Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 30-2] Penentuan Nasib Margo


__ADS_3

Kalian masih mau melanjutkan cerita ini? Untuk apa? Menertawaiku karena kebodohan yang telah aku perbuat?


Sialan memang kalian semua!


Aku, Yenz, dan Leo, memang berhasil lolos dari maut. Manika tanpa daya bertekuk lutut di hadapanku. Bukan karena pukulan, atau tembakan yang lebih cepat dari bayangan, tetapi disebabkan rayuan maut maha sakti mandragunaku.


Ya, tidak salah. Manika Lethova, adalah nama gadis cantik bermata sayu tersebut.


Fakta mengejutkan, yang seharusnya sudah dapat aku duga sejak awal. Bahwa gadis berkepang itu adalah cucu dari kepala suku, yang sangat disayangi dan dimanja. Bukan seperti dugaan awalku, sewaktu bentrokan dengannya baru dimulai.


Fakta tadi, menjadi satu poin paling penting, yang membuatku tidak bisa mundur dari acara lamaran by accident ini!


Biar lebih jelas, kita mundur ke beberapa saat lalu, sewaktu masih berada di hutan.


Tidak lama dari kekagetan dramatis kami bertiga, Kapten Sando datang bersama beberapa warga desa.


Posisi kami kembali terdesak, karena mereka langsung memasang kuda-kuda untuk menyerang, sewaktu melihat keberadaan aku, Leo, dan si Biang Onar Yenz, di daerah terlarang untuk orang asing itu.


Sekejap saja, Manika melesat dengan golok di tangan. Menempelkan bilah tajamnya di leher Sando, yang mempunyai tinggi badan dua kali darinya.


"Turunkan senjata kalian, dari menyasar calon suamiku! Atau, aku jamin akan ada kolam darah membanjiri hutan ini." Tegas Manika berkata.


Ucapan Manika jelas membuat mereka terkejut--termasuk aku sebenarnya. Lebih-lebih lagi Tetua Perota, yang baru saja menyusul dengan dituntun oleh seorang warga desa, berpostur tegap dan berotot besar. Macam anggota tetap gym.


Terkejut di sini, bukan dalam arti si kakek bungkuk itu mencak-mencak marah dan memaki aku. Melarang keras, juga tidak merestui hubungan kami berdua, lalu mengancam akan mengeksekusi pancung, jika aku tidak pergi.


Padahal itu yang aku harapkan!


Setelah memastikan soal perkataan Manika sebelumnya, Tetua Perota terdiam sesaat. Khawatir saja aku kalau kakek itu terkena serangan jantung, hingga mati berdiri.

__ADS_1


Akan tetapi, entah dapat kekuatan dari mana, Kakek tua itu melepaskan tongkatnya, lalu berjingkrak-jingkrak gembira. Macam bocah yang habis dibelikan mainan baru idamannya.


Dari sana aku baru mengetahui tentang adat budaya di suku ini. Mereka memiliki cara yang unik untuk menyelenggarakan acara lamaran.


Bukan dengan si pria bersimpuh di hadapan sang pujaan hati, lalu menyodorkan selingkaran cincin emas, sambil berkata, "Mau kah kau menikah denganku?"


Sama sekali tidak seperti itu!


Di suku ini, jika ada cowok yang menyukai seorang cewek, maka dia harus melakukan adu tanding dengan sang pujaan hati, setelah menyatakan niatnya kepada keluarga si gadis.


Pertanding itu berakhir gagal, jika si cowok kalah melawan si cewek di adu tanding. Tetapi, jika dia bisa menjatuhkan, lalu menyelipkan bunga di telinga si gadis, maka diputuskan kalau mereka akan segera menikah.


Sebenarnya hal itu tidak terlalu jadi soal. Apalagi jika pasangan itu sudah saling suka. Mereka hanya akan bergelut sebentar, lalu si dara berpura-pura kalah, agar cowok idamannya bisa menyampirkan bunga di telinga.


Hal itu menjadi masalah besar bagi Tetua Perota, saat Manika sudah memasuki usia dewasa, dan cukup umur untuk menikah--delapan belas tahun menurut ukuran suku Tastal.


Banyak memang lelaki yang mendaftar, untuk melakukan ritual pelamaran unik tersebut. Akan tetapi, sebanyak itu pula lah, para calon yang menyerah, tumbang di bawah keganasan Manika.


