
Sang ratu penyihir terbang dengan kecepatan tinggi menuju kubah. Menderu, memecah angin yang menghalanginya, hingga menimbulkan suara bising menyakitkan gendang telinga. Menghampiri kami yang dicekam ketakutan. Sekedipan mata, dia telah sampai, lalu mendarat di samping tubuh Arson.
Wush!
Perwujudan siluman kadal itu terangkat dengan satu kibasan tangan. Mengambang di hadapan Mitara. Kemudian, wanita bermata tajam tersebut membuka telapak tangannya yang teracung. Selarik cahaya ungu menerobos keluar dari dada Arson. Lubang bekas lukanya.
Jerit kesakitan membahana. Terasa begitu menyayat hati, walau itu keluar dari mulut si Bangsawan Busuk Arson. Entah apa yang tengah terjadi kepada dirinya. Namun, aku yakin, dirinya tidak sedang disembuhkan. Seperti dugaan awalku tadi.
Sosok kadal di dirinya perlahan menghilang. Sisik-sisik di sekujur badan Arson berai, menjadi titik-titik yang tersisap ke dalam pendar cahaya di telapak tangan Mitara.
Tubuhnya mengecil, ekor dan siripnya luruh, hingga yang paling menakutkan adalah saat mata kanannya kembali ke wujud normal. Di sana, terselip daging busuk bernanah tanpa kelopak mata menutupi.
"Mo-hon ... am-pun ... am-pu-ni ...." Arson memohon dengan suara mencicit, seperti tercekik.
"Ini sudah perjanjian kita. Kau kuberikan kekuatan dan kejayaan. Sebagai gantinya, dirimu akan menjalankan tugas yang kuberikan. Tetapi, di saat kau gagal, maka dirimu akan menjadi makanan untuk menggenapi kekuatanku!"
Baru kali ini aku benar-benar mendengar suara Mitara. Begitu dingin dan berat, seakan-akan kau mendengarnya dari dalam lubang gelap yang teramat dalam.
"Da-rah ... ki-ki-ta ... ta-tapi ...."
"Apa lagi? Sudah dua kali kau kuberi kelonggaran, karena dirimu adalah cucu buyut dari adikku, yang dilarikan oleh pelayan ibu saat si Bang*sat Tura menyerang. Tetapi cukup, yang tersisa darimu hanyalah nyawa dan kebencian untuk kulahap!"
Aku tersentak mendengar fakta itu. Potongan terakhir dari cerita Artapatu yang sengaja dia sembunyikan. Tragis.
"Ka-kau ... tap-ta-tapi ... aku yang ... membebaskanmu!" jerit Arson dengan segenap kekuatannya yang tersisa.
"Hahaha. Kau sendiri yang membebaskanku, karena mau lepas dari penderitaan dan kesengsaraan hidupmu yang menyedihkan! Dengar! Dibandingkan kehidupan gelandanganmu di jalanan, yang masih bisa menyantap sisa makanan bersama anjing kurap, kehidupanku yang terkurung di tanah kematian bersama Dav, sang pemegang lazarus pertama, jauh lebih buruk dan menakutkan!" Mitara mendesis dengan mata yang berkilat nanar. "Hentikan sikap cengengmu itu! Berbanggalah, karena kau akan menjadi bagian kekuatanku. Sang keturunan langsung dua raja hebat penakluk benua Suno. Membalaskan dendam yang mengakar berabad-abad, dengan membumihanguskan daratan ini, beserta manusia yang menjadi penghuninya. Mengembalikan benua ini ke awal mula, di mana para monster merajai setiap sudutnya."
Bruk!
Tubuh tanpa tangan dan mata kanan itu jatuh teronggok di tanah. Tersisa tubuh kurus yang hanya berisi tulang berbalut kulit, di dalam baju perang yang setengah rusak. Sungguh kematian yang menyedihkan. Bahkan untuk dirinya.
Tidak ada waktu untuk berduka kepada Arson--yah, walau pasti berat melakukannya--karena Mitara telah mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Dari pengalaman sebelumnya, aku tahu dia akan mengeluarkan sihir yang dahsyat. Sasarannya? Apa lagi kalau bukan kubah perlindungan kami ini!
__ADS_1
"Semua! Mengungsi ke dalam istana!" teriakku sambil berusaha menaiki Shege secepat mungkin.
"Pahlawan! Bagaimana dengan Bos Mog?" tanya salah seorang yang merupakan begundal bawahan pria pemberani tersebut. Tepat di saat kami hendak membumbung.
Sialan! Kenapa bisa lupa!
"Woofy!" Dia bergerak mendengar perintahku. Menjulurkan ekornya melewati kubah demi meraih tubuh Mog. Mengopernya kepada begundal yang tadi berteriak kepadaku. Untung masih sempat.
"Mitara!" Teriakku, begitu membumbung keluar kubah pelindung.
