Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 46-2] Panggung Sandiwara Keadilan


__ADS_3

Dengan tangan dan tubuh terikat, aku digiring bagai seekor binatang. Ingat jadinya sewaktu para bandit bengis menyergap, lalu menangkap, dan menyeretku menggunakan kuda demi kesenangan mereka.


Memang kali ini tidak sekejam itu, tapi tetap saja memalukan, saat harus berjalan di tengah kerumunan orang, yang memandang dengan berbagai macam ekspresi.


Bingung, heran, penuh pertanyaan, dan mayoritas berisi hinaan melecehkan. Semua tertuju kepadaku.


Aku dibawa ke sebuah gedung beratap tinggi dari batu pualam. Di kedua sisinya terdapat tiang penyanggah besar, yang terukir sosok seorang pria mengangkat perisai besar. Bentuk bangun segi tiga yang terbagi menjadi lima bagian.


Tidak perlu menebak tempat apa ini sebenarnya. Karena, tepat di atas pintu ganda gedung itu, tertulis jelas "Gedung Pengadilan Negara Lasto Pulau Velbar."


Gilanya. Begitu sampai di ruang pengadilan, dengan bangku berderet di kanan kiri membentuk jalan--tempat para pengunjung menyaksikan jalan persidangan--dan meja tinggi di atas undakan tempat hakim berada yang ada di ujung ruangan, aku langsung dimasukkan ke dalam kerangkeng, yang ada di sisi kiri ruang pengadilan.


Sangat tidak manusiawi! Kalian kira aku gorila apa? Ya, memang Margo memiliki banyak bulu di sekujur badannya, tetapi berani sumpah demi Tuhan, kalau orang ini seratus persen manusia!


Ada dua jam lebih aku berada di dalam kerangkeng. Sama sekali tidak diberi makan, bahkan segelas air pun tiada. Aku tersiksa secara fisik dan mental, yang makin bertambah saat pintu pengadilan terbuka.


Para pengunjung datang dengan sorot mata nanar, dan seakan memandang rendah diriku. Belum lagi saat sang hakim tua datang bersama kedua hakim pembantunya. Dia menyumpahiku dengan makian kasar. Berkali-kali, seakan aku ini adalah penjahat paling bejat sedunia.


Dari situ aku jadi mengerti soal perkataan Pud’e sewaktu di rumah kayunya. Hutan yang aku masuki dengan tidak sengaja itu adalah bagian terlarang, di mana tidak boleh melakukan hal tabu seperti membunuh. Bahkan di saat perang pemberontakan Suku Ratafu pun, sangat dilarang untuk membunuh di sana. Bisa membuat dewa marah, katanya.


Tapi, masalahnya aku sama sekali tidak membunuh! Malah aku yang mau dibunuh oleh si cungkring klimis itu!


Ingin aku membela diri dan menyangkal tuduhan palsu mereka. Tetapi, demi Tuhan! Ini adalah pengadilan paling konyol yang pernah aku tahu.


Aku memang tidak pernah secara langsung menghadiri pengadilan. Lagi pula, aku sangsi kalau seumuranku diperbolehkan masuk untuk menyaksikannya. Akan tetapi, dari banyak film yang aku tonton, jelas sekali bagaimana proses pengadilan itu berjalan.


Mulai dari pembacaan kasus, dakwaan, lalu menghadirkan saksi juga barang bukti, aksi jaksa dan pengacara yang saling serang menggunakan argumen, serta berbagai macam hal lain, hingga berakhir pada putusan para juri dan hakim.


Begitu seharusnya. Akan tetapi, di sini sidang pengadilannya berjalan seenak jidatnya saja. Mulai dari didatangkannya saksi, yang sama sekali tidak aku kenali, bahkan beberapa belum pernah aku temui, sampai penunjukkan barang bukti, yang aku tahu pasti dibuat-buat.


Lebih konyolnya, antara kesaksian satu orang dengan orang lain, ada yang bertabrakan. Si A bilang kalau melihat aku masuk ke dalam hutan membawa anjing--seekor anjing tak tahu milik siapa dibawa ke ruang pengadilan--untuk melacak Tuan Mashet yang ada di dalam hutan.


Di kesempatan lain, saksi B malah bilang kalau aku memasuki hutan bersama Tuan Mashet, dan katanya terlihat aku sedang menodongkan pistol di belakang pria kurus tersebut.

__ADS_1


Konyolnya, saat Revolverku dibawa masuk, dia tampak kebingungan, karena deskripsi senjata yang dia berikan, berbeda jauh dari barang bukti yang ada.


Parahnya, soal cara mayat itu ditemukan pun, tidak ada yang serupa.


Paling gila adalah cerita si saksi C, yang mengatakan kalau mayat itu berjalan sendiri keluar hutan, sambil terus berucap meminta keadilan. Mereka percaya, kalau hal itu mungkin terjadi karena kuasa dewa yang menuntunnya.


Gila memang!


Ingin aku menyangkal semua tuduhan konyol itu, tetapi apa mau dikata. Jangankan pengacara, bahkan kesempatan berbicara untuk membela diri pun tidak diberikan.


Kalau begitu buat apa ada pengadilan ini! Buang-buang duit pajak saja, yang aku tahu mereka pungut dari warga asli pulau ini dengan semena-mena.


