
Dengan diiringi Woofy di sebelahku yang melangkah tanpa niat--karena masih mengantuk--dan Shege yang bertengger di pundak, aku berjalan pelan menyeret langkah, menuju pintu keluar istana. Terus sampai melewati ambang gerbang, sambil menundukkan kepala yang dihiasi kerutan di dahi.
Jujur, aku sedang terbebani banyak pikiran. Tentang satu ucapan terakhir Artapatu soal menunggangi para hewan wadah haswa--yang lupa, juga tidak sempat aku tanyakan kepada Putri Asaru--dan terutama soal prilaku aneh sang putri.
Sialan! Seandainya ada Zacky--yang menjuluki dirinya sendiri pakar perasaan perempuan--dia pasti akan memberikan banyak tebakan tentang hal itu. Yah, walau aku yakin, hampir sembilan puluh sembilan persennya salah, tetapi setidaknya aku tidak perlu memikirkannya sendirian, kan?
Ah, menyinggung soal Zacky, aku jadi teringat sobat Sam yang sejak tadi tidak kelihatan. Kord sang Pemberani.
Aku bisa menanyakan perkara menunggang itu kepadanya. Meyakinkan lagi apa yang dikatakan Artapatu, walau dari pengujian dengan Putri Asaru tadi cukup membuktikan.
Mataku menyusuri kerumunan di sekeliling api unggun. Di pesta yang mulai mereda itu, tidak kutemukan sosok berbadan tambun dan bersuara cempreng. Tidak pula di tenda-tenda yang berdiri berjajar dengan beberapa pejuang mengobrol di depannya. Entah berada di mana dia.
"Hei, pahlawan!" Pemilik suara riang dan berat itu tiba-tiba memukul punggungku dari belakang.
Aku terlonjak kaget sekaligus kesakitan. Menoleh dan mendapati Mog sedang tersenyum lebar di sana.
Sialan, bikin kaget saja!
"Aku mencarimu dari tadi, Pahlawan. Para pejuang menanyakanmu karena tiba-tiba saja menghilang di tengah pesta. Hey, aku tebak kau habis bermesraan dengan Putri Asaru, ya?" goda Mog. Menyeringai lebar.
Mendengar itu seketika wajahku langsung memanas. "Eh, tidak ... itu tadi ... iya, kami hanya mengobrol biasa saja kok."
Mog tertawa mendengar penjelasanku yang terbata-bata. Puas sekali dia sepertinya bisa meledekku. Aku sempat berpikir menyuruh Shege yang kini bertengger di kepala, untuk mematukinya agar berhenti tertawa.
"Ya sudah, anak muda. Bagaimana kalau kita kembali ke pesta. Masih banyak makanan dan minuman yang harus dihabiskan. Tidak seru kalau tidak ada kau. Sang Pahlawan Kerajaan Capitor."
Untuk sekilas aku mendelik ke arah lain, yang tadi belum sempat kuperiksa.
"Maaf, Tuan Mog. Sepertinya tidak bisa. Saat ini aku sedang mencari Kord untuk menanyakan sesuatu yang penting."
"Kord ya. Aku melihatnya tadi. Dia pergi ke belakang istana setelah menyelesaikan membuat pagar barikade." Pria berotot itu menunjuk dengan ibu jari melewati pundak lebarnya.
Aku mengembangkan senyum karena tanpa disangka mendapat petunjuk berguna. "Terima kasih atas informasinya, Tuan Mog."
"Tidak perlu sungkan, Pahlawan!" ujarnya, mengiringi kepergianku.
Tanpa menoleh lagi, aku berlari kecil sampai ke bagian belakang istana, tempat kandang kuda, gudang, dan beberapa bangunan penyimpanan lain berada.
__ADS_1
Sekilas aku mengedarkan pandang. Tidak sedikitpun kutemukan sosok berbadan tambun di sana. Ah, seandainya ada yang bisa memberitahuku.
"Guk!" salak Woofy. Menggiring perhatianku ke padanya.
Anjing kecil berbulu coklat itu sejenak mengendus tanah. Menggonggong sambil menatapku, sebelum berlari menuju istal istana.
Paham kalau dirinya memintaku untuk mengikutinya. Tetapi untuk apa?
Sekali lagi dia menggonggong sebelum memasuki istal. Mau tidak mau, aku mengikutinya. Toh tidak ada gunanya berdiam diri.
Ruang dengan bilik-bilik kayu, tempat kuda disimpan, telah hening tanpa penghuninya. Senyap dan gelap. Setidaknya sampai aku lihat cahaya oranye di salah satu bilik. Di depan pintunya, Woffy berdiri.
Aku menghampiri dengan langkah pelan. Terperangah melihat sosok tambun itu berada di sana. Terbesit pertanyaan, bagaimana mungkin Woofy tahu apa yang aku cari tanpa mengatakan langsung kepadanya? Ajaib!
"Sedang apa kau di sini, Kord?" Aku melongok dari atas pintu bilik kandang kuda setinggi dada.
