
Tidak disangka, Twisky tertawa keras saat mendengar ucapanku. Mengiyakannya sembari terus tergelak, seakan-akan itu hanyalah lelucon konyol baginya.
Dengan angkuhnya, Twisky menyuruh aku mempersiapkan diri menghadapi kematian, lalu pergi keluar motel busuk ini, bersama ketujuh anak buahnya. Petantang-petenteng macam jagoan yang sudah yakin akan kemenangannya.
"Kau yakin dengan tantangan itu, Morg?" tanya Yenz, dengan mata tajam menusuk.
"Ya ... ya, mau bagaimana lagi. Ini satu-satunya cara, kan?" Aku berusaha mengangkat gelas dengan tangan gemetaran. Tidak sadar kalau isinya sudah kosong--karena tadi terjungkal--sampai aku coba untuk meneguknya.
"Tuan Damarion." Lapo yang keluar dari dalam dapur, berlari kecil mendatangiku--sekilas tadi aku melihat dia bersembunyi di sana. "Ah ... sudah aku katakan, kan, untuk segera kabur tadi malam. Dan, sekarang kau malah menantang Twisky untuk beduel. Ah, kau tak akan mungkin bisa menang."
"Hah? Kenapa begitu?" tanyaku, dengan mulut menganga.
"Dia adalah seorang bandit yang telah membunuh banyak lawan duel, dengan keahlian menembak cepatnya. Memiliki rekor tidak terkalahkan dalam pertarungan adu tembak sampai sekarang."
Penjelasan detil dari Lapo, sudah cukup membuat nyaliku yang seupil, menjadi gugur dan hancur berserakan. Sekaligus juga menjelaskan, kenapa Twisky menanggapi ringan tantanganku, bahkan menertawakannya.
Aku tatap Yenz. Mulai buram pandangan ini oleh air mata yang menggenang. Bukannya aku pengecut, tetapi pikir saja sama kalian. Siapa sih yang tidak takut menghadapi duel maut di umur semuda dan seimut ini?
Iya, aku sebagai Zacky maksudnya, bukan Margo yang sudah berumur. Jomblo pula!
"Hei, ke mana kau, Brewok Cengeng? Jangan harap bisa kabur dari sini dengan selamat! Anak buahku sudah mengepung kalian, dan tidak akan ragu-ragu menembak kalau kau berani macam-macam! Cepat keluar sekarang!"
Yenz menepuk punggungku, lalu berkata, "Usahakanlah untuk tidak mati." Bagai tanpa beban dia melangkah keluar.
Sial!
"Semoga beruntung, Tuan Damarion. Aku berdoa agar kau bisa selamat." Lapo menepuk punggungku. "Sebaiknya kau segera keluar, sebelum Twisky menjadi marah, dan menyuruh anak buahnya membereskanmu dengan kejam."
Omongannya itu. Tidak tahukah dia soal arti kata empati dan simpati? Bukannya didukung dengan memberikan kalimat motivasi, eh ini malah seperti ingin menakut-nakutiku.
Tetapi, karena dorongan Lapo pula--baik secara kata-kata, maupun secara langsung di pundak--aku akhirnya beranjak. Berjalan dengan lutut gemetar karena ketakutan. Melewati pintu ganda motel terkutuk ini, dan diam sejenak di terasnya. di samping Yenz, yang sebelah tangannya masuk ke dalam tas.
Jeri menatap sekeliling. Di mana tujuh orang anak buah Twisky bersiaga. Di dalam rumah, di pelataran teras, di balik tong pinggir jalan, hingga di atas atap tempat ibadah yang tinggi.
"Ingat, berusahalah untuk tidak mati, Teman," ujar cocot Yenz, seakan aku sedang mau pergi bertamasya saja. "Dan, satu nasehatku. Percayalah kepada dirimu sendiri, aku yakin kau bisa mengalahkannya."
Sedikit senyum aku kembangkan, saat mendengar ucapan si pirang berkepang tadi. Memang itu yang aku perlukan saat ini. Sedikit penguat, sebelum menghadapi kematian di depan mata.
__ADS_1
Oh, iya. Bukankah si Margo ini juga ahli menembak? Ingat kan, dia bisa menembak beberapa ekor lalat dari jarak jauh?
Hal itu menambah keyakinan diri ini, walau tidak banyak. Berharap, keahlian itu benar-benar bisa aku pakai, di saat duel maut nanti.
Aku berjalan menuruni anak tangga teras motel. Menapaki tanah berpasir, dan tanpa sengaja menginjak tahi kuda, untuk akhirnya saling berhadapan dengan si Cambang Lebat Penipu itu.
"Kau tahu, hanya dua orang yang berani menantangku berduel. Pertama, orang yang memiliki keahlian menembak hebat. Kedua, adalah seorang pecundang pengecut yang tidak punya otak. Tidak perlu dijelaskan, kan, tipe yang mana dirimu?"
"Si-sialan kau! Lihat saja nanti!" kataku sambil menunjuk-nunjuk dirinya. "Lagi pula, ka-kau tidak mungkin berani mem-membunuhku, kan? Ka-kau tidak akan mendapat hadiahnya, kalau ... kalau aku sampai ma-mati!"
Twisky, dan para anak buahnya malah tertawa mendengar ucapanku. Sialan! Aku bukannya melawak, hei!
"Tentu aku akan membunuhmu, pecundang! Berbeda dari temanmu, si pria cantik itu. Harga buronanmu tidak berkurang, meskipun aku menyerahkanmu dalan wujud bangkai."
