
Kepala pusing, dan goncangan saat kapal dihantam gelombang, cukup menjadi kombinasi ampuh untuk merobohkanku.
Apalagi dengan kaki yang lunglai, karena sudah lama tak dipakai berdiri sendiri. Otomatis, membuatku dengan mudah tumbang ke lantai kapal.
Di saat itu, bagai seorang pahlawan super berpakaian ketat dan berkancut di luar, Leo masuk untuk menolongku kembali ke atas ranjang. Setelah sebelumnya berteriak histeris, macam cewek unyu di anime komedi.
Sejenak. Adegan ranjang berlangsung. Di mana dengan telatennya, Leo menempatkanku kembali berbaring, di atas kasur keras beralas tipis.
Sudah begitu saja. Tidak ada yang aneh-aneh dari adegan ranjang itu. Pun, perlu diingat, kami sama-sama lelaki, Bodat!
"Kenapa Anda bisa sampai terjatuh, Tuan Margo?" Leo berdiri di sisi ranjang, dengan kening terlipat menatapku. Jelas terlihat cemas ekspresi dirinya.
"Tenang saja, Leo. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Aku hanya bosan terus berada di kamar, dan hendak pergi ke luar mencari angin segar. Tapi, ternyata belum kuat berdiri sendiri, sehingga akhirnya terjatuh."
"Seharusnya tadi kau memanggilku, Tuan. Biar aku membantu memapahmu ke tujuan."
Jujur. Aku bingung bercampur takjub dengan Leo. Kalian tahu, kamar mandi di kapal ini dipakai bersamaan. Dalam arti kata lain, tidak ada tempat nongkrong pribadi dan eksklusif selama pelayaran.
Begitu pun di kamar ini. Aku harus berbagi ruang denan Leo, dan si Lambe Kemayu.
Dari tempat berbaring ini sampai ke kamar mandi di geladak bawah, memiliki jarak tempuh yang terbilang jauh. Jika konteksnya adalah orang babak belur sepertiku.
Di sinilah Leo berperan besar. Pemuda itu dengan hebatnya bisa memapahku bolak-balik--dari kamar ini ke kakus--tanpa kesusahan. Bahkan sedikit keringat, atau napas ngos-ngosan pun tidak.
Curiga aku. Jangan-jangan dia pernah tercebur ke dalam kendi, berisi ramuan obat kuat. Macam tokoh komik dari Prancis itu.
"Tidak usah sungkan, Tuan. Apak Lapo memang sudah memberiku mandat untuk membantu kalian. Selama aku mampu, akan aku laksanakan." Dia tersenyum lebar. "Ayo, Tuan, biar aku membantumu keluar kamar."
Justru karena ketulusan polosnya itu, aku menjadi segan untuk meminta bantuan. Dia ini serupa sekali sifatnya dengan tokoh utama di anime shounen kebanyakan. Sangat naif dan polos.
Dia memapahku tanpa menunggu balasan, yang ragu untuk aku ucapkan. Dengan mudahnya Leo membawaku, yang tidak sepenuhnya dapat menopang berat tubuh menggunakan sepasang kaki.
Kami melewati pintu, lalu berputar menuju tangga, untuk menaikinya melewati pintu palka yang terbuka, hingga sampai ke geladak atas.
Aku dituntun menuju haluan, sembari menengok keseluruhan geladak kapal ini, yang memiliki tiga tiang layar sebagai penggerak laju.
Lebih baik sekarang. Walau anginnya agak kering, dan cuaca cerah yang terik. Tetapi, setidaknya di atas sini terasa lebih segar, dibandingkan kamar sumpek tanpa jendela di bawah sana.
__ADS_1
Aku didudukkan di anak tangga kedua, dari undakkan yang ada di ujung depan kapal. Menyandar ke tiang pagar di sisi, yang menjadi penyanggah batas tepian bahtra.
Aku melihat ke sekeliling geladak utama, yang lengang dari aktifitas para ABK. Menelusuri interior kapal berwarna hitam ini, mulai dari layarnya yang berwarna senada, tiga buah meriam di masing-masing sisi, hingga anjungan, yang berada di buritan kapal.
Ruangan berbentuk kubus di seberang kami itulah, tempat di mana sang kapten berada. Menjadi kamar pribadinya.
Letaknya tidak berjarak jauh dari lubang palka, yang menjadi tempat jalur hilir mudik, menuju geladak bawah. Bagian kapal berisi kamar para ABK, gudang muatan dan senjata, kakus, juga dapur tempat koki menyiapkan masakan hambar. Semua lengkap ada di sana. termasuk kamar kami, yang sebenarnya adalah ruang peralatan.
Kamar pribadi sang kapten kapal, diapit oleh sepasang tangga, menuju bagian atapnya, yang terpasang roda kemudi pengendali arah kapal, berikut podium setinggi pinggang, tempat kompas penunjuk arah berada.
Untuk rincinya. Di geladak bawah kapal, terdapat
Itu hasil pengamatanku, yang banyak diberikan penjelasan oleh Leo.
Pemuda itu Jelas saja tahu, karena selama aku berbaring, dirinya sudah puas menjelajahi setiap lekuk kapal ini. Begitu akunya.
