
Ada yang tidak aku mengerti, dari penggalan cerita terakhir di Pulau Talse. Bukan semata perkara "cup muach", yang benar-benar tidak ingin aku bahas lagi. Sumpah demi Tuhan, aku merasa seperti telah menghianati Fiona. Yah, walau sebenarnya bibir Margo yang menjadi sasaran, tetapi tetap saja rasanya enak.
Eh, maksudku ... ya begitulah. Lupakan soal itu!
Jadi, yang aku bingungkan adalah perkara si Leo van Leon bin Leonal. Bukan soal keakrabannya dengan Manika, yang tiba-tiba saja bisa terjadi, tetapi soal dirinya saat menuntunku memasuki goa, yang sebagian tempatnya digunakan sebagai pabrik pembuatan retnap. Dengan banyak meja, kuali, peti, tong, tabung, dan benda-benda lain, yang tidak bisa aku sebutkan satu-persatu.
Hanya dengan menggunakan sebatang obor, anak itu menuntunku memasuki bagian terdalam goa yang bercabang rumit. Dia melewatinya seakan sudah hafal betul seluk beluk jalur yang akan kami lewati. Tidak sedikitpun ada ragu di ayunan langkahnya.
Saat aku bertanya, untuk meyakinkan soal jalan yang diambil, anak itu berkata, "Tenang saja. Aku masih ingat jalan ini."
Kalau ditelaah, kalimat yang dia ucapkan, bagai dirinya sudah mengetahui, dan pernah masuk menjelajah ke goa pabrik retnap itu sebelumnya.
Aneh, kan?
Dan, benar saja. Dia menuntunku sampai ke terowongan menurun yang licin. Ujung dari goa berjalur rumit.
Sumpah. Aku tidak akan mau lewat di terowongan itu lagi. Berkali-kali aku terpeleset, dan membuat bokong Margo yang montok ini berdenyut kesakitan.
Lepas dari mulut terowongan goa terlaknat itu. Sampai kami di hutan berpasir belakang pulau. Berjalan sedikit menyusuri jalan setapak, hingga sampai di bibir pantai, tempat kapal hitam bersandar menepi.
Ajaib. Jadi kepikiran soal ucapan si Jamet, sewaktu pertama kali kami hendak memasuki Rumah Junjung. Ya, saat dia menanyakan soal de javu.
Apa mungkin dia memang pernah ke Pulau Tastal, tapi kemudian melupakannya? Atau bisa jadi dia sebenarnya mempunyai kemampuan indera keenam?
Tak tahulah. Aku lebih baik ke geladak saja. Kamar ini bertambah sumpek sepertinya. Padahal sejak tadi, aku berniat istirahat setelah mengganti baju yang kotor dan basah. Tapi ternyata, walau badan terasa capek dan ngilu, mata ini tidak sedikitpun mau terpejam. Padahal sudah bermacam-macam posisi aku coba.
Sebelum beranjak, aku mencoba melakukan perenggangan--berbekal ingatan sewaktu pelajaran olahraga--agar sedikit berkurang rasa tak nyaman di sekujur badan.
Baru setengah jalan rangkaian gerakan kulakukan. Tiba-tiba saja terdengar suara gaduh di lantai atas. Pasti ada sesuatu yang tengah terjadi di geladak. Aku harap bukan ulah Yenz lagi.
Setengah berlari, aku keluar dari kamar menuju ke tangga. Melongo heran saat sudah berada di geladak, yang tengah bergolak kesibukan tidak wajar. Para ABK berlomba-lomba mengerjakan tugasnya, seakan sedang diburu sesuatu.
Mengencangkan ikatan layar, membersihkan corong meriam, mengepaskan posisinya, menata bola-bola besi, dan segudang pekerjaan lainnya, yang dilakukan secara cepat juga tepat. Terlihat jelas kehandalan mereka.
Perasaanku tidak enak melihat semua ini. Seperti akan terjadi peperangan. Padahal baru beberapa jam lalu kami mengalaminya.
"Jangan bengong saja kau, brewok sialan! Siapkan diri dan nyali kerdilmu menghadapi pertempuran di laut!" hardik Kapten Sando dari anjungan.
Jelas panas kupingku mendengar itu. Tetapi tidak ada waktu untuk aku, agar bisa menambahkan bekas luka di wajah si kapten sialan, karena sekarang yang paling penting adalah mengetahui alasan, kenapa tiba-tiba saja bisa terjadi kesibukan mendadak di geladak.
Menanyakannya kepada si Kapten Muka Parut, jelas tidak mungkin. Lihat dirinya, dengan gaya sok ngebos, terus-terusan mengeluarkan teriakan berisi perintah beriring makian.
Demi mencari jawaban, aku berjalan menyusuri geladak. Tidak tentu arah, demi menemukan orang yang bisa diajak bicara.
Selintas lewat, Leo menegurku. Tapi tidak mungkin aku hentikan lajunya, saat dia sedang sibuk berlari, sembari membawa beberapa buah peluru meriam yang berat.