Kord yang sejak awal duduk termenung di atas tumpukan jerami, menetap kosong cahaya lentera di hadapan, terkejut waktu mendengar panggilanku. Dia menoleh sambil bernapas terengah-engah. Matanya membelalak dengan mulut membentuk huruf "O" besar, yang menyemburkan uap dingin.
"Sialan kau! Aku kira hantu atau semacamnya. Bikin kaget saja!"
"Salahmu sendiri bengong di sini." Aku merunduk demi menghindari lemparan jerami darinya. "Lagi pula sedang apa kau di sini? Tidak tertarik mengikuti pesta di depan?"
Kord menggeleng lemah.
"Konyol. Bagaimana mungkin mereka bisa berpesta begitu, sementara tidak lama lagi kita harus menghadapi kematian? Seharusnya mereka berpikir, bagaimana caranya agar bisa selamat dari para monster kadal dan penyihir jahat yang jadi pemimpinnya, saat perang besok berlangsung."
Di sepasang matanya yang diapit dua pipi gembul itu, menggenang tetesan bening air mata. Aku membuka pintu, lalu duduk di sebelahnya. Diam sesaat memandang nyala api statis di hadapan, dari lentera kecil teronggok menempel dinding kayu.
"Kord," panggilku, "mereka bukannya konyol. Tetapi, aku yakin pesta itu diadakan agar bisa sejenak melupakan ketakutan yang akan datang sebentar lagi. Persiapan sudah semua dilakukan semampunya. Hanya tinggal menunggu waktu sampai fajar tiba."
"Ta-tapi ... tapi ... tapi ... yah, setidaknya mereka bisa berpikir bersama, siapa tahu bisa menemukan ide agar bisa memenangkan peperangan ini."
"Ide seperti apa? Kita kalah jumlah dan kekuatan. Hanya bisa bergantung kepada kekutan mereka berdua." Aku melihat kepada Woofy yang sedang menggelung Shege dalam pelukannya. Tertidur.
"Jadi ... kita akan mati?" Dia menangkupkan wajah dengan kedua tangan. Menangis sesenggukan.
Aku menepuk lalu merangkul pundak gempal Kord. Mencoba menguatkan. Paham kalau dirinya sangat ketakutan.
__ADS_1
"Tenanglah, Sobat. Kami akan berusaha semampunya agar para kadal itu tidak memakan daging gurih berlemakmu."
Kord menoleh dengan mata melotot yang masih dialiri air mata. "Sialan kau! Aku sedang ketakutan dan kau malah meledekku!"
Aku tertawa melihat reaksinya. Berhadiah pukulan bermuatan kekesalan di pundak.
"Tenang, Sobat. Sebelum pergi, Artapatu memberiku sebuah senjata rahasia. Aku yakin bisa membantu kita dalam pertarungan nanti"
"Hah? Senjata rahasia apa?"
Aku mengembangkan senyum lebar yang terus ditatap dengan mata berbinar oleh Kord. Bukan maksudku berlama-lama demi dapat efek dramanya, tetapi jujur aku bingung harus mengatakan apa. Batu gaia pemberian Artapatu, sedikit pun aku tidak tahu bagaimana cara penggunaannya.
Ah, seharusnya aku tadi ingat meminta manual book-nya pada Artapatu.
"Hei, katakan senjata apa itu?" desak Kord.
"Senjata ini sangat rahasia, sobat. Makanya aku tidak bisa mengatakannya kepadamu," jawabku asal.
"Sialan! Lalu buat apa kau belaga mau memberitahuku!?"
"Sudah lupakan, nanti kau akan melihatnya sendiri. Sekarang ada yang lebih penting untuk aku tanyakan kepadamu."
Ekspresi Kord langsung berubah drastis. Mulutnya terbuka lebar, dengan dahi berkerut banyak. Mungkin dia kesal karena rasa penasarannya tidak terjawab, tetapi juga tertarik soal pertanyaan penting yang aku katakan.
"Lalu apa yang mau kau tanyakan?"
"Nah, begini. Pada waktu kita berangkat dari goa dengan menunggangi Shege dan Woofy, apa yang kau rasakan?"
"Hah? Maksudmu? Ya ngeri, menggigil karena dingin, dan pusing. Hampir tidak jauh beda dari saat kita terbawa terbang di kastil."
Aku menepuk pundaknya dengan kedua tangan. "Tidak merasakan hangat dan tenang?" tanyaku tanpa bisa melepaskan senyum.
"Ya, tidak. Hei, apa maksudnya pertanyaan itu?"
"Tenang saja, nanti kau juga akan tahu." Selekasnya aku beranjak. Diikuti Woofy dan Shege. Tidak peduli walau Kord mencak-mencak menumpahkan emosi, karena pertanyaannya lagi-lagi tidak kujawab.
Tapi ya sudahlah. Toh dia juga tidak akan mengerti. Lagi pula, sekarang aku mendapatkan satu pemikiran, yang saat ini harus segera kuuji. Berkenaan soal Woofy dan Shege.
__ADS_1