****** aku!
Kalau begini, sama saja aku menyerahkan nyawa untuk dihabisi. Bagaimana mungkin aku bisa menang, kalau lawannya adalah bandit yang punya keahlian menembak cepat, dan belum pernah sekalipun terkalahkan dalam duel senjata?
Semoga saja, keahlian menembak Margo lebih hebat dari Twisky.
"Tak perlu banyak omong lagi! Kita mulai sekarang. Begitu lemparan koin anak buahku jatuh ke tanah, saat itulah duel dimulai." Twisky menoleh ke kanan, ke arah lelaki dia atas atap berundak rumah ibadah, yang membawa senapan laras panjang. "Lakukan!" perintahnya.
"Tunggu sebentar!" Aku berteriak menyela ketegangan itu, tepat sebelum koin yang dilempar mendarat di tanah gurun. "Tuan Twisky yang baik. Perutku tiba-tiba mules. Bolehkan aku buang hajat dulu, sebelum kita meneruskan duel ini?"
Angin gurun berdesir mengisi kecanggungan absurd yang kubuat. Tidak lepas semua pasang mata menatapku yang sedang dalam posisi setengah berjongkok, dengan tangan kiri memegangi perut. Iya, pose orang yang sedang menahan mules. Kebohongan yang entah akan menghasilkan apa.
"Dasar Pecundang!" geram Twisky.
Pria bercambang lebat itu mengambil pistol dari sarungnya. Tangan kanannya bergerak cepat terangkat, untuk akhirnya berhenti dihentak telapak tangan kiri, yang menepuk lengan atasnya.
Hanya sepersekian mili detik, untuk mata dan tangannya bersinkronisasi. Menyesuaikan arah tembakan ke sasaran, yaitu aku, sampai akhirnya pelatuk ditekan kuat.
Palu senapan menyentak. Memukul kencang primer di belakang selongsong peluru. Menimbulkan ledakan membahana. Sebuah rentetan cepat dari proses, sampai akhirnya butiran timah panas itu terlontar kencang. Keluar dari moncong revolver dengan kecepatan tinggi.
Tak tahu bagaimana aku bisa mengetahui hal itu.
Pastinya, di saat Twisky mulai menggerakkan tangannya untuk mengambil senjata tersarung, otakku seketika kosong, tetapi sepersekian detik kemudian, malah dipenuhi pikiran seperti tadi. Iya, soal mekanisme senjata.
__ADS_1
Di saat itu pula, detak jantungku meningkat, nafas memburu cepat, tetapi dunia terasa hampa dan hening. Menyebabkan fokusku meningkat pesat.
Selisih sedikit dari sebelum senjata lawan meletus. Aku secara reflek melompat ke samping. Dengan mata yang tidak bisa lepas dari Twisky, dan tangan kanannya yang memegang revolver. Mengepulkan asap putih.
Peluru yang terlontar tadi menyerempet lenganku. Merobek kemeja dan kulit secara bersamaan. Akan tetapi, entah kenapa sama sekali tidak terasa sakit--efek adrenalin yang menderas.
Tanpa terhenti karena gangguan peluru tadi, tangan kananku terus bergerak terayun. Menyorong revolver yang sudah terkokang, ke posisi di mana moncongnya mengarah kepada Twisky.
Tak perlu waktu lama untukku membidik, sampai akhirnya, dengan penuh keyakinan--tak tahu dari mana rasa itu timbul--telunjukku menyentak pelatuk revolver.
Meledaklah mesiu selongsong, yang mendorong panah timah berkalor tinggi. Lurus menuju sasaran.
Aku berdebam jatuh di atas pasir--untungnya tak mengandung kotoran hewan berbau busuk. Menyusul suara teriakan kasakitan dari Twisky, yang bahunya tertembus peluru dari senjataku.
Tepat sasaran!
Aku benar-benar tidak menyangka bisa berhasil mengenainya! Itu hebat! Macam adegan di film Holiwud.
Tidak berhenti sampai di situ. Senjata si Dagu Petak Bercambang terlepas dari genggaman, dan terpelanting jauh. Tak mampu lagi dia cengkram, karena bahunya yang terluka.
Suara tembakkan kembali terdengar. Menyusul itu, sesosok tubuh terguling dari atas atap rumah ibadah. Jatuh tanpa daya menahan tarikan gravitasi, dengan luka tembak tertoreh di badannya.
Dia seketika mati. Entah disebabkan oleh terjangan peluru, atau karena mendarat keras dengan bagian kepala terlebih dahulu.
Uniknya, peluru yang menumbangkan salah satu begundal itu, berasal dari milik bosnya sendiri. Dari revolver model lama--jauh lebih jadul dari yang kupakai--yang gampang terpicu, jika terkena guncangan kencang.
Ya, senjata itu meledak saat mendarat keras di lantai kayu rumah ibadah, yang kurang ajarnya dia naiki dengan niatan untuk membunuhku. Si tampan berhati polos ini.
Tak tahu itu sebuah keberuntungan, atau mungkin hukuman Tuhan untuk penjahat kurang ajar sepertinya.
Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung berdiri sambil mengokang senjata. Mengarahkannya kepada Twisky yang tengah bersimpuh memegangi pundaknya yang terluka. Mengerang kesakitan.
"Hei!" teriaknya.
Serentak. Anak buah Twisky yang berada di sekeliling arena duel, mengangkat senjata dan membidikkannya ke arahku. Menodongku yang masih mengarahkan moncong senjata ke jidat berdaki Twisky.
Tunggu! Kenapa malah masih berlanjut? Seharusnya aku sudah menang, lalu kenapa malah begini jadinya?
__ADS_1
Sial! Lagi-lagi aku berada di posisi terjepit! Diakali oleh penjahat licik tak berakhlak.
Ibu! Aku mau pulang!