Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 3-2] Jurnal Pelayaran Menuju Benua yang Hilang


__ADS_3

Di atas kasur kamar Wanara, aku puas tertawa sampai berguling-guling memegangi perut. Apa lagi, saat melihat wajahnya yang merengut.


Bagaimana tidak. Tokoh Sam di buku Alkisah Naga Bersisik Merah Delima, walau sukses menjadi raja kerajaan Capitor, tetapi malah ditinggal Putri Asaru menikah dengan Kord. Sebuah akhir epik dari cerita penuh pengorbanan. Mungkin bagian ini pula yang membuat dia berteriak heboh mengagetkan seisi kelas.


"Puas kau tertawa?" tanya Wanara dengan wajah yang masih dilipat. Duduk bergeming di depan meja komputer, sebelah ranjang tempatku berada.


"Tapi serius, Sobat. Kalau kau benar-benar masuk, dan memerankan Sam di dalam buku ini, memang wajar jika akhir ceritanya seperti itu." Aku berkata dengan diselingi tawa.


"Sialan kau!" Dilemparnya pulpen di atas meja, yang aku tangkis menggunakan buku merah miliknya.


Oh ya, ini semua sebenarnya berawal dari aku memasuki kamar dengan banyak poster di dinding. Ruangan yang disebut Wanara sebagai "Aula Pahlawan". Baru saja dibersihkan oleh Bibi Ran aku yakin, karena biasanya tempat ini jauh lebih berantakan dari kamarku.


Tanpa bicara apa-apa lagi, dia menyerahkan secarik kertas dengan tulisan tangan yang jelek. Tanpa melihat nama di akhirnya pun aku tahu kalau surat itu dibuat oleh Tama. Sepupunya yang seorang travel vloger--aku mengikuti chanelnya demi dapat meminta oleh-oleh dari tempat yang dia datangi.


Sewaktu aku masih bingung dengan maksud dari isi surat tersebut, Wanara melanjutkan dengan menceritakan pengalaman ajaibnya. Mulai dari tersedot ke dalam buku, bertemu petapa dan seseorang bernama Kord--yang sialnya dia samakan denganku. Itulah yang menjadi alasannya beberapa kali salah memanggil namaku--sampai kisah melawan naga di kastel, hingga pertempuran akhir dengan penyihir bergaun ungu sebagai bos terakhirnya.


Jelas aku tidak percaya dengan ceritanya. Walau begitu, masih ada rasa penasaran yang mendorongku untuk melihat buku "ajaib" pemberian Tama tersebut.


Sekilas aku membacanya. Mencocokkan poin yang tadi dia ceritakan. Sama persis memang, tetapi tidak lantas membuatku percaya. Yah, walau kalau melihat keyakinannya, hal tersebut bisa jadi adalah sebuah kenyataan.


"Tidak bisa dibilang aku percaya seratus persen dengan ceritamu sobat. Lagi pula, tidak ada yang bisa membuktikan itu kan?"


"Bagaimana kalau aku bisa membuktikannya?"


Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, dia sudah berputar bersama kursi. Memunggungiku, demi dapat membuka laci meja dan mengeluarkan sesuatu dari sana.


"Bagaimana jika kukatakan, kalau aku mendapatkan ini, sebagai hadiah menyelesaikan cerita di buku itu?"


Aku melongo melihat benda bundar di apitan jarinya. Koin emas berkilau, yang permukaannya terdapat lambang-lambang rumit tercetak rapi.


"I-itu koin emas asli?" Aku bangkit dan mendekat, demi dapat melihatnya lebih jelas.


"Ya ... entahlah. Aku tidak tahu cara membedakan emas asli atau bukan. Tapi, sepertinya ...." Tanpa menunggu Wanara menyelesaikan ucapannya, aku mengambil koin itu. Tidak peduli ujaran protesnya.


Aku membolak-balik koin di tangan. Mengamatinya lebih seksama. Entah apa arti simbol di permukaannya, yang mungkin bahasa dunia sana--jika benar cerita Wanara. Mencoba meyakinkan kalau koin ini benar-benar terbuat dari emas asli.


