Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 21-1] Bertahan Melawan


__ADS_3

"Hahaha. Kau mau melawak, hah? Pisau batu untuk melawanku? Akan aku tebas kau bersama rongsokan itu!" Arson maju sambil berancang-ancang untuk mengayunkan pedangnya. Santai dia berjalan, seakan-akan meremehkanku.


Aku bergeser menjauh dari tempat Kord terbaring sekarat. Menggenggam kuat pegangan pisau batu yang dililit kain kumal. Seerat mungkin, demi dapat menghilangkan gemetaran di tangan.


Arson semakin mendekat. Aku merendahkan kuda-kuda dengan kedua kaki terentang terbuka. Ancang-ancang agar bisa lebih mudah menghindar. Begitu insting Sam mengarahkanku.


Dia semakin mendekat. Aku mundur demi menjaga jarak. Bergerak ke kiri dan ke kanan demi mengecohnya. Tidak rela aku menjadi sasaran empuk pedang ungu miliknya.


"Mati kau!" Arson mengayunkan pedangnya dari atas, mengarah batok kepalaku.


Serangan mentah itu luput. Hanya mengiris udara kosong berjarak sejengkal dari hadapan. Berdesir darahku sampai ke ubun-ubun, merasakan sensasi melegakan saat lolos dari kematian.


Perasaan itu hanya sesaat. Karena, tidak sampai sekedipan mata, pedang sakti milik Arson kembali diayunkan. Menyamping, dengan sasaran yang tetap mengarah ke batok kepalaku.


Berkelebat pendar ungu menerpa mata. Sesaat aku buta, juga merasakan perih menyengat yang menoreh hidung. Aku menyentak badan ke belakang secara spontan. Terdorong keterkejutan dari rasa sakit yang sangat menyengat.


Alhasil. Aku jatuh terjerembab, lalu terguling beberapa kali, sampai tumbukan keras dengan batang pohon menghentikan laju tubuhku yang liar tanpa kontrol.


"Argh!" Pekikku.


Sakit di punggung menjalar ke seluruh tubuh. Menggetarkan setiap sendi tulang, seakan-akan hendak diloloskan dari tempatnya berada. Otakku ikut terguncang oleh serbuan rasa sakit, dan hampir-hampir saja saklar kesadaranku dimatikan.


"Sam!" pekik Putri Asaru. Teriakan yang mencegah otakku untuk menutup tirai kesadaran.


Gemetaran aku mengangkat tubuh yang telungkap di lantai hutan. Dengan kedua tangan yang mengepal erat, dan gigi bergemeletuk saling beradu. Aku melawan rasa sakit untuk mencoba kembali bangkit.


"Terima ini, Pecundang!" jerit Arson.


Sehentakan aku mendongak. Melihat si bangsawan sialan itu mengayunkan pedangnya sambil tersenyum lebar. Seringai kemenangan seekor binatang buas yang haus darah.


Aku tidak mau mati di sini! Kupaksakan setiap kerat otot di badan untuk memegas. Demi melontarkan tubuh ke samping. Menghindari cengkraman kuku malaikat maut berwarna ungu.


Sakit! Pundak kiriku tergores ujung pedang.

__ADS_1


Aku berguling ke samping, dan langsung berdiri di putaran ketiga. Kembali memasang kuda-kuda rendah penuh pertahanan. Memfokuskan perhatian ke tiap gerakan Arson yang terayun angkuh. Susah payah aku melakukannya, karena rambatan rasa sakit di sekujur tubuh. Gilanya, darah dari bekas luka yang ditorehkan pedang itu terus mengucur tiada henti. Membuatku kehilangan banyak darah. Penglihatanku mulai berkunang-kunang.


Tubuhku limbung saat jarak kami semakin dekat. Dia mengayunkan pedangnya penuh nafsu membantai.


Pijakanku goyah saat hendak menghindar. Tanpa daya, aku jatuh terduduk di lantai hutan berkarpet rerumputan basah. Menatap jeri ayunan besar pedang berpendar ungu yang hendak membelahku.


"Hei!" Jeritan Putri Asaru terdengar menggebrak gendang telinga.


Ayunan masih berlanjut, namun pekik selanjutnya terdengar, sekaligus mengubah jalur pedang. Melenceng dan hanya menggores bajuku saja. Alih-alih merobek tubuhku menjadi dua.


Arson memegangi mata kanannya yang meneteskan darah. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Putri Asaru menunduk dengan tangan kanan terjulur--tangan kiri tetap mendekap Shege di dada. Aku yakin dia melempar batu dan secara kebetulan mengenai mata Arson. Menyelamatkan nyawaku yang berada di ujung tanduk.


"Dasar wanita ******!" maki Arson dengan rahang mengeras. "Akan aku bunuh kau terlebih dahulu!"


Pria angkuh itu melenggang geram melewatiku yang masih terhuyung di tanah. Mengganti mangsanya menjadi Putri Asaru yang terpaku kebingungan.


"Lari!" jeritku sambil tak henti untuk berusaha berdiri. Susah payah mencari tumpuan kuat.


