Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 22-1] Marabahaya Besar


__ADS_3

Jdar!


Benar saja seperti perkirakanku! Petir menyambar-nyambar di sekeliling kami. Persis seperti kejadian lalu saat aku bersama Woofy di puncak gunung.


Selanjutnya. Sesuai urutan dahulu. Muncul prajurit kadal seukuran manusia dewasa yang mengenakan pakaian tempur lengkap dengan senjatanya. Mengepung kami yang lemah tak berdaya, karena pertarungan sebelumnya. Menjadi mangsa empuk bagi mereka.


Putri Asaru makin erat memelukku. Mungkin berharap aku bisa melindunginya. Tetapi, apa yang harus aku lakukan?


"Aouw!" lolong Woofy menggetarkan seisi hutan.


Aku mengembangkan senyum lebar tanpa sadar. Bahagia karena jelmaan anjing kecil berbulu coklat itu masih dapat berdiri, walau gontai. Artinya, kami masih memiliki kesempatan lolos dari maut.


Wrush!


Angin kencang bertiup tak jauh dari kami. Sebuah putingbeliung berisi ratusan helai bulu burung merah, muncul begitu saja. Memporak-porandakan daerah sekitar, dan menyayat apa pun yang terkena helaian bulunya. Termasuk beberapa kadal yang berpusing di sana sebelum terpelanting kencang. Menghantam pohon dan batu hingga remuk, dengan badan dipenuhi luka sayatan menganga.


"Shege," ucap Putri Asaru riang.


Benar saja. Sosok gagah sang naga bersisik merah delima berdiri di sana, menggantikan pusaran angin ribut yang meluluhlantakkan. Penuh luka, tetapi tetap menguarkan aura ganas yang panas membara.


Peluang kami semakin besar untuk bertahan hidup. Dua makhluk ajaib raksasa hadir membantu. Pun, sejauh yang aku lihat, sosok kadal raksasa tidak ada di sini.


"Growl!" geram Shege. Menjadi penanda dimulainya pertarungan para hewan mistis.


Woofy menerjang dan menghantamkan cakarnya. Merobohkan barisan para siluman kadal, sebelum moncongnya menyauk lima ekor dari mereka sekaligus. Cairan hijau tersembur saat tubuh kelima reptil yang dilapisi baju zirah itu pecah dan koyak oleh taringnya.

__ADS_1


Aku penasaran. Apa Woofy tidak mual karena mulutnya dipenuhi oleh cairan amis. Kalau aku sih pasti akan langsung muntah. Tapi entahlah, bisa jadi indera pengecapnya berbeda dari manusia, dan dia merasa seperti sedang memakan kue mochi berisi saus alpukat. Yah, bisa jadi kan.


Di sisi lain, Shege pun menggila. Diporak-porandakannya kumpulan siluman kadal dengan tandukan kepala dan sapuan ekor. Menginjak-injak mereka yang berusaha menerjang. Namun, tidak sekalipun menyemburkan napas api. Padahal, dengan melakukannya, dia bisa dengan mudah membabat habis mereka semua dalam satu serangan. Bisa jadi karena ada kami di tengah medan pertarungan.


Aku takjub melihat pertarungan mereka melawan para siluman kadal. Walau dengan banyak luka parah sudah tertoreh di badan, keduanya tidak urung satu senti pun dalam menyerang maupun bertahan. Disambut tanpa gentar serbuan lawan yang berjumlah puluhan ekor. Meluapnya kembali kekuatan mereka berdua, Aku pikir juga pengaruh dari rusaknya pedang pendar ungu milik Arson. Kutukan yang tertanam di dalamnya turut musnah saat wadahnya lebur.


Seekor siluman kadal menerjang kami yang terkunci di tengah laga pertarungan. Dengan sigap Woofy melompat dan langsung meremukkannya. Shege pun mendekat, lalu menaungi kami di bawah dirinya dengan sayap yang dibentangkan. Sempurna! Kombinasi dua hewan mistis perkasa itu dalam menyerang dan bertahan. Membabat habis para siluman kadal hingga tidak bersisa. Hanya meninggalkan koyakan daging bersisik dan genangan cairan hijau berbau amis.


Shege membuka tirai sayap merahnya ketika pertarungan sengit itu berakhir. Woofy berjalan memutari sobat naganya satu kali, dengan mata awas menyisir sekitar. Memastikan kami benar-benar aman, sebelum meringkuk di sebelah Shege dengan napas terengah-engah.


Aku menghirup napas lega, walau sedikit terendus amis, lalu menghembuskannya panjang. Senang semua ini bisa berakhir tanpa kami harus terbunuh.


