Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 48-2] Pelarian Pantai Cadas


__ADS_3

Tanpa punya pilihan, aku membuntuti Leo menerobos kekacauan, yang ternyata mengarah ke kantor sekaligus kediaman gubernur Velbar. Aku tebak, pasti Yenz berada di sana.


Masalahnya, bagaimana kami masuk sekarang? Pintu depan itu dipenuhi para penjaga, yang bersiaga dengan senjata terkokang. Menghalau kekacauan untuk bisa masuk, menerobos ke dalam gedung berlantai tiga itu.


Sialan! Mau nekat pun akan susah untuk bisa menembus penjagaan dua lusin petugas, yang sedang bersiaga penuh. Bunuh diri namanya jika berani menerjang.


Aku memegang pundak Leo demi menghentikan langkahnyan "Kita akan menerobos masuk?"


"Kalau menurut rencana Tuan Yenz sih tidak perlu."


"Lalu kenapa kau mengajakku ke sana?"


"Untuk berjaga-jaga kalau ...."


Pintu bangunan bercat kream itu meledak terbuka. Menggantikan wajah berdahi keriput Leon dengan senyum sumeringah.


"Sepertinya rencana Tuan Yenz berhasil. Ayo, Tuan, kita bantu."


Boleh aku menggetok kepala pemuda jambul itu? Kalau dia tahu akan ada ledakan di sana, kenapa pula mengajakku mendekat? Konslet benar otaknya itu!


Saat asap masih mengepul, dan para penjaga berusaha bangun setelah terpelanting, dengan penuh kepercayaan diri, Leo melesat. Menghajar satu persatu dari mereka, menggunakan gerakan bela diri yang lincah dan kuat, bak seorang master kungfu.


Menendang dagu, memukul perut, bahkan membanting lawan, dia lakukan tanpa kesusahan sama sekali. Hanya dalam hitungan detik, sebagian penjaga telah terkapar dihajarnya.


Seorang penjaga mengangkat senjata, dan berusaha membidik Leo dari belakang. Tanpa banyak berpikir, langsung aku lakukan tarikan cepat. Mengeluarkan revolver dari sarangnya sambil menekan pelatuk dengan telunjuk. Bersamaan pula, tangan kiriku berpindah posisi, demi dapat menarik palu yang sekejap memicu ledakan berasap.


Si penembak gelap itu menjerit kesakitan begitu timah panas menembus lengan kananya. Senapan terlepas, dan dia terjatuh sambil mengerang kesakitan.


Revolverku terangkat di depan dada. Melanjutkan tindakan yang harusnya aku lakukan lebih awal, bersama serbuan Leo. Menembak cepat sehabisan peluru, untuk menumbangkan penjaga yang masih mampu melawan.


Tuntas bedil aku letuskan, dari balik tirai asap di pintu, keluar Yenz yang berlari tertatih memegangi luka berdarah di pundaknya. Bergegas berbelok ke balik tembok untuk menghindari hujanan peluru. Menghampiri Leo yang sudah selesai berurusan dengan para petugas jaga.


Serombongan orang--sebagian mengenakan seragam--yang dipimpin Kapten Sando, keluar gedung yang masih ditirai asap. Sekresi ledakan.


"Tangkap pria cantik itu hidup-hidup! Yang lain terserah kalian mau diapakan," perintah Kapten Sando.


"Margo, kemari!" Teriak Yenz, sembari mengeluarkan dinamit dari dalam tasnya.


Aku menghampirinya sembari mengisi ulang peluru, sementara beberapa orang begundal dan petugas, tengah mengokang senjata yang moncongnya diarahkan kepadaku.


Senjata meletus, memuntahkan peluru yang melontar kencang. Sekali lolos aku dari hujan peluru, yang untungnya tanpa gelombang susulan. Terhenti oleh ledakan dinamit milik Yenz.


Pengang kupingku karenanya. Awas saja kalau sampai jadi bolot. Akan aku gaplok bibir merahnya!


Tanpa dikomandoi, kami bertiga berlari memutar ke belakang kediaman gubernur yang masih membara.


Menerobos palang pepohonan berjeda rerumputan rimbun. Berusaha tidak menurunkan kecepatan, karena sadar ada sekumpulan orang yang mengejar dengan berang.