Akhirnya. Di ujung geladak, aku menemukan Yenz. Berdiri tanpa melakukan apa-apa, dengan gaya sok kerennya. Menatap lautan, dengan kedua tangan terlipat ke belakang.
Boleh aku dorong dia keluar kapal? Jangan deh, nanti aku tanya kepada siapa soal kegaduhan ini?
"Yenz, apa yang sebenarnya sedang terjadi?" tanyaku begitu berada di sebelahnya.
"Tetap sama, kita menuju Andapala. Seperti yang diinginkan si Muka Parut itu," jawabnya tanpa menoleh.
__ADS_1
Astaga. Masih itu pula yang dia pikirkan. Ada apa sih dengan Andapala? Apa di sana ada mantan pacar yang meninggalkan dia menikah dengan orang lain? Atau di sana dirinya sedang diburu oleh debt collector, karena tidak bisa melunasi tagihan kredit motor?
"Bukan itu yang aku maksud. Lihat itu. Ada apa dengan semua keramaian ini?" Aku menyentak pundaknya agar pandangannya teralihkan.
"Oh ... mereka sedang mempersiapkan peperangan untuk melawan kapal dari Vajal."
Aku membelalak kaget mendengar ucapannya. Setengah tidak percaya, setengah menyangkal.
Apa daya kapal ini melawan tiga kapal giyeni sekaligus!?
Dia pasti berbohong. Mana mungkin mereka bisa mengejar kita? Padahal sudah lewat beberapa jam, dari kami meninggalkan Pulau Talse.
Aku yakin, akan memakan waktu yang lama, sampai armada Vajal menyadari, kalau kapal hitam buruannya, sudah kabur dari perairan Pulau Talse.
"Tidak mungkin seperti itu! Hebat sekali mereka bisa mengejar kita, sementara sudah lama kita meninggalkan pulau," tukasku.
"Kau tidak ingat, bagaimana mereka bisa mengejar kita dari Lapalasa? Butuh waktu tidak sebentar untuk mengumpulkan prajurit, dan menyiapkan keberangkatannya menuju Talse. Asal kau tahu, kapal giyeni sepuluh kali lebih cepat dari kapal layar biasa, karena dibantu pergerakkannya oleh dorongan mesin, yang ditenagai oleh bijih angin." Yenz menjawab rasa penasaran yang kusuarakan.
Mencelos jantungku. "Jika benar mereka sekarang mengejar kita, bagaimana dengan penduduk Desa Lasete? Apakah ...."
Yenz menepuk pundakku. "Tidak perlu khawatir. Kalau mereka berhasil menemukan, dan mengalahkan para penduduk Pulau Talse, tentu Armada Vajal tidak akan punya waktu untuk mengejar kita. Akan ada perang besar dan pemberesan seusai peperangan."
"Benarkah itu?"
"Bisa jadi." Sial! Tidak meyakinkan sekali. "Tapi yang lebih penting sekarang, adalah soal pertempuran kita melawan armada Vajal dengan kapal giyennya. Sangat tidak mungkin kapal hitam ini bisa menang."
"Eh ... lalu kenapa kau bisa sesantai ini!? Apa kau tidak berpikir, kalau kapal ini hancur, kita juga akan ikut mati!"
"Perlu kau catat. Orang yang terlihat diam, belum tentu dirinya sedang bersantai. Ada cara lain untuk bekerja mengatasi masalah."
Pertanyaanku hanya ditanggapi dengan senyuman menyebalkan, plus tepukan di pundak. Setelah itu dia pergi tanpa memberi penjelasan.
Lebih konyol, saat aku panggil dia untuk menjelaskan perkataannya, si bibir tipis itu malah membuatku bertambah bingung lagi.
"Mungkin aku juga terkena tuah ucapan Apak Lapo." Begitu katanya, sebelum melanjutkan langkah menuju anak tangga menuju ke bawah.
Sumpah! Makin tidak jelas orang itu maunya apa.
"Datang!" teriak kru di sangkar pengamat, yang ada di ujung tertinggi tiang layar.
Tidak berapa lama, suara meriam terdengar bersahut-sahutan di belakang kami. Bola-bola meriam melambung dan mendarat di sekeliling kapal hitam. Tidak ada yang kena memang, tetapi gelombang yang tercipta dari hantaman bola besi dan permukaan air, cukup menggoncang kapal hitam ini.
Aku jatuh terduduk, karena kehilangan keseimbangan. Mengutuk para penyerang yang tidak punya etika. Seharusnya mereka beri peringatan dulu, kan.
Leo datang membantuku berdiri. Menuntun berjalan di geladak, menuju ke bagian belakang.
"Tuan tunggulah di sini. Pertempuran laut tidak seperti di daratan."
Belum sempat aku membantah, remaja itu telah pergi untuk kembali membantu para kru.
Kesal rasanya. Tapi, omongan dia ada benarnya. Apa yang bisa aku lakukan untuk melawan armada kapal besar? Magnumku belum tentu dapat melobanginya.
Tidak lama berselang. Sepasang kapal giyeni milik Vajal, sudah mengapit kami. Aku merinding melihat moncong meriam lawan, yang mengarah langsung ke kapal hitam.
