
Sesaat kami bertukar pandang. Aku yakin sekali dia sengaja berlama-lama untuk melanjutkan ucapan, demi dapat kesan dramatis. Sialan! Padahal aku sudah penasaran.
"Jawabannya mudah. Karena kau lah yang ditakdirkan melakukannya." Aku memicingkan mata. Geram, ingin memerotes kalau itu bukanlah jawaban yang konkrit. Tetapi, sebelum sempat angkat suara, ternyata Artapatu melanjutkan kembali ucapannya. "Tombak taring perak dan pedang cakar merah. Tepatnya batu haswa, adalah benda berjiwa. Dia memilih pemiliknya yang pantas untuk menggunakan mereka."
"Kesalahan. Itu adalah kesalahan Tura karena memaksakan kehendaknya untuk membalas dendam. Padahal, petapa bijak sudah dengan tegas melarangnya. Begitu pun Pata. Hingga akhirnya, sang petapa bijak terpaksa mengabulkan keinginan mereka. Dengan catatan, akan ada bencana beruntun yang terus menghantui kehidupan keduanya, sampai semua berada kembali di jalur yang benar."
"Ya, seandainya saja Tura mau bersabar menanti satu tahun lagi, dan melatih diri bersama petapa bijak. Untuk nantinya menjadi pendukung bagi yang terpilih. Keturunan langsung dari pemilik tombak taring perak dan pedang cakar merah. Semua tragedi itu tidak akan pernah terjadi. Matinya Pata sang adik tersayang di tangannya sendiri, dan ...." Kembali terpotong.
Mata tua yang biasanya ceria itu berlinang. Menatap tanpa kedip ke langit-langit toko, melewati atas kepalaku. Ada banyak kesedihan menggenang di sana. Seakan-akan dia sedang menerawang jauh ke kisah pedih, yang dialaminya sendiri.
"Satu dosa terakhir Tura, yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun juga," Artapatu terdiam sesaat dengan napas yang tertahan, sebelum kembali melanjutkan kata, "dia membunuh Mirala karena dendam dan kesombongan. Mirala sama sekali tidak pernah berbuat kejahatan setelah terusir. Dia hanya ingin hidup damai membesarkan anaknya. Bahkan saat dia datang ke benua, dia sama sekali tidak ingin melakukan misi balas dendam yang diberikan oleh kakek buyutnya. Wanita itu sudah muak dengan kekejaman yang dia alami di pembuangan. Membuang permata lazarus, yang sayangnya ditemukan oleh sang raja lalim, sehingga dia terpaksa menjadi sekutu penjahat itu demi mendapatkan kesempatan mengalahkannya."
Artapatu menarik napas panjang. Seakan hendak menyedot kesedihan yang menggenang di matanya.
"Bukan Mirala yang menghasut Pata. Wanita itu mengambil dan menyembunyikan permata lazarus agar tidak bisa lagi disalahgunakan. Tetapi, Pata dengan nafsu menguasai, yang mulai tumbuh saat menjadi seorang raja, justru ditarik oleh kuasa batu tersebut."
"Bukan kejahatan yang hendak dihabisi Tura saat datang ke pulau selatan. Dia murni ingin menghabisi mereka. Menghapus aib yang menempel padanya berikut melampiaskan dendam di hati. Padahal, kejadian monster dan kutukan itu terjadi, karena Mitara tidak sengaja melepas kekuatan serpihan permata lazarus, yang berusaha mencari pemiliknya. Seandainya saja Tura tidak terbawa nafsu, mungkin saja dia tidak akan membunuh Mirala, dan berusaha mencelakai keponakannya sendiri. Seorang anak yang tanpa sengaja menyebabkan bencana. Murni karena kepolosannya. Tidak harus dihukum dengan kejam, sehingga akhirnya dia mengeluarkan sihir pemanggilan terbalik. Membuat tubuh kecil itu terhisap ke lubang dimensi, dan terjebak di sana. Bersama serpihan permata lazarus yang kembali utuh, setelah menghisap energi kebencian yang dia miliki selama ratusan tahun."
Aku terhenyak mendengar cerita itu. "Kenapa seperti itu? Bukankah Tura bukan orang dengan sifat yang kejam?"
