sedikit bimbang melihat kondisi Golbar.
Sudahlah, itu kan pilihan dia. Bukankah dari awal, Yenz tegas melarangnya.
Teringat dengan rencana akhir yang akan dilaksanakan oleh Yenz. Aku lecut kekang di tangan. Memecut si hitam gagah ini untuk melesat. Melewati kerumunan para kuda yang masih panik.
Mudah ternyata. Hanya perlu menyentak tali di tangan untuk mengubah arah, dan mengindari halangan bergerak di hadapan. Ah, aku bagai bisa mengendarainya dengan mata tertutup.
Masuk dalam jalur ngarai yang panjang. Aku kembali melecutkan tali kekang untuk memacu si hitam lebih cepat. Beriringan dengan kuda lain, yang juga berniat keluar dari sarang bandit berjigong tebal.
Mungkin mereka mau tobat dari berbuat kejahatan. Bisa jadi kan?
Sesaat kemudian, mataku membelalak lebar, karena beberapa meter di sana, Yenz sudah menyulut sumbu dinamit dalam genggaman.
"Woi! Kau mau membunuhku!?"
Sial! Kenapa secepat itu dia menjalankan rencana akhir!? Bagian di mana dia meledakkan ngarai, agar terjadi longsor yang menghalangi jalan para bandit untuk dapat mengejar. Tapi tidak sekarang juga, kan!
Aku menundukkan badan, menempel di tubuh si hitam. Ya, ini cara agar bisa melaju lebih cepat--benar-benar terbukti. Selintasan itu pula, tiga buah dinamit melambung di atasku. Semakin tinggi, untuk akhirnya meledak dengan suara menggelegar, yang bahkan sampai mengguncang tanah.
Kurang ajar!
Dinding batu terjal nan tinggi itu runtuh. Menimpa apapun yang ada di bawahnya tanpa ampun. Tetapi, bukan hanya di tempat yang terkena ledakan saja terjadi guguran batu cadas. Longsor terus merambat tanpa henti menuju ujung ngarai.
Aku yang masih berpacu di jalan satu arah ini, jelas tanpa ampun dikejar derasnya hujan bebatuan itu. Dalam jarak tak seberapa jauh, dan semakin lama terus memendek.
Sementara, Yenz dan kuda coklatnya, sudah melaju lebih dahulu di depan! Tanpa khawatir akan menjadi daging geprek.
Konyolnya lagi, ternyata kesialan ini masih belum berakhir.
Bagai berniat membunuhku, entah kenapa buku ini malah membuat seonggok batu besar, di puncak yang menjorok, begitu saja terguling jatuh. Pas sewaktu aku akan melintasinya. Jelas sekali benda bermassa ratusan kilogram itu akan menimpaku!
__ADS_1
Mati aku, Sialan!