Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 45-2] Velbar Sebenarnya


__ADS_3

Terkapar. Dia tergolek tanpa kesadaran di atas tubuhku. Lunglai tanpa tenaga perlawanan berbalut nafsu membunuh, yang tadi dia umbar penuh jumawa kemenangan.


Mashet si pria bertopeng ramah itu pingsan begitu saja, selang terdengar suara tumbukan keras, penyela ketegangan dari duel maut yang kami lakoni.


Menjadi bel penyelamat hidupku, dari kematian tragis di tangan pembunuh bayaran.


Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang terjadi. Apa yang membuat Mashet pingsan, dan mengakhiri sesi gelut indah kami, sampai tubuh kurus itu terguling didorong seseorang.


Dia pria yang mengenakan ikat kepala bermotif khas Pulau Velbar. Kurus sedikit berotot dan bertelanjang dada. Menunjukkan kulit coklat sawo matangnya yang mengkilap oleh basahan keringat. Tidak perlu bertanya untuk mengetahui siapa dirinya.


Dia Pud'e! Si tukang pijat, yang harusnya aku kunjungi dalam perjalanan ini.


"Sepertinya lukamu lumayan parah, Tuan. Tunggu sebentar. Tetaplah berbaring. Akan aku buatkan sesuatu untuk mengobatinya."


Tanpa menunggu jawabanku, pria pendek itu bergegas mengambil sesuatu dari tasnya. Menggerus bahan di atas mangkuk keramik milik Mashet, yang dia ambil dari dalam tenda.


Selanjutnya, dia membersihkan lukaku dengan air bersih. Memeriksanya, dan mengatakan kalau aku beruntung, karena cedera itu tidak sampai melukai organ dalam.


Usai membersihkannya dari kotoran, dia memupurkan ramuan olahannya ke atas lukaku yang menganga, dan mengucurkan darah segar.


Tidak lama. Kesadaranku memudar. Hilang sakit yang mendera. Tertutup oleh kantuk teramat sangat.


Aku tidak sadar akan apa yang terjadi selanjutnya, sampai kembali terbangun, dengan sekujur badan ngilu dan kepala berdenyut nyeri.


Aku tengok ke sekitar. Mencoba memastikan keadaan. Sadar akhirnya aku, kalau sedang berada di rumah kayu, yang hanya terdiri dari satu ruangan, dengan berbagai perabotan memenuhi seisi pojok bangunan.


Ruangan yang sempit, tetapi tertata apik ini, diterangi oleh dua petromak di kanan dan kirinya. Remang-remang dan menguarkan suasana hangat. Apalagi, alunan debur ombak dari luar, begitu menenangkan.


Sakit, masih terasa. Tetapi, jauh lebih baik dari sebelumnya. Luka di kaki dan perutku juga sudah diperban menggunakan kain bersih. Pakaianku pun sudah diganti dengan ponco, dan celana yang agak kesempitan. Tidak bisa mengeluh dengan pakaian lusuh yang Pud’e berikan. Malah patutnya aku bersyukur.


Orang asing sepertinya sampai mau membantuku sebegitunya. Mulai dari menyelamatkan, hingga merawat diriku yang terluka. Sungguh sebuah anugrah.


Di samping matras kulit tempatku berbaring, aku dapati pakaian yang sudah terkoyak penuh darah, dan barang-barang lain, seperti sepasang revolver--pasti dia ambil karena tahu itu milikku--uang beberapa dem yang aku pikir akan kuberikan saja padanya nanti, dan kancing radish pemberian Apak Lapo. Hampir saja aku lupakan benda itu.


"Kau sudah bangun, Tuan Margo? Makanlah dulu bubur herbal ini. Aku jamin bisa memulihkan tenagamu. Walau aku tidak janji dengan rasanya." Pud'e masuk dari pintu depan, sembari membawa nampan berisi mangkok dan gelas.


"Sung-sungguh aku berterima kasih kepadamu, Pud'e. Andai aku bisa membalas jasa baikmu ini."


Sumpah aku terharu, dan hampir saja menangis saat berucap. Kalau tidak ada dia, aku pasti sudah mati dibunuh Mashet.


"Hahaha ... tidak usah terlalu dibesar-besarkan, Tuan. Sudah sepatutnya bukan, menolong orang lain yang sedang kesusahan. Lagi pula aku kebetulan sedang berada di dekat sana. Tertarik saat mendengar suara gaduh, seperti orang yang sedang berkelahi. Dan, ternyata itu Anda, Tuan."


"Sungguh aku bersyukur sekali. Tetapi, bagaimana dengan orang yang menyerangku?" Walau agak absurd, tapi sejujurnya aku khawatir dengan kondisi Tuan Mashet.