Yenz terjatuh terguling-guling saat masuk ke jalan landai yang licin. Terpeleset karena tidak mendapat pijakan kokoh.

__ADS_1


Melihat itu, aku bergegas mendahului Leo. Menolong si lelaki kurus untuk berdiri.


"Perlu aku gendong?" celetukku.


"Apa kau pikir aku akan mau?" balasnya ketus.


Aku kembali melangkah sambil terkikik. Mengiringi Yenz, yang tertatih kesakitan. Tetap waspada pada derap para pengejar yang semakin mendekat. Sadar aku, kalau Tidak akan lama lagi, langkah kami bisa tersusul.


"Seberapa jauh lagi, Leo?" tanyaku. Mendelik sekilas ke belakang.


"Tidak jauh lagi, Tuan. Beberapa meter dari jalan landai ini, kita akan melewati akhir hutan. Di sana ada pantai karang seperti petunjuk Tuan Pud’e." Seperti yang kukira. Leo paling bisa diandalkan kalau soal menunjukkan arah.


"Menunduk!" perintahku dengan suara mendesis, begitu mendengar suara gaduh, tidak jauh dari tempat kami berada.


Aku berbalik. Memasang kuda-kuda dengan kaki kanan sejengkal dimajukan, demi mendapat pijakan yang seimbang. Mematut moncong senjata ke arah jalan yang tadi kami lewati.


Satu kaki berlapis celana coklat melangkah dari balik semak-semak. Saat itu pula aku lepaskan tembakan, yang membuat pemiliknya tarjatuh.


Laras senjata menyusul menyembul dari balik semak belukar, tanpa memedulikan si pria yang telah menjadi sasaran timah panasku. Mencoba mencari aku yang langsung menundukkan badan setelah menembak.


Belum sempat mereka mendapati posisiku, revolver di tangan sudah kembali terpasang untuk siap meletus.


Aku memberondong lima tembakan sekaligus, yang kesemuanya berhasil merobohkan bawahan Kapten Sando. Si muka parut.


Menerima seranganku, mereka bukannya surut, malah justru semakin beringas. Meloncati semak-semak dan langsung memberondong dengan tembakan.


"Lari!" pekikku.


Yenz tertawa melihatku. Puas dia karena aku mengalami kesialan seperti dirinya tadi.


Tapi, aku tak mau ambil pusing. Toh, berkat itu, berondongan peluru tidak ada yang mengenaiku.


Berhenti di tanah datar. Aku langsung merangkak susah payah untuk akhirnya kembali berlari. Menyelinap ke sela pepohonan yang sudah terpampang pemandangan pantai. Berlantai pasir, dengan banyak cuatan batu cadas terhampar di mana-mana.


"Ke mana lagi?" tanyaku.


"Pud’e hanya menyuruh kita menunggu di sini. Akan ada yang menjemput nanti," jawab Yenz dengan napas terengah-engah.


Aku menyusur pandang ke latar pantai cadas di hadapan. Kosong. Sama sekali tidak ada tanda-tanda manusia di sana. Atau kah mereka bersembunyi di balik batu karang, lalu nanti muncul mengagetkan kami setelah lama kesulitan mencari. Macam pembuat video online tak punya ide kreatif.


"Mana? Jangan bilang kita salah tempat." Aku mulai emosi. Apa lagi mendengar langkah kaki semakin mendekat di belakang.


"Tidak salah lagi. Ini memang tempat yang dibilang Tuan Pud’e. Kita tunggu saja."


Sumpah. Makin kesal aku mendengar ocehan ringan pemuda polos itu. Tunggu bagaimana? Di belakang kita, serombongan orang akan muncul dengan niat penuh untuk membunuh!


"Ke belakang karang. Kita sembunyi!" perintahku.


Tembakan meletus kencang. Aku melompat ke balik batu karang yang bersebelahan dengan tempat Yenz dan Leo bersembunyi. Mengatur napas. Merasa beruntung, karena tembakan tadi meleset jauh memantul batu karang.

__ADS_1


Tidak ada waktu mengisi peluru. Aku mengambil si bongsor yang tergantung di pinggang kiri. Mengintip ke balik batu, dan melihat bagaimana mereka masih menata barisan, dan gamang mengarahkan senjata.


Kesempatan!


