Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 35-1] Kisah Berakhir, Petualangan Berlanjut


__ADS_3

Seketika itu kami terhenyak. Begitu pula Kord. Tidak menyangka ceritanya bisa seabsurd itu. Aku yakin Putri Asaru sendiri pasti tertekan akan kenyataan tragis tersebut. Membawanya sendiri selama bertahun-tahun.


"Cerita-cerita dongeng yang biasa kalian dengar itu, seperti yang aku katakan sebelumnya, berasal dari potongan-potongan perjalanan hidup Tura dan Pata. Dan itu disebarkan atas perintah Tura sendiri yang menjadi raja dengan pengaruh besar. Demi menyamarkan kisah asli yang tragis dan menghapus coreng dari nama adik tersayangnya."


Aku dan Kord mengangguk paham. Masuk akal, walau memang cara yang diambilnya sedikit ekstrim, tetapi sebanding. Dan yah, dari keseluruhan lengkap cerita Putri Asaru, aku akhirnya menemukan benang merah dengan petualangan yang sedang kujalani di dalam buku terkutuk ini. Mendapat kesimpulan yang berikut juga membawa keputusasaan saat menyadari satu hal penting.


"Sekarang aku boleh berbicara kan? Tolong singkirkan anjhing ini, Sam. Sumpah, aku bisa mengompol kalau lebih lama lagi dia ada di dekatku," mohon Kord dengan wajah berjengit.


Aku tertawa dan memerintahkan Woofy agar pindah ke pangkuanku. "Bicaralah. Tapi awas saja kalau aneh-aneh," candaku yang dibalas kecapan kesal oleh Kord.


"Begini. Pertama-tama aku sudah bisa percaya dengan cerita itu, dan perihal kalau kau adalah Putri Asaru yang asli." Gadis berlesung pipi itu mengangguk tersenyum. "Akan tetapi, jika benar yang tadi kau ceritakan, bukankah berarti kita harus berpetualang lagi mencari dua senjata legendaris itu? Pedang cakar merah, dan tombak taring perak. Tanpa petunjuk. Apakah kita harus pergi ke Rimba Gelap? Eh, tapi kan Artapatu si petapa sakti itu hilang entah ke mana. Ataukah kita harus pergi ke selatan dan barat untuk menemukannya? Bagus juga sih kalau bisa bertemu penyihir yang akan membantu, tetapi yah, kuharap tidak seperti Mirala sifatnya."

__ADS_1


Putri Asaru tersenyum mendengar pertanyaan Kord, yang mewakili juga rasa penasaranku. Dia kemudian bangkit lalu berjalan sampai berada di depan kami. Benak Sam berbunga-bunga, dan dekat jantungnya menjadi meningkat saat menatap Putri Asaru yang tetap cantik walau hanya mengenakan gaun sederhana tanpa hiasan renda, dan juga riasan di wajahnya.


"Woofy, kemari," panggil Putri Asaru yang dituruti oleh si anjhing kecil. Wajar sih, karena mereka sudah lama kenal dan dari ceritanya, Woofy lah yang selalu membawa makanan ke kastil saat dia bersembunyi.


"Pedang cakar merah dan tombak taring perak sudah dihancurkan oleh Tura sebelum kematiannya. Dia melakukan itu agar tidak ada orang yang menggunakannya untuk tujuan jahat."


Kami berdua terbelalak. Apa yang kami harus lakukan untuk mengalahkan Mitara yang sangat sakti itu? Mengandalkan Artapatu pun tidak mungkin, karena sudah seharian ini dia tidak juga muncul.


Kami jelas kaget sekaligus senang mendengar hal itu. Terutama aku yang lega karena berarti petualang di dalam buku ini tidak akan berlangsung lebih lama.


"Itu berita baiknya. Ada berita buruk pula yang harus aku sampaikan kepada kalian." Menclos hatiku mendengar perkataan putri Asaru. Kabar buruk, itu berarti akan ada halangan yang lebih besar yang harus kami hadapi. Oh sial! Seharusnya aku tahu itu. Bukankah di game petualangan juga kita harus bersusah payah menyelesaikan berbagai macam quest, sebelum melawan raja terakhir dan menamatkannya.

__ADS_1


"Batu lazarus awalnya berwarna putih. Namun, karena kebencian dan rasa iri pemilik pertamanya, batu itu menguat dan berubah warna menjadi hitam. Menghisap perasaan negatif. Saat dipegang oleh sang raja lalim, batu itu semakin banyak menghisap perasaan negatif hingga berubah menjadi berwarna hijau. Di awal kedatangannya pun, batu itu aku lihat masih berwarna hijau, sampai akhirnya setahun lalu permata lazarus berubah menjadi berwarna ungu. Awal dari serangan gencar Mitara untuk membunuhku. Tuan Artapatu mengatakan kalau kekuatan puncak permata lazarus hanya bisa dikalahkan oleh kekuatan sejati batu haswa yang lebih besar dari kekuatan yang membunuh si raja lalim."


"Lalu bagaimana kalau begitu? Apa mungkin kita bisa mengalahkannya?" ujar Kord.


"Tuan Artapatu hanya mengatakan kalau kita harus berlatih agar bisa menyatukan hati, pikiran, dan tekad dengan mereka berdua yang menjadi wadah haswa. Artinya, mungkin saja kita disuruh berlatih ekstra keras agar bisa bertarung bersama mereka. Ayo, Sam, kita lakukan." ajaknya sambil terus mengembangkan senyum.


Lewat beberapa menit kemudian, Putri Asaru menjelaskan tentang menu latihan yang harus dijalani. Ketat dan berat. Latihan neraka kalau bisa aku bilang. Konyolnya, dia menjelaskan semua itu sembil terus tersenyum lepas menatapku. Seperti tidak ada beban, padahal menu latihan itu juga berlaku untuknya.


Sumpah, baru kali ini aku melihat senyum enteng yang ceria itu menjadi sangat menyeramkan. Hei, orang gila macam apa yang bisa membicarakan hal semenyeramkan itu dengan wajah tersenyum?


"Jadi, karena aku sudah diberikan tanggung jawab oleh Tuan Artapatu, maka kalian harus mematuhi semua perintahku saat pelatihan. Mengerti?" tanya lembut yang menebarkan aura menyeramkan itu terpaksa aku amini. Disusul oleh gonggongan Woofy, dan kicauan Shege.

__ADS_1


__ADS_2