Lebih runyam lagi, tidak ada satu pun lelaki yang mampu memikat hatinya. Bahkan, setelah umur Manika menginjak dua puluh tahun, tak seorang pun laki-laki yang berani untuk melamarnya. Bukan apa-apa, mereka semua takut duluan menghadapinya.


Kalau dipikir secara akal sehat, siapa pula cowok yang berani bergelut melawan cewek, yang setiap hari latihan menghajar pohon besar. Membuat batang tebal tanaman itu coak dihajar olehnya, hingga akhirnya tumbang beberapa pekan kemudian.


Begitulah sekelumit cerita, yang aku dapatkan dari beberapa penduduk dan kru kapal, saat kami bertiga disuruh menunggu di dalam rumah panggung.


"Selamat untukmu, Marg. Aku tidak sangka kau bisa juga mendapatkan jodoh." Aku melotot menatap Yenz, yang baru saja selesai diperban.


Dasar tidak punya otak! Aku terjebak dalam masalah ini, dikarenakan ulahnya, dan dia merasa tidak bersalah!


Bukan aku tidak suka dengan Manika. Dia memang tipe cewek idamanku, tetapi tidak begini yang aku rencanakan sejak awal.

__ADS_1


Paling tidak, adakanlah sedikit sesi pacaran, untuk kami bisa saling mengenal satu sama lain lebih jauh.


Menikah! Itu adalah langkah yang besar. Jauh lebih besar dari pada yang dilakukan Neil Amrstrong!


Pernikahan, adalah tentang menjalani kehidupan yang baru, sementara aku masih empat belas tahun! Belum siap sama sekali melakukannya! Masih ada cita-cita dan impian yang ingin aku raih. Jadi juara turnamen game Dopa misalnya.


Bukan soal Margo. Dia sih om-om jomblo tulen berusia tiga puluh enam tahun, yang memang sudah seharusnya menikah. Tetapi, ini tentang aku. Si imut Zacky, yang belum lulus dari Sekolah Menengah Pertama!


Yah ... aku sih tidak masalah, lah, kalau Margo menikah dengan gadis, yang terpaut umur sebelas tahun. Lebih dari itu pun tidak masalah, asal tanggung sendiri resikonya, kalau nanti EpBiAi datang menggerebek.


Jujur, dari lubuk hati terdalam, aku senang dengan pertunangan Margo dan Manika. Masalahnya, jika sampai pernikahan terjadi, lalu aku tidak bisa menyelesaikan misi yang diberikan, bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini!?


Pertanyaan itu terus aku pikirkan, sampai Tetua Perota keluar dari kamarnya yang ada di ujung ruangan. Dituntun Kapten Sando, yang terlihat sedikit kepayahan mengimbangi laju langkah orang tua sepuh itu.


Jelaslah. Ukuran tubuh mereka berbeda.


Perlu waktu hampir sekitar tiga menitan, untuk mereka sampai di hadapan kami yang sudah kesemutan duduk bersila, di ujung lain ruang. Dikelilingi para kru kapal, dan penduduk lelaki, untuk memastikan kami tidak dapat melarikan diri lagi.


Mustahil sekali kami dapat melakukannya, karena senjataku dan barang lainnya yang dianggap berbahaya, disita oleh mereka.


Tetapi, tidak untuk tas milik Yenz, yang dengan rayuanku, Malika akhirnya dengan rela hati meminta kepada kakeknya, agar tas itu tetap di tangan Yenz. Tentu setelah peledak yang tersimpan, diserahkan kepada penduduk desa.


Aku meminta hal itu, semata agar Yenz tidak berbuat ulah lebih jauh lagi, karena di tasnya tersimpan kotak ajaib yang sangat berharga baginya. Aku yakin kalau sampai direbut, dia bisa saja nekat membombardir seluruh isi desa ini, untuk mendapatkannya kembali.


Suara berdehem terdengar dari mulut sang pimpinan desa. Membuat seluruh mata dan perhatian, tertuju kepadanya.


Dari sinilah momen menentukan bagi hidup Margo--dan juga aku tentunya--akan segera dimulai. Entah akan bagaimana ujung dari pembicaraan ini. Aku sendiri tidak mau banyak berharap, karena bimbang dalam menentukan sikap.


Jika memang harus menikahi Malika, mungkinkah misiku untuk mencari kebebasan dan kebenaran untuk Margo, sudah bisa dinyatakan selesai?

__ADS_1


__ADS_2