Kutarik napas panjang dengan mata tertutup. Membiarkan diri ini terseret ke dunia hening yang sepenuhnya fokus. Teknik unik milik Margo, yang mulai bisa aku pakai sesuka hati.


Aku memegas berdiri, dan dalam waktu yang hanya sepersekian detik, segala informasi detail untuk memaksimalkan tembakan, berhasil terekam di kepala.


Aku menekan pelatuk. Membiarkan palu yang terungkit memukul primer dengan keras. Menciptakan gelegar ledakan yang mendorong teramat keras timah di ujung tabung logam. Meluncur berpuntir di selongsong panjang magnum.


Mantap memang performa senjata ini. Peluru yang termuntah dapat menembus pundak seorang petugas, dan masih kuat melaju menerjang lengan begundal bawahan Sando di belakangnya. Tetapi, begitu juga dengan hentakan balik yang kuterima. Seandainya hanya menggunakan satu tangan, pasti sudah terpelanting tanganku sampai ke atas kepala.


Secepatnya aku menstabilkan rovolver ganas ini. Mengarahkan lagi ujung senjata ke sasaran, yang masih banyak berdiri dan berniat membalas tembakan mendadakku.


Tembakan kedua, ketiga, dan seterusnya, membabat lebih dari satu orang lawan. Bisa aku lakukan cepat, karena senjata ini bertipe double action, yang tidak perlu dikokang lagi setelah selesai menembak.


Termuntah lima peluru, sebelum tembakan balasan memberondong. Memberikanku kesempatan untuk bersembunyi.


Napasku memburu setelah tembakan tadi. Aku rasakan benar kelelahan setelah memasuki ranah hening untuk memfokuskan diri. Mungkinkah itu efek dari berkembangnya kekuatanku?


"Kepung mereka! Jangan takut! Hanya satu orang saja yang bersenjata."


Berdesir darahku mendengar teriakan perintah si muka parut. Mati kami kalau sampai itu terjadi. Aku sendiri tidak mungkin melawan musuh yang menyerang bersamaan dari berbagai arah.


Tidak bisakah ini dibicarakan baik-baik?


"Sando! Kenapa kau melakukan ini? Bukankah kita pernah menjadi teman seperjalanan?" teriakku dari balik batu.


"Cuih! Haram jadah aku berteman denganmu! Aku mau mengantarmu juga atas permintaan Apak Lapo, dan perjanjian itu selesai saat dirimu menginjakkan kaki di Kalopa!" balas si Muka Parut. "Jangan harap aku akan mengampuni, Brewok berkutu! Kau orang yang telah merebut kepunyaanku! Aku bersumpah akan memghabisimu!"


Tunggu! Apa maksud perkataannya?


"Kau mabuk ya!? Memang apa yang pernah aku rebut darimu, hah!?"


"Masih berani kau bertanya? Manika itu punyaku! Dari sejak kecil aku sudah menyukainya. Kalau saja bukan karena aturan adat Tastal, sudah pasti aku menikahinya. Tapi, kenapa malah pecundang sepertimu yang mendapatkannya!"


Celaka dua belas! Jadi karena masalah itu si om-om pedo tersebut marah. Alamat mati aku hari ini. Para begundal suruhan sudah mulai bergerak, demi membunuh saingan cinta bosnya.


Sial! Kenapa pula aku memiliki aura menawan mempesona di sini!


Perhatianku teralih saat Leo memanggilku dengan tangan terangkat. "Tuan, berikan aku satu pistolmu! Aku sudah belajar cara menggunakannya kemarin."


Apa katanya? Dikata semudah itu? Margo saja butuh waktu lama untuk dapat ahli menggunakan senjata ini. Dia yang baru sebentar belajar, mau memakainya? Yang ada malah bisa membuat celaka nanti!


Tapi, apa ada cara lain, selain membiarkannya membantu mengalahkan lawan? Atau aku hanya bisa berharap, perahu berisi penuh orang di seberang sana, akan menepi ....


Dor!


Letusan senjata api meletus nyaring. Menjatuhkan para pemburu yang sudah mengepung kami. Datang dari perahu yang diawaki oleh para pelaut berwajah sangar.

__ADS_1


Siapa mereka? Firasatku buruk akan kehadiran bala bantuan tak dikenal tersebut.


__ADS_2