
Semilir angin laut menelusup lewat celah pori-pori. Membuat gigil, dan melambatkan laju aliran darah menuju otak. Menurunkan fokus diri untuk berpikir, begitupun disaat harus ambil tindakan.
Begitu mungkin bagi orang kebanyakan. Akan tetapi, yang aku baru sadari, ternyata tubuh jumbo berbulu ini memiliki pabrik hormon adrenalin yang besar--tahu, kan, fungsinya? Kalau tidak, berarti kalian kalah dariku, yang masih ingat sewaktu persentasi Fiona di kelas sains.
Tubuh ini memproduksinya dalam jumlah yang tidak tanggung-tanggung, dan bisa begitu saja dikeluarkan, seakan tanpa ada batasan. Terutama di saat genting seperti sekarang.
Membuatku begitu fokus, walau jantung berdebar kencang. Menguatkan setiap gempal ototku, dan membuat gerak tubuh ini begitu mudah dilakukan.
"Kau yang memintanya, Margo!" Teriakan Juan, disusul ayunan mengangkat senjata laras panjang di tangannya.
Aku bergegas menghindar ke arah kanan, tepat sebelum suara ledakan terdengar.
Aku sudah hafal betul kebiasaan Juan. Suka mengarahkan tembakkan ke dada kiri, tempat jantung terpasang, sebagai serangan pertamanya.
Sudah terbaca, dan walhasil, serangan mautnya gagal dilakukan.
Aku manfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya. Menekan palatuk, yang kemudian langsung aku jentik kuat menggunakan ibu jari tangan kanan. Tiga kali hentakan menyulut mesiu, kulakukan cepat berirama.
Roboh tiga orang terkena timah panas senjataku. Tidak parah, tetapi cukup membuat mereka menyerah, untuk kembali mengangkat senjata.
Tembakan meletus, saat aku baru mau memulai meluncurkan tembakan keempat. Rasa panas bercampur perih tertoreh di betis kanan. Tembakan Juan membeset di sana.
Tidak kena telak memang, tetapi cukup membuatku kewalahan. Aku terpincang-pincang berlari, untuk sampai ke balik barisan tong kayu, di pinggir dermaga.
Level kesulitan bertambah, karena selanjutnya, kedua belas anak buah Juan menyusul melepaskan tembakkan. Aku melompat dengan tolakan awal dipaksakan, untuk dapat sampai ke tempat perlindungan.
Sial! Nyeri di kaki berdenyut keras. Ditambah lagi, dua dari belasan peluru lawan, sukses besar mengenaiku. Satu menyerempet paha, dan lainnya menembus lengan atas. Serupa posisi keduanya mengenai bagian kiri anggota tubuh.
Aku terengah-engah. Keringat dingin bercucuran. Semakin cepat tenagaku terkuras, karena akumulasi kelelahan, dan kesakitan.
Aku mual saat melihat darah mengalir dari luka di paha. Memang pelurunya tidak bersarang di sana, karena timah panas itu hanya lewat menerobos saja, sembari mencungkil sekerat daging sebagai korbannya.
Jujur. walaupun sakit, tetapi lebih baik dari pada merasakan timbal itu menerobos ke dalam badan. Seperti di lengan yang bolong ditembus peluru lawan.
Tak ada banyak waktu bersantai. Mereka sudah mendekat dengan senjata dikokang. Perlahan, tetapi pasti memendekkan jarak kepungan.
Sial! Aku sepertinya salah perhitungan.
Rencanaku mengikuti taktik untuk mengalahkan bos akhir di game "Lone Samurai in Evil World", jelas gagal total. Padahal aku pikir, strategi dengan mengalahkan para anak buahnya dulu, sebelum membabat bosnya, akan mendapatkan hasil memuaskan.
Sayang seribu kali sayang. Cara samurai ronin melawan bos berjari katana di game, ternyata susah untuk diaplikasikan ke pertempuranku ini.
Aku lupa kalau kalau para anak buah Juan, memiliki keahlian menembak yang mumpuni, karena dibimbing langsung oleh si tulang pipi menonjol itu. Dari jarak lumayan jauh ini, dengan cahaya redup lampu jalanan, guna membantu pandangan saat membidik, tentu mudah bagi mereka mengunci sasaran.
Aku lepas topi dari kepala. Menyorongkannya melewati tepi atas tong kayu.
Seperti perkiraan Margo, topi itu dihujani tembakan peluru. Entah apa jadinya kalau kepalaku ada di sana. Mungkin otak ini akan ditambahi fitur ventilasi, oleh para penembak terlatih.