Srat!


"Argh!"


Punggung Putri Asaru ditoreh luka melintang oleh Arson. Dia jatuh terkapar menghantam tanah basah. Shege dalam tangkupan tangannya pun terlempar entah ke mana. Dia merintih terisak menahan sakit tak terperi. Terluka sekaligus kehilangan sahabatnya dari dekapan.


Aku menggeram marah. Memaksakan tubuh merayapi tanah. Tekadku, apapun yang terjadi, jangan sampai Putri Asaru celaka. Bagaimanapun caranya.


"Terimalah takdirmu, cucu Tura. Matilah membawa dosa leluhurmu," ucap Arson sambil bersiap melakukan ayunan pedang penghabisan.


"Hei!" Aku hentak semua otot di badan. Untuk sesaat semua rasa sakit sirna, walau sadar betul darah dari luka di pundak dan hidungku mengucur semakin deras.


Arson menoleh demi melihatku yang tengah berlari terhuyung. Memecut paksa badan Sam yang sudah dicengkram kesakitan. Di wajah oval itu aku lihat seringai penuh celaan yang dialamatkan kepadaku.


Tanpa membalikkan badannya, dia menyapukan pedang sakti itu mengarah batang leherku. Begitu ringan tanpa belas kasihan.

__ADS_1


Sekelebat. Ayunan mematikan itu mendekat. Aku mengangkat pisau batu dengan segenap tenaga. Berharap dapat menghalaunya, walau secara teori itu mustahil.


Trak!


Keduanya beradu. Sinar ungu memancar terang ke segala penjuru, sebelum sirna sepenuhnya. Bersamaan dengan kejadian yang paling tidak kuduga. Pedang maha sakti yang mampu menumbangkan dua hewan mistis kuat itu patah terbelah dua. Tepat di bagian pisau batuku mengenainya.


Arson terperangah melihat pedang kebanggaannya rusak oleh sebilah pisau batu. Lebih kaget lagi dia saat melihat sisa pedang di tangannya, yang sudah kehilangan cahaya, mulai berkarat. Begitu cepat mengikis logam yang tersisa hingga ke pegangan. Sampai akhirnya pedang itu hilang menjadi debu.


"Arson!"


Dia menoleh dengan tampang tololnya. Aku yang masih dipenuhi amarah langsung melompat menerjang. Mengarahkan kepala ke wajahnya, dan sukses menanduk dagu lancip bangsawan berengsek itu.


Sakit dan pusing jelas. Tetapi ada kepuasan saat melihatnya tersungkur tak sadarkan diri.


Perihnya luka sayatan di tubuhku terasa berkurang. Darah segar tidak lagi mengucur di sana. Mungkin efek sihirnya sudah hilang, karena pedang yang menjadi wadahnya sudah hancur tidak bersisa. Aku masih tidak habis pikir, sebilah pisau batu bisa mengalahkan pedang sakti penumbang naga. Tetapi, berhubung pisau itu pemberian Artapatu, aku bisa sedikit mempercayainya.


Pertarungan berakhir. Tenagaku sudah terkuras habis. Bahkan untuk berdiri pun aku goyah. Namun, hasrat Sam masih besar untuk menghampiri Putri Asaru yang tengah merangkak sambil terus bergumam memanggil-manggil Shege.


"Putri, putri ... Putri Asaru," panggilku saat menghampirinya dengan susah payah.


Aku tahan pundaknya yang gemetaran. Lalu, entah dorongan keberanian dari mana asalanya, aku menarik masuk Putri Asaru ke dalam pelukan.


Dia tidak marah atau pun berontak menolak. Justru tangangannya bergerak mendekapku erat. Dia kemudian menangis kencang dengan wajah yang dibenamkan ke dadaku. Darahku berdesir menyambutnya. Jujur ini adalah pengalaman pertamaku dipeluk wanita yang bukan dari keluarga. Mungkin juga bagi Sam.


"Sam. Shege hilang. Dia terlepas. Woofy terluka, dan ... dan Kord terbaring di sana," isaknya. Mendongak menatapku dengan linangan air mata yang terus turun. "Kamu ... maafkan aku. Karena aku kau terluka seperti ini. Maafkan aku, Sam."


Bisa dia meminta maaf seperti itu. Padahal luka dipunggungnya pun menganga lebar. Teringat kata Mama--saat menasehati Chiya yang jatuh saat memanjat pohon--bekas luka di tubuh adalah aib bagi wanita. Apa lagi statusnya sebagai putri kerajaan.


"Hei, bukan salahmu. Ini keinginanku. Keinginan kami untuk melindungimu."


Ucapan yang terlontar begitu saja dari mulutku, justru membuat dia menangis lagi lebih kencang. Ah sial! Aku bingung harus melakukan apa.


Begitu setidaknya, sampai kudengar gelegar di langit. Aku mendongak dan mendapati gumpalan awan hitam bergumul di atas kami. Aku merasa de javu.

__ADS_1


__ADS_2