Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 43-1] Bencana Besar Kota Capitor


__ADS_3

Gelegar kencang dan serentetan cahaya kilat menyambar di awan gelap. Membuat siapa saja yang mendongak melihatnya, merasa kalau langit akan runtuh sebentar lagi. Menyita perhatian seluruh orang yang ada di kota kerajaan Capitor.


"Argh!" Pekik kesakitan terdengar, tidak lama dari kemunculan awan kilat di atas kami.


Semua mata teralih ke kereta kencana kerajaan. Berjengit ngeri menyaksikan kuda penarik dan kusirnya mengejan. Disambar aliran listrik yang berasal dari dalam gerbong.


Begitu kuda jatuh terkapar, atap kereta kencana menjeblak terbuka. Beriring ledakan yang mengirim serpihan kayu bertebaran ke segala penjuru. Para penduduk berlari histeris menjauh dari serpihan yang terjun bebas, dan sumber ledakan misterius. Meninggalkan sang kusir berikut kudanya yang gosong dan koyak oleh dentuman.


Tidak lama berselang, semua terperangah dengan mata tergiring ke atas. Ke arah sosok wanita bergaun putih yang membumbung tinggi di udara. Bisa kupastikan dialah Ratu Tirama. Anak dari Mirala dan Pata yang memiliki nama asli Mitara.


Dar!


Petir besar menyambar tubuh berbalut gaun putih tersebut. Memekik para penduduk menyaksikan ratu mereka dicelakai langit. Beberapa mungkin membatin prihatin. Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan, saat asap tebal tersingkap, semua terperangah tak percaya. Wanita itu berubah menjadi sosok yang aku lihat di hutan. Wanita beraura sedingin es dengan balutan gaun ungu, yang dari dalam tubuhnya memancar kuat kebencian pekat.


Sinyal bahaya menyala dan menggaung keras menggedor kesadaranku. Dari sekian banyak kepala, mungkin hanya aku di sini yang menyadari bahaya besar dari sosok anggun tersebut.


"Kalian, para baji**an! Ungsikan warga sejauh mungkin dari wanita itu! Sekarang!" Perintah Mog lekas dilaksanakam para begundal yang menjadi bawahannya.


Mereka berlarian ke segala penjuru. Membentak dan menarik paksa orang-orang yang masih terperangah. Satu dua bahkan ada yang main angkut saja anak-anak atau wanita yang mereka temui. Cara mereka memang kasar dan cenderung salah, tetapi di kondisi seperti ini, hal itu bisa dimaklumi bukan.


Melihat itu semua, jelas aku terkejut. Bagaimana mungkin Mog mengetahui tentang bahaya yang dibawa Mitara, hingga bisa membuat keputusan cepat seperti itu.


Aku tidak bisa memikirkan jawaban atas keanehan itu lebih lama. Jelas tidak bisa, karena yang terjadi berikutnya membetot semua perhatianku.


Mitara menoleh, dan jelas sekali melemparkan tatapan penuh kebencian kepadaku. Di sekeliling tubuhnya berlompatan percikan listrik yang kemudian berkumpul di tangan kanannya.


Jdar!


Mitara melepas serangan petir berwarna ungu kelam. Mengarah kepadaku.


"Guk!"


Dari dalam tasku. Anjhing kecil berbulu coklat itu melompat keluar. Sekejap, sosoknya berubah menjadi gumpalan berbulu perak yang membumbung cepat. Persis seperti komet. Menyambut serangan kutukan itu.


Splash!

__ADS_1


Sinar terang meledak saat tubrukan dua kekuatan mistis terjadi. Aku reflek menutup mata, lalu melengos membuang muka dari sumber cahaya, sambil mengangkat kedua tangan ke depan muka, demi menghalau sinar terang tersebut. Walau sebenarnya percuma, karena berkas silau cahaya itu tetap dapat menembus barikade yang kubuat. Masuk menembus pelupuk mata.


Untuk sesaat mataku buta. Sampai lolongan keras itu terdengar. Suara Woofy yang kini telah sempurna berubah wujud. Seiring suara itu, mataku berangsur-angsur pulih. Lebih cepat dari ekspektasiku.


Kagum, takut, dan terkejut. Suara-suara teredam dari para warga mengambang di udara. Mengandung semua perasaan itu saat melihat Woofy.


Seakan tidak mau memberikan waktu lebih banyak untuk perhatian tertuju kepada Woofy. Mitara mengangkat kedua tangannya, yang kemudian menjadi pusat sambaran petir. Berkali-kali memberondong, hingga berkumpul menjadi bola plasma berwarna ungu.


"Grawl!" Pekik kencang menyela gelegar guntur di langit.


Tanpa aba-aba, rentetan bola api meluncur langsung di tengah udara. Menyasar sang penyihir yang tengah menyanggah bola ungu di udara.


Mitara urung menyerang Woofy. Berbalik untuk kemudian melempar jurusnya ke arah bola api yang hendak menerjang. Rentetan ledakan membahana di angkasa. Namun, tidak semuanya hancur dihalau energi bola petir itu. Ada tiga buah bola api yang meluncur terus untuk sampai ke sasaran.


Duar!


Meledak Mitara terhantam bola api secara beruntun. Aku dan beberapa banyak orang bersorak gembira. Menyoraki serangan yang telak mengenai sang penyihir.


Akan tetapi, kegembiraan itu berlangsung begitu singkat.