"Aku mohon maaf, Tuan. Aku tidak bisa membunuhnya, karena aturan di sini melarang hal tersebut. Jadi, hanya aku ikat saja dirinya di pohon. Menggunakan sisa tali dari tandu, yang aku buat untuk membawamu sampai ke sini."

__ADS_1


"Bagulah kalau begitu." Aku menghela napas lega. "Kau pasti kesulitan ya, saat membawaku sampai ke sini?"


"Tenang saja, Tuan. Aku pernah menyeret **** hutan yang lebih berat dari Anda. Bukan masalah besar." Pud’e mengembangkan senyum.


Sedikit nyelekit sih. Tapi ya sudahlah. Toh dia hanya coba meyakinkanku. Walau agak gondok juga mendengarnya.


"Makanlah dulu, Tuan. Setelah itu beristirahat. Lukamu memang tidak berbahaya, tetapi perlu waktu dan kondisi yang fit agar bisa lekas sembuh." Pria berkulit sawo matang itu berdiri. "Aku akan keluar dulu untuk memeriksa jaring."


Lepas pintu tertutup, aku ambil bubur hangat yang disajikan. Menyuapnya, walau sedikit ragu.


Rasa dari bubur yang dia buat, sejujurnya hambar di lidah. Tetapi, aku tidak punya pilihan, toh sepertinya makanan ini juga sekaligus obat untuk menyembuhkanku.


***


Malam itu aku bermalam di rumah panggung kecil milik Pud'e. Memulihkan tubuh penuh luka, yang di pagi ini secara ajaib sudah tinggal tersisa nyeri saja. Seakan luka besar menganga di kaki dan perutku hanyalah goresan kecil semata. Asal tidak banyak bergerak.


Multi talenta sekali orang ini. Bukan hanya memiliki keahlian memijat yang mumpuni saja, tetapi juga membaca bahkan mungkin meramal, sampai kemampuan menyembuhkan bagai tabib sakti.


Di sarapan pagi dengan sajian bubur herbal, yang kali ini ditambah irisan ikan bakar, kami menyantapnya sambil mengobrol ringan. Membuatnya terasa lebih enak.


Pud’e agak tidak enak hati saat mengetahui kalau aku bisa tersesat, dan mengalami kejadian mengerikan di tengah hutan rimba, karena mau berkunjung ke rumahnya.


Aku tidak bisa menyalahkannya, karena memang itu semata disebabkan kesalahan penunjuk jalan. Atau aku mungkin yang salah mendengar, ke mana harusnya mengambil rute. Mengambil jalur kiri, yang semestinya menuju ke arah kanan, saat di persimpangan pertama.


Tak tahu lah. Aku hanya bersyukur bisa selamat dari serangan itu.


Piring, gelas, dan segala perlengkapan makan lainnya dibereskan oleh Pud’e. Membawanya keluar rumah untuk dicuci.


Begitu hilang dia dari pandangan, aku teringat niat untuk memberikannya semua uang yang kubawa.


Tertangkap mata tanpa sengaja. Selingkaran kancing berkaki dengan gambar timbul berbentuk tunas benih. Tidak jauh jaraknya dari tumpukan uang di lantai.


Tanganku bergerak meraih benda bulat tersebut. Menatapnya tak berkedip.


"Tuan, berbaringlah lagi. Kuatkan badanmu dulu, agar bisa lekas sembuh."


Aku melonjak kaget mendengar suara Pud’e. Kancing berkaki terlontar dari apitan jari. Terjatuh di hadapannya.


Seketika aku teringat tentang makna kancing itu. Tepat di saat tangan kurus Pud’e mencomotnya.


Reflek, langsung aku rebut kancing tersebut. Menaruhnya di dalam kantong celana, dan mengambil tumpukkan uang, untuk kemudian kusodorkan kepada Pud’e.


"Maaf. Lupakan soal tadi. Ini ... mungkin jumlahnya tidak sebanding dengan apa yang telah engkau lakukan. Ta-tapi mohon terimalah ... dan lupakan soal kancing tadi."


Pud’e mengembangkan senyum enteng. Mengambil kertas bernominal yang aku sodorkan, dan menaruhnya di atas pangkuannya.

__ADS_1


Kami sesaat berada di situasi sunyi tanpa kata, bahkan gerakan. Hingga, Pud’e menyentak sehembusan napas panjang. Tanpa melepas senyum di wajahnya.


"Sungguh aku berterima kasih atas pemberianmu, Tuan. Ini lebih dari cukup bagiku." Pud’e menghela napas berat. "Sebenarnya, suku Ratafu terbiasa hidup berdampingan dengan alam. Saling memberi juga menerima. Menjaga satu sama lain, agar terjaga kesinambungan kehidupan."