__ADS_1
Masih mengikuti insting Margo. Aku melongokkan kepala demi dapat melihat keadaan. Dari sisi samping barang sebentar saja.
Buas senapan menyalak. Melepas desingan peluru, yang nyaris melubangi kepala. Dari para petugas, yang memang aku tahu, beberapa masih menyimpan jatah tembakannya.
Aku sengaja melakukannya, demi dapat memastikan keadaan di balik tempat perlindungan ini. Meski hanya sekilas, sudah cukup untuk Margo mengingat posisi mereka. Tiga peluru yang tersisa, aku yakin tidak akan kurang untuk membabat semua petugas.
Ini sebenarnya cara yang sama seperti di pertarungan dahulu. Hanya sedikit diberi modifikasi kecil dalam melakukannya. Kalau berhasil, aku akan berterima kasih kepada Yenz. Tentu setelah aku puas menaboknya sepenuh hati.
Aku menarik napas panjang, demi menahan rasa sakit saat bergeser, dengan diikuti gerakan menekuk kedua kaki--sama-sama cidera--menuju ke sisi. Perkara mudah yang menjadi penuh derita karena luka.
Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kencang-kencang. Dalam hati mulai berhitung, dari satu sampai sepuluh, dengan ketukan irama yang statis. Usaha menyesuaikan jalannya waktu, demi mendapat momen yang tepat untuk melakukan eksekusi.
Sembilan!
Di titik itu, langsung aku lempar topi ke atas. Disusul merentangkan tangan kanan secepatnya, melewati batas barisan tong kayu, demi dapat melepaskan tembakan asal-asalan. Semata bertujuan, agar percikan di moncong revolver ini bisa kelihatan.
Pancinganku berhasil. Lagi-lagi mereka tertipu. Melepaskan tembakan ke target kosong, sementara aku bergegas menyempurnakan ancang-ancang.
Penuh kesakitan, aku hentak badan ke sisi kanan tong. Membiarkan tubuh besar Margo mendarat di solidnya lantai beton.
Adrenalinku kembali terpacu. Rasa sakit langsung mereda, berikut fokus yang melonjak cepat. Pistol yang sudah siap untuk dutembak, aku arahkan ke sasaran kecil yang menggantung terkait.
Yakin bercampur harap menyatu, bersama ledakan yang mendorong peluru meluncur tanpa ragu.
Butir logam itu, menghantam rantai petromak yang tergantung. Membuatnya jatuh, dan memecahkan kaca pelindung suluh berapinya. Sesuai rencana!
Suara letusan menggema sebanyak dua kali. Berbarengan, dari dua senjata berbeda, dan menuju arah yang berlawanan. Telak keduanya mengenai sasaran.
Satu memelantingkan, dan memecahkan tabung petromak, hingga isinya berhamburan, lalu menyulut kobaran api membara. Sementara, peluru lain menembus dada kiri, yang tepat ada di bawah pundakku.
Hal pertama yang aku rasakan, setelah sedikit tersentak oleh terjangan timah adalah, sensasi panas beserta basah bercampur bersamaan.
Aku tahu itu aliran darah, dari lubang yang ditembus peluru senapan.
Belum ada rasa sakit, tetapi hatiku mulai genap diliputi ketakutan.
Apakah peluru itu mengenai jantung? Kalau iya kenapa aku belum mati? Apakah menunggu darahku terkuras habis?
Belum tuntas rasa takut aku hayati. Di depan sana, dengan latar kacau dari kobaran api berlarian, bersama para petugas lain yang berusaha menyelamatkan rekannya, Juan telah selesai mengokang senjata. Mengerahkannya kepadaku. Berusaha menyelesaikan pertempuran malam hari di pelabuhan sepi ini.
Pikiranku kosong, dan lagi-lagi aku masuk ke dunia tenang adrenalin, yang tanpa kesakitan. Membuat diri dapat mengambil keputusan singkat, untuk segera menggulingkan badan. Berputar menyamping, sampai akhirnya berada kembali di balik tong.
Peluru itu lolos dari target. Aku selamat, tetapi mungkin hanya sesaat. Langkah kaki itu semakin mendekat, bersama dengan kokangan senapan terdengar lantang.
Aku berbaring dengan napas terengah-engah, menatap cemas ke atas tong kayu berat, yang tak tahu berisi apa.
Semua berjalan datar saja, sampai sedetik lewat, setelah aku memasukkan revolver ke dalam kantungnya di pinggang. Rasa sakit, pedih, nyeri, dan panas begitu saja muncul menggedor pusat syaraf.
