Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 29-2] Margo, The Lady Killer


__ADS_3

Aku bisa saja menembak gadis cantik itu untuk melumpuhkannya. Akan tetapi, tidak menjamin Yenz bisa selamat.


Bukan asal tebak, tetapi aku bisa memprediksinya, disebabkan posisi si gadis dalam memegang revolver. Jari telunjuknya sudah tertekuk bersiaga di pelatuk. Hanya butuh sekali sentakan untuk membuat larasnya menyalak.


Kami terdiam lama. Mencoba mencari dan menanti celah, untuk segera mangakhiri adegan tak berfaedah ini. Tak tahu sampai kapan.


Mungkin nanti, saat seorang anak cewek berbadan buntet, membawa ransel, dan berambut potongan bob, datang bersama monyetnya, lalu berkata, "Kalian, jangan menembak!" Dikatakannya sebanyak tiga kali penuh keceriaan.


Sangat tidak mungkin hal itu terjadi, kan!


"No-nona ... aku mohon, tolong kau turunkan senjatamu itu. Kita bisa, kan, membicarakan ini secara baik-baik? Tanpa perlu adanya kekerasan, untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi."


Bukannya mendapatkan sambutan baik, gadis itu malah menggeram. Mengangkat goloknya teracung ke arahku.


Jadi kepikiran, kalau gadis ini sebenarnya tidak bisa bicara. Dia dilatih secara sadis oleh penduduk desa, untuk dijadikan anjing petarung yang ganas, dan pembunuh berdarah dingin.


Saat pikiranku masih melayang di dugaan-dugaan absurd, selentingan lemparan batu mengenai sisi kening gadis itu. Dia kembali menggeram, dan menembak ke dalam semak-semak, di belakang bujuran tubuh Yenz.


Suara gemeresik terdengar kembali. Bukan berasal dari tempat si gadis mengarahkan tembakan.


Berjarak beberapa depa dari sana, sesosok tubuh langsing dan padat, keluar dari belukar dengan kecepatan tinggi.


Si gadis yang baru mau kembali menarik pemukul senapan, menggunakan ibu jari, jelas terkejut dengan kemunculan sosok ligat, dari arah tak terduga.


Dia hendak mengarahkan senjata ke arah datangnya serangan, saat kaki tanpa alas si pemuda, menendang kencang bagian bawah pegangan revolver yang dia pegang. Membuat senjata tak terkokang itu, terpelanting masuk ke dalam semak belukar.


Sungguh Tuhan Maha Baik! Di saat aku sedang terdesak, Dia mengirimkan seorang penyelamat bergaya rambut jamet, untuk menjauhkan kami dari maut. Ya, dia adalah Leo van Leon bin Leonal. Si pemuda berkekuatan kuli, yang semoga saja jago berkelahi.


Si gadis menjerit kencang. Bukan kesakitan, tetapi sepertinya meneriakkan kemarahan. Emosi yang membuncah, karena seseorang sudah mengacaukan rencananya.


Tanpa banyak memberi jeda, gadis berkulit coklat eksotis itu memutar badannya, untuk menyabetkan golok di tangan kanan, demi dapat membabat kaki ramping milik Leo.


Sumpah! Tak tahu kenapa, gerakan si gadis terlihat anggun di mataku, bagai seorang balerina handal yang sedang beraksi. Menari mengikuti alunan lagu.


Leo bergegas menjatuhkan badannya, demi dapat menghindari tajamnya mata golok. Dari mengenai kakinya, yang masih belum benar-benar menjejak.


Leo jatuh mulus di tanah berlapis dedaunan gugur, dan berhasil lolos dari menjadi orang orang cacat berkaki pincang. Akan tetapi, gadis bermata sayu itu tidak berhenti bergerak. Dia langsung melompat berputar, dan menerjang tubuh mangsanya yang terbaring, dengan golok teracung garang.


Sigap Leo menghentak berguling ke belakang. Menghindari tukikan senjata tajam, yang akhirnya menghujam dalam, melesak masuk ke tanah.


Leo yang dalam posisi berjongkok bagai kodok, langsung melentingkan badannya. Bermanuver di udara, dengan sebelah tangan menekan tanah, demi dapat melepaskan tendangan kencang. Mengarah ke si gadis, yang masih berusaha menarik goloknya keluar, dari cengkraman tanah.


Sialan Leo! Telapak kaki busuknya menghantam telak wajah gadis cantik imut bermata sendu itu! Benar-benar harus diajari sopan santun dirinya nanti!


Si gadis jatuh terjengkang ke belakang. Kesakitan pasti. Tetapi, hebatnya dia bisa langsung berdiri. Menyeka mimisan yang mengalir dari kedua lubang hidungnya, dan langsung memasang kuda-kuda untuk bertarung tangan kosong.


