Buku Petualangan Ajaib

Buku Petualangan Ajaib
[Bab 8-2] Dari Pelarian Menuju Pelarian


__ADS_3

Ya, kalian benar. Aku lagi-lagi berhasil selamat. Tidak kurang satu apa pun juga, walau di tubuhku bermunculan lagi luka lecet.


Kalau kalian bertanya soal bagaimana aku bisa selamat, sungguh berat aku menceritakannya.


Bagaimana tidak? Bleki, teman yang baru saja aku dapatkan harus mati mengenaskan tertimpa batu super besar dari puncak gunung.


Iya, benar. Bleki adalah nama kuda hitam yang aku tunggangi kemarin. Tragisnya, dia baru aku beri nama setelah wafat mengenaskan, dan tidak dapat lagi untuk kutunggangi.


Saat itu di ngarai, tak tahu karena keberuntungan atau apa, sewaktu batu besar hanya tersisa beberapa meter lagi sampai menimpa kami, kaki depan Bleki tersandung sebuah batu yang telah terlebih dahulu terjatuh. Otomatis dia terjungkal, sementara aku yang menungganginya, terpelanting dan berguling jauh ke depan. Selamat dari reruntuhan batu, yang berakhir hanya setengah langkah dari tempat aku terjatuh.


Sialan memang, Yenz!


Kalau saja dia dapat lebih bersabar, dan melempar dinamit itu setelah kami sejajar, tentu Blekiku tidak harus kehilangan nyawa!


"Sudah tidak marah lagi?" tanya Yenz. Membuyarkan lamunanku.


Oh iya, dikarenakan aku tidak mempunyai tunggangan lagi, akhirnya Yenz memboncengiku sekarang.


Setelah longsor batu usai, dia kembali--jelas dengan wajah tanpa rasa bersalah sama sekali--dan menyuruhku naik ke kuda coklatnya. Kami keluar dari ngarai yang sudah tidak berbentuk lagi, dengan diiringi rentetan tembakan dari bandit yang berjaga di atas gunung batu. Untung tidak ada satu pun yang mengenai.


"Kau seharusnya melempar dinamit itu setelah kita sejajar! Saat aku sudah bisa mengejarmu!" bentakku.


"Ya Tuhan, bukankah sudah dari semalam aku katakan, hanya di titik itulah, ledakan dinamit akan ampuh untuk meruntuhkan gunung batu. Aku hanya tidak tahu kalau efeknya akan merambat seperti itu." Aku mendengkus keras mendengar penjelasannya, yang telah diulang untuk kesekian kali. "Tapi percayalah, aku melakukannya karena tahu kau bisa selamat dari sana. Bukankah kau sangat ahli dalam berkuda. Tentu hal kecil seperti itu bukan masalah, kan."


Tahu dari mana sia? Tapi yah, ada benarnya juga sih. Reruntuhan seperti itu memang bukan hal besar bagiku yang hebat ini. Mungkin soal Bleki itu juga karena kesalahan perhitungannya yang ceroboh. Masih bisa dimaafkan sih. Toh, itu semua demi kebaikan kami juga.


Namun, ada satu hal mengganjal yang sejak kemarin--dari saat di gubuk--sudah muncul.


"Baiklah kalau begitu. Aku percaya kepadamu," ucapku, "tapi, bagaimana kau tahu tentang semua itu?"


Pria berbibir merah tipis tersebut menoleh dengan alis terangkat. "Tahu tentang apa?" tanyanya balik.


"Itu ... dari di gubuk. Soal tas berisi dinamit, senjata, hingga di ngarai yang kau yakin bilang soal titik ampuh ledakan itu?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaanku, entah kenapa dia malah tertawa terbahak-bahak. Hanya sebentar, sebelum berkata, "Ya jelas aku tahu, karena aku juga anggota bandit gurun Borex."


Melonjak aku mendengar penjelasannya. Hampir-hampir terjatuh dari buritan kuda, kalau saja dia tidak menangkap dan menarik kemejaku.


"Hahaha ... tenang saja. Aku tidak seperti mereka. Lengkapnya sih aku mantan anggota bandit."


"Ja-jadi karena itu kau dikurung?"


"Salah satunya. Sebenarnya aku belum lama juga bergabung dengan mereka. Satu atau dua bulan lah." Yenz mengambil kantong minum kulit dari dalam tas. Usai meneguknya, dia angsurkan kepadaku. "Setelah itu ada silang pendapat, yang membuat aku ditangkap oleh mereka. Tidak masalah juga sih, karena dari awal aku tidak berencana lama bergabung bersama para bandit gurun."


Aku merenung sesaat mendengar penjelasannya, sembari menutup kembali botol minum di tangan.


"Kalau begitu, pelarian tadi memang sudah kau rencanakan sebelumnya. Dari sejak masih bergabung dengan mereka?"


"Hahaha ... sebenarnya itu hanyalah rencana cadangan. Seharusnya, dari seminggu yang lalu aku kabur, setelah merampok kediaman Bangsawan Jose. Tapi, takdir ternyata berkata lain. Dan, di sinilah kita."


Aku serahkan kembali botol minum kepadanya. "Lalu kenapa kau bergabung dengan mereka? Aku lihat kau bukan seperti orang jahat. Raja tega, iya. Tapi jahat tidak."