"Hei! Apa yang kau lakukan!?" pekik Wanara saat melihatku menggigit koin emasnya.


Dia langsung menerjang, dan memiting leherku tanpa ampun. Membuat koin emas yang kugigit, terjatuh ke atas kasur.


"Lepaskan! Aku hanya ingin mengetesnya."


Aku dorong badan Wanara hingga terlepas kunciannya. Sesaat mengambil napas, sambil melihatnya meraih koin itu dengan ujung jari, lalu mengelapnya di bajuku.

__ADS_1


"Jorok kau!" hardiknya.


"Hei, bukan begitu. Maksudku hanya mau mencoba keaslian koin emas itu. Kau tahu kan, seperti di adegan film The Running Dad."


Dia menatapku dengan mata terpicing. "Lalu bagaimana? Asli atau palsu?"


"Nngg ... entahlah. Aku tidak tahu cara membedakannya."


"Konyol!" Dia menendang tepi ranjang. Aku tertawa.


"Tidak ada salahnya kan mencoba?" kilahku.


"Lepas dari asli atau tidaknya koin emas itu, sekarang kau sudah percaya kan dengan ceritaku?" tanyanya, usai memasukan kembali koin ke laci.


"Entahlah. Aku juga tidak yakin emas itu asli atau palsu. Kecuali ... bukankah tadi kau bilang Tama mengirim sekotak buku?"


"Tidak! Aku tahu apa yang mau kau katakan, dan jawabannya; tidak akan!" Matanya tidak berkedip menatapku saat berucap.


"Pelit sekali kau! Jangan-jangan kau ingin menguasainya sendiri?" cecarku sambil membalas tatapannya.


"Bukan begitu, Zack. Sudah aku ceritakan kan tadi? Di dalam situ kau benar-benar akan merasakan sensasi seperti di dunia nyata. Lapar, dingin, bahkan kesakitannya pun tidak ada beda dengan yang kita rasakan di sini."


"Jadi, kau tidak percaya dan menganggapku lemah, begitu?"


Aku lempar bantal kepadanya. Tapi justru dia makin keras tertawa. Sialan!


"Hei! Perlu kau ingat, waktu itu aku masih SD, dan luka yang aku dapat begitu parah!"


"Seingatku, kejadian itu saat kita sudah kelas lima, dan hanya luka ringan di lutut. Kau jatuh di atas rumput, bukannya aspal, Zack." Sialan itu tertawa puas sambil memegangi perutnya.


"Diam! Aku yang merasakannya, bukan kau!" Aku membentak dengan napas terengah-engah. "Jadi kau mau tidak menunjukkan buku itu kepadaku? Kalaupun benar omonganmu, aku tidak akan takut dengan petualangan di dunia itu!"


Wanara menghela napas panjang. Berdiri lalu berkata kepadaku. "Baiklah, tapi resiko kau tanggung sendiri, ya. Jangan salahkan aku jika terjadi apa-apa di sana."


Aku menelan ludah berat, saat melihat Wanara berbalik menuju lemari pakaian. Baru terpikirkan sekarang soal omongannya. Kesakitan yang nyata, lalu sakit yang lebih dari sabetan pedang.


Bodohnya aku! Hanya gara-gara emosi, dan penasaran, aku jadi menantang untuk masuk ke dunia yang penuh bahaya! Eh, tapi kan ada kemungkinan kalau yang diceritakan Wanara itu hanya khayalannya saja. Ya kan?


"Ini dia. Pilih salah satu bukunya, dan langsung ambil. Aku tidak tahu efeknya kalau ada dua buku yang aktif di saat bersamaan."


Ditaruhnya kotak berisi buku tebal beraneka warna di lantai samping kasur. Tepat di hadapanku.


Aku bergeming menatap isi dari kotak tersebut. Benar-benar ragu untuk melanjutkannya. Kalau benar apa yang dikatakan Wanara, entah bagaimana nasibku nanti.

__ADS_1


"Kenapa diam? Kalau tidak berani, biar aku simpan saja lagi."