Di lain pihak, Leo pun sudah melakukan hal serupa. Merendahkan posisi badannya, dengan kaki yang menekuk dan terbuka lebar.


Diam mereka saling berbaku tatap. Bergeming bagai batu kokoh, tetapi jelas terlihat, sewaktu-waktu dapat langsung berubah menjadi anak panah, yang bisa melenting cepat dan juga mematikan.


Jujur saja, sampai sejauh ini, aku baru tahu kalau Leo sangat jago berkelahi. Walau di awal perjalanan, aku masih mengingat cerita absurdnya, soal dia yang semasa kecil pernah dilatih bela diri oleh seorang kakek petapa, di hutan rimba. Tapi, tetap saja tak menyangkanya, karena jujur saja, aku menganggap ceritanya hanyalah isapan jempol belaka.


Lama mereka dalam posisi kuda-kuda saling mengamati. Aku tak tahan lagi! Semua ketegangan ini membuat jantungku berdebar terlalu cepat. Bisa-bisa nanti aku kena stroke kalau begini terus. Harus ada penengah agar semua ini tidak lagi berlanjut.

__ADS_1


"Hei, bisakah kita bicarakan ini baik-baik? Bukankah damai lebih indah, dibandingkan berkelahi dan terluka."


Bukan sambutan baik yang kudapatkan. Gadis cantik berkulit eksotis itu justru mendelik dengan mata sayunya yang nanar.


Di sepersekian detik, saat perhatian lawannya teralihkan, Leo menerjang ganas, demi memanfaatkan kesempatan yang tidak sengaja aku buat.


Pemuda berkaki jenjang itu melentingkan tendangan, yang menyasar kepala si gadis. Sangat kencang luncurannya, sehingga aku yakin kalau sampai kena, korbannya pasti akan langsung gegar otak. Minimal bakal hilang kesadaran.


Untungnya si gadis sigap, dan mengangkat tangan kirinya untuk menghalau.


Bagus! Serangan Leo berhasil ditahan. Sudah begitu, dengan cepatnya dia menerjang, dan menyarangkan pukulan kanannya. Telak menghantam dada Leo.


Kerja bagus, cantik!


Oh ... kalau kalian bertanya aku mendukung siapa, sejujurnya aku juga bingung. Dari awal, diriku tidak mengharapkan ini bakal terjadi, dan lebih memilih tertidur nyenyak di dalam rumah panggung. Tapi apa mau dikata.


Gara-gara Yenz--kini dia duduk meringis sambil memegangi luka di dadanya--aku jadi ikut terlibat masalah begini.


Tubuh Leo terpelanting. Dia terguling beberapa kali.


Si gadis langsung menerjang. Berlari, lalu menarik paksa goloknya yang masih tertancap di tanah.


Leo hendak bangkit berdiri, tetapi terjangan gadis itu keburu datang. Membuat dia tidak berkutik. Mustahil bisa menghindar.


Kedua tubuh yang berukuran hampir sepantar itu melesak bersamaan. Saling berbaku himpit, dengan Leo berada di bawah. Dalam posisi terdesak.


Tangan kanan Leo dicekal tak bergerak, sementara tangan kirinya, berusaha menahan hujaman golok, dari menancap ke tubuh.


Perpaduan dorongan tenaga dan berat tubuh, yang masih juga dibantu gaya gravitasi, tentu menjadi beban besar bagi Leo untuk dapat menahannya.


Tetapi mau bagaimana? Jelas aku tidak bisa menembaknya dari belakang, karena itu tindakan rendahan. Apalagi dia gadis imut tipeku. Pun begitu, jika aku tidak melakukannya, nyawa Leo berada dalam bahaya.


Masa bodo lah!


Aku memasukkan revolver ke dalam sarangnya, lalu berlari ke arah mereka berdua, yang masih bergulat.


Aku rendahkan posisi badan, untuk kemudian melompat saat jarakku dengan mereka, hanya tersisa sedepa.


Si gadis membelalakkan mata, saat menyadari aku tengah menerjangnya.


Semua terjadi begitu cepat. Tak tahu bagaimana caranya, aku sudah berada di atas tubuh si gadis. Menindih dan memegang kedua pergelangan tangannya.


Posisi yang begitu vulgar, dan biasanya menjadi adegan rutin, di komik bergenre komedi romantis!


Dalam posisi yang 'ah sudahlah' itu, kami saling bertukar tatap. Wajahku terasa panas, begitu pun mungkin dirinya.


"Ya Tuhan, cantik sekali," ucapku spontan begitu saja.


Wajah gadis berkulit eksotis itu bersemu merah, lalu berpaling sambil mendesah pelan.


"Huwa! Maaf... maaf ... maafkan aku. Bukan maksudku berbuat kurang ajar!" ucapku sambil meloncat ke belakang. Jatuh terduduk, lalu mengayunkan kacau sepasang tangan dan kaki untuk menjauh. Baru sadar di detik terakhir, kalau telah melakukan tindakan kurang ajar.