__ADS_1
Selintas kemudian, aku takjub melihat kapal bercat biru tua tersebut. Berukuran dua kali kapal ini, dengan tiga tiang di geladak atasnya.
Dari semua itu, bagian yang paling aneh terdapat di buritannya. Di sana ada tambahan ekor dengan bagian tengah yang bolong. Sebuah knalpot besar, yang mengeluarkan semburan angin kencang. Membuat air laut di belakangnya terhempas. Bagai terbelah.
Mungkin itulah yang menyebabkan giyeni dapat bergerak begitu cepat, hingga bisa mengejar kami. Sebuah knalpot pendorong, yang kalau menurut Margo, ditenagai oleh bahan bakar bijih angin.
Meriam dari kapal giyeni di sebelah kiri kami melantak kencang. Lima bola besi melambung sebagai efek susulannya.
Kapal hitam telah terlebih dahulu mengantisipasinya. Berbelok ke kanan demi menghindari serangan. Walhasil, hanya satu bola logam hitam yang berhasil mendarat di geladak. Hancur lantai kayu di tempatnya mendarat.
Kapal kami kembali oleng. Karena, empat peluru tadi menimbulkan gelombang besar, yang menghantam dan mendorong si hitam.
Dalam posisi terkatung-katung ini, Kapten Sando meneriakkan sesuatu--istilah pelaut yang tidak aku mengerti--dari anjungan. Para awak bergerak cepat mematuhi perintahnya.
Layar di tiang terdepan digulung. Sumbu meriam di sisi kanan disulut. Tembakan balasan meledak. Mengenai kapal lawan di beberapa tempat. Disusul belokan patah dari kapal hitam.
Kendaraan laut yang kutumpangi ini kembali berguncang hebat. Kali ini, bukan karena tembakan, tetapi tabrakan yang sepertinya disengaja. Antara haluan kapal Kapten Sando, dengan bagian belakang armada Vajal.
Efeknya. Kapal kami hampir terjungkal--bagian depannya terangkat beberapa meter dari permukaan laut. Sementara kapal giyeni terbanting keluar dari jalurnya. Beberapa awak terhempas jatuh dari geladak, bersama dengan meriam yang hendak ditembakkan.
Kapten Sando kembali mengeluarkan perintah. Para awak bergegas mengikutinya tanpa ragu. Walau, posisi kapal belum mendapat titik keseimbangan di permukaan laut.
Semua layar kembali terkembang. Kapal hitam mulai melaju dengan kecepatan maksimalnya.
Sayang. Kami belum benar-benar lolos. Masih ada giyeni ketiga, yang begitu saja muncul di seberang haluan kapal.
Kapal kami hendak berbelok dari jalur awal yang diambil. Tetapi telat, karena meriam di kapal lawan sudah menembak. Menghantam telak, dan berhasil membuat tiang terdepan doyong ke samping.
Gilanya lagi. Meriam dari musuh di belakang menyusul meledak. Melengkapi kerusakan yang perlahan akan mengaramkan kapal hitam ini.
Di tengah keputusasaan, dan detik di mana kapal giyeni Negara Vajal, tengah menyusun formasi kepung. Yenz keluar dari palka yang terbuka. Setengah berlari menuju haluan, dia menyulut tiga buah sumbu dari bola, yang aku yakin berisi bahan peledak.
"Hei! Apa yang kau lakukan!?" teriak panik Kapten Sando.
Pertanyaan dari si Kapten Muka Rusak itu, sama dengan apa yang sedang aku pikirkan.
Apa gunanya dia muncul sekarang? Di saat kami sudah terpojok.
Kalau dia memang mau menunjukkan keahliannya dengan bahan peledak, kenapa tidak sedari tadi?
Sudah telat! Kau malah baru sekarang mau bermain dengan ledakan, yang bisa saja membuat armada Vajal, benar-benar melakukan serangan penghabisan.
Bola peledak dilempar ke atas. Berurutan. Bola pertama meledak, dan mengeluarkan asap merah. Bola kedua menyusul dengan asap hijaunya. Bola terakhir pun akhirnya menutup rangkaian festival, dengan kepulan biru menghiasi angkasa.
Ketiga warna itu bersisian, dan saling membaur di tengah udara. Menjadi pusat perhatian setiap orang.
Mungkin bukan aku saja yang tidak mengerti dengan maksudnya. Sudah sintingkah dia? Merayakan kekalahan kita dengan ledakan yang meriah?
Begitulah yang aku pikirkan tentang bom asap buatan Yenz. Mungkin pula dengan yang lainnya.
Tetapi, ternyata tidak bagi mereka. Serombongan kapal berjenis giyen, yang tidak berselang lama, dari pudarnya asap tiga warna, datang dengan formasi siap untuk bertempur.
Kembali aku dan kru lainnya, melongok heran. Mempertanyakan soal identitas kapal bercat putih, yang melaju cepat menghampiri medan perang.
__ADS_1
Siapakah serombongan armada besar itu? Kawan penolong, ataukah lawan yang akan memastikan kematian kami di dalam lautan?