__ADS_1
Aku ingin berteriak keras, tapi sadar kalau itu akan berpengaruh buruk. Juan pasti akan tahu kalau aku kesakitan, dan kemudian bergegas menghampiri, karena sadar buruannya sudah tidak lagi berdaya.
Sialan! Kenapa harus sekarang efek adrenalin itu habis?
Seandainya tadi aku menerima tawarannya, untuk menyerah secara damai. Bisa jadi suatu saat, diriku punya kesempatan kabur dari penjara. Memeraktekkan cara-cara cerdas di film Prison Back.
Tapi sekarang, nasi sudah jadi bubur, tidak mungkin lagi dijadikan lontong--begitu kira-kira pepatah yang pernah aku baca di grup meme Asia. Segala yang sudah terjadi, tidak mungkin diulang lagi.
Yah, kecuali aku masuk ke dunia ini, setelah berbelanja makanan di konbini (toserba).
Tak ada lagi jalan untuk lolos dari kematian. Hanya harus hadapi, walau hasilnya sudah jelas akan bagaimana nanti. Setidaknya kalaupun mati, aku gugur sebagai lelaki jantan yang sejati.
Sudah kadung sengaja masuk ke pertempuran. Kalau begini ya teruskan saja sampai akhir, apa pun hasilnya. Memang kami berdua sama-sama penakut, tetapi bukankah lebih baik jadi pengecut yang berjuang, dari pada hanya bisa berpasrah diri.
Sambil menahan sakit yang merajam tanpa ampun. Aku gerakkan kedua tangan, demi dapat meraih si bongsor revolver magnum. Keringat dingin menderas, saat coba kuangkat senjata berat ini.
Kuacungkan moncong senjata melewati pucuk tong. Dalam hati aku berteriak, "Cepatlah muncul, Sialan! Tanganku tidak akan kuat berlama-lama teracung begini!"
Jeritan benakku mungkin terdengar olehnya. Pria tirus bertulang pipi menonjol itu muncul dari balik tong, dengan popor senjata menempel di pundak kanan, dan telunjuk mengait yang siap menekan pelatuk.
"Menyedihkan. Turunkan senjatamu itu, dan akan aku tangkap kau tanpa kekerasan," kata Juan, tanpa melepas bidikan.
"Kenapa aku ... harus menurutimu? Kau saja yang pergi dari sini, atau aku lubangi kepalamu!" ancamku, dengan napas terengah-engah.
Juan terkikik, seakan apa yang kukatakan hanya sebuah lawakan.
"Kau, yang bahkan mual saat melihat ayam disembelih? Jangan bercanda. Lagi pula, lihat kondisimu. Apa kau pikir bisa menembakkan senjata itu, dengan tangan lemah yang tak berhenti gemetaran?"
Tidak salah apa yang dikatakannya. Bukan hanya bobotnya yang berat. Revolver magnum juga memiliki recoil--hentakan senjata saat menembak--yang kuat. Dengan kondisi seperti ini, sudah pasti aku hampir tidak mampu melakukan tembakan. Kalaupun dipaksakan, maka sangat besar kemungkinan tembakkanku meleset jauh dari sasaran.
Semua masih ditambah lagi, dengan resiko memperparah luka di dada kiri. Itu sudah pasti terjadi, karena disebabkan efek hentakannya nanti.
"Ya-yakin sekali kau. Kita lakukan seperti dulu. Itu pun kalau kau berani."
Juan menggeram. "Baiklah! Tapi jangan menyesal jika kau sudah sampai di neraka nanti!" Dia mengeratkan posisi senjatanya. "Tiga hitungan! Dimulai dari kau!"
Ah, sial! Ini sih bukan mencari selamat, tetapi hanya memperpanjang sedikit masa hidupku yang sudah kritis.
"Satu ...." Margo mulai menghitung walau aku enggan.
"Dua!" susul Juan, yang sudah menggerakkan telunjuknya menuju hadapan pelatuk.
Tidak ada jalan lain kan? Apa yang bisa kulakukan lagi sekarang? Hanya berharap jariku cukup kuat menekan pelatuk, menembaknya lebih dahulu, dan bisa tepat mengenai lawan dengan sebutir peluru, begitu usai hitungan tiga yang harus kuucapkan itu.
Denting detik yang seakan tanpa ampun, masih terus bergerak. Menyibak plot penentu cerita, dengan sebuah ledakan membahana.
Entah dari mana.
__ADS_1