"Seperti yang kau tahu. Lazarus dan haswa berasal dari sumber yang sama. Memiliki karakteristik serupa. Alasan haswa dibelah dan dijadikan inti senjata adalah, agar kekuatannya yang melebihi lazarus, dan dapat mempengaruhi pemiliknya, bisa diminimalisir."
"Maksudmu?"
"Walau tidak sekuat permata lazarus, tetapi kedua senjata legendaris itu juga bisa mempengaruhi penggunanya. Mencemari pemiliknya dengan ambisi tercela. Itulah alasan mengapa Tura menghancurkan pedang cakar merah dan tombak taring perak. Memasukannya ke dalam makhluk hidup, agar jika digunakan secara serampangan oleh yang bukan pemiliknya, maka wadah batu haswa itu akan langsung menghabisinya. Alasan lain kenapa aku melarang Putri Asaru menggunakan Shege untuk melawan Mitara. Begitu pun kepada generasi sebelumnya yang mewarisi Shege. Melarang mereka menggunakan kekuatan si burung merah, kecuali di saat tergenting."
"Eh, jadi kalau begitu ...?"
"Kau baru menyadarinya? Ya, engkaulah keturunan dari kedua pemegang senjata legendaris. Dari keluargamulah seharusnya garis keturunan penguasa Kerajaan Capitor berlangsung. Hanya engkaulah orang yang mampu menggunakan kekuatan batu haswa untuk mengalahkan Mitara."
__ADS_1
"Eh ... ya, tapi ... begini .... Jika memang batu itu bisa memengaruhi penggunanya, lalu apa bedanya denganku walau aku adalah keturunan langsung mereka?"
"Jelas berbeda. Lazarus adalah batu yang tidak pernah terikat oleh siapapun, sampai akhirnya dia mempunyai kesadaran sendiri, yang berasal dari kumpulan perasaan negatif pemiliknya. Sementara, kedua senjata legendaris itu telah terikat oleh perjanjian darah pemilik pertamanya, yang terus diwariskan sampai ke dirimu."
"Ta-tapi ... tapi ...."
"Bukankah Woofy tidak pernah berubah buas dan bermaksud membunuhmu? Yah, bahkan saat di lembah pun dia sudah sadar kalau kau pemiliknya. Oh ya. Juga saat pelatihan. Bukankah setelah Woofy berubah, Shege pun ikut berubah? Dan, bukankah kau merasakan perbedaan saat menunggangi mereka, yang tidak dirasakan oleh Putri Asaru dan sahabatmu?"
Lagi-lagi aku terdiam mendengar perkataannya. Rentetan pernyataan yang seakan sudah dia ketahui akan terjadi, jauh-jauh hari sebelumnya.
Ya. Memang benar seperti itu, walau belum aku bisa pastikan benar soal bagian akhir ucapannya.
Tunggu sebentar! Jadi, Sam si miskin ini ternyata memiliki takdir yang hebat. Calon raja yang akan menyelamatkan benua dari penyihir jahat dan permata lazarusnya?
Artapatu beranjak. Melangkah menuju pintu keluar. Meninggalkanku dalam lamunan sesaat.
"Kalau tentang itu, hhmm .... Aku sudah banyak membuang waktu untuk mencari tahu. Apa kau pikir aku akan memberitahukannya begitu saja kepadamu, Nak? Cari tahulah sendiri. Mungkin kau akan menemukan jawabannya, atau bisa jadi, hal itu akan terus menjadi pertanyaan besar yang menghantuimu."
Mata tua itu kembali berbinar ceria. Lenyap semua kesedihan yang menggantung. Bagus untuknya, tetapi menyebalkan bagiku!
"Oh iya, sebelum pergi, aku mau berterima kasih kepadamu karena telah mendengarkan dan menghibur pria tua ini. Terutama saat kau memakan gulma arang mentah-mentah di goa. Padahal kau sembuh karena kekuatan batu gaia ini. Simpanlah." Sambil terkekeh, Artapatu melempar sebutir batu sebesar kelereng kepadaku yang sedang merutuk kesal dalam hati.
Sekilas aku mengamatinya. Melihat dengan mata terpicing, benda bulat bening dengan bagian tengah terisi gelembung cahaya yang bergerak-gerak. Seberkas cahaya terang yang hangat dan tidak menyilaukan.