"Terima kasih, Sam." Putri Asaru memandangku dengan mata sayu dan senyum riang, yang melukiskan kelegaan. "Eh ... ini!"


Dengan satu hentakan kuat, Putri Asaru melepas pelukannya. Canggung beringsut menjauh dariku. Sesaat berpikir. Akhirnya sadar kenapa dia bersikap begitu. Dia malu, begitu pun aku. Kami terpisah berjarak tak terlalu jauh, namun berat untuk bersuara, apalagi saling bertukar pandang. Menunduk dalam di bawah naungan Shege.


Shege tidak mau kalah. Dia menekuk leher panjangnya ke bawah. Menyodorkan moncongnya ke arah sobat kecilnya. Putri Asaru terkikik pelan, lalu beralih mengelus kepala bersisik Shege. Woofy bersuara pelan mengepresikan kejengkelannya kepada Shege.


Aku tersenyum melihat persahabatan ketiganya. Jelas sekali mereka telah berteman lama.


Tunggu! Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya. Aku bangkit lalu mengarahkan pandangan ke tubuh tambun yang masih terbaring. Kord. Apakah kau masih hidup?


Aku berusaha berjalan secepat mungkin dalam kondisi lemah terhuyung, karena banyak kehilangan darah. Ingin selekasnya menghampiri sobat kental Sam demi memeriksa kondisinya. Berharap dia masih bisa bertahan.


Kakiku yang susah payah mengayun, menyentak tertahan secara otomatis, saat kedua hewan mistis, Woofy dan Shege, menggerung keras. Mereka dalam sepersekian detik telah memasang posisi waspada. Kuda-kuda siap tempur. Keempat kaki yang ditekukuk, tubuh direndahkan, dan kepala dengan seringai buas mendongak ke depan.

__ADS_1


Sepetik. Aku tahu kalau marabahaya yang akan datang ini, lebih besar dan angker dari yang sudah-sudah. Terdengar dari suara geraman Shege dan Woofy. Ada getar marah bercampur ketakutan di sana.


Apa sebenarnya yang membuat mereka seperti itu?


Angin kencang tiba-tiba berhembus dari delapan arah berbeda. Susul menyusul tanpa henti. Seakan-akan berusaha menahan kami agar tidak dapat melarikan diri.


Glegar!


Petir menyambar dari langit yang menggelap tersaput arakan awan mendung. Tidak hanya sekali, tetapi berulang kali, terus menerus. Sebuah fenomena alam yang ganjil, karena sambaran petir itu bermuara di tengah udara. Tepat di depan kami.


Bola ungu bermuatan listrik mengambang di depan kami. Sebuah plasma. Semakin besar seiring banyaknya sambaran petir bersarang di sana. Bergemeretak menusuk gendang telinga. Membuat ngilu dan merinding, sekaligus menguarkan aura menakutkan.


Jdar!


Satu sambaran kilat terbesar, menghujam langsung ke dalam bola plasma listrik berwarna ungu itu. Membuat daerah sekitar kami menjadi begitu terang. Seakan siang datang lebih cepat dari jadwal.


Satu kibasan angin kencang memaksaku--yang sedang bersedekap menutupi mata dengan sebelah lengan--untuk terhempas. Membawa aku dan Putri Asaru kembali ke tengah perlindungan Shege. Ke bawah tubuhnya. Di antara apitan sayap besarnya yang tadi turun menciptakan angin kencang.


Sekelebat. Bulu perak yang kusam melompat ke hadapan. Menutup rongga yang disisakan Shege, sekaligus menghalau pandangan kami dari bola listrik yang entah apa sebenarnya itu.


Semua terjadi begitu cepat. Dunia menjadi hening seketika. Suhu udara mendadak turun drastis hingga aku dan putri Asaru menggigil kedinginan. Untuk kemudian, mematikan indera perasa di kulit. Mata kami pun seperti ditutupi oleh kabut gelap yang terus memekat memusnahkan cahaya. Hingga akhirnya, oksigen di udara pun hilang. Membuat kami kesulitan bernapas. Sesak!


Siksaan gaib itu berlangsung singkat, namun sangat menyakitkan. Sampai di detik berikutnya ....


Jlegar!

__ADS_1


Suara ledakan membahana. Kegelapan pekat di pelupuk mata berubah menjadi sorotan terang cahaya menyilaukan. Angin berhembus menghajar sekujur tubuhku begitu keras. Dan sengatan panas menerjang melucuti tiap senti diriku dengan pecut berduri panas. Semua itu berlangsung cepat. Namun cukup membuat kesadaranku punah seketika.


Mati? Jika ya, akan bagaimana nasibku di dalam buku terkutuk ini?


__ADS_2