Lama kemudian, aku mulai merasa bosan, karena selain pemandangan geladak yang monoton, di luar kapal hanya ada lautan luas. Dari ujung ke ujung, yang terlihat warna biru saja.
Tidak ada pertunjukan riang para lumba-lumba, yang berlomba melompat-lompat di samping kapal--itupun kalau ada mamalia air itu di sini. Jangan pula tanya soal putri duyung yang kuimpikan sebelumnya. Pulau kecil dengan satu pohon kelapanya pun tidak ada.
Bosan dan suntuk. Aku alihkan perhatian ke Leo. Pemuda itu sepertinya juga sudah mengantuk, karena kelenggangan samudera, tanpa melakukan apa-apa.
"Maaf, Tuan Margo. Aku terkantuk tadi."
Aku ber-oh pelan menanggapinya. Bukan hal yang harus dibahas juga, kan.
"Sebenarnya, aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu."
Mata Leo terbuka lebar. Dia menegakkan badan, lalu mengangguk pelan beberapa kali.
"Silakan, Tuan Margo. Akan kujawab sebisaku."
Aku berdehem pelan.
"Aku penasaran denganmu. Kau yang bertubuh sedang ini--untuk ukuran pemuda seumurannya--bagaimana bisa mengangkatku dengan mudah sewaktu di pelabuhan. Saat memapahku beberapa hari ini pun, dirimu tidak terlihat kesulitan."
Leo menghembuskan napas dengan elapresi lega.
__ADS_1
"Aku kira Tuan Margo mau bertanya apa. Kalau soal itu mudah saja. Aku bisa melakukannya, berkat pelatihanku di hutan semenjak kecil."
Aku membelalakkan mata.
"Hah? Pelatihan apa yang kau maksud?"
"Pelatihan bela diri. Sebenarnya, aku dibuang orangtuaku ke hutan. Di sana, aku dirawat oleh kakek petapa ahli bela diri bernama Leon Van Leonal."
Mendengar awal ceritanya, sudah cukup menjelaskan, dari mana pemuda berambut panjang model "jamet viral bergoyang" di sebelahku, mendapat nama seaneh itu.
"Di hutan, aku mendapat gemblengan dan pelatihan berat. Mulai dari pelajaran seni bela diri, jurus-jurus sulit, berkelahi dengan hewan buas, sampai bertahan hidup sendiri di alam bebas."
"Uwoh ... serius? Bagaimana bisa kau melakukannya?"
"Ah ... memang agak susah. Terutama soal bertahan hidup. Apalagi untuk mencari makanan. Untungnya, dengan bermodal keberuntungan, aku seringkali bisa mendapatkan makanan dari dalam lubang pohon. Mie, bakpao, bahkan sampai nasi bungkus isi rendang pun ada."
Aku melongok mendengar penjelasannya. Adakah jin yang berprofesi sebagai koki baik hati di sana?
"Anda pasti heran, kan, dari mana aku bisa mendapatkan makanan itu?" Aku mengangguk. "Ternyata, hidangan yang kutemukan di dalam lubang pohon, adalah makanan pesanan guruku, dari Restoran Goyang Mulut We Jayah. Diantarkan secara rutin, dan biasa ditaruh di dalam lubang pohon."
Sumpah! Ceritanya benar-benar tidak masuk akal!
"Sebenarnya itu adalah kenangan yang indah. Meskipun keras, Kakek sungguh sangat sayang kepadaku. Aku begitu sedih saat beliau meninggal dunia, sewaktu umurku masih empat belas tahun."
"Karena tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya aku pergi keluar hutan. Terlunta-lunta di daerah yang sama sekali baru. Mungkin aku akan jadi penjahat, atau mati konyol di jalanan, jika seandainya saja, Apak Lapo tidak menemukanku. Merawat dan mendidikku bagai anaknya sendiri. Memberikanku pekerjaan, sebagai penjaga toko sulap, menjadi asisten koki, sampai bermain peran dalam drama teater. Rahasia Vampir, Prajurit Vampir, dan yang terakhir itu berjudul Vampir Bucin."
Terjawab sudah pertanyaan absurd dalam otakku, yang waktu itu tercetus saat dia menyebutkan nama anehnya pertama kali, di tempat ibadah. Dia ini tokoh parodi, ternyata!
Walau aku masih tidak bisa menerimanya dengan logika dan akal sehat, tetapi apa mau dikata. Ini cerita di dalam dunia buku ajaib.
Leo itu tokoh parodi, yang dibuat penulis supaya lucu, padahal sebenarnya garing!
Sedang khusyuk meresapi kekonyolan pemuda di sampingku, Tiba-tiba saja dari seberang kami terdengar kegaduhan.
Suara meja digebrak, bunyi sesuatu yang dibanting keras, juga teriakan beserta makian saling bersahutan.
Dari kejauhan, dengan dibantu sayup-sayup semilir angin, yang membawa ucapan dari anjungan, hingga terdengar lebih jelas ke telinga. Aku mengenal dan bisa memastikan, kalau salah satu pemilik suara itu adalah Yenz.
__ADS_1
Entah ulah apa lagi yang si Bibir Ranum itu perbuat. Jelas bukan hal baik. Bisa jadi, nanti kita malah dilempar ke laut, karena dia telah menyinggung hati sang kapten.