Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 31-1] Jangan Remehkan Seorang Wanita


__ADS_3

Drak!


Baru saja keduanya hendak memasrahkan diri untuk mati. Tanpa diduga, seekor kadal raksasa yang di ujung kepalanya terdapat cula, menerobos masuk gelanggang pertarungan. Ditanduknya si monster yang tengah lengah menikmati kemenangan, hingga terseret jauh. Menghantam tembok yang kemudian hancur berkeping-keping. Membawanya ke ruang lain, jauh dari sana.


"Telanlah ini! Mau kau rasakan pait bagaimanapun juga, jangan pernah muntahkan!" perintah Mirala yang entah muncul dari mana. Menyuapi mereka dengan benda bulat kecil berwarna coklat. Keras seperti manik-manik.


Sepahit-pahitnya jamu segala penyakit racikan ibu--terbuat dari gulma arang yang tumbuh di tepi sungai dekat lembah, yang dibuat jadi buntalan bubur--benda kecil yang langsung meleleh di mulut saat tercampur air liur itu, sepuluh kali terasa lebih pahit. Begitu pahit, sampai mereka berpikir kalau rasa jamu buatan ibu malah terasa seperti permen manis jika dibandingkan pil pemberian Mirala. Meskipun begitu, dengan sekuat tenaga mereka bertahan untuk tidak memuntahkannya.


Siksaan di lidah itu berlangsung beberapa detik, sebelum cairan lelehan obat itu menguap. Meninggalkan rasa pahit yang mereka pikir akan bertahan lama. Namun, seketika itu pula ada energi besar yang melonjak di dalam tubuh mereka. Keduanya bangkit dengan posisi siaga, siap kembali bertarung.


"Terima kasih atas obat yang kau berikan," ucap Pata dengan senyum terkembang lebar.


"Seharusnya sejak tadi kau datang dan memberikannya kepada kami," ketus Tura.

__ADS_1


Mirala menghela napas. "Pertama, aku belum lama ini sadarkan diri. Dan kau tahu, yang pertama kali aku lakukan adalah mencari cara menyelamatkan Pata dan dirimu, saat melihat kalian kewalahan menghadapi si monster jelek itu!" cecarnya dengan sorot mata tajam. Menunjuk langsung wajah Tura.


"Kedua. Yang aku berikan kepada kalian bukanlah obat. Itu adalah racun berserk yang bisa memberikan tenaga besar kepada pemakannya, dengan bayaran menyerap energi kehidupanmu."


Kedua pria itu terperangah.


"Wanita sialan! Jadi memang benar kau mau membunuh kami!" Merah muka Tura dibakar emosi.


"Hei, bodoh! Gunakan otakmu! Tanpa aku berikan pil itu pun kau akan mati dibunuh si monster. Apa gunanya jika memang itu tujuanku? Dosis yang kuberikan kepada kalian sudah aku kurangi. Tidak berbahaya. Efek sampingnya hanya akan membuat kalian lemas dan tertidur selama seminggu penuh. Mengerti kan?"


Mirala menoleh. Sorot matanya seketika langsung berubah teduh dan lembut. "Sampai rasa pahit di mulutmu menghilang, Sayang."


Tura mengutuk sikap mengesalkan Mirala di dalam hati. Ingin dia memakinya saat itu juga, tetapi sebelum terlaksana, mereka dikejutkan oleh debuman keras. Jauh di seberang ruangan.

__ADS_1


Sosok kadal raksasa dari sihir pemanggilan Mirala, teronggok setelah dilempar, dengan hanya menyisakan setengah tubuh bagian belakang. Tanpa melihatnya langsung pun, mereka tahu kalau binatang sihir itu telah menjadi santapan si raja lalim dalam wujud monsternya.


Derap pelan menghantak dari langkah sang monster, menciptakan rentatan gempa kecil yang terus berulang. Getaran yang turut pula membawa pekatnya nafsu membunuh. Semakin dekat menghampiri aula besar, tempat sedari tadi mereka berada.


Atmosfir ruangan berubah seketika begitu sosok itu sudah terlihat memasuki aula. Masih sama wujudnya seperti di awal tadi dia berganti sosok. Namun, dari gerakan dan sikapnya yang lebih tenang, sudah jelas kalau si raja lalim sudah mulai mendapatkan kembali kesadarannya sebagai manusia.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Kak?" tanya Pata. Napasnya terpompa tidak beraturan.


"Aku yang seharusnya bertanya kepadamu. Bukankah kau yang sering kali memberikan ide jenius saat kita sedang berada di kondisi terdesak?" Tura tidak kalah gemetarannya saat berkata.


"Entahlah. Pikiranku buntu. Melawannya sekuat tenaga seperti tadi dan berharap ada sedikit keajaiban. Hanya ide itu yang bisa aku berikan." Dia putus asa.


Di tengah kebingungan itu, Mirala berdecap kesal. "Hei, kalian para pria! Hilangkan kebiasaan buruk dengan menganggap wanita tidak bisa memberikan jalan keluar, atas masalah yang kalian hadapi! Lupa kalau dari tadi aku ada di sini?" protesnya.

__ADS_1


Pata dan Tura menoleh ke arah Mirala. Merasa menemukan secercah harapan yang sebelumnya hampa. Yakin dan sadar kalau mungkin gadis misterius itu benar memiliki cara untuk mengalahkan si monster lalim.


__ADS_2