Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 44-1] Duka Kota


__ADS_3

Awan gelap kembali datang. Hadir bergumul beriringan, dengan kilat-kilat cahaya yang menderu. Uniknya, hal itu hanya terjadi di luar tembok kota. Tidak sedikitpun menyentuh lingkaran imajiner yang terhubung oleh pilar cahaya di delapan penjuru.


Jdar!


Petir menyambar silih berganti dari arakan awan di sekeliling luar kota. Terlihat kadal-kadal raksasa menjulang tinggi dengan senjata teracung dan tubuh dilapisi zirah. Jangan tanya soal kadal-kadal seukuran manusia. Tanpa dilihat pun, dari suara pekikannya aku yakin mereka berjumlah ribuan. Tidak hanya itu. Satu spesies baru juga muncul di sana. Ratusan kadal bersayap dengan trisula sebagai senjatanya. Terbang mengelilingi seluruh penjuru luar kota yang dibatas oleh tembok menjulang tinggi.


Duar!


Satu petir besar menyambar. Terasa gempa kuat yang seperti digerakkan oleh pergeseran tanah. Benar saja. Jauh di bagian depan kota, perlahan menjulang undakan tanah dan bebatuan yang menjadi singgasana sang penyihir Mitara. Dari sana, dia menatap ke arah kami dengan penuh kebencian. Menusuk sampai ke hati, dan membekukan menembus sumsum tulang belulang.


Seluruh kota dicekam ketakutan. Banyak korban jatuh bergelimpangan. Luka, cacat, hingga meregang nyawa. Lebih dari setengah populasi penduduk yang mati. Tidak sedikit kerugian materi dan non-materi diderita rakyat. Rumah dan harta benda yang hancur, juga kehilangan orang yang disayangi.


Banjir darah dan air mata setelah gempuran penuh dendam dari Mitara. Kota kacau, dan hampir-hampir pecah kerusuhan. Lebih-lebih saat tersebar kabar kalau raja telah wafat. Dia diketemukan terkapar di dalam puing kereta kencana, dengan kondisi seluruh tubuh gosong terbakar. Habis disengat kejutan listrik berdaya besar. Meregang nyawa dalam keadaan mengenaskan.


Kota diwarnai kelamnya keputusasaan. Jiwa-jiwa manusia merintih kesakitan, disebabkan oleh pedihnya kehilangan, teror ketakutan, dan memuncaknya kemarahan, yang bercampur baur memenuhi benak. Di saat genting itu, sang bidadari berpipi merah merona turun bersama sang naga. Memberikan secercah harapan baru bagi mereka yang tengah dirundung duka merana.


Begitu turun dari pundak Shege, tanpa berbasa-basi lagi, Putri Asaru segera mengeluarkan perintah, layaknya seorang putri kerajaan. Walau aku tahu di sudut hatinya terendap kesedihan atas kematian ayahandanya.


Dia jelas seorang pemimpin tulen, yang sigap memberikan arahan kepada kerumunan orang, tentang apa yang harus dilakukan dan dikerjakan. Lebih dari itu, dia bahkan turun sendiri ke lapangan untuk merawat dan membantu penduduk yang terluka.


Semua bekerja, termasuk aku yang pada awalnya sedang bersama Artapatu. Menyusuri jalan menuju ke suatu tempat yang entah akan berakhir di mana. Hanya mengikuti langkah si sepuh sakti.

__ADS_1


Di tengah jalan yang lengang--hanya ada puing-puing berserakan--Putri Asaru berhasil menemukan kami. Detik itu pula dia menghamburkan diri ke arah si kakek tua. Tangis histeris terlepas. Keran kesedihan sang putri yang tertahan oleh jiwa kepemimpinannya, mengucur deras di dalam dekapan Artapatu. Dia bagai seorang bocah dalam pelukan ayahnya yang penuh kasih.


Tidak terlampau lama adegan yang membuatku salah tingkah, karena berada di dekat mereka itu berlangsung. Selintas kemudian, Putri Asaru mulai memohon yang diiringi sedikit paksaan. Meminta agar Artapatu mengizinkan aku untuk membantu mengevakuasi korban. Dengan berat hati, akhirnya Artapatu mengabulkan permintaan sang putri.


Aku pergi mengiringi langkah Putri Asaru. Sekali sempat aku melirik Artapatu di belalang--sebelum dia melakukan aksi menghilangnya lagi. Di wajah keriput itu terlihat jelas ada gurat ketidakrelaan. Entah kenapa.


Tugas penyelamatan ini aku akui sangat berat. Bukan perkara beban yang diangkat, karena Woofy dan Shege siaga membantu demi memberi pertolongan. Beban yang aku maksud adalah saat kau merasa bersalah melihat korban bergelimpangan. Wanita, pria, tua, muda, bahkan balita dalam dekapan ibunya.