"Dan satu lagi. Ujung tongkatku ini dan pisau batu yang aku berikan, bahannya sama-sama berasal dari sisa meteor ribuan tahun lalu."
Aku coba mencerna maksud kata-katanya. Jelas sekali dia ingin memberitahuku sesuatu, tetapi dengan cara menyuruhku berpikir sendiri. Membuatku diam memutar otak, sementara dia melenggang pergi.
"Kau mau pergi ke mana?"
__ADS_1
"Kalau kau sebegitu ingin tahunya, kenapa tidak ikut saja?"
Aku berdiri mengejar. Mengiringi langkah pak tua sakti itu di sisinya.
Janggal. Apakah langkahnya selemah dan serentan itu? Aku yakin, sebelum ini sepertinya dia tidak perlu bantuan tongkat untuk berjalan, tetapi kini, dia merayap dengan bantuan tongkat. Berjalan pelan selangkah demi selangkah, dengan ayunan kaki yang diseret. Lamat-lamat terlihat gemetaran, walau dia berusaha menyembunyikannya. Seakan dirinya tengah membawa beban berat. Atau bisa jadi, tubuhnya sedang menjerit kesakitan.
"Tempat ini dulunya adalah awal kehidupan manusia di benua Suno. Menjadi saksi dari kesalahan yang didorong nafsu keserakahan manusia. Maka, aku minta kepadamu, jangan kau ulangi lagi hal itu." Dia berucap dengan napas yang terengah-engah.
"Artapatu, apakah kau sakit?" tanyaku, tanpa menanggapi perkatannya. Khawatir.
"Hahaha ... tubuh tua ini, sudah lama tidak berdaya. Hanya bergantung pada tuah sakti gaia, dan kekuatan harapan untuk dapat menebus kesalahannya, yang menyengsarakan banyak orang. Dan kini, sudah waktunya. Ratusan tahun, burung jalakku menunggu di sana. Sudah waktunya aku untuk menyusul. Entah akan bertemu atau tidak. Tetapi, bukankah dengan harapan semua hal mungkin dapat terwujud, Nak?"
Langkahku terhenti. Ada sendu yang tiba-tiba saja muncul menohok hati. Berikut satu potong kepingan puzzel, yang melengkapi semua jawaban dan menghubungkannya menjadi satu gambar utuh.
Artapatu masih berjalan dengan langkah terseoknya. Semakin menjauh, aku lihat siluet tubuh tua itu mulai berubah. Pundak tuanya mengembang terisi. Punggung bongkoknya terangkat menjadi tegak. Langkah kakinya pun menderap pasti tanpa ringkih, dan rambut putih tipis itu berangsur-angsur menghitam lebat.
Hentakan keempat kaki dan kepak dua pasang sayap datang menghampiri. Berhenti di kedua sisi Artapatu--dalam versi mudanya--yang kemudian mengelus mereka penuh kasih. Shege dan Woofy.
"Telah aku serahkan apa yang menjadi hakmu. Jagalah baik-baik dengan sepenuh hati." Dari kejauhan, sosok pria gagah diapit dua hewan mistis berkata dengan senyum terkembang di wajah berahang petaknya.
Suaranya menggema lembut seakan angin mengantarkannya langsung memasuki telinga. "Saat fajar menyingsing, delapan pilar cahaya gaia akan menghilang. Percayalah kepada kekuatanmu dan dukungan orang-orang di sekitarmu, Nak Sam."
Habis kalimat dilepas lisan. Cahaya redup berpendar di sekeliling tubuhnya. Perlahan, sosok lelaki jelmaan Artapatu itu terurai menjadi partikel-partikel cahaya. Seperti kunang-kunang di latar senja yang semakin tenggelam.
"Aouw!"
Woffy melolong sedih begitu panjang, diiringi Shege yang menyemburkan apinya ke langit lembayung. Mengantar ribuan partikel cahaya dari serpihan tubuh Artapatu, untuk terbang membumbung melintasi angkasa. Pergi menemui burung jalak kesayangannya.
Semoga kau bertemu dengannya, wahai pahlawan Suno.
__ADS_1