Asap tebal hasil ledakan seketika terhempas. Tersibak, hingga kami melihat jelas wanita itu dengan aura kemarahannya yang memuncak. Membuat setiap orang merasakan sesak karenanya.


Mitara kembali mengangkat kedua tangannya. Tetapi, kali ini bukan petir yang menyambarnya, melainkan listrik ungu pekat tersalur dari tangan memasuki gumpalan awan.


Jduar!


Petir ungu pekat menyambar dari langit. Beruntun dan silih berganti menghujani kota. Teriakan histeris terdengar dari seluruh penjuru.


Aku meringis menyaksikannya. Banyak nyawa orang tidak bersalah menjadi korban kebiadaban Mitara. Namun, apa dayaku? Aku hanya bisa menonton di bawah naungan Woofy.


Rasa khawatir itu berkembang lebih besar, karena melihat Shege kewalahan menghindari serangan. Bahkan beberapa kali tubuh naga bersisik merah delima itu tersambar. Tidak terlalu berefek memang. Tetapi, bagaimana dengan kondisi Putri Asaru yang sedang menungganginya? Aku yakin, sedikit banyak dia merasakan efek serangan itu.


"Tenanglah, Nak." Bersama tepukan di pundak. Sehembusan suara itu menyentil gendang telingaku.


Dia bergerak begitu ringan dan cepat. Hanya selintasan larik cahaya saja yang bisa tertangkap mata. Melewatiku, memasuki padang guntur di luar naungan Woofy.

__ADS_1


Sosok itu berdiri di sana, dengan tongkat--berujung batu bundar seperti kembang kol--tergenggam di sebelah tangan. Hanya berjarak sepuluh meter dari kami. Pria tua berjubah putih yang mengeluarkan pendar hangat menenangkan. Mendongak dengan senyuman terkembang lebar, seakan menantang sumber marabahaya di langit hitam.


"Tu ... aagghh!" Geram Mitara. Pada saat bersamaan kedua tangannya melemparkan segumpalan besar energi listrik ke langit. Kemarahannya meledak melihat kehadiran Artapatu.


Petir dan kilat makin ganas menyambar. Membawa kebencian yang dilontarkan Mitara. Namun, ternyata dia belum puas dengan hal itu.


Digerakan tangannya melingkar sampai bertemu di depan dada. Cahaya ungu menyelimuti kedua telapak tangannya yang saling menangkup. Sejurusan, dia hentak keduanya ke arah yang berbeda.


Sinar ungu berbentuk bilah tajam menderu cepat menyasar Shege. Naga yang masih kerepotan menghindari muntahan kilat itu, menukik terkejut, hingga membuat Putri Asaru terlonjak di punggungnya. Selamat, walau tipis.


Sebilah cahaya lainnya, di saat yang bersamaan, menghujam tak jauh dariku. Menyasar Artapatu, yang malah dengan santainya menjulurkan tongkat yang ujungnya berpendar putih. Bagai lampu neon.


Blar!


Dua energi besar saling bertumbuk. Menciptakan gelombang kejut yang besar. Menghempas apa saja yang ada di sekitarnya. Beruntung Woofy bisa menahannya, sehingga aku tidak ikut terdorong.


Sepetik. Asap residu ledakan begitu saja tersingkap. Sesepuh tua itu masih berdiri di sana. Bergeming. Tidak terpengaruh dengan kejadian sebelumnya.


"Dengan kuasa gaia dalam genggaman. Aku lepas segel di delapan penjuru. Tunaikan tugasmu, wahai entitas pelindung benua Suno!" Mantra itu terdengar menggema sampai ke ujung kota. Disusul suara ketukan kuat tongkat Artapatu.


Sekejap. Bagai ada kekuatan besar merambat ke segala penjuru. Memicu sesuatu yang memunculkan pilar cahaya dari delapan mata angin. Menjulang menembus awan kelam dan menyapunya bersih. Menampakkan lagi langit biru yang cerah.


Mitara turun, lalu dalam sekejapan mata, sosoknya sudah berada di hadapan Artapatu.


"Tua bangka sialan! Akan aku bunuh kau!" geram Mitara.


"Ah, tidak perlu repot-repot, Sayang. Aku datang ke sini untuk menawarkanmu gencatan senjata."


Artapatu menyentak tongkatnya. Tubuh Arson, yang entah masih bernapas atau tidak itu, melayang menghampirinya. "Aku kembalikan lagi dia kepadamu. Anggap sebagai niat baikku untuk menawarkan gencatan senjata. Aku sarankan kau menerimanya, karena tidak ada untungnya kan bertarung sekarang."


Mitara menyentak tangannya. Menarik tubuh Arson ke sisinya.


Ini yang aku bingungkan. Apa hubungan Arson dengan Mitara? Sampai-sampai sudah dua kali orang itu dijadikan alat oleh Artapatu untuk bernegosiasi dengan sang penyihir. Anaknya kah? Kenalan? Teman? Atau malah kekasihnya?


Sepertinya opsi terakhir tidak mungkin. Karena, yang aku dengar dari Putri Asaru, bangsawan misterius itu datang ke istana begitu saja dari tanah antah berantah. Membawa banyak hadiah demi melamar Putri Asaru. Lamaran yang dia tolak secara halus atas saran Artapatu. Hanya segitu, tidak lebih.

__ADS_1


"Jangan bengong, Nak. Ikut aku. Banyak yang harus kita bicarakan." Artapatu berjalan mendekat, setelah Mitara begitu saja melenggang pergi menuju ke luar tembok kota.


__ADS_2