Dia berdiri dan kembali memasang kuda-kuda. Tangannya terangkat gemetaran. Yakin benar aku kalau dia sangat marah.

__ADS_1


Habis sudah riwayatmu, Margo!


"Ke-kenapa ... kenapa kau malah menjauh!?"


Eh ... aku terkejut dengan ucapannya. Bukan bercanda sepertinya. Karena, aku melihat ekspresi wajahnya seperti akan menangis, saat mengatakan sebaris kalimat absurd itu. Tapi apa maksudnya?


"A-apa karena mulut dan tubuhku bau? Atau ... atau ... karena sebenarnya wajahku jelek?"


Ah ... aku sepertinya tahu apa masalahnya. Kurang kepercayaan diri akut.


"Tunggu sebentar! Aku tidak bermaksud buruk. Tolong turunkan senjatamu, Ok?"


Aku berdiri, dan mulai membuka kedua gesper tempat menaruh senjata.


Ya, aku menggunakan keduanya--satu yang dari gudang bandit gurun, satunya pemberian Apak Lapo--saling bersilangan di pinggang. Berat sih, tapi membuatku terlihat gagah.


Aku taruh keduanya di lantai hutan. "Lihat, aku tidak bersenjata."


Aku perlahan mendekatinya, dengan kedua tangan di depan dada, untuk menunjukkan kalau aku tidak bersenjata. Tetapi dia masih memasang posisi waspada. Sesuatu yang buruk bisa saja terjadi, seandainya dia khilaf melayangkan golok di tangan.


Aku harus mencari cara untuk dapat meluluhkannya!


Ah ... bunga! Mau bagaimana pun juga, seorang perempuan pasti menyukai keindahan.


Beruntungnya aku sedang berada di hutan. Hanya berjarak beberapa jengkal dariku, tumbuh bunga liar cantik berwarna ungu.


Aku memetiknya, lalu berjalan kembali mendekatinya.


"Mau apa kau!?" Golok di tangannya terangkat makin tinggi. Habis aku kalau sampai terayun, di jarak kami yang hanya tersisa selangkah.


"Jangan salah paham, Nona. Aku hanya ingin menyematkan bunga ini di antara telingamu. Mau membuktikan, kalau dirimu benar-benar secantik bidadari."


Berhasil! Mendengar rayuanku, gadis bermata sayu itu menurunkan goloknya. Wajah ayu itu tersipu, lalu tertunduk membuang muka. Memudahkanku menyematkan bunga itu di sela cuping telinganya.


"Ah ... ternyata aku salah," ucapku, setelah mundur beberapa langkah. Demi keamanan.


Gadis itu menoleh, dan menatapku dengan wajah yang cemberut. "Apa maksudmu!? Kau mau bilang aku jelek, dan mirip gorila!?"


Aku mengambil keputusan yang tepat untuk menjauh. Jika tidak, mungkin sudah terpisah kepala dari leherku ini. Lihat, tangannya sudah menggenggam gagang golok sangat erat, sampai gemetaran.


Namun, tidak masalah, karena memang itu rencanaku. Hanya satu tahap lagi, sehingga kami--aku, Yenz, dan Leo--bisa bebas dari keganasannya.


"Bukan ... bukan begitu maksudku, Nona Manis. Aku mau bilang, kalau ternyata diriku salah menilaimu sebagai bidadari. Engkau adalah maha dewi hutan, yang karena kecantikanmu, bunga-bunga bermekaran, kupu-kupu dan menjangan menari-nari riang, bahkan mentari pun tergugu malu, karena kagum akan kecantikanmu. Sebuah hadiah dari surga tertinggi, hanya untuk dirimu seorang, sang titisan maha dewi tercantik."


Golok di tangannya terjatuh. Kedua tangannya terangkat, menutupi wajah yang tertunduk. Berani bertaruh, mukanya pasti merah padam, karena malu bercampur senang.


Kombo rayuan mautku sukses besar!


Ah ... tidak percuma aku membaca buku; Rayuan Maut Anti Gagal, untuk Jomblo Menahun.


"Baiklah kalau begitu." Gadis itu membuka tangkupan tangannya di wajah. Malu-malu dia melirikku dengan bibir dimanyunkan. Membuat parameter imutnya naik drastis. "Aku tidak akan menolaknya. Aku menerima lamaranmu, dan akan mengatakannya nanti kepada Kakek."


Hening sesaat. Perlahan aku coba mencerna kata-kata gadis itu. Sumpah, sepertinya ada yang salah.

__ADS_1


"Eehh ...!?" Pekik pertama terdengar dari mulut Yenz, disusul Leo, kemudian aku sendiri!


Apa maksudnya dengan lamaran!? Hei! Ini tidak seperti yang aku rencanakan!


__ADS_2