Di lubuk hati, aku merasakan sengatan duri rasa bersalah. Sadar, kalau bencana di Kota Capitor, bisa terjadi karena kesalahanku. Aku yang terlalu plin-plan mengambil keputusan untuk segera menyerang, mengakibatkan Mitara leluasa mengeluarkan kekuatannya. Meluluhlantakkan kota berikut penduduk.


Andai saja, saat duel antara Mog dan Arson berlangsung, aku bergegas menuju kereta kencana dan menjalankan susunan rencana. Menyelamatkan sang raja yang kini terkapar tanpa nyawa, untuk kemudian membabat Mitara dengan kekuatan Woofy dan Shege. Barang tentu semua ini tidak perlu terjadi.


Dari penjarah naik level menjadi pahlawan. Yah, walau agak janggal dan kurang nyaman didengar, tetapi lebih baik dari pada tuduhannya saat awal kami bertemu.


Usut punya usut. Perubahan sikapnya itu ternyata berawal dari kejadian di hutan. Nekat dia memutuskan pergi sendiri mengikuti jejak Arson, walau tahu ada bahaya besar yang akan dihadapi.


Niatnya itu murni karena dimotori rasa penasaran. Mencari kebenaran tentang Putri Asaru dan naga, berikut serigala perak raksasa yang tiba-tiba saja muncul menyela perburuan.


Setelah perjalanan berliku, Mog sampai di sana saat Arson mencoba membunuhku dengan pedang pendar ungunya. Dia pun melihat Kord yang terkapar dengan luka di perut.


Kejadian yang terpampang di sana, membuat dia menebak-nebak siapa pelakunya. Aku yang katanya teman baik pemuda tambun itu, atau Arson yang dia tahu seorang bangsawan berwibawa. Karena itu, Mog bimbang mengambil keputusan untuk berpihak kepada siapa.

__ADS_1


Dia terus terpaku ragu dalam persembunyian. Sampai saat petir yang memunculkan para siluman kadal mulai menyambar. Dirinya gemetar ketakutan. Keringat dingin mengucur deras, melihat cahaya kilat yang membakar retina, berikut mendengar gelegar guntur bagai mengoyak gendang telinga.


Tanpa berpikir lagi, setelah reda hujan petir menyambar bumi, Mog langsung kabur terbirit-birit. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk lari dari kengerian sihir jahat. Sayangnya, di tengah jalan dia disergap oleh empat ekor kadal. Pertarungan berat sebelah terjadi. Bukan semata karena jumlah, tetapi juga senjata yang tidak mumpuni. Pedangnya sudah patah pada saat penyerangan naga di kastil.


Bagian soal ketakutan itu, Mog bercerita dengan suara berbisik. Tidak mau kalau sampai didengar orang lain, terutama anak buahnya. Padahal, kalau mau jujur, apa yang dia rasakan itu adalah hal yang wajar. Siapa sih yang tidak ketakutan saat melihat monster menyeramkan muncul dari bekas sambaran petir.


Di titik nadir terakhir, Artapatu datang menyelamatkan nyawanya. Para siluman kadal dibabat habis, hanya dengan satu ayunan tangan yang memancarkan cahaya putih. Mereka punah dalam sekedipan mata.


Usai melakukan aksi heroik menakjubkannya, Artapatu menyuruh Mog bergegas pergi. Sayang, sebelum sempat dia beranjak--masih mengagumi kehebatan si sepuh sakti, katanya--serangan plasma bermuatan listrik terlepas. Menjalar dan menyambar dirinya. Dan, untuk kedua kalinya Artapatu menyelamatkan pria berotot tersebut. Menyadarkannya sebelum ajal menjemput.


Tidak berhenti sampai di situ. Mog yang penasaran akan sosok si petapa tua, coba mengikuti setelah tubuh besarnya kuat diajak bergerak. Tidak mengacuhkan perintah dan larangan Artapatu.


Sambil berusaha keras menahan rasa takut, Mog terus menelusuri bekas pertarungan dahsyat sang petapa sakti, dan lawannya yang tak kalah hebat. Sampai akhirnya satu dentuman besar dia lihat dari kejauhan. Sebuah ledakan dahsyat menyilaukan, yang gema kekuatannya mampu menyapu roboh hutan di sekitar.


Itulah saat di mana Artapatu dan Mitara beradu kekuatan yang berakhir seri. Mereka sama-sama terpelanting jauh, dengan luka parah sebagai bayaranya.


Mog bergegas menyelamatkan Artapatu yang tergolek tidak sadarkan diri di tanah. Membawanya dalam gendongan ke goa kecil di tengah hutan. Merawatnya dengan telaten hingga pak tua kembali tersadar.


Singkat cerita, dari tempat persembunyian itulah dia mendengar tentang semua kebenaran dari mulut Artapatu. Fakta konkrit yang sama sekali tidak bisa dia sangkal. Disebabkan oleh itu pula, akhirnya Mog meminta untuk bergabung dengan misi penyelamatan kerajaan Capitor.


Ah, sial! Seandainya kami tahu niat Mog dari awal. Tentu, semua ini tidak perlu terjadi!

__ADS_1


__ADS_2