Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 36-1] Siapa Tuanmu Sebenarnya!?


__ADS_3

Latihan yang kami lakukan berjalan keras dan penuh perjuangan. Fisik dan mental kami ditempa gila-gilaan, demi memenuhi target pencapaian, dengan batas waktu yang singkat.


Dari latihan itu pula aku akhirnya mengetahui rahasia gelap Putri Asaru. Ternyata, di balik kecantikan dan keanggunannya, dia menyimpan jiwa barbar yang berkobar. Kata barbar di sini bukan metafora yang melebih-lebihkan, tetapi benar-benar barbar tanpa belas kasihan.


Semua itu demi mematuhi titah sang tuan Petapa Agung Artapatu. Dia menggemblengku tanpa ampun. Disuruh berlari lima puluh putaran, angkat beban menggunakan batu, menahan nafas di dalam kolam, dan lain sebagainya. Kami harus melakukannya rutin dua kali sehari.


Hal itu diperparah lagi dengan harus menunggangi Woofy dalam mode tempur, dan bertahan di punggungnya saat melakukan manuver gila-gilaan. Lebih gondok lagi, karena saat pelatihan itu Woofy hanya mau mendengarkan perintah putri Asaru.


Hei, siapa sebenarnya tuanmu!? Aku merutuk kesal dalam hati.


Namun, aku tidak bisa marah kepadanya, karena dia pun melakukan pelatihan yang sama denganku. Malah mungkin lebih ekstrim lagi. Bayangkan, kau harus bisa bertahan di punggung naga terbang yang dipenuhi sisik licin. Hanya berpegangan dengan seutas tali saat bermanuver ke segala macam arah di udara.

__ADS_1


Jelas sangat sulit. Bahkan mungkin, pengalamanku dan Kord saat dibawa terbang di atas kastil, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan Putri Asaru. Sering kali dia hampir terjatuh dari punggung Shege.


Tangannya yang kecil dan lentik pun kini dibebat menggunakan kain. Disebabkan, banyak luka dan lecet tertoreh di sana. Meskipun begitu, dia tidak menyerah barang sedikitpun. Terus berusaha menyelesaikan pelatihan yang diberikan Artapatu. Wanita baja. Kalau melihatnya mungkin ibu akan menjulukinya seperti itu.


Sisi positifnya, aku jadi termotivasi karenanya.


Itulah yang menjadi aktifitas kami sepanjang hari. Tapi, jangan tanyakan soal Kord.


Lalu kenapa waktu itu Artapatu tidak memberikannya padaku!?


Ayah pernah berkata, "Sebagus apa pun perkasa, tidak akan ada gunanya jika bukan dipegang oleh yang ahli." Dan hari ini hal itu terbukti.

__ADS_1


Kord berlatih mengayunkan pedang, melentingkan panah, melemparkan lembing, dan lain sebagainya. Tetapi, semua itu dia lakukan hanya sekilas lalu dan tidak ada satu pun yang benar. Pedang terlepas dari genggaman saat diayunkan, tombak yang hanya terlempar lima meter, dan anak panah yang meluncur jauh dari sasaran.


Konyolnya, saat kami sedang beristirahat, dengan percaya dirinya dia berkata, "Kalian tenang saja. Seandainya nanti kalian terdesak, aku akan membantu. Keahlianku bertarung sudah meningkat pesat. Aku yakin setara dengan prajurit terhebat di kerajaan."


Putri Asaru terkikik mendengar ocehan Kord, sementara aku berhasrat menimpuknya dengan tameng bulat yang dia geletakan sembarangan. Bagaimana tidak kesal coba. Anak panah yang tadi dia lepaskan hampir saja mengenaiku. Meluncur menyasar aku yang mati-matian berpegang erat agar tidak terjatuh dari punggung Woofy, sewaktu sedang berlari di dinding. Untung Woofy sigap mengibaskan ekornya demi menghalau panah nyasar tersebut.


Sepuluh hari kami terus berada di dalam goa besar berbentuk kubah. Kediaman Artapatu. Sepuh sakti yang tidak ada kejelasan kabarnya, bahkan setelah akhirnya kami meninggalkan goa.


Delapan hari yang pesimis. Latihan rutin di ruang kecil untuk ukuran dua makhluk mistis raksasa. Tanpa boleh menyerang, dan dipaksa terus bermanuver. Bersama kami penunggangnya, yang bertahan mati-matian agar tidak terjatuh. Latihan yang aku pikir tidak ada manfaatnya.


Bukankah mereka masih bisa bertarung tanpa harus membawa kami di punggung, yang kalau dipikir-pikir, justru hanya menjadi beban untuk keduanya.

__ADS_1


Begitu pikirku sampai di dua hari terakhir sebelum keberangkatan. Ya, momen menakjubkan di mana aku merasa jalan untuk menyelesaikan cerita di dalam buku terkutuk ini terbuka lebar.


__ADS_2