Aku mengerutkan dahi mendengarnya. Apa yang Pud’e katakan agak jauh dari tema pembahasan kami sebelumnya, tetapi aku merasa kalau ada maksud dan kaitannya dengan hal tersebut. Uang yang kuberikan dan kancing kaki pemberian Apak Lapo.


"Namun, lima belas tahun lalu, pulau ini habis dibabat oleh perang, yang mengakibatkan banyak anggota suku Ratafu meninggal dunia." Terlihat binar kesedihan di mata Pud’e. "Usai masa perang, pulau Velbar diklaim secara sepihak oleh Negara Lasto, dan dipaksa untuk menjadi wilayahnya. Kami dijajah oleh mereka, dan dipinggirkan bagai binatang yang menjijikkan."


"Kami diperbudak oleh mereka yang datang dengan beringas. Kami memulai perlawanan, dan tidak lagi mengindahkan hukum suku, untuk tidak membunuh manusia di pulau ini." Tangan Pud’e terkepal erat. "Perlawan kami tidak membuahkan hasil. Dipukul mundur, dan harus bertekuk lutut di bawah kekuasaan mereka. Di saat itulah bala bantuan datang. Membantu kami dalam perlawanan, hingga akhirnya Suku Ratafu dapat bertahan, walau harus menerima perjanjian yang mencekik kami."


Pria tua itu terdiam dengan wajah merah dan mata berlinang air mata.


"A-apakah yang membantu kalian adalah Pergerakan Radish?" Tebakanku ditanggapi dengan anggukan.


Pud’e mengusap mukanya, lalu mengembangkan senyum berat. "Dalam perjanjian itu, kami diberikan wilayah di sini, dan harus membayar pajak kepada mereka. Pungutan semena-mena, yang terus bertambah jenis dan jumlahnya seiring waktu. Karena itulah kami berkerja. Mencari uang untuk diberikan lagi kepada mereka."


"I-itu tidak adil ... bukankah ini tanah kalian, dan mereka yang seharusnya yang membayar kepada Suku Ratafu."


"Tapi itulah yang terjadi, Tuan. Inilah pencapaian terbaik yang bisa Ratafu raih. Sungguh bersyukur akan itu semua, walaupun ...." Ucapannya terpotong oleh suara ketukan di luar rumah.


Pud’e bergegas membuka pintu. Menjawab panggilan tanpa kata, dari tamu dadakan yang entah siapa.


Seorang pemuda bertubuh tinggi, langsing berotot, berkulit kecoklatan, dan memiliki rambut panjang terikat yang berwarna tembaga, berdiri dengan tombak trisula tergenggam.


Orang itu sepertinya kenalan Pud’e, yang datang karena urusan mendesak dan sepertinya juga rahasia. Terbukti, dari gelagatnya yang hendak mengajak Pud’e ke suatu tempat, dengan suara berbisik.


"Tuan, tunggulah di sini. Aku ada urusan sebentar. Nanti siang mungkin aku sudah kembali dengan membawa makanan. Anda istirahatlah dulu untuk menyembuhkan luka."


Pud’e dan lelaki berambut tembaga itu pergi setelah berpamitan. Meninggalkanku untuk menghabiskan waktu dengan berbaring saja tanpa kerjaan, di pondok kayu sempit, yang sejujurnya terasa nyaman.


Tanpa kerjaan dan kesibukan. Suasana hening beriring deburan ombak, membuatku mengantuk, setelah setengah jam kepergian keduanya.


Semua berjalan baik, sampai terdengar suara gaduh dari luar. Sedikit dipaksakan, aku merangkak untuk mengintip dari celah pintu, untuk mengetahui apa yang tengah terjadi di perkampungan.


Tak jauh dari pondokan ini, ternyata ada serombongan prajurit yang datang. Mungkin mereka mencariku, yang seharian menghilang dari penginapan. Atas suruhan Falcoa mungkin.


Tapi apa memang harus seperti itu? Dengan banyak prajurit bersenjata lengkap, hanya untuk mencariku.


Tanda tanyaku terjawab, saat para prajurit itu datang menyambangi rumah Pud’e. Mendobrak pintu, lalu membentak kasar sambil menodongkan senjata kepadaku.


"Tuan, Margo Damarion, kau ditangkap karena telah melakukan tindak kejahatan pembunuhan kepada Tuan Ferdinan Mashet. Atas wewenang yang diberikan kepada kami, engkau ditangkap, untuk diadili di pengadilan tertutup Negara Lasto daerah Pulau Velbar."


Tunggu sebentar! Apa katanya!? Aku dituduh membunuh Tuan Mashet? Hei! Dia itu pembunuh bayaran yang hendak membunuhku! Lagi pula, setahuku dari cerita Pud’e, pria cungkring berkumis spiral itu masih hidup, dan ditinggalkan di hutan dalam posisi terikat!


Sialan! Apa yang sebenarnya terjadi?

__ADS_1


__ADS_2