"Itu pujian atau celaan sebenarnya?" Yenz tersenyum kecil. "Bisa dibilang sih, aku sekadar memanfaatkan mereka untuk suatu urusan penting."


"Jeli juga penglihatanmu, Marg." Dia tertawa pendek dipaksakan. "Ya, tetapi tidak usah bertanya lebih jauh lagi. Setelah di kota Lapalasa nanti, kita akan berpisah jalan. Jadi, tidak ada gunanya juga kan kau mengetahuinya."


Iya juga sih, tapi aku masih penasaran. Apa bagusnya kotak kayu itu? Apa semata nilai sentimentil? Tapi kalau hanya itu, apa perjuangannya sampai harus jadi tawanan bandit itu sesuai?


"Hari ini kita singgah dulu saja di sana." Yenz menunjuk sebuah bukit batu besar yang berbentuk seperti jamur payung. "Setahuku, tidak seberapa jauh lagi, kita akan memasuki wilayah para kadal seukuran orang dewasa. Monster karnivora ganas, yang suka memangsa manusia."


"Eh ... kau serius!?" Aku terbelalak mendengarnya.


Yenz tertawa kecil, sebelum berkata, "Ya, aku serius. Tetapi, kau tenang saja, mereka biasanya hanya keluar pada malam hari. Jadi kalau sekarang bermalam di sana, kita tidak perlu terpaksa bertemu kadal itu di perjalanan, karena mungkin harus memasuki wilayah mereka saat awal sore nanti."


Aku menghembuskan napas lega saat mendengarnya. Aman berarti. Merinding aku kalau membayangkan harus dimakan hidup-hidup oleh sekumpulan monster kadal.


Akhirnya! Aku bisa merebahkan tubuh di bawah bayang-bayang batu berbentuk jamur. Hamparan pasir yang menjadi alas memang terasa panas, tapi lebih baik dari pada sakit pinggang, karena berada di atas punggung kuda seharian.

__ADS_1


Beberapa kerat dendeng kami makan untuk sekadar mengganjal lambung. Tidak mencukupi sih, tapi seperti kata Yenz, kami harus berhemat, karena tidak tahu akan ada apa di depan nanti.


Begitupun dengan air. Seperti perjanjian awal, kami hanya boleh minum seteguk di setiap kesempatan. Ah, andai saja ada oasis, tentu istirahat ini akan lebih nikmat.


Dikarenakan masalah minum itu pula, aku sempat sedikit ribut dengannya. Soalnya, sedikit tidak sengaja, aku menengguk lebih daripada perjanjian.


Peduli amat. Aku kehausan!


Lagian kan, tidak jauh dari kami juga ada kaktus besar yang bisa diminum airnya. Kenapa dia tidak mengambil air dari tanaman berduri itu?


Dia tersenyum sinis, dengan tambahan tawa terkikik, saat aku mengutarakan pikiran itu.


Entah benar atau tidak, dia mengatakan kalau kaktus adalah pilihan terakhir kalau sudah putus asa saat kehausan. Dan, kaktus besar yang berada tidak jauh dari kami, bukanlah jenis yang bisa diambil airnya.


Tak tahu benar apa tidak ucapannya. Aku hanya bisa percaya, karena sepertinya dia lebih tahu bagaimana cara hidup di gurun.


Kami melanjutkan istirahat setelah perdebatan kecil itu. Tetapi, tak lama kemudian, aku mendapat bisikan alam. Memaksaku bangun saat sedang posisi wuenak, untuk bergegas mengucurkan air hangat alami dari sumbernya.


Berlari kecil aku menuju ke balik tempat kami beristirahat. Melangkahi Yenz, yang tidur terlentang, dengan kedua tangan terlipat. Membuat telapaknya sebagai bantalan.


Ah ... enak juga ternyata buang air kecil di tempat terbuka. Bisa bebas mengarahkannya ke manapun, dan itu bisa dilakukan sambil memandangi alam liar. Hamparan pasir membosankan, cahaya matahari terik, beberapa tumbuhan kaktus, dan juga kepulan pasir di cakrawala.


Lega sudah, setelah hajat dituntaskan saatnya kem ....


Sebentar! Kepulan pasir itu sepertinya tidak normal.


Aku berlari segegas mungkin, dan langsung menghentak tubuh langsing Yenz, agar segera terbangun. Demi dapat menanyakan fenomena ganjil yang tengah mendekati kami.


"Apa-apaan sih? Kalau kau memang mau memakan kaktus itu, lakukanlah sendiri!" ujar Yenz. Bergeming di pembaringannya.


"Bukan itu! Kau lihat di sana! Apakah kepulan pasir itu normal, hah!?" bentakku. Menepuk-nepuk keras pundaknya.


Yenz menyentak badannya hingga terduduk. Membuat topi koboi yang dia taruh di dada--menutupi tas selempangnya--terjatuh telentang di tanah berpasir. Matanya yang tadi terpejam langsung membelalak lebar melihat ke arah jariku menunjuk.

__ADS_1


"Mana mungkin ...," desisnya, yang kemudian meninggi saat berkata panik, "Itu adalah gerombolan kadal!"


__ADS_2