Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 9-2] Tunggu Aku, Teman!


__ADS_3

Sebentar ... aku tidak salah dengar kan? Seingatku, sebelumnya dia kalau para kadal karnivora hanya keluar pada malam hari.


"Hei, apa maksudmu? Kau tidak salah omong kan? Ini masih siang, dan bukan jamnya makan malam mereka. Lalu, apa-apaan itu!?"


Yenz menoleh. Menatapku dengan mata membelalak yang tak berkedip. "Ya, Biasanya mereka memang keluar pada malam hari. Tetapi, lain soal jika ada hal lain, seperti saat sarang mereka dirusak, atau sedang di musim kawin."


Sesaat kami terdiam. Aku mencerna ucapan Yenz, dan mendapat kesimpulan penting; aku harus segera lari!


Tanpa ancang-ancang, aku melompat dari posisi jongkok. Mengayunkan berat kaki yang melesak masuk ke dalam pasir. Demi dapat secepatnya menunggangi si Coklat yang mulai terlihat gelisah. Aku pikir dia tahu akan datangnya bahaya.


"Hei, tunggu!" Teriakan Yenz tidak terdengar. Tepatnya sih, tidak mau aku pedulikan.


Dengan gerakan luwes, aku meloncat menaiki kuda. Menyentak sambil berpegangan pada pelana.


Sialnya, sebelum sempat aku memecut kekang di genggaman, bagian punggung kemeja lusuhku ditarik kencang, yang membuat badanku ikut terbawa ke belakang.


Aku tercekik leher kemeja sendiri, akibat perlakuan barbar Yenz, untuk dapat menaik kuda.


"Apa-apaan kau menarik bajuku! Hampir aku mati tercekik!" bentakku dengan diselingi batuk yang keras.


"Kau yang apa-apaan! Kenapa mau meninggalkanku!?" hardiknya tak kalah kencang.


Aku ber-oh pelan. "Maaf tadi aku panik." Tersenyum lebar.


"Sekarang jalan! Mereka sudah semakin dekat!" pekiknya setelah menghembuskan dengkusan sebal.


Tak mau membuang waktu lagi, aku pecutkan tali kekang di tangan. Si kuda Coklat meringkik keras, lalu melonjak sebagai awalannya untuk dapat berlari kencang.


Ah ... Aku yakin dia sejak tadi sudah tidak sabar untuk berlari. Kalau saja Yenz tidak mengganggu, tentu kami sudah berada jauh meninggalkan kawanan kadal pemakan daging.


Aku lecut tubuh si kuda berkali-kali, demi membuatnya melaju lebih cepat. Tetapi, mau bagaimanapun juga, lari si Coklat ini tidak bisa lebih cepat dari para gerombolan kadal, yang jelas terlihat semakin mendekat.


"Lebih cepat, Marg!" Yenz memukul-mukul pundakku.


"Kau tidak lihat apa yang sedang aku lakukan, hah!?"


Diam sesaat, sebelum akhirnya Yenz berucap cerdas, "Apa mungkin karena mengangkut dua orang dia jadi lambat?"


Sekilas aku melihat ke arah bawah. Mendapati kalau kaki bersepatu besi itu, kesusahan menjejak di tanah berpasir. Kaki kokohnya melesak begitu dalam, sehingga menyulitkannya dalam berlari.


Kuteruskan tolehan hingga belakang, lalu berkata, "Bagaimana kalau kau turun di sini?"


Yenz mendelik nanar langsung ke mataku. "Kenapa harus aku!?" katanya dengan napas tertahan.


"Yah ... karena," aku berpikir sebentar sebelum melanjutkan ucapan, "satu, aku yang sekarang sedang mengemudikan kuda. Dua, tubuhmu lebih kecil, sehingga aku yakin larimu lebih cepat. Ketiga, kau berhutang seekor kuda kepadaku."


"Sialan! Kau saja yang turun! Tubuh besarmu justru membuat kuda ini kepayahan karena beratnya!"

__ADS_1


"Kau berani menghinaku bertubuh gendut, hah!? Kurang ajar kau!"


Dari sana kami mulai bergelut satu sama lain. Mendorong dan menarik, saling balas membalas. Demi dapat menjatuhkan, dan menentukan siapa yang bisa tetap berada di atas kuda. Begitu sengit sekaligus mengesalkan!


Bruk!


Dan, akhirnya terjatuh. Bukan aku, atau pun Yenz. Tetapi konyolnya, malah kami berdua yang terjengkang rebah dari atas kuda berbulu coklat. Tololnya lagi, kuda tak punya otak itu justru berlari begitu kencang. Seakan tidak peduli, dan meninggalkan aku bersama Yenz untuk dimangsa para kadal karnivora.


Dia cari selamat sendiri ternyata!


"Gara-gara kau, kita jadi terjatuh!" Kesal, aku memaki-maki Yenz.


Dengan mata nanarnya, Yenz yang mengerucutkan bibir tipisnya, akhirnya mendengus panjang, sebelum berkata. "Tak ada gunanya bertengkar. Aku lebih memilih berlari sekarang, daripada pasrah jadi makanan mereka."


"Hei, tunggu!" Aku ikut berdiri, demi dapat berlari mengikuti Yenz.


Sialan! Benar kan apa kataku. Dia bisa berlari cepat, lebih dari aku. Kalau saja tadi dirinya mau turun, tentu tidak seperti ini keadaannya.


Semakin jauh aku tertinggal langkah, dari pria langsing berambut pirang itu.


Ah ... aku tidak kuat. Andai saja aku bisa berlari secepat Yenz. Tentu, kesempatanku selamat menjadi lebih besar.