Mendengar itu, emosiku langsung mendidih. "Siapa yang takut!? Aku hanya sedang bingung memilih warna yang mana!"


Aku mengambil buku bersampul biru terang, saat Wanara ber-oh pelan.


Alasanku memilihnya, karena biru adalah warna yang kalem. Jadi aku pikir, cerita di dalamnya pasti lebih santai. Berani bertaruh.


Aku berteriak dan melempar buku dalam genggaman. Kaget karena merasa ada yang merayap di telapak tangan. Wanara menangkapnya, dan kembali tertawa terbahak-bahak.


"’Jurnal Pelayaran Menuju Benua yang Hilang’. Wah, sepertinya berhubungan dengan laut." Wanara melempar buku biru itu kembali kepadaku. "Bukalah, lalu ikuti instruksi yang muncul di sana."


Aku menatap sampul depan buku ajaib ini. Mendapati sebaris judul--dengan huruf timbul berwarna emas--tercetak di sana. Ingat aku dengan rincian yang dikatakan wanara di awal. Soal ulir di punggung buku yang bergerak untuk berubah menjadi judul.


"Wan, jika aku benar masuk ke dalam buku ini, lalu bagaimana denganmu? Apa kau masih bisa menyusul?"


Ekspresi Wanara berubah. Mulutnya ternganga lebar menatap buku biru di apitan tanganku. Tahu, dia baru memikirkan hal itu sekarang.


"Yah, kalau soal itu ...."


Segalanya hening. Aku masih bisa melihat bibir Wanara bergerak, tetapi suaranya sama sekali tidak terdengar. Seakan ada yang iseng menekan tombol mute di remot.


"Hei, kau ngomong apa? Aku tidak bisa mendengarnya!" Percuma. Dia pun sepertinya juga tidak dapat mendengar ucapanku.


Sesaat kami terdiam berbaku tatap.


Aku menunduk, saat melihat Wanara menunjuk ke arah buku. Ternyata tanpa aku sadari, halamannya terbuka setengah jengkal di apitan tanganku yang longgar. Apa mungkin karena ini suara kami jadi tidak terdengar?


Ingin aku melepasnya karena rasa takut yang membesar. Tetapi, boro-boro mau melepasnya, tanganku justru menempel di sana.


Masa bodo, lah. Sepertinya hanya dengan membuka buku ini, keadaan mute akan berakhir. Lagi pula sedari tadi Wanara terus menunjuk-nunjuk buku sialan ini.


"Engkau adalah Margo Damarion, sang buronan besar negara Vajal. Berada dalam pelarian panjang dari tangan hukum, yang akan memberikanmu hukuman mati. Pergilah sejauh mungkin untuk mendapatkan kebebasan dan mencari kebenaran. Tidak ada jalan mundur dalam pelarianmu.


Untuk kau yang akan menjadi Margo Damarion. Sentuhlah halaman buku, lalu ucapkan dengan bersungguh-sungguh, ’aku (sebutkan namamu) berjanji dengan sepenuh hati, jiwa, dan raga, untuk menjadi Margo Damarion sang buronan. Menuliskan cerita; Jurnal Pelayaran Menuju Benua yang Hilang, hingga selesai, dan tidak akan melanggar janji, walau apa pun yang terjadi.’


Masukilah dunia Jurnal Pelayaran Menuju Benua yang Hilang, dan selamat berpetualang hingga akhir cerita. Semoga beruntung."


Aku tekuri sesaat barisan kalimat penyusun tiga paragraf, yang begitu saja muncul, bagai ditulis oleh pena tak kasat mata. Paham apa yang harus dilakukan, dan perlahan mulai merapalkannya sesuai petunjuk, hingga selesai.


Mendongkol juga, kenapa harus menjadi buronan? Padahal kan bisa lebih keren kalau jadi penegak hukum yang ....


Sialan! Tiba-tiba saja tubuhku ditarik kencang oleh kekuatan gaib. Tanpa bisa melawan, aku dibawa masuk menerjang halaman buku.

__ADS_1


Semuanya lalu gelap, dan perlahan kesadaranku menguap. Hilang.


__ADS_2