Hanya satu orang yang berani lantang meminta keadilan untukku. Yenz yang beberapa kali berani buka suara untuk memerotes jalannya proses pengadilan. Sampai di tengah drama murahan ini, dia digiring paksa keluar ruang sidang oleh para penjaga.


Puncak dari sandiwara picisan ini adalah, saat dihadirkannya mayat Tuan Mashet yang sudah kaku dan menguarkan bau busuk. Sukses membuat beberapa orang di ruang sidang mual hingga muntah-muntah. Termasuk diriku.


Sumpah demi Tuhan! Dari yang aku lihat dan deskripsi jaksa penuntut, sangat tidak mungkin aku bisa melakukan tindakan sekejam itu!


Orang macam apa yang mampu melakukan itu?


Terpikirkan Pud'e sebagai dalangnya. Tetapi, apa mungkin? Sedangkan dia sendiri bilang soal hukum adat pulau, yang tidak memperbolehkan membunuh manusia.


Tak tahu lah! Lihat kan, si Mashet yang bertingkah baik, tapi ternyata seorang pembunuh bayaran berdarah dingin. Mungkinkah Pud’e juga melakukan itu? Tapi apa tujuannya?


Seperti yang kalian duga. Setelah segala sandiwara dan persengkokolan jahat itu, keputusan bulat diambil. Hakim mengetok palu setelah menyatakan aku bersalah, dan akan menerima hukuman mati di alun-alun kota. Dieksekusi dengan cara digantung.


Aku lemas saat mendengarkannya. Terpekur memikirkan nasibku di sini, yang akan mati di tiang gantungan. Bagaimana jadinya nanti? Apakah aku benar-benar akan mati, atau langsung kembali ke dunia asal?


Ya Tuhan! Kenapa jadi begini nasibku?


Aku dibawa keluar sidang pengadilan, dengan banyak tatapan marah dan tidak suka dari para pengunjung sidang.


Namun, yang paling menyakitkan adalah saat aku melihat Leo. Si jamet kurang ajar itu, terus tersenyum menatapku. Seakan dia puas dengan nasib yang aku dapatkan.

__ADS_1


Kurang ajar! Macam anj*ing saja dia di samping Falcoa. Hewan peliharaan yang setia menemani tuannya, dari sejak pengadilan dimulai.


Sumpah! Melihat kelakuan Leo, hatiku benar-benar sakit. Lebih sakit dari luka di perut dan kakiku, yang masih belum kering.


Jadi begini ya rasanya dikhianati itu. Aku menangis tak tertahankan karena itu semua. Tidak peduli akan bentakan dua petugas yang menggiringku bagai binatang. Aku hanya merasakan sakit di hati yang begitu teramat sangat menyesakkan. Sementara, mata ini tidak bisa lepas dari seringai mengejek, yang Leo kembangkan tanpa perasaan.


***


Di dalam ruang tahanan lembab dan berbau tengik ini aku terpekur. Di samping selembar matras penuh kutu, yang sangat enggan aku tempati. Menatap kosong nampan berisi roti keras, bubur encer, dan segelas air payau, yang bersebelahan dengan pispot berkerak coklat kehitaman.


Aku mematung tanpa keinginan untuk bergerak seinci pun. Masih merasakan sakit di hati, yang makin menjadi di tengah keremangan penjara, dengan hanya sebatang obor di luar jeruji besi sebagai penerang.


Entah sudah berapa lama aku di sini. Tak tahu, dan tidak mau tahu. Malah berharap waktu akan berhenti, atau mungkin mundur kembali. Demi mengubah jalan cerita di buku terkutuk ini.


Ah, andai saja aku dengar omongan Wanara, dan tidak penasaran dengan buku pemberian Tama, tentu tidak begini akhirnya.


Suara kunci membuka terdengar dari lorong penjara. Apakah sudah tiba waktu eksekusiku?


Sesosok berpakaian hitam dengan topeng berwarna senada, yang hanya memperlihatkan matanya, terlihat berhenti di depan selku.


Diakah algojo yang akan mengeksekusiku?


Di remangnya cahaya, dia merogoh saku celananya. Mengambil sesuatu, yang kemudian dia lemparkan ke kasur tipis sarang kutu di sebelahku.


Hanya itu yang dia lakukan, lalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Membetikkan rasa penasaran yang seketika, menyapu keputusasaan berselimut sakit hati.


Benda yang tergeletak di matras buluk, berbentuk Kantong kain berwarna coklat tua. Sebuah wadah yang menyimpan secarik kertas berisi tulisan tangan yang rapi, berikut botol kecil dengan sumbat gabus, yang berisi cairan kental berwarna biru berpendar.


Jelas sudah siapa orang tadi. Dari tulisan tangan, dan botol kecil berisi cairan ajaib. Meski tidak dapat memastikan benar sosoknya di remang cahaya ruang bawah tanah, aku yakin orang itu adalah Yenz.


Di secarik kertas yang dia berikan, pasti ada instruksi jenius darinya, yang bisa membebaskanku dari tiang gantungan.


Terima kasih, Sobatku! Andai bisa, sudah aku peluk dirimu!

__ADS_1


__ADS_2