"Yenz ... tunggu aku, teman!" teriakku ngos-ngosan, sebelum akhirnya terjatuh. Tidak kuat lagi berlari. Kelelahan karena panas gurun yang begitu menyengat.


Sudahlah. Aku pasrah saja. Mungkin memang sudah nasibku begini. Tidak di sini, tidak di dunia asli. Aku selalu saja ditinggalkan karena lambat dan berbadan besar. Untuk kemudian dirisak oleh orang-orang yang sok hebat.


"Teman, bangunlah!" Aku mendongak, dan tidak menyangka mendapati Yenz tengah berusaha membantuku berdiri.


"Te-terima kasih, Teman." Tidak terasa air mataku mulai mengalir. Haru.


"Tidak usah menangis! Sekarang kau berdiri! Ayo kita lari!" perintahnya saat aku baru saja bangkit.


"Ta-tapi ... kita tidak mungkin selamat kalau begini."


"Lalu mau bagaimana lagi?"


"Kau pergilah sendiri. Biar aku menjadi umpan di sini, agar dirimu bisa lolos dari mereka."


"Baiklah kalau begitu."


Hah? Semudah itu? Jadi untuk apa kau tadi kembali dan membantuku berdiri?


Aku cengkeram tangannya. Menahan dia yang hendak beranjak, sehingga sukses membuatnya urung melangkah.


"Apa lagi!?" bentaknya.


"Kau tega meninggalkanku di sini?" ucapku dengan suara sengau menahan tangis.

__ADS_1


"Ya Tuhan! Lalu kenapa kau tadi menyuruhku untuk pergi sendiri!?"


"Ya ... ya, itu kan tadi. Jujur aku takut. Membayangkan mereka memakanku saja sudah membuat merinding. Lihat, kakiku gemetaran dan lemas. Bahkan untuk berdiri pun sudah susah."


"Lalu bagaimana sekarang!?"


"Tak tahu ... tapi tolong jangan tinggalkan aku."


Lagi. Yenz mendengkus kesal. Dan sesaat, kepalanya tertunduk, sebelum mendelik menatap pinggangku.


"Gunakan pistolmu!" perintahnya.


Aku menunduk demi melihat beceng bergagang putih, yang sejujurnya tidak aku ingat berada di sana. Tergantung apik di gesper kulit, bersama barisan peluru di kantong kecilnya.


Tanpa pikir panjang aku tarik pistol dari sarungnya. Tanpa diperintah, tangan yang dipantau mata ini, begitu saja membuka silinder tempat selongsong peluru bersarang, demi memeriksa amunisi yang termuat.


Telah pasti lima dari enam lubang terisi aminusi, silinder kukembalikan ke posisinya semula. Menarik tuasnya, untuk akhirnya membidik lurus ke depan.


Semua rangkaian gerakan itu aku lakukan bagai seorang profesional. Yah, walau sebenarnya itu semua bisa terjadi, karena kemampuan Margo, yang sudah berpengalaman dengan senjata selama bertahun-tahun.


Begitulah yang aku tahu, dari selingan ingatan melintas di otak.


Dan, kini dengan pasti aku membidik monster berwujud kadal di hadapan--hanya berjarak beberapa puluh meter lagi, dan mendekat sangat cepat. Makhluk jelek dengan sisik kuning bertotol hitam, yang berlari menggunakan keempat kaki bercakar dan berselaputnya. Beberapa bahkan ada yang berlari seperti manusia, dengan ekor yang terangkat.


Melihat itu semua dengan jelas--karena semakin dekatnya mereka--seketika menggemboskan semangatku yang terpompa sekubik. Bagaimana tidak. Jumlah mereka ada ratusan, sementara peluru yang aku punya hanya berjumlah belasan. Jauh dari mungkin kesempatan kami untuk selamat.


Aku menoleh dan menatap Yenz dengan mata yang sudah tergenang. "Kita tidak mungkin selamat, Teman," ucapku. Bersuara sengau.


Yenz menghembuskan napas panjang dengan mulut terbuka. Memandang monster yang tidak lama lagi berpesta pora menyantap daging kami, dengan dahi berkerut. Jelas dia sedang memikirkan sesuatu.


Kami membatu lama menatap kematian semakin mendekat. Sampai terdengar suara ringkik kuda dari belakang.


Kami menoleh, dan mendapati si coklat kembali. Tidak hanya sendiri, tetapi bersama seekor keledai berbulu abu-abu kusam, yang dinaiki seorang pria berbadan besar, dan berdagu petak.


Sumpah, dia yang badannya mungkin seukuran Margo, sangat tidak cocok menaiki keledai kecil itu.


Pria penunggang keledai, berlalu santai melewati kami. Seakan para kadal pemangsa manusia yang semakin mendekat, sama sekali tidak diacuhkannya.


Hanya belasan meter tersisa, saat pria itu mengambil botol kaca yang disumbat kain perca. Menyulutnya menggunakan mancis yang diambil dari kantong rompi kulitnya.


Seayunan tangan melambungkan botol berkain terbakar--bom molotov--yang kemudian pecah, tak jauh jaraknya dari barisan terdepan si kadal raksasa. Bukan karena menghantam tanah berpasir, tetapi karena tembakan lihai pria itu.


Api seketika berkobar besar. Barisan para kadal buyar, karena mereka langsung mengerem mendadak, atau melompat berbalik demi mengubah haluan. Aku yakin hal itu terjadi karena mereka melihat kobaran api yang tiba-tiba saja muncul merintangi.


Lepas semua kadal berbalik pergi. Menjauhi kami--aku dan Yenz--yang masih melongo. Si pria bercambang lebat itu berbalik menghampiri kami.


"Howdy, para tamu yang terhormat." Pria penyelamat itu tersenyum lebar penuh keriangan.

__ADS_1


__ADS_2