Panah api meluncur dari moncong Shege. Menerjang langsung Mitara yang sedang khusyu membaca mantra. Meledaklah daerah sekitar dengan serangan beruntun. Kadal di sekitarnya pun luluhlantak. Hancur berkeping-keping dan robek tak berbentuk.
Rentetan serangan yang aku yakin mampu menghancurkan tank terkuat sekalipun.
Namun, terselip satu ganjalan di hati.
Ujung mataku menatap gumpalan awan hitam, yang belum lama ini sedikit mereda. Akan tetapi, selentingan waktu melesat, langit kelam mulai kembali menderu. Kilat di gumpalan awan hitam makin ganas memercik. Suara-suara guntur bertabuh tak henti susul-menyusul.
Benar seperti dugaanku! Serangan kami sama sekali tidak berpengaruh. Setelah asap hasil ledakan tersibak, sang ratu penyihir masih bergeming di sana. Meneruskan rapalan mantra pamungkasnya.
"Auwgh!" lolong Woofy. Tanda ada bahaya besar yang tengah mendekat.
Jdar!
Petir besar menyambar beberapa ratus meter dari kubah. Menimpa langsung gerombolan kadal yang ada di sana. Namun, alih-alih membunuhnya, petir itu justru menyatukan dan mengubah mereka ke sosok yang lebih kuat.
Setinggi tiga meter. Sosok monster itu persis seperti bentuk kadal Arson. Hanya kepalanya yang tetap seperti kadal.
Petir itu terus menyambar, dan memperkuat para kadal. Membesarkan yang kecil, dan menguatkan yang raksasa. Mengguncang bumi dengan gelegarnya. Terus bersahutan seperti tidak akan ada habisnya.
Aku takjub sekaligus ngeri melihat itu semua. Mungkinkah kami dapat memenangkan pertempuran, dan aku mengakhiri kisah di buku terkutuk ini? Sementara, kekuatan lawan terlalu besar dan di luar nalar manusia!
Jdar!
__ADS_1
Petir besar menyambar langsung mengenai kubah pelindung. Setiap kepala di dalamnya, menjerit jeri sambil menutup mata.
Dari bekas serangan itu. Retakan mulai muncul, dan merambat hingga ke setengah bagian kubah. Suaka gaib kami telah mengalami kerusakan parah.
Sekali lagi serangan seperti itu, mungkin saja akan menghancurkan kubah pelindung kami tanpa sisa. Kalau sudah begitu, maka para penduduk akan menjadi sasaran empuk petir sihir, dan para kadal dari segala penjuru.
Jika sampai terjadi, kami harus kembali berjuang mati-matian menahan gempuran. demi melindungi mereka dari kepungan kematian. Entah bagaimana caranya. Pikiranku sudah buntu.
Kami bertiga langsung melesat. Dari kejauhan terlihat para pejuang sudah berkumpul di sekeliling istana. Banyak yang tidak bisa masuk, karena terbatasnya ruang yang disediakan istana. Tidak mampu menampung mereka semua.
Jdar!
Petir kembali menyambar. Retakan semakin melebar, hingga sampai ke dasar kubah. Untung masih dapat bertahan, walau banyak bagiannya yang retak dan terkelupas. Hanya tersisa secuil kesempatan untuk aku dapat menemukan cara melindungi mereka semua, dan memenangkan peperangan ini.
Waktuku tak banyak. Gemuruh awan di sekeliling istana semakin dahsyat. Sudah pasti bersiap menembakkan kilatnya ke pada kami.
"Woofy! Lingkari istana dengan ekormu. Lindungi mereka sekuat tenaga. Shege, langsung ke puncak istana!"
Sedetik kemudian. Kami sudah berada di posisi masing-masing. Shege terbang melingkari istana. Jika seandainya kubah ini hancur, kami yang akan menjadi senjata terakhir untuk menghalau para kadal dengan tembakan api. Ide terakhir yang bisa terpikirkan.
Jdar!
Petir ketiga menyambar, hanya berselang beberapa depa dari kami. Sukses meluluhlantakkan kubah, berikut memberikan lagi akses masuk kepada kerumunan awan gelap berkilatan.
Para kadal memekik senang. Sementara kami, para manusia, pucat pasi dengan nyali yang rontok tak berbekas.
"Serang!"
Bola dan panah api silih berganti kami tembakkan. Tetapi, kerumunan monster itu masih dapat bangkit walau terhantam telak. Terus berlari menerjang, dengan nafsu membunuh yang besar.
Aku terhenyak dengan pandangan kosong mengawang. Sudahkah selesai sampai di sini perjuanganku? Tidak adakah lagi meteor putih atau pilar cahaya agung yang datang membantu kami?
Tidak. Itu semua sudah hilang bersamaan dengan kepergian Artapatu. Semuanya bersama dia, sang pelindung Benua Suno. Daratan yang tak lama lagi akan kembali menjadi sarang besar para monster.
__ADS_1
Itu takdirnya, jika kami tak mampu memenangkan pertempuran ini.